Kitab Hukum Dan Pidana

KITAB HUKUM DAN PIDANA

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

Al-Huduud ( اَلْحُدُوْدُ ) adalah bentuk jamak dari hadd ( حَدٌّ ). Asalnya berarti sesuatu yang menghalangi antara dua hal. Hadd juga bisa berarti pencegah (penghalang).[1]

Adapun secara istilah yaitu hukuman terhadap maksiat, yang telah ditetapkan batasannya secara syar’i untuk mencegah agar (maksiat tersebut) tidak terulang. [2]

Pidana-Pidana Yang Mempunyai Hukuman Hadd
Al-Qur-an dan as-Sunnah telah menetapkan batasan hukuman untuk beberapa tindak pidana tertentu, pidana-pidana itu dinamakan jaraa-imul huduud (اَلْجَرَائِمُ الْحُدُوْدُ), yaitu pidana-pidana yang mempunyai hukuman hadd. Pidana-pidana itu adalah zina, tuduhan zina, pencurian, mabuk, perampokan, murtad, pemberontakan.[3]

Keutamaan Melaksanakan Hukum Hadd
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حَدٌّ يُعْمَلُ بِهِ فِي اْلأَرْضِ خَيْرٌ ِلأَهْلِ اْلأَرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوْا أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا.

“Dilaksanakannya suatu hukum hadd di muka bumi, lebih baik bagi penduduknya dari pada turunnya hujan selama 40 hari.” [4]

Wajib Memberlakukan Hadd Atas Semua Pihak, Baik Orang Dekat, Jauh, Mulia, ataupun Rakyat Jelata
Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَقِيْمُوْا حُدُوْدَ اللهِ فِي الْقَرِيْبِ وَالْبَعِيْدِ وَلاَ تَأْخُذْكُمْ فِي اللهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ.

“Tegakkanlah hadd-hadd Allah kepada karib kerabat maupun orang yang jauh. Janganlah kalian pedulikan celaan orang yang mencela di jalan Allah.” [5]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma, ia menerangkan bahwa Usamah mengajukan permohonan pembelaan untuk seorang wanita kepada Rasulullah j, maka beliau bersabda:

إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقِيمُونَ الْحَدَّ عَلَى الْوَضِيْعِ وَيَتْرُكُونَ الشَّرِيْفَ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ فَعَلَتْ ذَلِكَ لَقَطَعْتُ يَدَهَا.

“Sesungguhnya binasanya kaum sebelum kalian disebabkan karena mereka menegakkan hukum hadd kepada rakyat jelata dan membiarkan orang yang mulia (tidak menghukumnya). Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalau seandai-nya Fathimah melakukan hal itu, sungguh aku akan potong tangannya.” [6]

Dibencinya Pengajuan Syafa’at Apabila Kasus Hadd Sudah Sampai Di Hadapan Hakim
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya kaum Quraisy digelisahkan oleh perbuatan seorang wanita dari bani al-Makhzumiyyah yang telah mencuri. Mereka berkata, “Siapa yang akan menyampaikan (pengajuan syafa’at) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?” “Siapa lagi yang berani selain Usamah bin Zaid orang kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Usamah menyampaikannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُوْدِ اللهِ؟ ثُمَّ قَامَ فَخَطَبَ قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا ضَلَّ مَنْ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ الضَّعِيفُ فِيهِمْ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ صلى اللَّه عليه وسلم سَرَقَتْ لَقَطَعَ مُحَمَّدٌ يَدَهَا.

“Apakah kalian mengajukan syafa’at dalam salah satu hadd (hukuman) dari huduud (batasa-batasan) Allah?” Kemudian beliau bangkit dan berkhutbah, “Wahai manusia, sesungguhnya sesatnya orang sebelum kalian dikarenakan apabila ada seorang yang mulia mencuri mereka tinggalkan (tidak menghukumnya), dan apabila rakyat jelata yang mencuri, mereka menghukumnya. Demi Allah, kalau seandainya Fathimah binti Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencuri, sungguh telah Muhammad potong tangannya.” [7]

Disunnahkan Menyembunyikan (Aib) Seorang Mukmin
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ.

“Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” [8]

Demikian juga hendaknya seorang muslim menutupi aibnya sendiri. Hal ini berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحُ -وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ- فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ.

“Semua umatku dimaafkan, kecuali orang-orang yang berbuat dosa secara terang-terangan. Di antara perbuatan dosa secara terang-terangan adalah seseorang berbuat satu dosa pada malam hari lalu pada esok harinya -padahal Allah telah menutupi dosanya- mengatakan, ‘Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan demikian dan demikian.’ Padahal sungguh pada malam harinya Allah telah menutupi dosanya, tetapi pada pagi hari-nya ia membuka tabir Allah darinya.”[9]

Hukuman Hadd Sebagai Penghapus Kesalahan
Dari Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Suatu saat ketika kami sedang berada di majelis bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لاَ تُشْرِكُوْا بِاللهِ شَيْئًا، وَلاَ تَسْرِقُوْا، وَلاَ تَزْنُوْا، وَقَرَأَ هَذِهِ اْلآيَةَ كُلَّهَا فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوْقِبَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَتُهُ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذلِكَ شَيْئًا فَسَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فَهُوَ إِلَى اللهِ إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ.

“Berbai’atlah kalian kepadaku untuk tidak mensekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak mencuri, tidak berzina …” Beliau membaca ayat ini semuanya, lalu beliau melanjutkan, “Barangsiapa di antara kalian menepatinya, maka Allah akan memberikan pahalanya, dan barangsiapa terjerumus ke salah satu perbuatan itu, maka ia akan dihukum dan itu merupakan penghapus kesalahannya. Dan barangsiapa terjerumus ke perbuatan itu lalu Allah menutupinya, maka urusannya terserah Allah. Apabila berkehendak Dia akan mengampuninya, dan jika berkehendak Dia akan menghukumnya.”[10]

Pihak Yang Berhak Menegakkan Hukuman Hadd
Pihak yang berhak menegakkan hukuman hadd hanyalah imam (khalifah) atau wakilnya. Karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallamlah yang menegakkan hukum hadd semasa hidupnya, demikian juga para khalifah setelahnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mewakilkan pelaksanaan hukum hadd. Sebagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

وَاغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا فَإِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجَمْهَا.

“Pergilah wahai Unais untuk menemui wanita tersebut, apabila ia mengaku (berzina), maka rajamlah ia.” [11]

Dan dibolehkan bagi seorang majikan untuk menghukum hadd budaknya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِذَا زَنَتِ اْلأَمَةُ فَتَبَيَّنَ زِنَاهَا فَلْيَجْلِدْهَا وَلاَ يُثَرِّبْ ثُمَّ إِنْ زَنَتِ الثَّانِيَةَ فَلْيَجْلِدْهَا وَلاَ يُثَرِّبْ ثُمَّ إِنْ زَنَتِ الثَّالِثَةَ فَلْيَبِعْهَا وَلَوْ بِحَبْلٍ مِنْ شَعَرٍ.

“Apabila seorang budak wanita berzina, dan telah jelas perbuatannya, maka cambuklah ia, dan jangan engkau cerca (setelah menghukumnya), apabila berzina lagi, maka cambuklah ia dan jangan engkau cerca (setelah menghukumnya), dan apabila ia berzina yang ketiga kalinya, maka juallah ia walaupun seharga seikat gandum.” [12]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Fiq-hus Sunnah (II/302)
[2]. Manaarus Sabiil (II/360)
[3]. Fiq-hus Sunnah (II/302)
[4]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2057)], Sunan Ibni Majah (II/848, no. 2538), Sunan an-Nasa-i (VIII/76).
[5]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2058)], Sunan Ibni Majah (II/849, no. 2540)
[6]. Shahih: [Al-Irwaa’ (no. 2319)], Shahiih al-Bukhari (XII/86, no. 6887)
[7]. Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (XII/87, no. 6788), Shahiih Muslim (III/ 1315, no. 1688), Sunan Abi Dawud (XII/31, no. 4351), Sunan an-Nasa-i (VIII/ 74), Sunan at-Tirmidzi (II/442, no. 1455), Sunan Ibni Majah (II/851, no. 2547).
[8]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 1888)], Shahiih Muslim (IV/2074, no. 2699), Sunan at-Tirmidzi (II/539, no. 1449), Sunan Ibni Majah (I/82, no. 225), Sunan Abi Dawud (XIII/289, no. 4925).
[9]. Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (X/486, no. 6069), Shahiih Muslim (IV/ 2291, no. 2990)
[10]. Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (I/64, no. 18), Shahiih Muslim (III/1333, no. 1709), Sunan an-Nasa-i (VII/148).
[11]. Berikut akan kami bawakan kisahnya.
[12]. Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (XII/165, no. 6839), Shahiih Muslim (III/ 1328, no. 1703).

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 2 Agustus 2006

Print Friendly