Kontra Antara Hak Dan Batil

KONTRA ANTARA HAK DAN BATHIL

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzân bin `Abdillâh al-Fauzân

Kontradiksi antara kebenaran dan kebathilan senantiasa ada terus menerus sejak zaman dahulu. Demikian pula kontradiksi antara orang-orang Mukmin dan orang-orang kafir. Allah Azza wa Jalla berfirman :

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ﴿٢﴾ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta. [al-Ankabût/29:2-3]

Cobaan dan ujian telah ada sejak zaman dahulu dan merupakan sunnatullah terhadap makhluknya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

Dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. [al-Ahzâb/33:62]
Allah Azza wa Jalla berfirman :

ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ

Apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain [Muhammad/47:4]

Maka kami khawatir terhadap agama kami, diri-diri kami, negeri kami, anak-anak kami, dan kepada seluruh kaum Muslimin dari tertimpa musibah karena sebab penyepelean mereka dan menyebabkan mereka mendapatkan hukuman karena peremehan mereka. Dan kami takut agama kita ini berpindah kepada selain kami, dan menjadikan kami merugi.

Maka, kewajiban kita adalah kembali kepada rabb kita, dan mengintropeksi diri kita, berhati-hati terhadap makar dan tipu daya musuh-musuh kita, melipat gandakan semangat dan saling tolong menolong di antara kita di dalam hal kebaikan dan kesabaran, serta menghadapi dengan musuh dengan persenjataan yang bisa membatalkan tipudayanya.

Alhamdulillâh, kita memiliki sesuatu yang bisa menghancurkan setiap subhat dan menolak setiap kebatilan. Kita memiliki kitabullâh, kitab yang tidak datang di dalamnya kebathilan, baik dari depan maupun dari arah belakang, yang turun dari Maha Bijaksana dan Maha terpuji.

Dan kita juga memiliki Sunnah Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang diriwayatkan oleh beberapa orang tsiqah yang terjaga, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

إِنِّيْ تاَرِكٌ فِيْكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدِيْ : كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ

Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian sesuatu, apabila kalian berpegang teguh dengannya kalian tidak akan tersesat setelahku, yaitu Kitabullah, dan sunnahku [HR. Baihaqi no. 20337]

Al-Irbâdh bin Sâriyah as-Sulami Radhiyallahu anhu mengatakan: “Rasulullâh memberikan nasehat kepada kami dengan satu nasehat mendalam yang menjadikan hati menjadi bergetar dan air mata bercucuran. Kami berkata: “Wahai Rasulullâh, seakan-akan itu merupakan nasehat perpisahan, “Berilah kami nasehat“. Rasulullah pun mengatakan:

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ, وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ, فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ, فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ

Aku berwasiat kapada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin, meskipun yang memerintah adalah seorang budak. Sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian akan melihat peselisihan yang banyak. Maka, hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafâ’rasyidin. Peganglah dengan gigi geraham kalian dan berhati-hatilah dengan sesuatu perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesuatu yang diada-adakan adalah bid`ah. [HR. Abu Dâwud no. 4607, at-Tirmidzi no. 2676]

Beginilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasehat kepada kami setelah mengkhabarkan kepada kami bahwasannya akan terjadi peselisihan yang sangat banyak.

Akan tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan kami menuju jalan keselamatan dari perselisihan ini, yaitu berpegang teguh dengan Sunnah beliau dan Sunnah Khulafaur’ Rasyidin. Hal ini dikuatkan dengan sabdanya “Peganglah sunnah tersebut dengan gigi geraham” . Begitu pula orang yang tenggelam, apabila dia berada di pinggir laut atau di pinggir air dan bersamanya ada tali, maka dia pun mengerti bahwa apabila dia lepas dari tali itu, dia akan tenggelam dan binasa. Dia pun dengan semangat mengigit tali itu dengan ujung-ujung giginya karena takut terlepas darinya. Begitu pula kaum Muslimin di tengah maraknya gelombang fitnah, tidak ada keselamatan atas mereka kecuali dengan berpegang teguh kepada sesuatu yang Allah Azza wa Jalla jadikan sebagai sebab keselamatan, yaitu Sunnah Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah Khulafâur’ Râsyidin, kemudian berhati-hati terhadap bid`ah.

(Marâji’ : Muhâdarah Fil Aqîdati Wad Da’wah , karya Syaikh Shalih bin Fauzân bin `Abdillâh al-Fauzân, Juz 1 Maktabah Dârul Ashimah hlm. 194-195)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]

——

Sumber: www.almanhaj.or.id | 31 Mei 2007

Print Friendly