Mendiskreditkan Buta Huruf (Ummii)

MENDISKREDITKAN BUTA HURUF (UMMII)

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Seringkali kami membaca di media massa dan melihat di berbagai pengumuman di jalan-jalan yang mendiskreditkan Buta Aksara dan menganggap buta huruf sebagai keterbelakangan. Sementara Allah menggambarkan umat Islam ini sebagai umat yang buta huruf.

“Dan Dia yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka …” [Al-Jumu’ah : 2]

Kami minta diberikan penjelasan dalam hal itu?

Jawaban
Umat Nabi Muhammad dahulu, dari kalangan masyarakat Arab maupun non Arab adalah masyarakat yang tidak mengenal baca tulis, oleh sebab itu mereka diberi gelar ummii, masyarakat buta huruf. Yang bisa melakukan baca tulis diantara mereka sedikit sekali dibandingkan dengan yang tidak mampu. Nabi kita sendiri, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak bisa baca tulis, sebagaimana difirmankan oleh Allah.

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur’an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu ; andai kata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu)” [Al-Ankabuut : 48]

Justru keberadaan beliau sebagai orang yang buta huruf itu menunjukkan kebenaran risalah dan kenabian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beliau membawa sebuah kitab agung kepada umat manusia, kitab yang tidak bisa ditiru oleh masyarakat Arab maupun non Arab

Allah telah mewahyukan kepada beliau, melalui malaikat Jibril Ruuhul Amien Alaihis sallam. Allah juga mewahyukan kepada beliau ajaran sunnah yang suci serta bebagai ilmu yang pernah dimiliki oleh para Nabi terdahulu, Allah juga memberitahukan kepada beliau berbagai pengetahuan tentang berbagai hal yang pernah terjadi di masa lampau serta yang akan terjadi di akhir zaman, bahkan yang akan terjadi di Hari Kiamat. Allah juga mengabarkan kepada beliau tentang hal-hal yang ada di Jannah dan Naar serta keberadaan para penghuninya.

Semua itu adalah dari keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada beliau atas menusia lainnya. Dengan wahyu itu, beliau membimbing umat manusia menuju kedudukan yang lebih tinggi dan demikian sifat dari kerasulan beliau.
Penggambaran umat beliau sebagai umat yang buta huruf bukanlah bertujuan menganjurkan mereka agar tetap menjadi masyarakat buta aksara. Tetapi tujuannya adalah memberitahukan tentang kondisi mereka pada saat Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai rasul kepada mereka. Kitabullah dan Sunnah Rasul justru menganjurkan belajar, menulis dan keluar dari kondisi sebagai masyarakat buta aksara. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Katakanlah : “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” [Az-Zumar : 9]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu : ‘Berlapang-lapanglang dalam majlis’, lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan : ‘Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” [Al-Mujadadilah : 11]

Allah juga berfirman.

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari para hamba-Nya hanyalah para ulama..” [Faathir ; 28]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Barangsiapa meniti suatu jalan, dan dijalan itu ia menuntut ilmu, maka melalui jalan itulah Allah akan mempermudah baginya jalan menuju Jannah”.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam juga bersabda

“Siapa saja yang Allah inginkan kebaikan bagi dirinya, pasti Allah jadikan dirinya orang yang faqieh di bidang agama”.

Disepakati keshahihannya.

Ayat-ayat dan hadits-hadits yang senada dengan itu masih banyak lagi. Hanya Allah yang dapat memberikan taufiq.

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Awwal, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Eidisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penerjemah Abu Umar Abdillah, Penerbit At-Tibyan – Solo]

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 31 Januari 2008

Print Friendly