Mengangkat Tangan Ketika Membaca Do’a Qunut, Mengusap Wajah Setelah Berdo’a Dan Ucapan Amin

SEMUA HADITS TENTANG QUNUT SHUBUH TERUS-MENERUS ADALAH LEMAH

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Bagian Terakhir dari Enam Tulisan 6/6

TENTANG MENGANGKAT TANGAN KETIKA MEMBACA DO’A QUNUT

Tentang mengangkat tangan, terdapat dalil berupa hadits-hadits yang sah, baik dalam qunut Nazilah maupun qunut witir, di antara dalilnya adalah:

عَنْ ثَابِتْ عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكِ فِي قَصَّةِ الْقُرَّاءِ وَقَتْلِهِمْ، قَالَ: فَقَالَ لِي أَنَسُ: لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّمَا صَلَّى الْغَدَاةَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ يَدْعُوْ عَلَيْهِمْ، يَعْنِى عَلَى الَّذِيْنَ قَتَلُوْهُمْ…
رواه البيهقي 2/211

“Artinya : Dari Tsabit, dari Anas bin Malik tentang peristiwa al-Qurra’ (pembaca al-Qur’an) dan terbunuhnya mereka, bahwasanya ia (Anas) berkata: “Aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali shalat Shubuh, beliau mengangkat kedua tangannya mendo’akan kece-lakaan atas mereka, yakni orang-orang yang membunuh mereka.”

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (II/211), dan ia berkata: “Beberapa Shahabat mengangkat tangan mereka ketika Qunut, di samping yang kami riwayatkan dari Anas bin Malik dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Beliau juga berkata : “Riwayat bahwa ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu mengangkat tangan ketika Qunut adalah shahih.” [Al-Baihaqy, II/212]

TENTANG MENGUSAP WAJAH SETELAH QUNUT ATAU BERDO’A

Adapun mengusap wajah sesudah qunut atau do’a, maka perinciannya adalah sebagai berikut :

1. Tidak ada satu pun hadits yang shahih tentang mengusap muka dengan telapak tangan setelah berdo’a. Semua hadits-haditsnya sangat lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah, jadi tidak boleh dijadikan alasan tentang bolehnya mengusap.

2. Karena tidak ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mengamalkannya merupakan perbuatan bid’ah[1]

3. Begitu juga tidak ada satu pun riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak juga dari para Shahabatnya tentang mengusap muka sesudah qunut nazilah.

4. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Adapun tentang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya di waktu berdo’a, maka sesungguhnya telah datang hadits-hadits yang shahih (lagi) banyak jumlahnya. Sedangkan tentang mengusap muka, tidak ada satu pun hadits yang shahih, ada satu dua hadits, tetapi tidak dapat dijadikan hujjah[2]

5. Imam Al-‘Izz bin Abdis Salam berkata: “Tidaklah (yang melakukan) mengusap muka melainkan orang yang bodoh.” [3]

6. Imam An-Nawawy berkata: “Tidak ada sunnahnya mengusap muka.”[4]

7. Imam Al-Baihaqi juga menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun dari ulama Salaf yang melakukan pengusapan wajah sesudah do’a qunut dalam shalat. [5]

TENTANG UCAPAN AMIN

Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma para Shahabat mengucapkan amin dalam do’a qunut. [6]

Do’a qunut hendaklah pendek, singkat dan tidak panjang, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

KESIMPULAN

1. Hadits-hadits yang menetapkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut Shubuh terus-menerus sampai meninggal dunia semuanya dha’if (lemah) dan tidak dapat dijadikan hujjah.

2. Kita wajib mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau telah bersabda.

وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Artinya : Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

3. Qunut Nazilah disyari’atkan oleh Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dikerjakan di lima waktu shalat yang wajib (Zhuhur, Ashar, Maghrib, ‘Isya dan Shubuh). Dan tempat berdo’anya adalah di raka’at yang akhir sesudah bangkit dari ruku’ dan hukumnya sunnat.

4. Hukum qunut Shubuh terus-menerus adalah bid’ah.

5. Bacaan do’a qunut yang berbunyi :

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ…

Adalah bacaan untuk do’a qunut Witir dan bukan bacaan do’a qunut Nazilah, sebagaimana yang telah diamalkan oleh kebanyakan kaum Muslimin pada saat ini dan di negeri ini khususnya.

6. Qunut Witir hukumnya Sunnah yang dilakukan sebelum ruku’ di raka’at terakhir shalat witir.

7. Disyari’atkan juga qunut pada shalat Tarawih mulai pertengahan Ramadhan sampai akhir Ramadhan.

8. Mengangkat tangan ketika membaca do’a qunut telah sah sunnahnya.

9. Begitu juga membaca amin.

10. Mengusap wajah sesudah qunut atau do’a, tidak ada satu pun riwayat yang sah. Maka, perbuatan ini adalah bid’ah. [7]

Wallaahu a’lam bish Shawab.

MARAJI’
1. Sunan Abi Dawud.
2. Sunan an-Nasaa-i.
3. Sunan at-Tirmidzy.
4. Sunan Ibni Majah.
5. Musnad Imam Ahmad, oleh Imam Ahmad.
6. Al-Mushannaf, oleh Imam Abdurrazzaq.
7. Al-Mushannaf, oleh Imam Ibnu Abi Syaibah, cet. Daarul Fikr th. 1414 H.
8. Syarah Ma’anil Atsar, oleh Imam ath-Thahawi, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah, th. 1416 H.
9. Sunan Daruquthni, oleh Imam ad-Daraquthni, cet. Daarul Ma’rifah, th. 1422 H.
10. Sunanul Kubra, oleh Imam al-Baihaqy, tahqiq: Syu’aib al-Arnauth dan Muhammad Zuhair asy-Syawaisy, cet. Al-Maktab al-Islamy, th. 1403 H.
11.. Syarhus Sunnah, oleh Imam al-Baghawi.
12. Musnad Abi Dawud ath-Thayalisy, tahqiq: Dr. Muham-mad bin Abdul Muhsin at-Turky, cet. Daar Hajr, th. 1419 H.
13. Shahih Ibni Khuzaimah, oleh Imam Ibnu Khuzaimah.
14. Kitab al-Muntaqa’, oleh Ibnul Jarud, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah, th. 1417 H.
15. Al-‘Ilalul Mutanahiyah, oleh Ibnul Jauzi, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah, th. 1403 H.
16. Mizanul I’tidal, oleh Imam adz-Dzahaby, cet. Daarul Fikr.
17. Tahdziibut Tahdziib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany.
18. Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khairil ‘Ibaad, oleh Syaikhul Islam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, tahqiq: Syu’aib dan Abdul Qadir al-Arnauth, cet. Mu-assasah ar-Risalah.
19. Silsilatul Ahaadits ash-Shahihah, oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany.
20. Silsilatul Ahaaditsidh Dha’ifah Wal Maudhu’ah, oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany.
21. Nashbur Raayah, al-Hafizh az-Zaila’i.
22. Al-Kifayah fii ‘Ilmir Riwayah, oleh al-Khathib al-Bagh-dady.
23. Taqribut Tahdzib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqa-lany, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah, th. 1413 H.
24. Al-Jawaahir Wad Durar Fii Tarjamati Syaikhil Islam Ibni Hajar, oleh Syaikh as-Sakhawi.
25. Talkhisul Habir, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany.
26. Irwaa-ul Ghaliil, oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany.
27. Shahih Sunan an-Nasa-i bi Ikhtishaaris Sanad, oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany, cet. Maktabah at-Tarbiyyah al-‘Araby lid-Duwalij al-Khalij, th. 1409 H.
28. Bulughul Maram, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany.
29. Al-Asma’ wash Shifat, oleh Imam al-Baihaqy.
30. Subulus Salam, oleh Imam ash-Shan’any.
31. Fiqhus Sunnah, oleh Syaikh Sayyid Sabiq.
32. Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab, oleh Imam an-Nawawy, cet Daarul Fikr.
33. Shifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany.
34. Tuhfatul Ahwadzi Syarah at-Tirmidzi, oleh Imam al-Mubarakfury.
35. Nailul Authar, oleh Imam asy-Syaukany.
36. Hadyus Sary Muqaddimah Fat-hul Bary, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany, cet. Daarul Fikr.
37. Lisanul ‘Arab, oleh Ibnu Manzhur.
38. Mu’jamul Wasith.
39. At-Tarjih fii Masaa-ilith Thaharah wash Shalah, oleh Dr. Muhammad bin Umar Bazmul, cet. Daarul Hijrah th. 1423 H/2003 M.
40. Ad-Dirayah fii Takhriji Ahaditsil Hidayah, oleh al-Hafizh Ibnu Haja al-‘Asqalany.
41. Shahih Kitabil Adzkaar wa Dha’iifuhu, oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly.
42. Shahih at-Tirmidzy, oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany.
43. Shahih Ibni Majah, oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany.
44. ‘Amalul Yaumi wal-Lailah, oleh Ibnus Sunny.

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
_______
Footnote
[1]. Lihat Irwaa-ul Ghaliil II/178-182, Shahih Kitab al-Adzkar wa Dha’ifuhu hal. 960-962.
[2]. Majmu’ Fataawaa Ibnu Taimiyyah XXII/519.
[3]. Irwaa-ul ghaliil II/182, Shahih Kitab al-Adzkar wa Dha’ifuhu hal. 960-962.
[4]. Ibid.
[5]. Sunanul Kubra al-Baihaqi II/212 Lihat juga kitab Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, XXII/519, lihat juga Do’a & Wirid hal. 68-69, cet. IV, oleh penulis.
[6]. Lihat Buku Do’a & Wirid hal. 200-201, cet. IV, oleh penulis.
[7]. Lihat Irwaa-ul Ghaliil fii Takhriiji Ahaadits Manaaris Sabiil II/178-182, hadits no. 433-434 dan Shahih al-Adzkaar wa Dha’iifuhu hal. 960-962.

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 4 Agustus 2005

Print Friendly