Mengenal Beberapa Ulama Pembaharu Dalam Islam

MENGENAL BEBERAPA ULAMA PEMBAHARU DALAM ISLAM

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Dalam sebuah hadits yang shahîh dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

Sesungguhnya Allâh akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun [1]

Pengertian memperbaharui (urusan) agama di sini adalah menghidupkan kembali dan menyerukan pengamalan ajaran Islam yang bersumber dari petunjuk al-Qur’ân dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah ditinggalkan manusia. Yaitu, dengan menyebarkan ilmu yang benar, mengajak manusia kepada tauhid dan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta memperingatkan mereka untuk menjauhi perbuatan syirik dan bid’ah [2] .

Perhitungan akhir seratus tahun dalam hadits ini adalah dimulai dari waktu hijrah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mekkah ke Madinah [3] .

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “…orang yang akan memperbaharui (urusan) agama…” tidak menunjukkan bahwa mujaddid di setiap akhir seratus tahun hanya satu orang, tapi mungkin saja pada waktu tertentu lebih dari satu orang, sebagaimana yang diterangkan oleh al-Hâfizh Ibnu Hajar dan ulama lainnya [4] .

Dalam hal ini, Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla akan menghadirkan bagi umat manusia pada setiap akhir seratus tahun orang yang akan mengajarkan kepada mereka sunnah-sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang telah banyak ditinggalkan manusia) dan memberantas kedustaan dari (hadits-hadits) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”[5] .

Para ulama telah menyebutkan nama-nama para imam Ahlus sunnah yang memenuhi kriteria untuk disebut sebagai mujaddid (pembaharu) dalam Islam, berdasarkan pengamatan mereka melalui sifat-sifat mulia para imam tersebut.

Dalam tulisan ini kami akan menyebutkan beberapa di antara para imam tersebut beserta sekelumit dari biografi mereka.

1. ‘UMAR BIN ‘ABDIL ‘AZIZ BIN MARWAN BIN HAKAM AL-QURASYI AL-UMAWI AL-MADANI
Beliau adalah khalifah yang tersohor dengan keshalihan dan keadilannya, seorang Amirul Mukminin, imam generasi Tabi’in yang mulia, seorang penghafal hadits yang utama dan terpercaya. Lahir pada tahun 64 H dan wafat pada tahun 101 H.

Ibunya adalah cucu Sahabat yang mulia ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu, bernama Hafshah binti ‘Ashim bin ‘Umar bin Khaththâb [6] .

Dalam aspek keadilan dan kelurusan akhlak, beliau diserupakan dengan kakek beliau ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu, dalam sifat zuhud dengan Hasan al-Bashri rahimahullah dan dalam ketinggian ilmu dengan Imam az-Zuhri rahimahullah [7] .

Imam Syâfi’i rahimahullah memuji beliau dengan mengatakan: “al-Khulâfâ’ ar-Râsyidûn (khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk dan bimbingan Allâh Azza wa Jalla ) ada lima orang: ‘Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsmân, ‘Ali dan ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz” [8] .

Para ulama Ahlus sunnah telah bersepakat untuk menobatkan beliau sebagai mujaddid (pembaharu) pertama dalam Islam [9] .

Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla akan menghadirkan bagi umat manusia, pada setiap akhir seratus tahun orang yang akan mengajarkan kepada mereka sunnah-sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang banyak telah ditinggalkan manusia) dan menghilangkan (memberantas) kedustaan dari (hadits-hadits) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami melihat (meneliti sejarah), maka (kami dapati pembaharu) pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah) adalah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah, dan (pembaharu) pada akhir seratus tahun kedua adalah Imam Syafi’i rahimahullah [10] .

2. HASAN AL-BASHRI, ABU SA’D AL-HASAN BIN ABIL HASAN YASAR AL-BASHRI
Beliau adalah Imam besar dari kalangan Tâbi’în, Syaikhul Islam, sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lahir pada tahun 22 H dan wafat 110 H [11] .

Beliau pernah disusui oleh Ummu Salamah Radhyallahu anhuma, istri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pernah didoakan kebaikan oleh ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu agar diberi pemahaman dalam ilmu agama dan dicintai manusia [12] .

Imam Muhammad bin Sa’ad rahimahullah memuji beliau dengan mengatakan: “Beliau adalah seorang yang berilmu (tinggi), menghimpun (berbagai macam ilmu), tinggi (kedudukannya), sangat terpercaya, sandaran dalam periwayatan hadits dan ahli ibadah” [13] .

Beliau termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah) [14] .

3. MUHAMMAD BIN SIRIN ABU BAKR AL-ANSHARI AL-BASHRI
Beliau adalah seorang imam besar dari kalangan Tâbi’in, Syaikhul Islam, sangat wara’ (berhati-hati dalam masalah halal-haram), sangat luas ilmunya lagi sangat terpercaya dan kokoh dalam meriwayatkan hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau wafat pada tahun 110 H [15] .

Imam Abu ‘Awânah al-Yasykuri rahimahullah berkata: “Aku melihat Muhammad bin Sirin di pasar, tidaklah seorang pun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allâh” [16] .

Beliau juga termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah) [17] .

4. MUHAMMAD BIN MUSLIM BIN ‘UBAIDILLAH BIN ‘ABDILLAH BIN SYIHAB AZ-ZUHRI AL-QURASYI AL-MADANI
Beliau adalah seorang imam besar dari kalangan Tâbi’în, penghafal hadits yang utama, yang disepakati kemuliaan dan kecermatan hafalannya. Beliau wafat pada tahun 125 H [18] .

Imam ‘Umar bin ‘Abdil ‘Azîz rahimahullah memuji beliau dengan mengatakan: “Tidak tersisa seorang pun (di zaman ini) yang lebih memahami sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pada az-Zuhri” [19] .

Imam Ayyûb as-Sakhtiyâni rahimahullah : “Aku belum pernah melihat (seorang pun) yang lebih berilmu dari pada beliau” [20] .
Beliau juga termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah) [21] .

5. IMAM ASY-SYAFI’I, ABU ABDILLAH MUHAMMAD BIN IDRIS BIN AL-‘ABBAS BIN ‘UTSMAN AL-MUTHTHALIBI AL-QURASYI AL-MAKKI
Beliau adalah seorang imam besar dari generasi atba’ut tabi’in (murid para Tâbi’in), pembela sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ahli fikih yang ternama, penghafal hadits yang utama dan terpercaya. Lahir pada tahun 150 H dan wafat pada tahun 204 H. Garis pernasaban beliau bertemu dengan nasab Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam [22] .

Imam Qutaibah bin Sa’îd rahimahullah memuji beliau dengan mengatakan: “Kematian Imam Syafi’i rahimahullah berarti kematian sunnah Rasûlullâh” [23] .

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata: “(Kedudukan) Imam Syafi’i (di masanya) seperti matahari bagi bumi dan sebagai penyelamat bagi umat manusia” [24] .

Para ulama Ahlus sunnah juga telah bersepakat menobatkan beliau sebagai mujaddid (pembaharu) kedua dalam Islam [25] .

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “…(Pembaharu) pada akhir seratus tahun kedua (hijriyah) adalah Imam Syafi’I [26] .

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Beliau adalah mujaddid (pembaharu) urusan agama Islam pada akhir seratus tahun kedua (hijriyah)”[27] .

6. YAHYA BIN MA’IN, ABU ZAKARIA AL-BAGDADI
Beliau adalah imam besar dari kalangan Atbâ’ut Tâbi’în (murid para Tâbi’in), ahli jarh wa ta’dîl (penilaian terhadap para perawi hadits dalam bentuk pujian atau celaan) yang ternama, penghafal hadits yang utama dan gurunya para ulama Ahli hadits. Lahir pada tahun 158 H dan wafat tahun 233 H [28] .

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah memujinya dengan mengatakan: “Yahya bin Ma’în adalah orang yang Allâh Azza wa Jalla ciptakan (khusus) untuk urusan ini (membela sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), dengan cara menyingkap kedustaan para pendusta dalam hadits (Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”[29] .

Beliau juga termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun kedua (hijriyah) [30] .

7. IMAM AN-NASA’I, ABU ‘ABDIR RAHMAN AHMAD BIN SYU’AIB BIN ‘ALI BIN SINAN
Beliau adalah imam besar, Syaikhul Islam, penghafal dan kritikus hadits kenamaan, serta sangat terpercaya dalam meriwayatkannya. Lahir pada tahun 215 H dan wafat tahun 303 H [31] .

Imam Abu Sa’îd bin Yûnus memuji beliau dengan mengatakan: “Abu ‘Abdirrahmân an-Nasâ’i adalah seorang imam (panutan), penghafal hadits dan sangat terpercaya dalam meriwayatkannya” [32] .

Imam Abul Hasan ad-Dâraquthni rahimahullah berkata: “Abu ‘Abdirrahmân an-Nasâ’i rahimahullah lebih diutamakan (dalam pemahaman ilmu hadits) dibandingkan semua ulama hadits di zaman beliau” [33] .

Beliau juga termasuk yang dinobatkan sebagai salah seorang ulama pembaharu pada akhir seratus tahun ketiga (hijriyah) [34] .

CATATAN PENTING
1. Banyak imam besar Ahlus sunnah yang terkenal dengan ketinggian ilmu dan pemahaman, serta kuat dalam menegakkan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, mereka tidak disebut oleh para ulama sebagai mujaddid (pembaharu) dalam Islam di zamannya, padahal mereka sangat pantas untuk itu, seperti Imam Mâlik bin Anas rahimahullah, Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, Imam al-Bukhâri rahimahullah, Imam Muslim rahimahullah, Imam Abu Dâwud rahimahullah dan lain-lain. Hal ini disebabkan masa hidup mereka yang tidak bertepatan dengan waktu yang disebutkan dalam hadits di atas. Namun hal ini sama sekali tidak mengurangi tingginya kedudukan dan kemuliaan mereka. Wallâhu a’lam [35] .

2. Termasuk para imam Ahlus sunnah yang dinobatkan oleh sejumlah besar ulama Islam sebagai pembaharu di abad ke-12 Hijriyah adalah Imam Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb at-Tamimi rahimahullah (wafat 1206 H) [36] . Tentang hal ini, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Bâz rahimahullah berkata: “Termasuk di antara imam (Ahlus sunnah) yang mendapatkan petunjuk (dari Allâh Azza wa Jalla ) dan da’i yang mengusahakan perbaikan (umat ini) adalah seorang yang sangat dalam dan luas ilmunya, pembaharu ajaran Islam yang telah ditinggalkan (manusia) di abad ke-12 Hijriyah dan penyeru kepada sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb bin Sulaimân bin ‘Ali at-Tamimi al-Hambali. Semoga Allâh Azza wa Jalla memperindah (menerangi) tempat peristirahannya dan memuliakannya di surga sebagai tempat tinggalnya” [37] .

3. Demikian pula yang disebut-sebut para ulama sebagai pembaharu dalam Islam di abad ini, dua imam Ahlus sunnah yang ternama, yaitu Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni dan Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin ‘Abdullâh bin Bâz. Semoga Allâh Azza wa Jalla merahmati semua ulama Ahlus sunnah yang telah wafat dan menjaga mereka yang masih hidup.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. HR. Abu Dawud (no. 4291), al-Hakim (no. 8592), dan ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 6527), Dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim, al-‘Iraqi, Ibnu Hajar (dinukil dalam kitab “’Aunul Ma’buud” 11/267) dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahihah” (no. 599).
[2]. Lihat ‘Aunul Ma’bûd 11/260
[3]. Ibid.
[4]. Lihat ‘Aunul Ma’bûd 11/264
[5]. Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (10/46).
[6]. Tahdzîbul Kamâl 21/432 dan Tadzkirotul huffâzh (1/118).
[7]. Lihat kitab “Tadzkiratul huffazh” (1/119).
[8]. Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab “Tadzkiratul huffazh” (1/119).
[9]. Lihat kitab ‘Aunul Ma’bûd 11/260
[10]. Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyaru A’lâmin Nubalâ 10/46
[11]. Tadzkiratul Huffâzh 1/71 dan Taqrîbut Tahdzîb hlm. 160
[12]. Dinukil oleh Imam al-Mizzi t dalam Tahdzîbul Kamâl 6/104
[13]. Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam Tadzkiratul Huffâzh 1/71
[14]. ‘Aunul Ma’bûd 11/266
[15]. Siyaru A’lâmin Nubalâ 4/606, Tadzkiratul Huffâzh 1/77 dan Taqrîbut Tahdzîb hlm.160
[16]. Siyaru A’lâmin Nubalâ 4/610. Dalam sebuah hadits shahih, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wali (kekasih) Allâh adalah orang yang jika (manusia) memandangnya maka mereka akan ingat kepada Allâh”. (Ash-Shahîhah no. 1733)
[17]. ‘Aunul Ma’bûd 11/266
[18]. Tadzkiratul Huffâzh 1/108 dan Taqrîbut Tahdzîb hlm. 506
[19]. Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam Tadzkiratul Huffâzh 1/109
[20]. Ibid.
[21]. ‘Aunul Ma’bûd 11/266
[22]. Tahdzîbul Kamâl 24/355, Siyaru A’lâmin Nubalâ 10/5 dan Tadzkirotul huffazh (1/361).
[23]. Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lâmin Nubalâ 10/46
[24]. Dinukil oleh Imam al-Mizzi dalam Tahdzîbul Kamâl 24/372
[25]. ‘Aunul Ma’bûd 11/260
[26]. Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lâmin Nubalâ 10/46
[27]. Kitab “Taqrîbut tahdzîb” (hal. 467).
[28]. Siyaru A’lâmin Nubalâ 11/71 dan Taqrîbut Tahdzîb hlm. 597
[29]. Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi rahimahullah dalam Siyaru A’lâmin Nubalâ 11/80
[30]. ‘Aunul Ma’bûd 11/266
[31]. Siyaru A’lâmin Nubalâ 14/125 dan Taqrîbut Tahdzîb hlm. 80
[32]. Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi t dalam kitab Siyaru A’lâmin Nubalâ 14/133
[33]. Ibid 14/131
[34]. ‘Aunul Ma’bûd 11/266
[35]. Ibid 11/263
[36]. Lihat ‘Aqidatusy Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb as-Salafiyyah 1/18
[37]. Ibid 1/19-20

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 3 April 2013

Print Friendly