Musafir Tidak Wajib Mengqashar Shalat Dan Shalat Di Tanah

MUSAFIR TIDAK WAJIB MENGQASHAR SHALAT

Pertanyaan.

Nama saya Deddi di Sambas Kalbar. Saya adalah pelanggan majalah As-Sunnah. Saya ingin bertanya. Apakah kalau kita pergi haji atau umrah kita harus melakukan shalat wajib 5 waktu selama di tanah suci Makkah dengan cara di qashar atau secara sempurna mengikuti imam yang di Mekkah atau di Madinah ??? Mohon jawaban ustad ? Jazakumullah khairan katsiran ?

Jawaban.
Tidak harus di qashar, meskipun saudara berkeyakinan atau memilih pendapat yang mengatakan bahwa selama berada di Mekah menunaikan haji dan Umrah saudara tetap berstatus sebagai musafir, sehingga berhak atau disunnahkan untuk mengqashar shalat. Kecuali ketika saudara menunaikan shalat di masjid an-Namirah, maka saat itu harus di qashar karena imamnya juga mengqashar shalat.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah ditanya, “Jika saya sedang dalam perjalanan dan saya mendengar suara adzan, apakah saya wajib shalat di masjid ? Apakah ada sesuatu jika saya shalat di tempat saya tinggal (penginapan, kost dan lain-lain-red) ? Beliau rahimahullah menjawab, “Jika saudara mendengar [1] suara adzan dan saudara sedang berada di suatu tempat tinggal, maka saudara wajib datang ke masjid (tempat suara adzan di kumandangkan). Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada lelaki yang meminta ijin untuk meninggalkan shalat berjama’ah, “Apakah kamu mendengar suara adzan ?” lelaki itu menjawab, ‘Ya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, “Jawablah (penuhilah panggilan adzan itu !-red) !

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa mendengar suara adzan dan tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali (ketidak datangannya) disebabkan udzur.”

Tidak ada dalil yang mengkhususkan atau mengecualikan musafir dari hukum ini. Kecuali jika kepergian saudara ke masjid akan menyebabkan hilangnya kemaslahatan saudara dalam safar misalnya saudara butuh istirahat dan tidur lalu ingin shalat di tempat tinggal (penginapan dll) supaya bisa tidur atau saudara khawatir jika berangkat ke masjid, imam datangnya terlambat sementara saudara akan melanjutkan perjalanan dan takut tertinggal dan lain sebagainya.”[2]

Ditempat lain, setelah menjelaskan tentang sunnahnya mengqashar bagi orangyang sedang melakukan perjalanan, beliau rahimahullah mengatakan, “… kecuali jika orang yang melakukan perjalan itu shalat di belakang (sebagai makmum) orang imam yang shalat empat raka’at, maka si musafir itu wajib shalat empat raka’at juga, sama saja apakah dia ikut shalat sejak raka’at pertama ataupun di tengah shalat, berdasarkan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya, “Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya.

Nabi juga bersabda, yag artinya, “Yang kalian dapatkan, maka kerjakanlah (bersama imam) dan raka’at yang tertinggal, maka sempurnakanlah.”

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu pernah ditanya, ‘Kenapa musafir shalat dua raka’at ketika sendirian dan empat raka’at ketika bermakmum kepada imam yang muqim ?’ Beliau Radhiyallahu anhuma menjawab, ‘Itu adalah sunnah’ [3].

Jadi saudara tidak harus mengqashar, jika memungkinkan, maka saudara lebih datang ke Masjidil Haram untuk menunaikan shalat dengan berjama’ah bersama imam. Jika saudara berjama’ah, maka saudara harus mengikuti imam. Terlebih keberadaan saudara di Mekah tidak dalam waktu lama sementara dalam hadits disebutkan bahwa shalat di Madjil Haram memiliki keutamaan berlipat dibandingkan dengan shalat di tempat lain bahkan sampai 100.000 kali lipat nilainya. Tidakkah hati kita tergerak untuk memanfaatkan moment keberadaan di sana untuk meraih kebaikan dan bekal akhirat kita sebanyak-banyaknya ?

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XVI/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Dibagian lain fatwa beliau rahimahullah, beliau menjelaskan bahwa ukurannya adalah mendengar langsung tanpa pengeras suara
[2]. Majmu’ Fatawa wa Rasail, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 15/422
[3]. Majmu’ Fatawa wa Rasail, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 24/253

SHALAT DI TANAH

Assalamu’alaikum, mohon penjelasan di rubrik soal-jawab. Banyak hadits shahih yang menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di atas tanah tanpa penghalang bahkan bersandal dan ketika shalat diatas mimbar pun beliau turun ke tanah untuk bersujud dan naik ke mimbar untuk berdiri dan ruku. Sekarang tak sedikitpun orang shalat di atas tanah langsung tetapi shalat dalam masjid yang berkeramik mewah bahkan permadani lembut. Apakah ini tidak bertentangn dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Syukran. Maman Indramayu

Jawaban.
Apa yang anda sebutkan tidak bertentangan dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering shalat di atas tanah tanpa penghalang, namun beliau juga pernah shalat di atas tikar, khumrah (tikar kecil atau tenunan daun kurma atau semacamnya sebagai alas wajah ketika sujud, sehingga ukurannya juga sebesar itu ; jadi semacam sajadah kecil namun khusus untuk wajah) [1]

Demekian juga, sepengetahuan kami, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan umat agar shalat langsung di atas tanah, dan tidak pernah melarang shalat di atas permadani, keramik atau semacamnya.

Sebagai seorang muslim, kita tidak boleh mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Dan kita tidak boleh mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Namun begitu, ada juga ulama yang memakruhkan shalat diatas sajadah yang penuh gambar nan mewah dan mengatakan bahwa yang paling utama adalah meneladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-‘Izz bin Abdis Salam rahimahullah mengatakan : “Dimakruhkan shalat di atas sajadah yang dihias-hiasi dan berwarna-warni. Juga di atas sajadah yang mahal dan indah. Karena kondisi saat shalat adalah kondisi merendahkan hati dan merendahkan diri. Di masjid Makkah dan Madinah orang-orang (yaikni pada zaman itu, -red) senantiasa melakukan shalat di atas tanah, pasir dan kerikil, karena merendahkan diri kepada Allah.

Beliau rahimahullah juga mengatakan : “Maka yang lebih utama adalah mengikuti perkataan dan perbuatan-perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik yang kecil maupun yang besar. Barangsiapa mentaatinya, maka dia pasti mendapatkan petunjuk dan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan barangsiapa yang tidak mentaatinya dan meneladani beliau, maka dia jauh dari kebenaran seukuran jauhnya dari mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [2]. Wallahu a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XII/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Lihat Shifat shalat Nabi, halaman 150, karya Syaikh Al-Albani, penerbit Maktabah Al-Ma’arif.
[2]. Fatawa Al-‘Izz bin Abdis Salam, halaman 68, dinukil dari Al-Qaulul Mubin fi Akh-thail Mushallin, halaman 66

 

———

Sumber: www.almanhaj.or.id | 12 Juli 2010

Print Friendly