Pasal Kedua : 4e. Apakah Ibnu Shayyad Adalah Dajjal Yang Sesungguhnya?

Pasal Kedua
AL-MASIH AD-DAJJAL

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

e. Apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal yang Sesungguhnya?
Telah dijelaskan sebelumnya keadaan Ibnu Shayyad dan pertanyaan Nabi kepadanya yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan jati diri Ibnu Shayyad secara detail, karena beliau sama sekali tidak mendapatkan wahyu bahwa dia adalah Dajjal atau yang lainnya.

Sementara ‘Umar pernah bersumpah di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Ibnu Shayyad adalah Dajjal, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkarinya.

Sebagian Sahabat berpendapat dengan apa yang diungkapkan oleh ‘Umar, dan bersumpah bahwasanya Ibnu Shayyad adalah Dajjal, sebagaimana diriwayatkan dari Jabir, Ibnu ‘Umar, dan Abu Dzarr Radhiyallahu anhum.

Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Muhammad bin al-Munkadir,[1] dia berkata, “Aku melihat Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhuma bersumpah atas Nama Allah bahwasanya Ibnu Shayyad adalah Dajjal.” Aku berkata, “Engkau bersumpah atas Nama Allah?!” Dia berkata, “Sesungguhnya aku mendengar ‘Umar bersumpah terhadap hal itu di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm tidak mengingkarinya.”[2]

Diriwayatkan dari Nafi’ rahimahullah [3] , dia berkata, “Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma pernah berkata, ‘Demi Allah aku tidak meragukan bahwa al-Masihud Dajjal adalah Ibnu Shayyad.’” [4]

Diriwayatkan dari Zaid bin Wahb[5], beliau berkata, “Abu Dzarr Radhiyallahu anhu berkata, ‘Bersumpah sepuluh kali dengan menyatakan sesungguhnya Ibnu Shayyad adalah Dajjal lebih aku sukai daripada bersumpah hanya satu kali dengan menyatakan sesungguhnya dia bukan Dajjal.’” [6]

Diriwayatkan dari Nafi’, Ibnu ‘Umar berjumpa dengan Ibnu Sha-id pada salah satu jalan di Madinah, lalu dia mengatakan suatu perkataan yang menjadikannya marah dan naik pitam, sehingga membuat keributan di jalan. Kemudian Ibnu ‘Umar datang kepada Hafshah dan menceritakan kepada, lalu dia (Hafshah) berkata kepadanya, “Semoga Allah merahmatimu! Apa yang engkau inginkan dari Ibnu Sha-id?! Apakah engkau tidak mengetahui bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya ia hanya keluar karena kemarahan yang dibencinya?!’” [7]

Dan pada satu riwayat dari Nafi, dia berkata, Ibnu ‘Umar berkata, “Aku telah menemuinya sebanyak dua kali (pada pertemuan pertama) aku menemuinya, lalu aku berkata kepada sebagian mereka (sahabat Ibnu Shayyad), “Apakah kalian mengatakan bahwa dia Dajjal?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah.” Nafi berkata, Ibnu Umar mengatakan, “Engkau telah berbohong padaku, demi Allah sebagian dari kalian telah mengabarkan kepadaku sesungguhnya dia tidak akan mati hingga dia menjadi orang yang paling banyak harta dan anaknya di antara kalian, demikianlah anggapan tentangnya sampai hari ini.” Dia berkata, “Lalu kami pun berbincang-bincang, kemudian meninggalkannya.” Dia berkata, “Aku berjumpa dengannya pada kesempatan yang lain sementara matanya telah membengkak.” Aku bertanya, “Sejak kapan matamu seperti yang aku lihat sekarang ini?” Dia menjawab, “Tidak tahu.” Aku menyanggah, “Engkau tidak tahu sementara ia berada di kepalamu sendiri?” Dia berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan hal ini pada tongkatmu ini.” Beliau berkata, “Lalu dia mendengus seperti dengusan keledai yang paling keras yang pernah aku dengar.” Beliau berkata, “Lalu sebagian sahabatnya mengira bahwa aku telah memukulnya dengan tongkatku hingga matanya cidera, demi Allah, padahal aku sama sekali tidak merasakan (berbuat seperti itu).” Dia (Nafi) berkata, “Dan dia datang kepada Ummul Mukminin (Hafshah), lalu menceritakannya, beliau bertanya, ‘Apa yang engkau inginkan darinya?! Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau (Nabi) pernah bersabda, ‘Sesungguhnya penyebab awal yang mendorongnya keluar kepada manusia adalah kemarahan yang menyebabkan dia marah.’”[8]

Ibnu Shayyad mendengarkan apa-apa yang dibicarakan manusia tentang-nya, lalu dia merasa sangat terluka karenanya. Dia membela diri bahwa dia bukanlah Dajjal, dan berhujjah bahwa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sifat-sifat Dajjal tidak sesuai dengan keadaannya.

Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Kami pernah keluar untuk melakukan haji atau umrah dan Ibnu Sha-id ikut bersama kami, kemudian kami singgah. Selanjutnya orang-orang berpisah sementara aku bersamanya. Aku merasa sangat takut karena apa yang dikatakan manusia tentangnya.” (Abu Sa’id) berkata, “Dia datang dengan perbekalannya, lalu dia meletakkannya bersama perbekalanku.” Aku berkata kepadanya, “Udara sangat panas, sebaiknya engkau meletakkannya di bawah pohon itu,” (Abu Sa’id) berkata, “Akhirnya dia melakukannya.” Kemudian kami diberikan satu ekor kambing, lalu dia pergi dan kembali dengan membawa satu wadah besar, dia berkata, “Minumlah wahai Abu Sa’id!” Aku berkata, “Sesungguhnya udara sekarang ini panas sekali, dan susu itu juga panas,” sebenarnya tidak ada masalah bagiku, hanya saja aku tidak ingin meminum sesuatu yang berasal dari tangannya, (atau dia berkata) mengambil dari tangannya,” lalu dia berkata, “Wahai Abu Sa’id, sebelumnya aku hendak mengambil tali, lalu menggantung-kannya di pohon, kemudian aku ikat leherku karena (merasa sakit hati) terhadap segala hal yang dikatakan oleh manusia. Wahai Abu Sa’id, siapakah yang tidak mengetahui hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari kalian wahai orang-orang Anshar. Bukankah engkau orang yang paling mengetahui hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Dia (Dajjal) adalah orang kafir,’ sementara aku adalah seorang muslim? Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) adalah orang yang tidak memiliki anak, sementara aku telah meninggalkan anak-anakku di Madinah? Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) tidak akan pernah memasuki Madinah dan Makkah, sementara aku datang dari Madinah menuju Makkah?” Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Hampir saja aku menerima alasannya,” kemudian dia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku mengenalnya dan mengetahui tempat kelahirannya, dan di mana dia sekarang.” Abu Sa’id berkata, “Aku berkata kepadanya, ‘Celakalah engkau pada hari-harimu.’”[9]

Dalam satu riwayat lain, Ibnu Shayyad berkata, “Demi Allah, sesungguh-nya aku mengetahui di mana dia (Dajjal) sekarang, dan mengenal bapak juga ibunya.” (Perawi berkata) dikatakan kepadanya, “Apakah engkau senang jika engkau adalah dia?” Dia menjawab, “Jika ditawarkan kepadaku, maka aku tidak akan membencinya.” [10]

Sebenarnya masih ada beberapa riwayat yang menjelaskan keadaan Ibnu Shayyad. Kami sengaja tidak mengungkapkan agar tidak memperpanjang pem-bahasan, karena sebagian peneliti seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan yang lainnya menolak riwayat-riwayat tersebut karena kelemahan sanadnya.[11]

Masalah Ibnu Shayyad terasa rancu bagi sebagian ulama dan masalahnya menjadi sulit bagi mereka. Sebagian mereka mengatakan bahwa dia adalah Dajjal dan berhujjah dengan dalil sebelumnya, yaitu sumpah sebagian Sahabat yang menyatakan bahwa dia adalah Dajjal, dan dengan peristiwa yang terjadi antara dia dengan Ibnu ‘Umar juga Abu Sa’id Radhiyallahu anhum. Sementara sebagian lainnya berpendapat bahwa dia bukanlah Dajjal, mereka berhujjah dengan hadits Tamim ad-Dari Radhiyallahu anhu. Sebelum mengungkapkan pendapat kedua kelompok itu, kami akan menuturkan hadits Tamim ad-Dari yang panjang.

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya kepada Amir bin Syarahil asy-Sya’bi [12] -kabilah Hamdan- bahwasanya ia bertanya kepada Fathimah binti Qais, saudari adh-Dhahhak bin Qais, -dia adalah salah seorang wanita yang ikut pada hijrah yang pertama- dia berkata, “Ceritakanlah kepadaku satu hadits yang engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak engkau sandarkan kepada seorang pun selain beliau!” “Jika engkau mau, maka aku akan melakukannya,” Jawabnya. Dia berkata, “Tentu saja, ceritakanlah kepadaku.” Akhirnya dia menceritakan bagaimana dia menjanda dari suaminya, dan bagaimana ia melakukan ‘iddah di rumah Ibnu Ummi Maktum, kemudian
dia berkata, “Setelah masa ‘iddahku selesai, aku mendengar panggilan penyeru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Shalat berjama’ah,’ lalu aku pergi menuju masjid dan melakukan shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu aku berada di shaff para wanita yang dekat dengan barisan kaum (pria). Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan shalatnya, beliau duduk di atas mimbar sambil tersenyum, lalu berkata, “Hendaklah setiap orang tetap pada tempat shalatnya!” Selanjutnya beliau bersabda, “Apakah kalian tahu mengapa aku mengumpulkan kalian?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengumpulkan kalian untuk menyampaikan kabar gembira atau kabar buruk, akan tetapi aku mengumpulkan kalian karena Tamim ad-Dari sebelumnya adalah seorang Nasrani, lalu dia datang, melakukan bai’at dan masuk Islam. Dia menceritakan kepadaku sebuah cerita yang sesuai dengan apa yang aku ceritakan kepada kalian tentang Masihud Dajjal. Dia menceritakan kepadaku bahwa dia pernah menaiki sebuah kapal laut bersama 30 orang yang berpenyakit kulit dan kusta. Mereka terombang ambing oleh ombak selama satu bulan di tengah lautan hingga akhirnya terdampar pada sebuah pulau di arah terbenamnya matahari. Mereka menaiki kapal kecil (sampan), lalu mereka masuk ke dalam pulau. Selanjutnya binatang dengan berbulu lebat menemui mereka, mereka tidak mengetahui mana depan juga mana belakangnya karena bulunya lebat, mereka berkata, ‘Celaka! Siapa engkau?’ Dia menjawab, ‘Aku adalah al-Jassasah.’ Mereka bertanya, ‘Apakah al-Jassasah itu?’ Dia berkata (tanpa menjawab), ‘Wahai kaum! Pergilah kepada orang yang berada di dalam kuil ini, karena dia sangat merindukan berita dari kalian.’ (Tamim ad-Dari) berkata, ‘Ketika binatang itu menyebutkan seseorang kepada kami, maka kami pun meninggalkannya karena kami takut jika dia adalah syaitan.’ Dia berkata, ‘Akhirnya kami cepat-cepat pergi hingga kami memasuki kuil, ternyata di dalamnya ada orang yang sangat besar dan diikat dengan sangat kuat yang pertama kali kami lihat. Kedua tangannya dibelenggu sampai ke lehernya, antara kedua lututnya hingga kedua mata kakinya dirantai dengan besi, kami berkata, ‘Celaka, siapa engkau?’ Dia berkata, ‘Kalian telah ditakdirkan untuk membawa kabar untukku, kabarkanlah siapa kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah manusia dari bangsa Arab, kami menaiki kapal laut, lalu kami mendapati laut dengan ombaknya sedang mengamuk, kami terombang ambing oleh ombak selama satu bulan di tengah lautan hingga terdampar di pulau ini, kemudian kami menaiki sampan, lalu kami masuk ke pulau ini, selanjutnya binatang dengan berbulu lebat menemui kami, kami tidak mengetahui mana depan juga mana belakangnya karena bulunya sangat lebat. Kami berkata, ‘Celaka! Siapa engkau?’ Dia menjawab, ‘Aku adalah al-Jassasah.’ Kami bertanya, ‘Apakah al-Jassasah itu?’ Dia berkata (tanpa menjawab), ‘Pergilah kepada orang yang berada di dalam kuil ini karena dia sangat merindukan berita dari kalian,’ akhirnya kami pun segera mendatangimu. Kami merasa kaget dan takut kepadanya, dan mengira bahwa dia adalah syaitan.’ Dia berkata, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang pohon kurma di Baisan?[13]’ Kami berkata, ‘Apa yang engkau tanyakan tentangnya?’ Dia menjawab, ‘Aku bertanya kepada kalian tentang buahnya, apakah dia masih berbuah?’ Kami menjawab, ‘Ya (masih berbuah).’ ‘Hampir saja dia tidak berbuah lagi,’ katanya. Dia berkata, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang danau Thabariyah?’ Kami berkata, ‘Apa yang engkau tanyakan tentangnya?’ Dia menjawab, ‘Apakah masih ada airnya?’ Mereka menjawab, ‘Danau itu masih banyak airnya.’ “’Hampir saja airnya kering,’ katanya. Dia berkata, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang mata air Zughar ?[14]’ Mereka berkata, ‘Apa yang engkau tanyakan tentangnya?’ Dia menjawab, ‘Apakah mata air tersebut masih mengalir? Dan apakah penduduknya masih bercocok tanam dengan airnya?’ Kami menjawab, ‘Betul, airnya masih banyak dan penduduknya masih bercocok tanam dengan airnya.’ Dia bertanya, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang Nabi orang-orang yang ummi, apa yang dia lakukan?’ Mereka menjawab, ‘Dia telah berhijrah dari kota Makkah dan singgah di Yastrib (Madinah).’ ‘Apakah orang-orang memeranginya?’ Tanya dia. ‘Betul,’ jawab kami. Dia bertanya, ‘Apa yang dia lakukan terhadap mereka?’ Lalu kami pun mengabarkan kepadanya bahwasanya dia telah menolong orang-orang yang mengikutinya dan mereka pun taat kepadanya.’ Dia berkata kepada mereka, ‘Apakah benar seperti itu?’ Kami menjawab, ‘Betul.’ Dia berkata, ‘Sesungguhnya lebih baik bagi mereka untuk mentaatinya, dan aku kabarkan kepada kalian sesungguhnya aku adalah al-Masih (Dajjal), dan hampir saja aku diizinkan untuk keluar hingga aku bisa keluar, lalu aku akan berkelana di muka bumi, maka aku tidak akan pernah meninggalkan satu kampung pun melainkan aku menyinggahinya dalam waktu empat puluh malam, selain Makkah dan Thaibah (Madinah), keduanya diharamkan atasku. Setiap kali aku hendak masuk ke salah satu darinya, maka para Malaikat akan menghadangku dengan pedang yang terhunus yang menghalangiku dengannya, dan pada setiap lorong-lorong kedua kota tersebut ada seorang Malaikat yang menjaganya.’”

Dia (Fathimah) berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda -sambil menusukkan tongkat kecilnya di mimbar-, ‘Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah -yakni Madinah- ingatlah bukankah aku pernah mengatakan hal itu kepada kalian?” Lalu orang-orang berkata, “Benar.” “Sungguh cerita yang diungkap-kan oleh Tamim telah membuatku kagum karena ia sesuai dengan apa yang pernah aku ceritakan kepadanya, tentang Madinah dan Makkah. Ketahuilah sesungguhnya dia (Dajjal) berada di lautan Syam, atau lautan Yaman. Oh tidak, tetapi berada dari arah timur, dari arah timur, dari arah timur,’ (dan beliau memberikan isyarat dengan tangannya ke arah timur).”

Dia (Fathimah) berkata, “Maka aku hafal hal ini dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [15]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Sebagian ulama beranggapan bahwa hadits Fathimah ini gharib yang hanya diriwayatkan oleh perorangan. Padahal tidak demikian. Sebab, selain Fathimah juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, ‘Aisyah, dan Jabir Radhiyallahu anhum.” [16]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Beliau adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin al-Munkadir bin ‘Abdillah bin al-Hadir bin ‘Abdil ‘Uzza at-Taimi. Seorang Tabi’in, salah seorang imam, meriwayatkan dari sebagian para Sahabat dan wafat pada tahun 131 H rahimahullah. Lihat Tahdziibut Tahdziib (IX/473-475).
[2]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-I’tishaam bil Kitaabi was Sunnah, bab Man Ra’-a Tarkan Nakiir minan Nabiyyi Hujjatun li man Ghairir Rasuul (XIII/223, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikru Ibni Shayyad (XVIII/52-53, Syarh an-Nawawi).
[3]. Beliau adalah Abu ‘Abdillah, ahli fiqih Madinah, budak Ibni ‘Umar, yang didapatkannya pada sebuah peperangan yang beliau lakukan. Dia meriwayatkan dari banyak para Sahabat, dia adalah seorang yang tsiqah dan banyak meriwayatkan hadits. Wafat pada tahun 119 H rahimahullah. Lihat biografinya dalam Tahdziibut Tahdziib (X/412-414).
[4]. Sunan Abi Dawud (XI/483). Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya shahih,” Fat-hul Baari (XIII/325).
[5]. Beliau adalah Abu Sulaiman Zaid bin Wahb al-Juhani al-Kufi, pergi menjumpai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia ditangkap ketika sedang di dalam perjalanan. Beliau meriwayatkan hadits dari banyak Sahabat seperti ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Abu Dzarr dan yang lainnya g. Dia adalah seorang yang tsiqah lagi banyak meriwayatkan hadits. Wafat pada tahun 96 H rahimahullah.
Lihat biografinya dalam Tahdziibut Tahdziib (III/427).
[6]. HR. Imam Ahmad, telah terdahulu takhrijnya.
[7]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikru Ibni Shayyad (XVIII/57, Syarh an-Nawawi).
[8]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikru Ibni Shayyad (XVIII/57, Syarh an-Nawawi).
[9]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah bab Dzikru Ibni Shayyad (XVIII/51-52, Syarh an-Nawawi).
[10]. Shahiih Muslim (XVIII/51, Syarh an-Nawawi).
[11]. Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/127) tahqiq Dr. Thaha Zaini dan Fat-hul Baari (XIII/ 326).
[12]. Beliau adalah seorang imam lagi hafizh, Amir bin Syarahil. Ada juga yang mengatakan, Amir bin ‘Abdillah bin Syarahil asy-Sya’bi al-Humairi, dilahirkan 6 tahun setelah kekhilafahan ‘Umar dan meriwayatkan dari banyak Sahabat, dia pernah berkata, “Aku tidak pernah menulis hitam di atas yang putih (menulis), dan tidaklah seseorang meriwayatkan hadits kepadaku kecuali aku meng-hafalnya.” Wafat setelah tahun 100 H dengan umur 90 tahun rahimahullah.
Lihat Tahdziibul Kamaal, karya al-Mazzi (II/643), Tahdziibut Tahdziib (V/65-69).
[13]. (بيسان) dengan huruf yang difat-hahkan kemudian sukun dan huruf sin tanpa titik, lalu nun, sebuah kota di Yordania, tegasnya di dataran rendah Syam lebih dikenal tempat tersebut dengan se-menanjung. Semenanjung itu berada di antara Hauran dan Palestina, di sanalah tempat mata air al-Fulus, mata air yang sedikit mengandung kandungan garam dan terkenal dengan banyaknya pohon kurma.
Yaqut berkata, “Aku telah melihatnya berkali-kali, lalu aku tidak melihat di sana kecuali dua pohon kurma yang besar, ia adalah salah satu tanda akan keluarnya Dajjal.” Lihat Mu’jamul Buldaan (I/527).
[14]. (زُغَرٌ) dengan wajan (زُفَرٌ) dan (صُرَدٌ), dan huruf akhirnya tanpa titik.
Yaqut berkata, “Orang terpercaya bercerita kepadaku bahwa Zughar berada di ujung sebuah danau yang berbau busuk pada sebuah lembah di sana. Jarak antara mata air itu dengan Baitul Maqdis se-panjang perjalanan tiga malam, daerah tersebut ada di sisi kota Hijaz, dan mereka memiliki per-kebunan di sana.
Lihat Mu’jamul Buldaan (III/142-143), dan kitab an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (II/304).
[15]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikru Ibnu Shayyad (VIII/78-83, Syarh an-Nawawi).
[16]. Fat-hul Baari (XIII/328).
Kami katakan: Di antara orang yang membantah hadits yang mulia ini adalah Syaikh Abu Ubayyah, dia berkata, “Hadits ini memiliki tabiat khayalan dan tanda kepalsuan.”
Dan kita tanya Abu ‘Ubayyah, “Dengan dalil apakah sebuah hadits shahih yang telah diterima oleh umat bisa ditolak? Ya Allah, kecuali karena kerancuannya dan berjalan di belakang pikiran yang dangkal, semoga Allah mengampuni kita semua dan dia.”
Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim dengan ta’liq Syaikh Muhammad Fahim Abu ‘Ubayyah

———

Sumber: www.almanhaj.or.id | 15 April 2012

Print Friendly