Pasal Kedua : 4f. Beberapa Pendapat Ulama Tentang Ibnu Shayyad

Pasal Kedua
AL-MASIH AD-DAJJAL

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

f. Beberapa Pendapat Ulama Tentang Ibnu Shayyad
Abu ‘Abdillah al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Pendapat yang benar bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, berdasarkan dalil-dalil yang telah lalu, dan tidak mustahil bahwa dia telah ada sebelumnya di pulau tersebut, dan ada di depan para Sahabat di waktu yang lain.” [1]

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama telah berkata, ‘Kisahnya itu musykil (sulit difahami), dan perkaranya samar-samar, apakah dia itu Masihud Dajjal yang terkenal atau yang lainnya? Akan tetapi tidak diragukan bahwa dia termasuk Dajjal di antara para Dajjal

Para ulama berkata, ‘Nampak di dalam hadits-hadits tersebut bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diberikan wahyu apakah dia itu Dajjal atau yang lainnya. Beliau hanya diwahyukan tentang sifat-sifat Dajjal, sementara Ibnu Shayyad memiliki ciri-ciri yang memungkinkan. Karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyatakan secara pasti bahwa dia adalah Dajjal atau yang lainnya, dan karena itu pula beliau berkata kepada ‘Umar, ‘Jika dia memang Dajjal, maka engkau tidak akan pernah bisa membunuhnya.

Adapun alasan yang dikemukakan Ibnu Shayyad bahwa dia adalah seorang muslim sementara Dajjal adalah seorang kafir, Dajjal tidak memiliki keturunan sementara dia (Ibnu Shayyad) memiliki keturunan, dan Dajjal tidak akan bisa memasuki Makkah dan Madinah padahal dia bisa memasuki Madinah dan pergi menuju Makkah, semua ini bukan merupakan dalil karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memberikan sifat-sifatnya ketika fitnahnya muncul dan ketika dia keluar mengelilingi bumi.

Di antara kerancuan kisahnya bahwa dia salah satu Dajjal pembohong adalah perkataannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?!’ Dan pengakuannya bahwa dia didatangi orang yang jujur dan orang dusta, dia melihat singgasana di atas air, tidak benci kalau ia Dajjal, dia mengetahui tempatnya, dan perkataannya, ‘Sesungguhnya aku mengenalnya, mengetahui tempat kelahirannya dan mengetahui di mana dia sekarang,’ dan kesombongannya yang memenuhi jalan.

Adapun sikapnya yang menampakkan keislaman, hajinya, jihadnya, dan pengingkarannya akan tuduhan yang ditujukan kepadanya sama sekali bukan dalil yang menunjukkan secara tegas bahwa dia bukan Dajjal.” [2]

Perkataan Imam Nawawi ini bisa difahami bahwa beliau rahimahullah memperkuat pendapat yang menyatakan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal.

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Orang-orang berbeda pendapat ten-tang Ibnu Shayyad dengan perbedaan yang sangat tajam, dan masalahnya sangat rumit hingga dikatakan banyak pendapat tentangnya, dan zhahir hadits yang telah diungkapkan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ragu-ragu, apakah dia Dajjal atau bukan?…”

Keragu-raguan tersebut telah dijawab dengan dua jawaban:
Pertama: Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ragu-ragu sebelum Allah memberitahukan kepadanya bahwa dia adalah Dajjal. Ketika dia telah diberi tahu tentangnya, maka beliau tidak mengingkari sumpah yang diucapkan oleh ‘Umar (bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal).

Kedua: Orang Arab terkadang mengucapkan kata-kata yang mengandung nada keraguan, walaupun di dalam kabar tersebut tidak ada keraguan.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa dia adalah Dajjal, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq[3] dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Pada suatu hari aku berjumpa dengan Ibnu Shayyad -dia bersama seseorang dari kalangan Yahudi- ternyata cahaya sebelah matanya telah padam dan menonjol bagaikan mata keledai. Ketika aku melihatnya, aku berkata, “Sungguh, wahai Ibnu Shayyad! Sejak kapan cahaya sebelah matamu padam?” Dia menjawab, “Demi Allah aku tidak tahu.” Aku berkata, “Engkau telah berbohong, padahal dia ada di kepalamu.” Dia (Ibnu ‘Umar) berkata, “Lalu dia mengusapnya dan mendengus sebanyak tiga kali.”[4]

Kisah seperti ini telah disebutkan sebelumnya dalam riwayat Imam Muslim.[5]

Nampak bagi kami dari perkataan asy-Syaukani bahwa beliau rahimahullah bersama orang-orang yang berpendapat bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal besar.

Imam al-Baihaqi rahimahullah [6] berkata untuk mengomentari hadits Tamim, “Di dalamnya dinyatakan bahwa Dajjal besar yang akan keluar pada akhir zaman bukanlah Ibnu Shayyad, sementara Ibnu Shayyad adalah salah satu dari para Dajjal (pendusta) yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka akan keluar, dan kebanyakan dari mereka telah keluar.”

Seakan-akan orang yang memastikan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal tidak pernah mendengar kisah Tamim, jika tidak demikian sebabnya, penggabungan di antara keduanya (kedua dalil yang nampak bersebrangan,-penj.) adalah sesuatu yang sangat jauh (tidak mungkin), karena bagaimana mungkin orang yang hidup pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan menjelang aqil baligh, bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditanya oleh beliau, lalu di akhir umurnya menjadi tua dan dipenjara di suatu pulau, terikat dengan besi dan bertanya kepada mereka tentang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah dia telah keluar atau belum?!

Maka pendapat yang lebih tepat adalah tidak adanya penjelasan (keterangan) yang pasti (dari Rasulullah) dalam masalah ini

Adapun sumpah ‘Umar Radhiyallahu anhu, maka kemungkinan sumpah ini beliau lakukan sebelum mendengar kisah Tamim Radhiyallahu anhu, lalu setelah beliau mendengarnya, maka beliau tidak kembali kepada sumpah yang disebutkan.

Sementara Jabir Radhiyallahu anhu, di mana dia mempersaksikan sumpahnya di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mencontoh sumpah yang dilakukan ‘Umar di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[7]

Kami katakan: Akan tetapi Jabir Radhiyallahu anhu adalah salah seorang perawi hadits Tamim, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Abu Dawud, di mana dia menceritakan kisah al-Jassasah juga Dajjal seperti kisah Tamim. Kemudian Ibnu Abi Salamah rahimahullah [8] berkata, “Sesungguhnya di dalam hadits ini ada sesuatu yang tidak aku hafal.” Dia[9] berkata, “Jabir bersaksi bahwasanya dia adalah Ibnu Sha-id.” Aku (Ibnu Abi Salamah) berkata, “Sesungguhnya dia telah mati.” Dia berkata, “Walaupun dia telah mati.” “Dia telah masuk Islam,” kataku. “Walaupun dia telah masuk Islam,” katanya. Aku berkata, “Dia telah masuk ke Madinah.” “Walaupun dia telah masuk ke Madinah,” dia menyangkal. [10]

Jabir Radhiyallahu anhu bersikeras menyatakan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, walaupun dikatakan, “Sesungguhnya dia telah masuk Islam, telah masuk Madinah, dan telah mati.”

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa diriwayatkan dengan shahih dari Jabir Radhiyallahu anhu, bahwasanya dia berkata, “Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada peristiwa al-Harrah.” [11]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Abu Nu’aim al-Ashbahani rahimahullah [12] meriwayatkan dalam kitab Taariikh Ashbahaan[13] sesuatu yang memperkuat bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal. Dia menuturkannya dari jalan Syabil bin ‘Urzah, dari Hassan bin ‘Abdirrahman, dari bapaknya, dia berkata, ‘Ketika kami menaklukkan Ashbahan, jarak antara tentara kami dengan tentara Yahudi sejauh satu Farsakh. Biasanya kami mendatanginya dengan jalan yang kami pilih. Lalu aku mendatanginya pada suatu hari, ternyata orang-orang Yahudi sedang menari dan memukul gendang, kemudian aku bertanya kepada salah seorang temanku dari kelompok mereka. Dia berkata, ‘Raja kami yang kami meminta tolong kepadanya untuk menaklukkan orang Arab telah masuk,” lalu aku bermalam di atas loteng rumahnya, selanjutnya aku melakukan shalat Shubuh. Ketika matahari terbit, tiba-tiba saja ada keributan di tengah-tengah pasukan, aku memperhatikannya ternyata ada seseorang yang mengenakan mahkota dari tumbuh-tumbuhan yang harum, dan orang-orang Yahudi memukul gendang dan menari (berpesta), setelah aku memperhatikannya, ternyata dia adalah Ibnu Shayyad, kemudian dia masuk ke Madinah dan tidak akan kembali hingga tiba hari Kiamat.” [14

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Cerita Jabir ini (yaitu mereka kehilangan Ibnu Shayyad pada peristiwa al-Harrah) tidak sesuai dengan cerita dari Hassan bin ‘Abdirrahman, karena penaklukan kota Ashbahan terjadi pada masa kekhilafahan ‘Umar, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Tariikhnya sementara jarak antara terbunuhnya ‘Umar dengan masa perang Harrah adalah sekitar 40 tahun.”

Bisa juga difahami bahwa kisah ini disaksikan oleh bapaknya Hassan setelah penaklukan kota Ashbahan dengan lamanya waktu tersebut, dan jawaban dari kata (لَمَّا) ketika di dalam ungkapan, “لَمَّا افْتَتَحْنَا أَصْبَهَانَ (Ketika kami menaklukkan Ashbahan),” adalah dibuang dan ditakdirkan (diperkirakan) menjadi, “Aku mengadakan perjanjian dengannya dan bolak balik ke sana (dengan pemahaman seperti ini) mulailah kisah Ibnu Shayyad. Dengan ini maka zaman penaklukan Ashbahan dan zaman masuknya Ibnu Shayyad ke Madinah bukan dalam satu waktu.[15]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menuturkan bahwa masalah Ibnu Shayyad telah menjadi sesuatu yang rumit bagi sebagian Sahabat. Mereka mengira bahwa dia adalah Dajjal, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tawaqquf (berdiam diri) sehingga jelas bagi beliau setelah itu bahwa dia bukan Dajjal. Dia hanya salah seorang dukun yang memiliki kemampuan-kemampuan syaitan, karena itulah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi untuk mengujinya.”[16]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Maksudnya bahwa Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal yang akan keluar di akhir zaman, berdasarkan dalil hadits Fathimah
binti Qais al-Fihriyyah, hadits ini merupakan penentu dalam masalah ini.”[17]

Inilah sejumlah pendapat ulama mengenai Ibnu Shayyad, yang saling bersebrangan dengan masing-masing dalilnya.

Karena itulah al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah telah berijtihad untuk menselaraskan antara hadits-hadits yang bertentangan, dia berkata, “Cara yang paling dimengerti dalam menggabungkan makna yang dikandung dalam hadits Tamim Radhiyallahu anhu dan keberadaan Ibnu Shayyad sebagai Dajjal dan sesungguhnya Dajjal pada hakikatnya adalah yang disaksikan dalam keadaan terikat oleh Tamim. Sedangkan Ibnu Shayyad adalah syaitan yang menampakkan diri dalam bentuk Dajjal ketika itu, sehingga dia pergi ke Ashbahan, lalu ber-sembunyi bersama kawannya hingga dia datang pada masa yang ditakdirkan oleh Allah untuk keluar di sana. Mengingat rumitnya masalah ini, maka Imam al-Bukhari berusaha menempuh jalan Tarjih (menentukan yang paling kuat di antara yang lemah,-penj.), maka beliau mencukupkannya dengan hadits Jabir dari ‘Umar tentang Ibnu Shayyad, dan tidak meriwayatkan hadits Fathimah binti Qais tentang kisah Tamim.” [18]

g. Ibnu Shayyad Aadalah Hakiki dan Bukan Khurafat
Abu ‘Ubayyah beranggapan bahwa kepribadian Ibnu Shayyad hanyalah cerita bohong (khurafat) yang tidak masuk akal, kisahnya terus berlanjut pada sebagian kitab dan dinisbatkan kepada Rasulullah, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengeluarkan perkataan atau perbuatan kecuali yang berisi kebenaran, dan telah tiba masanya agar kita menghayati ruh dan makna hadits, petunjuk dan sasarannya, sebagaimana kita mempelajari sanad dan jalan periwayatannya agar pengetahuan Islam kita selamat dari kesalahan dan kebohongan.” [19]

Inilah yang dikatakan oleh Syaikh Abu ‘Ubayyah dalam komentarnya terhadap hadits-hadits tentang Ibnu Shayyad

Pendapatnya itu dapat ditolak dengan pernyataan bahwa hadits-hadits tentang Ibnu Shayyad adalah shahih, diriwayatkan dalam kitab-kitab Sunnah, seperti Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim juga yang lainnya. Di dalam hadits-hadits tentang Ibnu Shayyad sama sekali tidak ada yang bertentangan dengan ruh hadits dan kebenaran, karena sesungguhnya Ibnu Shayyad -seperti telah dijelaskan sebelumnya- telah menjadi sesuatu yang rancu bagi kaum muslimin, dia adalah salah satu Dajjal di antara para Dajjal, Allah menampakkan kebohongannya dan kebathilannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin.

Sebaliknya ungkapan Abu ‘Ubayyah sendirilah yang saling bertabrakan pada sebagian komentarnya terhadap hadits-hadits Ibnu Shayyad, dia berkata, “Sebenarnya Ibnu Shayyad mengatakan satu kalimat yang sama sekali tidak mengandung makna, sebagaimana kebiasaan para dukun, dengan kata-katanya yang sama sekali tidak memiliki maksud. Maka dia adalah seorang tukang sulap yang suka bohong.” [20]

Perkataannya ini mengandung pengakuan bahwa Ibnu Shayyad hanyalah seorang tukang sulap yang suka bohong! Maka bagaimana mungkin pada satu kesempatan dia mengatakan bahwa Ibnu Shayyad hanyalah cerita khurafat, se-mentara di kesempatan lainnya dia mengatakan bahwa dia adalah sang tukang sulap?!

Maka tidak diragukan lagi bahwa perkataan Abu ‘Ubayyah saling bertentangan.
Orang-orang yang mencermati komentar Syaikh Abu ‘Ubayyah terhadap kitab an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim, karya al-Hafizh Ibnu Katsir, niscaya dia akan mendapati keanehan dari sikapnya. Abu ‘Ubayyah telah melepaskan kendali akalnya terhadap hadits-hadits yang diungkapkan oleh Ibnu Katsir; apabila dia mengambil sesuatu yang sesuai dengan pendapatnya, maka itulah yang haq; adapun yang lainnya dia takwil dengan penakwilan yang bertentangan dengan zhahir hadits, atau menghukumi hadits-hadits shahih dengan maudhu’ (palsu) tanpa mengungkapkan dalil atau bukti yang benar.

Abu ‘Ubayyah berkata tentang hadits-hadits Ibnu Shayyad, “Apakah anak kecil itu sudah mukallaf? Apakah perhatian Rasul sampai kepada mendatangi dan menanyakannya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu? Apakah masuk akal bahwa beliau menunggu sehingga mendapatkan jawabannya? Apakah masuk akal jika beliau memberikan kesempatan kepadanya dengan jawaban seorang kafir yang mengaku sebagai Nabi dan Rasul? Dan Apakah Allah mengutus anak-anak? Pertanyaan-pertanyaan ini kami tujukan kepada orang-orang yang melumpuhkan akal mereka dari berfikir yang benar dan lurus.” [21]

Ungkapan Abu ‘Ubayyah dapat dijawab bahwa tidak ada seorang pun yang mengatakan, “Sesungguhnya anak kecil mukallaf, tidak pula bahwa Allah mengutus anak-anak, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meneliti masalah Ibnu Shayyad, apakah dia Dajjal secara hakiki atau bukan?” Karena telah tersebar di sekitar Madinah bahwa dia adalah Dajjal yang diberikan peringatan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan beliau sendiri tidak diberikan wahyu tentang Ibnu Shayyad. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bahwa yang dapat membuka identitasnya sebagai Dajjal -sementara dia adalah seorang mumayyiz yang dapat memahami dengan bertanya padanya- adalah ungkapan: “Apakah engkau bersaksi bahwasanya aku adalah utusan Allah…? Sampai perkataan beliau, “Sesungguhnya aku menyembunyikan sesuatu kepadamu?” Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang diarahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya.

Ungkapan ini sama sekali tidak ditujukan untuk membebankan Ibnu Shayyad dengan keislaman. Tujuannya hanyalah berusaha untuk menampakkan hakikat dari perkaranya. Jika tujuannya adalah seperti yang kami utarakan, maka tidak aneh jika Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunggu jawaban darinya, dan telah nampak dari jawabannya bahwa dia adalah salah satu dari para Dajjal (pendusta).

Demikian pula, tidak ada satu penghalang pun yang menghalangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menawarkan keislaman kepada anak kecil. Bahkan Imam al-Bukhari rahimahullah menuturkan kisah Ibnu Shayyad dengan memberikan judul untuknya dengan ungkapan, “Bab bagaimana Islam ditawarkan kepada anak kecil.” [22]

Adapun sikap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak menghukum pengakuan Ibnu Shayyad sebagai Nabi, maka itu adalah kerancuan yang dipengaruhi oleh tidak adanya penelitian yang dilakukan oleh Abu ‘Ubayyah terhadap pendapat para ulama dalam masalah itu. Padahal mereka telah menjawab pernyataan yang semisal dengan beberapa jawaban di antaranya:

Pertama : Bahwa Ibnu Shayyad adalah orang Yahudi yang berada di Madinah atau di antara sekutu mereka. Sedangkan di antara Nabi dan mereka ada perjanjian damai saat itu, yaitu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah. Maka beliau menulis sebuah perjanjian dengan mereka, juga melakukan perdamaian yang isinya agar mereka tidak dicela juga dibiarkan memeluk agama mereka.

Hal ini diperkuat oleh riwayat Imam Ahmad dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhuma tentang kisah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pergi kepada Ibnu Shayyad dan pertanyaan yang diajukan kepadanya, juga perkataan ‘Umar Radhiyallahu anhu tentangnya, “Izinkanlah aku untuk membunuhnya wahai Rasulullah!” lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika dia memang (Dajjal), maka bukan engkau bagiannya, karena yang akan membunuhnya hanyalah ‘Isa bin Maryam عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ, dan jika dia bukan (Dajjal), maka engkau tidak berhak membunuh seseorang yang ada di dalam perjanjian.” [23]

Jawaban inilah yang dipegang oleh al-Khaththabi[24] dan [25] al-Baghawi رحمهما الله.

Ibnu Hajar berkata, “Inilah pendapat yang jelas.” [26]

Kedua: Ibnu Shayyad ketika itu masih kecil, belum baligh.
Jawaban ini diperkuat oleh riwayat al-Bukhari dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma tentang kisah kepergian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Shayyad, di dalamnya ada ungkapan, “Sehingga beliau mendapatinya sedang bermain bersama anak-anak di sebuah bangunan tinggi bani Maghalah, saat itu Ibnu Shayyad telah hampir baligh.” [27]

Dan al-Qadhi ‘Iyadh memilih jawaban ini.[28]

Ketiga : Masih ada jawaban ketiga yang diungkapkan oleh a-Hafizh Ibnu Hajar bahwa Ibnu Shayyad tidak mendakwahkan dirinya sebagai Nabi dengan terang-terangan, ia hanya mendakwahkan risalah, dan pengakuan terhadap risalah tidak mesti memberi arti adanya pengakuan terhadap kenabian, sebab Allah Ta’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengutus (irsaal) syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir…” [Maryam: 83]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. At-Tadzkirah (hal. 702).
[2]. Syarh Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/46-47).
[3]. Al-Mushannaf (XX/306), tahqiq Habiburrahman al-A’zhami.
[4]. Nailul Authaar syarh Muntaqal Ahbaar (VII/230-231), karya asy-Syaukani, cet. Mushthafa al-Halabi, Mesir.
[5]. Hal (271).
[6]. Beliau adalah al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin ‘Ali asy-Syafi’i, penulis beberapa kitab seperti as-Sunanul Kubraa’, ash-Shugraa’, Dalaa-ilun Nubuwwah, al-Mabsuth dan yang lainnya, wafat di Naisabur pada tahun 458 H rahimahullah. Lihat Syadzaaratudz Dzahab (III/304-305), dan al-A’laam (I/116).
[7]. Fat-hul Baari (XIII/326-327).
[8]. Beliau adalah ‘Umar bin Abi Maslamah bin ‘Abdirrahman bin ‘Auf az-Zuhri seorang hakim di Madinah, perawi terpercaya, namun terkadang salah, terbunuh di Syam 132 H rahimahullah.
[9]. Yang berkata adalah Abu Salamah bin ‘Abdirrahman bapaknya ‘Umar. Lihat Taqriibut Tahdziib (II/56). Lihat ‘Aunul Ma’buud (XI/477).
[10]. Sunan Abi Dawud, kitab al-Malaahim, bab fii Khabaril Jassasah (XI/476, ‘Aunul Ma’buud).
Ibnu Hajar mengomentari hadits ini dengan berkata, “Ibnu Abi Salamah ‘Umar bermasalah, akan tetapi dia adalah perawi yang hasan haditsnya,” setelah itu beliau membantah orang yang berkata bahwa Jabir tidak mengetahui hadits Tamim.” Fat-hul Baari (XIII/327).
[11]. Telah terdahulu takhrijnya.
[12]. Beliau adalah al-Hafizh Ahmad bin ‘Abdillah bin Ahmad bin Ishaq al-Ashbahani, penulis kitab-kitab besar, seperti Hilyatul Auliyaa’ dan yang lainnya. Dia termasuk orang-orang yang tsiqah, lahir dan meninggal di Ashbahan pada tahun 430 H rahimahullah. Lihat Syadzaraatudz Dzahab (III/245), dan al-A’laam (I/157).
[13]. Dzikru Akhbari Ashbahan (hal. 287-288), karya Abu Nu’aim, dicetak di kota Leden pada percetakan Briil 1934 M.
[14]. Fat-hul Baari (III/327-328), Ibnu Hajar berkata, “‘Abdurrahman bin Hassan aku tidak mengenalnya dan perawi selainnya adalah tsiqah.”
[15]. Fat-hul Baari (XIII/328).
[16]. Lihat al-Furqaan baina Auliyaa-ir Rahmaan wa Auliyaa-isy Syaithaan (hal. 77), cet. II, th. 1375 H di beberapa percetakan Riyadh.
[17]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/70) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[18]. Fat-hul Baari (XIII/328).
[19]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/104), tahqiq Muhammad Abu ‘Ubayyah.
[20]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/88).
[21]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/104).
[22]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Jihaad, bab Kaifa Yu’radhul Islaam ‘alash Shabiyyi (VI/171, al-Fat-h).
[23]. Al-Fathur Rabbaani (XXIV/64-65).
Al-Haitsami berkata, “Perawinya adalah perawi ash-Shahih.” Majmaa’uz Zawaa-id (VIII/3-4).
[24]. Ma’aalimus Sunan (VI/182).
[25]. Syarhus Sunnah (XV/80) tahqiq Syu’aib al-Arna-uth.
[26]. Fat-hul Baari (VI/174).
[27]. Shahiih al-Bukhari (VI/172, al-Fat-h).
[28]. Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/48).

———

Sumber: www.almanhaj.or.id | 14 April 2012

Print Friendly