Pasal Pertama : Hadits Tidak Ada Al-Mahdi Kecuali ‘Isa Bin Maryam Dan Bantahannya

Pasal Pertama
AL-MAHDI

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

8. Hadits لاَ مَهْدِيُّ إِلاَّ عِيْسَـى بْنُ مَرْيَمَ (Tidak Ada al-Mahdi Kecuali ‘Isa bin Maryam) dan Bantahannya
Sebagian orang yang mengingkari hadits-hadits tentang al-Mahdi berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, juga al-Hakim dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزْدَادُ اْلأَمْرُ إِلاَّ شِدَّةً، وَلاَ الدُّنْيَا إِلاَّ إِدْبَارًا، وَلاَ النَّاسُ إِلاَّ شُحًّا، وَلاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ عَلَى شِرَارِ النَّاسِ، وَلاَ الْمَهْدِيُّ إِلاَّ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ.

“Suatu urusan tidak akan bertambah melainkan akan semakin sulit, dunia semakin mundur, dan manusia semakin kikir, tidaklah Kiamat terjadi kecuali kepada manusia yang paling buruk, dan tidak ada al-Mahdi kecuali ‘Isa bin Maryam.” [1]

Jawaban atas pernyataan mereka bahwa hadits tersebut adalah dha’if, karena semuanya bersumber kepada Muhammad bin Khalid al-Jundi.

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya, “Al-Azdi berkata, ‘Dia adalah munkarul hadits.’ Abu ‘Abdillah al-Hakim berkata, ‘Dia majhul.’” Saya (adz-Dzahabi) katakan, “Haditsnya, ‘Tidak ada al-Mahdi kecuali ‘Isa bin Maryam’ adalah khabar yang munkar, diriwayatkan oleh Ibnu Majah.” [2]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hadits ini dha’if, Abu Muhammad bin al-Walid al-Baghdadi dan yang lainnya telah menjadikannya sebagai sandaran, sementara hadits tersebut tidak bisa dijadikan sebagai san-daran. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Yunus, dari asy-Syafi’i, asy-Syafi’i meriwayatkannya dari seseorang, dari penduduk Yaman yang bernama Muhammad bin Khalid al-Jundi, padahal dia adalah orang yang tidak bisa dijadikan hujjah, dan hadits ini tidak termaktub di dalam Musnad asy-Syafi’i. Ada juga yang mengatakan, ‘Sesungguhnya asy-Syafi’i tidak mendengarnya dari al-Jundi, dan Yunus tidak mendengarnya dari asy-Syafi’i.’” [3]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dia seorang perawi yang majhul (tidak dikenal).” [4]

Pendapat itu telah ditentang oleh al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, beliau berkata, “Sesungguhnya hadits tersebut terkenal dari Muhammad bin Khalid al-Jundi ash-Shan’ani, guru asy-Syafi’i dan lebih dari satu orang yang meriwayatkan darinya. Dia bukanlah seorang perawi yang majhul (tidak dikenal) sebagaimana disangka oleh al-Hakim. Bahkan telah diriwayatkan dari Ibnu Ma’in bahwa ia telah mentsiqahkannya. Akan tetapi sebagian perawi ada yang meriwayatkannya dari beliau, dari Aban bin Abi ‘Iyasy dari al-Hasan al-Bashri secara mursal. Hal itu diungkapkan oleh guru kami (al-Mizzi) dalam kitab at-Tahdziib dari sebagian mereka bahwa beliau bermimpi melihat asy-Syafi’i berbicara, ‘Yunus bin Abdil ‘A’la ash-Shadafi telah berdusta atas namaku, hadits ini bukan riwayatku.’” Saya (Ibnu Katsir) katakan, “Yunus bin Abdil ‘A’la ash-Shadafi termasuk orang-orang yang tsiqah, tidak bisa dituduh dengan hanya berdasarkan mimpi, dan hadits ini bagi orang awam bertentangan dengan hadits-hadits yang telah kami sebutkan tentang penetapan al-Mahdi selain ‘Isa bin Maryam, baik sebelum turunnya Nabi ‘Isa bin Maryam ke bumi -sebagaimana hal itu lebih kuat, wallaahu a’lam- atau setelahnya. Dan apabila kita fahami dengan seksama, maka keduanya sama sekali tidak bertentangan, bahkan yang dimaksud dengan hal itu bahwa al-Mahdi sebenar-benarnya al-Mahdi adalah ‘Isa bin Maryam, akan tetapi hal itu tidak menafikan adanya al-Mahdi yang lainnya, wallaahu a’lam.” [6]

Abu ‘Abdillah al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Dimungkinkan bahwa yang dimaksud dari sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Dan tidak ada al-Mahdi kecuali ‘Isa’ adalah tidak ada al-Mahdi yang sempurna, yang maksum kecuali ‘Isa. Dengan pemahaman tersebut maka berbagai hadits bisa disatukan dan hilang pertentangan karenanya.” [7]

Kami katakan: Seandainya hadits tersebut benar-benar tetap, maka tidak bisa mengalahkan banyak hadits yang tetap tentang al-Mahdi, yang semuanya lebih shahih secara sanad daripada hadits yang dipertentangkan oleh para ulama tentang shahih dan tidaknya, wallaahu a’lam.

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Sunan Ibni Majah (II/1340-1341) dan Mustadrak al-Hakim (IV/441-442). Al-Hakim berkata, “Lalu aku menuturkan illah hadits yang telah sampai kepadaku ini sebagai suatu yang dianggap aneh, akan tetapi tidak dijadikan sebagai hujjah di dalam kitabku al-Mustadrak ‘alasy Syaikhaini c, karena yang lebih tepat untuk diungkapkan pada pembahasan ini adalah hadits Sufyan… dari ‘Ashim bin Bahdalah, dari Zirrin bin Hubais, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidaklah hari-hari dan malam akan lenyap hingga dia berkuasa (lalu beliau menuturkan hadits sampai akhirnya, sebagaimana telah diungkapkan).
[2]. Miizaanul I’tidaal (III/535).
[3]. Minhaajus Sunnah an-Nabawiyyah (IV/211).
[4]. Taqriibut Tahdziib (II/157).
[5]. Tahdziibul Kamaal fii Asmaa-ir Rijaal (III/1193-1194), karya Abul Hajjaj al-Mizzi.
[6]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/32) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[7]. At-Tadzkirah fii Ahwaalil Mautaa’ wa Umuuril Aakhirah (hal. 617).

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 31 Oktober 2012

Print Friendly