Penyegeraan Kehancuran Bagi Para Penentang Rasul

PENYEGERAAN KEHANCURAN BAGI PARA PENENTANG RASUL

Oleh
Syaikh Abdul Malik bin Muhammad Al-Jazairi

Sebagaimana (keadaan orang-orang) yang mengikuti para rasul akan mendapat pertolongan, demikian pula orang-orang yang menyelisihi para rasul akan mengalami kehinaan dan kekalahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina” [Al-Mujadalah : 20]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : …. Dan Allah jadikan kehinaan dan kekalahan bagi orang yang menyelisihi perintahku” [Hadits Hasan Riwayat Ahmad]

Penjelasan hadits tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah : “Bid’ah itu mengakibatkan perpecahan, sebagaimana sunnah mengakibatkan persatuan, sebagaimana dalam istilah disebutkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah (pengikut sunnah dan jama’ah), demikian pula dalam istilah dikatakan : ‘Ahlul Bid’ah wal Firaq (pelaku perbuatan bid’ah dan berpecah belah)” [1]

Para ahli ilmu bersepakat bahwa faktor dominan dari sebuah kekalahan adalah pertikaian, dan pertikaian yang paling dahsyat adalah pertikaian dalam agama. Dan manakala pertikaian dalam agama itu berawal dari ketidaktaatan kepada Allah dan RasulNya, maka Allah sebutkan dengan beriringan dalam satu ayat.

“Artinya : Dan ta’atlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” [Al-Anfal : 46]

Dan manakala komitmen terhadap As-Sunnah adalah perahu keselamatan di tengah samudera perpecahan, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk berpegang teguh pada sunnah dikala terjadinya perselisihan, beliau bersabda.

“Artinya : Barangsiapa di antara kalian yang hidup sesudahku nanti, ia akan melihat perpecahan yang banyak maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham, dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru” [Hadits Shahih Riwayat Tirimidzi, Ibnu Majah, dan selainnya]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka” [Ali-Imran : 105]

Maknanya : “Telah datang wahyu Allah yang menyatukan mereka, maka tatkala mereka meninggalkannya, merekapun berselisih”. Dan hal terjadi dalam sejarah kaum Yahudi dan Nashrani terhadap rasul-rasul mereka. Kaum Nashrani mengikuti para rahibnya yang mengadakan perbuatan bid’ah dan meninggalkan perintah yang diperintahkan kepada mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan diantara orang-orang yang mengatakan : ‘Sesungguhnya kami ini orang-orang Nashrani’, ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya ; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat” [Al-Maidah : 13]

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata : Ayat ini adalah nash yang menerangkan bahwa mereka meninggalkan sebagian perintah yang diperintahkan kepada mereka, dan perbuatan mereka ini (yaitu meninggalkan perintah) adalah penyebab terjadinya permusuhan dan kebencian yang diharamkan. [Majmu’ Fatawa 20/109]

Demikianpula kaum Yahudi meninggalkan sebagian yang diperintahkan kepada mereka, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya” [Al-Maidah : 13]

Akan tetapi perbuatan mereka itu (yaitu meninggalkan sebagian yang diperintahkan kepada mereka) tumbuh dari sikap mereka yang meninggalkan kebaikan lantaran benci terhadap apa yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat” [Al-Ma’idah : 64] [2]

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata : “Pertikaian dan perseteruan yang terjadi di luar penganut Islam, lebih banyak dari yang terjadi pada penganut Islam. Maka seseorang yang dekat dengan mutaba’atur rasul (taat kepada rasul), maka pertikaian dalam diri mereka lebih sedikit.

Adapun perselisihan dan pertikaian yang terjadi pada para filosof Yunani, India dan semisal mereka, maka hal itu adalah suatu perkara yang tak dapat menghitungnya, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala (lantaran banyaknya). Dan setelah itu perselisihan dan pertikaian yang terjadi dalam kelompok yang terbesar berbuat kebid’ahan (dalam agama Islam) seperti syi’ah rafidhah, dan setelah itu perselisihan dan pertikaian antara kaum mu’tazilah dan semisal mereka. Setelah itu perselisihan dan pertikaian kelompok-kelompok yang berintisab (mengelompokkan diri mereka) pada Al-Jama’ah, seperti kullabiyah, dan karromiyah dan as’ariyah serta kelompok yang semisal mereka.

Kemudian setelah itu perselisihan dan pertikaian di antara ahli hadits, dan ahli hadits ini adalah kelompok yang paling sedikit perselisihan dan pertikaiannya dalam dasar-dasar mereka, (yang demikian itu) karena warisan yang mereka peroleh dari Nubuwwah (ilmu Nabi), lebih besar dari warisan yang diperolah kelompok lainnya.

Pegangan mereka adalah tali agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang mereka berpegang teguh padanya.

“Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah” [Al-Imran : 103] [3]

Di antara untaian mutiara yang mahal dari Abi Mudhaffar As-Sam’ani adalah ucapannnya : “Dan sebagian dalil yang menunjukkan bahwasanya ahli hadits berada di atas al-haq (kebenaran) adalah, jika engkau menelaah seluruh kitab-kitab mereka yang ditulis sejak dari generasi awal hingga akhir dengan perbedaan negara dan zaman mereka, serta jauhnya jarak tempat tinggal antara mereka, masing-masing mereka tinggal pada benua yang berlainan, kamu akan dapati mereka dalam menjelaskan i’tiqad (keyakinan) berada dalam satu cara dan satu jalan, mereka berjalan di atas satu jalan dengan tidak menyimpang dan berbelok, perkataan mereka tentang i’tiqad adalah satu, dan keluar dari satu lidah. Serta nukilan mereka satu, kalian tidak akan jumpai perbedaan diantara mereka meskipun sedikit. Bahkan jika engkau kumpulkan semua yang pernah terlintas di atas lisan-lisan mereka (yang mereka nukil dari salaf) engkau akan jumpai seakan-akan datang dari hati yang satu dan dari lisan yang satu pula. Maka adakah dalam kebenaran dalil yang lebih jelas tentang hal ini ? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak didalamnya” [An-Nisa : 82]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” [Ali Imran : 103]

Adapun bila engkau melihat pada diri ahlul ahwa (pengikut hawa nafsu) dan ahlul bida’ (pelaku ke bid’ahan), engkau akan dapati mereka dalam keadaan berpecah belah, berselisih, menjadi berkelompok-kelompok dan bergolong-golongan, hampir-hampir tidak engkau jumpai dua orang di antara mereka yang berada di atas satu jalan dalam masalah aqidah, satu sama lain saling menuduh bid’ah, bahkan sampai saling mengkafirkan. Seorang anak mengkafirkan ayahnya, seseorang mengkafirkan saudaranya, seorang tetangga mengkafrikan tetangga lainnya.

Engkau akan melihat mereka selalu dalam perseteruan, kebencian dan perselisihan (selamanya), bahkan umur mereka habis, namun mereka tak pernah bersatu dalam satu kalimat.

“Artinya : Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti” [Al-Hasyr : 14] [4]

Dan tujuan dari semua ini adalah menjelaskan akan tertimpanya satu kekalahan bagi siapa saja yang menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kekalahan itu akan segera mereka dapati lantaran sikap mereka yang menyelisihi (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi Th I/No. 04/2003 – 1424H. Diterbitkan Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, Alamat Redaksi Perpsutakaan Bahasa Arab Jl. Sultan Iskandar Muda 46 Surabaya]
_________
Foote Note
[1]. Al-Uswah I/42 dan lihat Ijtima’ul Juyus Al-Islamiyah, oleh Ibnul Qayyim hal. 6]
[2]. Majmu’ Fatawa 31/227
[3]. Minhajus As-Sunnah
[4]. Al-Hujjah Li Qowwamis Sunnah 2/225

[halbaru]
Ibnu Sa’ad, Baihaqi, Ahmad dan lainnya meriwayatkan dengan sanad-sanad dari sejumlah sahabat (sebagian hadits mereka tercantum dalam hadits yang lain). Mereka berkata : “Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abdullah bin Khudzaifah As-Sahmi, ia adalah salah satu dari enam utusan yang diutus Rasulullah kepada raja-raja, (ia diutus) kepada raja Persia untuk mengajaknya kepada Islam, dan ia membawa sebuah surat untuk raja Persia.

Abdullah berkata : “Maka akupun memberikan surat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada raja Persia, kemudian mengambil surat tersebut lalu merobek-robeknya, maka tatkala kabar itu sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a.

“Artinya : Ya Allah, robohkanlah kerajaannya”
[Hingga disini Riwayat Bukhari dalam Shahihnya, akan tetapi tambahan do’a dalam hadits ini adalah mursal mennurutnya]

Kemudian raja Persia tersebut menulis surat kepada seorang Gubernurnya di Yaman yang bernama Badzan : “Hendaknya engkau mengutus dua orang yang kuat kepada lelaki ini (yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang berada di Hijaz, lalu sampaikanlah berita tentangnya kepadaku”.

Maka iapun mengutus dua orang utusannya, dan membekali keduanya dengan sebuah surat (untuk disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Tatkala keduanya tiba di Madinah, merekapun lantas menyerahkan surat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum, dan mengajak mereka untuk masuk Islam (sedang mereka gemetar ketakutan), dan dalam satu riwayat, tatkala Nabi melihat kumis mereka dipintal, sedang rambut di pipi dan jenggot mereka di potong, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling dari mereka dan berkata : “Celaka kalian ! siapakah yang memerintahkan kalian berbuat seperti ini (yaitu memintal kumis dan mencukur rambut pipi dan jenggot)?”. Mereka berkata :”Yang memerintahkan kami adalah Tuhan kami” (yang mereka maksud adalah Raja Persia)”, maka Nabi pun menjawab : “Akan tetapi Rabbku menyuruhku agar aku memelihara jenggotku dan supaya aku memotong kumisku”. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Kembalilah kalian ! dan datanglah besok supaya aku kabarkan kepada kalian apa yang aku ingin kabarkan”. Kemudian mereka berduapun datang pada keesokan harinya, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Sampaikanlah pada saudara kalian (Badzan) bahwasanya Rabbku (Allah Subhanahu wa Ta’ala) telah membunuh Tuhannya (yaitu Raja Persia) tadi malam”.

Maka merekapun mendapati hal itu sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam [As-Shahihah Al-Albani 1429]

Di dalam kisah ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui akan kebinasaan Raja Persia disaat berani (menyobek) surat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menghormati beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Beliau mengetahui hal ini) karena Allah telah menetapkan untuk membinasakan orang yang membenci RasulNya, dan menyegerakan baginya kehancuran. Allah berfirman.

“Artinya : Sesungguhnya orang yang membenci kamu dialah yang terputus” [Al-Kautsar : 3]

Dan kebenaran dari (sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) bahwa raja Persia telah dibunuh oleh anaknya sendiri, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafidz dalam Fathul Baari. [7/733-734]

Dan peristiwa ini adalah termasuk dari kesempurnaan mukjizat (dalam terjadinya) permusuhan di antara komponen umat yang satu. Bagaimana tidak ? sedangkan pada peristiwa yang terjadi di atas adalah dalam satu rumah, hal ini adalah bukti firman Allah dalam surat Al-Maidah : 64

“Artinya : Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat”

Dan bandingkanlah kisah raja Persia dengan raja Romawi yang diriwayatkan Imam Bukhari dan lainnya, di dalamnya terdapat perkataan raja Romawi pada Abu Sufyan tentang diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ( …. kalau apa yang engkau ucapkan itu benar, ia (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) akan menguasai tempat kedua kakiku ini (kedudukannya). Dan aku telah mengetahui kalau dia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka kalau dia berasal dari golongan kalian, seandainya aku tahu kalau aku akan sampai kepadanya tentulah aku akan menentukan pertemuan dengannya. Dan seandainya aku berada disampingnya tentu aku akan mencuci kedua kakinya ….).

Imam Ibnu Taimiyah berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menulis surat kepada raja Persia dan Romawi, dan keduanya tidak masuk Islam, akan tetapi raja Romawi memuliakan surat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga utusan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka negerinya tetap jaya, sehingga dikatakatan bahwa kerajaan itu tetap ada pada anak keturunannya hingga hari ini.

Adapun raja Persia telah merobek surat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghina beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah menghancurkan kerajaannya dengan sehancur-hancurnya sehingga tidak terdapat setelah itu kerajaan Persia. Ini adalah bukti firman Allah.

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah orang yang terputus” [Al-Kautsar : 3]

Maka siapapun yang membenci dan memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya Allah akan menghancurkannya dan membinasakan diri dan jejaknya.

Dikatakan pula bahwa ayat ini turun tentang Al-‘Ash bin Wail atau Uqbah bin Abi Mu’id atau juga tentang Kaab bin Malik Al-Asraf (mereka adalah orang-orang kafir yang binasa lantaran memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Sedangkan engkau telah mengetahui azab Allah kepada mereka, telah disebutkan dalam pepatah yang umum.

“Artinya : Daging para ulama adalah racun”

Maka bagaimanakah dengan daging para Nabi ?

[As-Sorim Al-Maslul hal. 164-165 Fathul Baai I/44]

Aku (penulis) berkata : “Perhatikanlah perkataan sesungguhnya kerajaan itu tetap ada dengan akan keturunannya hingga ini, dengan perkataan Hiraclius sesudah membaca surat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat di atas :” Wahai sekalian rakyat Romawi apakah kalian ingin kejayaan dan kekokohan ditetapkan untuk kalian ? dan kalian memba’iat Nabi ini ( Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) ?”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata : “Yang mirip dengan hal ini adalah apa yang diceritakan oleh beberapa kaum muslimin yang dapat dipercaya, ahlu fiqih dan ilmu, tentang apa yang telah mereka alami berulang kali dalam pengepungan benteng-benteng dan kota-kota pesisir di Negeri Syam. Tatkala kaum muslimin mengepung Bani Asfar (bangsa Mongol) di zaman kita ini, mereka berkata : “Kami dahulu mengepung suatu benteng dan kota selama satu bulan atau lebih sehingga hampir putus asa, akan tetapi tiba-tiba nampak pada kami bahwa penduduknya mulai mencaci Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencaci pribadi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami pun disegerakan dan dimudahkan untuk menkalukkan kota itu. Dan tidak sampai satu atau dua hari atau semisal itu, negeri itu ditaklukkan secara paksa dan terjadi peperangan besar”.

Mereka berkata pula : “Bahwasanya kami dulu bergembira (dan mengetahui tanda-tanda bahwa kemenangan akan disegerakan) di saat kami mendengar mereka melakukan hal itu (yaitu mencela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan hati kami dipenuhi rasa marah atas apa yang mereka katakan (yaitu mencela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Sebagaimana diceritakan orang-orang yang terpercaya : “Bahwa kaum muslimin di barat keadaan mereka juga demikian. Dan sudah menjadi Sunatullah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala terkadang mengazab musuh-musuhNya dengan azab dari sisiNya, dan terkadang melalui para hamba-hambaNya yang beriman” [Masdar yang lalu hal : 117]

Imam Ibnu Taimiyyah berkata : “Surat Al-Kautsar, alangkah agungnya surat ini ! dan alangkah banyak ilmu padanya meskipun surat ini pendek ! Hakekat maknanya bisa dimengerti dari akhir surat tersebut, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memutus segala kebaikan orang yang membenci Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memutus penyebutannya, keluarga, dan hartanya. Maka rugilah ia di Akhirat kelak. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memutus kehidupannya sehingga tidak bermanfaat, (sehingga) ia tidak berbekal kebaikan untuk akhiratnya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memutus hatinya, (hingga) ia tidak memperhatikan kebaikan, dan tidak mempersiapkan hatinya untuk mengetahui dan mencintai kebaikan serta beriman kepada RasulNya, dan terputus amalannya sehingga tidak ia tidak bisa menggunakannya dalam kataatan, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memutusnya dari penolong sehingga ia tak mendapatkan seorang penolong pun atau pembantu, dan memutusnya dari segala amal shalih yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga ia tidak dapat merasakan amal-amal shalih itu rasa manis dalam hatinya, meskipun dalam fisiknya ia melakukan amal-amal shalih itu namun hatinya kosong.

Inilah balasan bagi orang yang membenci sebagian yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menolaknya karena hawa nafsunya, atau karena orang yang diikutinya, atau karena Shaikhnya, atau pemimpin, dan seniornya. Sebagaimana juga orang yang benci terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat, dan menakwilkannya tidak seperti yang dikehendaki Allah dan RasulNya, atau memahaminya sesuai dengan pemahaman madzhab dan kelompoknya, atau ia berangan-angan seandainya ayat-ayat sifat tidak diturunkan dan hadits tentang sifat-sifat (Allah) tidak disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tanda yang paling utama dari kebenciannya terhadap ayat dan hadits tentang sifat-sifat Allah tersebut, bahwa jika ia mendengar Ahlus Sunnah berdalil dengan ayat dan hadits sifat itu untuk menunjukkan satu kebenaran, maka mereka kesal dan jengkel lantaran hal itu, lalu menentang dan lari dari (kebenaran itu), karena dalam hatinya ada kebencian dan penolakan terhadapnya, maka adakah kebencian terhadap Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih besar dari pada hal ini ?!

Dan demikian pula kutipan-kutipan ucapan manusia atau ilmu mereka yang berkata jelek terhadap Al-Qur’an dan Sunnah, maka jika ia tidak membenci terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu ia tidak melakukannya, hingga diantara mereka ada yang melupakan Al-Qur’an setelah menghafalnya dan disibukkan dengan ucapan si Fulan dan si Fulan.

Maka berhati-hatilah dan berhati-hati !! wahai manusia dari membenci sebagian apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau engkau menolaknya hanya karena hawa nafsumu, atau demi menolong madzhab atau Syaikhmu, atau karena kesibukanmu dengan syahwat dan dunia, karena Allah tidak mewajibkan seseorang taat kecuali pada RasulNya dan mengambil apa-apa yang datang darinya. Dimana sekiranya seseorang menyelisihi semua manusia, lalu hanya mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Allah tidak akan menanyai (sikapnya yang) menyelisihi manusia tersebut.

Karena barang siapa yang taat atau ditaati, dia ditaati tiada lain hanyalah karena mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya tidak, maka jika ia memerintahkan suatu perintah yang menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah boleh ditaati.

Maka ketahuilah hal itu ! dengarlah serta taatilah ! ikutilah, dan jangan membuat bid’ah (perkara baru dalam agama) ! yang mengakibatkan kamu terputus dan tertolak amalanmu ! bahkan tidak ada suatu kebaikan dalam amal yang terputus dari itiba’ (yang terdapat contoh dan dalilnya), dan tidak ada kebaikan bagi pelakunya, Wallahu ‘alam. [Majmu ‘Fatawa 16/526-529]

[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi Th I/No. 04/2003 – 1424H. Diterbitkan Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, Alamat Redaksi Perpsutakaan Bahasa Arab Jl. Sultan Iskandar Muda 46 Surabaya]

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 24 Agustus 2007

Print Friendly