Perintah Meringankan Shalat Bagi Imam

SHALALAT BERJAMA’AH

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

E. Perintah Meringankan Shalat Bagi Imam
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَلَّـى أَحَدُكُمْ لِلنَّـاسِ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيْهِمُ الضَّعِيْفَ وَالسَّقِيْمَ وَالْكَبِيْرَ، فَإِذَا صَلَّى لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ.

“Jika salah seorang di antara kalian mengimami orang-orang, maka hendaklah ia meringankannya. Karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, dan orang tua. Namun, jika dia shalat sendirian, maka dia boleh memperpanjang sesuka hatinya. [1]

1. Imam memperpanjang raka’at pertama
Dari Abu Sa’id Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Pada waktu itu shalat Zhuhur telah ditegakkan. Lalu ada seorang yang pergi ke Baqi’ untuk buang hajat. Kemudian ia berwudhu’ lalu mendatangi shalat jama’ah sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berada pada raka’at pertama karena terlalu panjangnya.” [2]

2. Wajib mengikuti imam dan dilarang mendahuluinya
Dari Anas Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَـا جُعِلَ اْلإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوْا، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوْا، وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوْا…

“Sesungguhnya, imam itu diangkat untuk diikuti. Jika dia bertakbir, maka bertakbirlah. Jika dia sujud, maka sujudlah. Dan jika dia bangkit, maka bangkitlah…” [3]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

أَ مَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ اْلإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ يَجْعَلَ اللهُ صُوْرَتَهُ صُوْرَةَ حِمَارٍ.

“Tidakkah salah seorang di antara kalian takut jika Allah menjadikan kepalanya seperti kepala keledai bila dia mengangkat kepalanya sebelum imam melaksanakannya. Atau menjadikan rupanya seperti rupa keledai.” [4]

3. Siapakah yang berhak menjadi imam?
Dari Ibnu Mas’ud al-Anshari Radhiyallahu angu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوْا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوْا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوْا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً، فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا، وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ
الرَّجُلَ فِيْ سُلْطَانِهِ، وَلاَ يَقْعُدْ فِيْ بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ.

“Yang berhak mengimami suatu kaum adalah yang paling banyak hafal al-Qur-an di antara mereka. Jika dalam bacaan sama, maka yang paling tahu tentang Sunnah. Jika dalam Sunnah sama, maka yang paling dahulu berhijrah. Jika dalam hijrah sama, maka yang paling dahulu masuk Islam. Janganlah seseorang mengimami orang lain dalam kekuasaannya. Dan janganlah menduduki tempat duduk yang khusus di rumah orang itu kecuali dengan izinnya.”[5]

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa pemilik rumah, imam tetap, atau yang semisal mereka lebih berhak menjadi imam daripada yang selain mereka kecuali setelah diizinkan. Dasarnya adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِيْ سُلْطَانِهِ.

“Janganlah seseorang mengimami orang lain dalam daerah kekuasaannya…”

4. Imam anak-anak
Dari ‘Amr bin Salamah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Ketika terjadi penaklukan kota Makkah, setiap kaum berbondong-bondong masuk Islam. Ayahku paling dulu masuk Islam di antara kaumnya. Tatkala dia tiba, dia berkata, “Demi Allah, aku membawakan kalian sebuah kebenaran yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kerjakanlah shalat ini pada waktu ini, dan kerjakanlah shalat itu pada waktu itu. Jika waktu shalat telah tiba, maka hendaklah salah seorang di antara kalian adzan. Dan hendaklah yang paling banyak bacaannya di antara kalian mengimami kalian. Lantas mereka mencari-cari, namun tidak seorang pun yang lebih banyak hafalan al-Qur-an dibandingkan aku. Karena aku pernah belajar langsung dari para kafilah. Mereka lantas menyuruhku maju ke hadapan mereka (untuk menjadi imam). Saat itu umurku enam atau tujuh tahun.” [6]

F. Orang yang Shalat Fardhu Bermakmum Kepada Orang yang Shalat Sunnah dan Sebaliknya
Dari Jabir: “Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu pernah bermakmum kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas pulang dan mengimami kaumnya.”[7]

Dari Yazid bin al-Aswad Radhiyallahu anhu : “Ketika masih muda, dia pernah bermakmum kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala selesai shalat, ternyata ada dua orang pria yang belum shalat sedang berada di sudut masjid. Lalu beliau memanggil mereka. Mereka kemudian datang dengan gemetaran. Beliau bertanya, ‘Apa yang menghalangi kalian untuk shalat berjama’ah dengan kami?’ Mereka menjawab, ‘Kami sudah shalat di tempat tinggal kami.’ Beliau berkata, ‘Janganlah kalian berbuat seperti itu, jika salah seorang di antara kalian telah menunaikan shalat di tempat tinggalnya, kemudian menjumpai imam yang belum shalat, maka shalatlah bersamanya. Karena shalat yang (kedua) itu adalah sunnah baginya.’” [8]

G. Orang yang Mukim Bermakmum Kepada Orang yang Musafir dan Sebaliknya
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “‘Umar Radhiyallahu anhu mengimami penduduk Makkah shalat Zhuhur. Lalu dia salam pada raka’at kedua dan berkata, ‘Wahai penduduk Makkah, sempurnakanlah shalat kalian. Karena sesungguhnya kami sedang dalam perjalanan (musafir).’” [9]

H. Jika Seorang Musafir Bermakmum Kepada Orang yang Mukim, Maka Dia Harus Menyempurnakan Shalatnya (Tidak Mengqashar-ed.)
Dari Musa bin Salamah al-Hudzali Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku bertanya pada Ibnu ‘Abbas, ‘Bagaimana aku shalat jika berada di Makkah dan tidak berjama’ah dengan imam?’ Dia menjawab, ‘Dua raka’at. Itulah Sunnah Abul Qasim Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’” [10]

Dari Abu Mijlaz, ia berkata, “Aku berkata pada Ibnu ‘Umar, ‘Seorang musafir mendapatkan dua raka’at (terakhir dari) shalat suatu kaum -maksudnya, orang-orang yang mukim-. Apakah cukup dua raka’at itu ataukah dia shalat sesuai shalat mereka?’ Dia tertawa lalu berkata, ‘Dia harus mengikuti shalat mereka (tidak mengqashar).’” [11]

I. Jika Orang yang Mampu Berdiri Bermakmum Kepada Orang yang Duduk, Maka Dia Harus Duduk Sepertinya
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di rumah beliau dalam keadaan sakit. Maka beliau shalat sambil duduk. Kemudian orang-orang shalat sambil berdiri di belakang beliau. Lalu beliau memberi isyarat pada mereka agar duduk. Ketika selesai, beliau bersabda:

إِنَّمَـا جُعِلَ اْلإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوْا، وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوْا، وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوْا جُلُوْسًا.

“Sesungguhnya, imam itu diangkat untuk diikuti. Jika ia ruku’, maka ruku’lah. Jika dia bangkit, maka bangkitlah. Dan jika ia shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian sambil duduk.” [12]

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah jatuh dari kudanya. Kulit tubuh sebelah kanan beliau terkelupas. Kami menjenguk beliau. Lalu datanglah waktu shalat. Beliau lantas mengimami kami sambil duduk. Kami pun shalat di belakang beliau sambil duduk. Tatkala selesai mengerjakan shalat, beliau bersabda:

إِنَّمَا جُعِلَ اْلإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَـبَّرَ فَكَبِّرُوْا، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوْا، وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوْا، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُوْلُوْا: رَبَّنَـا وَلَكَ الْحَمْدُ، وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوْا قُعُوْدًا أَجْمَعُوْنَ.

“Sesungguhnya, imam itu diangkat untuk diikuti. Jika dia bertakbir, maka bertakbirlah. Jika dia sujud, maka sujudlah. Dan jika dia bangkit, maka bangkitlah. Jika dia mengucap, ‘سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ’, maka ucapkanlah, ‘رَبَّنَـا وَلَكَ الْحَمْدُ’. Dan jika dia shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian semua sambil duduk.”

J. Makmum yang Sendirian Berdiri di Sebelah Kanan Sejajar dengan Imam
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah Radhiyallahu anha. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat ‘Isya’ empat raka’at, lalu tidur. Kemudian beliau shalat lagi. Lalu aku berdiri di samping kiri beliau, lantas beliau menjadikan aku berada di sisi kanannya.” [13]

K. Dua Orang Makmum atau Lebih Berdiri di Belakang Imam
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak shalat. Aku datang dan berdiri di samping kiri beliau. Lalu beliau memegang tanganku dan memutarku hingga mendirikanku di samping kanannya. Setelah itu Jabbar bin Shakhr Radhiyallahu anhu datang dan berdiri di samping kiri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau memegang tangan kami berdua dan mendorong kami hingga beliau mendirikan kami di belakang beliau.” [14]

L. Makmum Wanita Berdiri di Belakang Imam
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengimaminya, ibu, dan bibinya.” Anas melanjutkan, “Beliau mendirikanku di samping kanannya dan wanita di belakang kami.” [15]

M. Wajib Meluruskan Shaff
Wajib bagi imam untuk tidak memulai shalat kecuali setelah shaff lurus. Dia harus menyuruh makmum meluruskannya. Hendaknya dia sendiri yang meluruskan shaff atau menyuruh orang lain agar meluruskannya.

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ.

“Luruskanlah shaff-shaff kalian. Karena lurusnya shaff termasuk kesempurnaan shalat.”[16]

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Ketika hendak shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh pundak-pundak kami sambil berkata:

اِسْتَوُوْا وَلاَ تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفُ قُلُوْبُكُمْ…

“Luruskan dan janganlah kalian berselisih sehingga hati kalian turut berselisih…[17]

Dari an-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan shaff-shaff kami seakan-akan meluruskan anak panah, hingga kami benar-benar paham. Pada suatu hari beliau keluar untuk shalat. Ketika hampir takbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya keluar dari shaff. Beliau lantas bersabda:

عِبَادَ اللهِ، لَتُسَوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ.

“Wahai sekalian hamba Allah, hendaklah kalian luruskan shaff-shaff kalian atau Allah benar-benar akan memperselisihkan antara wajah-wajah kalian.”[18]

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَقِيْمُوا الصُّفُوْفَ، وَحَـاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ، وَسُدُّوا الْخَلَلَ، وَلِيْنُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ، وَلاَ تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ، وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ، وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ.

“Lurukan shaff, sejajarkan pundak, dan tutupilah celah-celah. Berlaku lembutlah terhadap tangan saudara-saudara kalian, dan jangan biarkan celah-celah untuk dimasuki syaitan. Barangsiapa menyambung shaff, maka Allah akan menyambungnya. Dan barangsiapa memutuskan shaff, maka Allah akan memutusnya.” [19]

Dari Anas Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَصُّوْا صُفُوْفَكُمْ، وَقَارِبُوْا بَيْنَهَا، وَحَاذُوْا بِاْلأَعْنَاقِ، فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، إِنِّـيْ َلأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ.

“Lurus dan rapatkanlah shaff, serta sejajarkanlah dengan leher. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat syaitan memasuki celah-celah shaff seperti anak kambing hitam.”[20]

Bagaimana meluruskan shaff?
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

أَقِيُمُوْا صُفُوْفَكُمْ، فَإِنِّيْ أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِيْ.

“Luruskanlah shaff-shaff kalian. Karena aku melihat kalian dari belakang punggungku.”

Seseorang di antara kami lantas menempelkan pundaknya dengan pundak temannya dan menempelkan kakinya dengan kaki temannya.[21]

An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhu berkata, “Aku melihat seseorang di antara kami menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya.”[22]

N. Shaff Laki-Laki dan Wanita
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوُّلَهَا.

“Sebaik-baik shaff laki-laki adalah yang paling depan, sedangkan yang paling buruk adalah yang paling belakang. Dan sebaik-baik shaff wanita adalah yang paling belakang, sedangkan yang paling buruk adalah yang paling depan.” [23]

O. Keutamaan Shaff Pertama dan Shaff Sebelah Kanan
Dari al-Barra’ bin ‘Azib Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الصُّفُوْفِ اْلأَوَّلِ.

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya mendo’akan rahmat bagi orang-orang yang berada di shaff pertama.” [24]

Masih dari al-Barra’, dia berkata, “Jika kami shalat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami senang jika berada di sebelah kanan beliau. Beliau hadapkan wajahnya pada kami.” Kemudian aku mendengar beliau mengucapkan:

رَبِّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ.

“Ya Rabb-ku, lindungilah aku dari ‘adzab-Mu, di hari Engkau bangkitkan seluruh hamba-Mu.” [25]

P. Siapakah yang Berdiri Di Belakang Imam?
Dari Ibnu Mas’ud al-Anshari Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لِيَلِيَنِيْ مِنْكُمْ أُوْلُوا اْلأَحْلاَمِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِيْـنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ.

“Hendaklah orang-orang yang pintar lagi berilmu di antara kalian berada di belakangku. Setelah itu orang-orang yang derajatnya di bawah mereka. Setelah itu orang-orang yang derajatnya di bawah mereka lagi.” [26]

Q. Dimakruhkannya Berbaris di Antara Tiang-Tiang
Dari Mu’awiyah bin Qurah Radhiyallahu anhu, dari ayahnya, dia berkata, “Dulu, pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami dilarang berbaris di antara tiang-tiang (masjid). Kami benar-benar dikeluarkan dari tempat itu.” [27]

Ini hanya dalam shalat jama’ah. Adapun jika sendirian, maka tidak masalah shalat di antara dua tiang dengan tujuan menjadikannya pembatas.

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Usamah bin Zaid, ‘Utsman bin Thalhah, dan Bilal memasuki Baitullah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lama di sana kemudian keluar. Aku adalah orang pertama yang mengikutinya. Lalu aku bertanya pada Bilal, “Di manakah beliau shalat?” Dia menjawab, “Di antara dua tiang terdepan.”[28]

R. ‘Udzur Untuk Meninggalkan Shalat Jama’ah
1, 2. Dingin dan hujan
Dari Nafi’, “Pada suatu malam yang dingin dan berhembus kencang, Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma mengumandangkan adzan shalat. Dia mengucapkan, “Hai manusia, shalatlah kalian dalam rumah-rumah kalian!” Setelah itu dia berkata, “Sesungguhnya jika malam dingin dan hujan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mu’adzin mengucapkan, “Hai manusia, shalatlah kalian dalam di rumah-rumah kalian!”[29]

3. Saat makanan dihidangkan
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا وُضِعَ عَشَاءُ أَحَدِكُمْ وَأُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَابْدَؤُوْ بِالْعَشَاءِ، وَلاَ يَعْجَلْ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهُ.

“Jika makan malam salah seorang di antara kalian dihidangkan sedangkan iqamat telah dikumandangkan, maka dahulukanlah makan malam. Janganlah tergesa-gesa hingga dia menyelesaikan makannya.”

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma pernah disuguhi makanan ketika iqamat telah dikumandangkan. Dia tidak mendatangi shalat hingga dia menyelesaikan makannya. Padahal dia benar-benar mendengar bacaan imam. [30]

4. Menahan dua hadats
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَـامِ، وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُ اْلأَخْبَثَيْنِ.

“Tidak sempurna shalat ketika makanan telah dihidangkan. Tidak sempurna pula shalat orang yang menahan dua hadats.” [31]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/199 no. 703)], ini adalah lafazh darinya, Shahiih Muslim (I/341 no. 467), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/11 no. 780), Sunan at-Tirmidzi (I/150 no. 236), Sunan an-Nasa-i (II/94).
[2]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 930)], Shahiih Muslim (I/335 no. 454), Sunan an-Nasa-i (II/164).
[3]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/308 no. 411)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/173 no. 689), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/310 no. 587), Sunan at-Tirmidzi (I/225 no. 358), Sunan an-Nasa-i (III/98), Sunan Ibni Majah (I/392 no. 1238).
[4]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/182 no. 691)], Shahiih Muslim (I/320 no. 427), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/330 no. 609), Sunan at-Tirmidzi (II/48 no. 579), Sunan an-Nasa-i (II/96), Sunan Ibni Majah (I/308 no. 961).
[5]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 316)], Shahiih Muslim (I/465 no. 673), Sunan at-Tirmidzi (I/149 no. 235), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/ 289 no. 578), Sunan an-Nasa-i (II/76) dan Sunan Ibni Majah (I/313 no. 980). Dalam riwayat mereka disebutkan:
فَإِنْ كَانُوْا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَكْثَرُهُمْ سِنًّا
“Jika dalam hijrah sama, maka yang paling tua dalam usia.” Ini adalah riwayat Muslim.
[6]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 761)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (VIII/22 no. 4302), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/293 no. 581), Sunan an-Nasa-i (II/80).
[7]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 387)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/192 no. 700), Shahiih Muslim (I/339 no. 465), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/4 no. 776), Sunan an-Nasa-i (II/102).
[8]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 538)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/283 no. 571), Sunan at-Tirmidzi (I/140 no. 219), Sunan an-Nasa-i (II/112).
[9]. Shahih: [Tahqiq al-Arna-uth dalam Jaami’ul Ushul (V/708)], Mushannaf ‘Abdur-razzaq (no. 4369).
[10]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 571)], Shahiih Muslim (I/479 no. 688), Sunan an-Nasa-i (III/119).
[11]. Sanadnya shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 22)], al-Baihaqi (III/157).
[12]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/173 no. 688)], Shahiih Muslim (II/309 no. 412), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/315 no. 591).
[13]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 540)], Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 792), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/190 no. 697), ini adalah lafazhnya, Shahiih Muslim (I/525 no. 763), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/318 no. 596), Sunan at-Tirmidzi (I/147 no. 232), Sunan an-Nasa-i (II/104), dan Sunan Ibnu Majah (I/312 no. 973).
[14]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 540)], Shahiih Muslim (I/458 no. 660 (269)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/318 no. 595), dan Sunan Ibnu Majah (I/312 no. 975).
[15]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/192 no. 700)], Shahiih Muslim (I/339 no. 465), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/4 no. 776), dan Sunan an-Nasa-i (II/102).
[16]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/324 no. 433)], ini adalah lafazh darinya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/209 no. 723), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/367 no. 654), dan Sunan Ibni Majah (I/317 no. 993).
[17]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 961)] dan Shahiih Muslim (I/323 no. 432).
[18]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 3972)], Shahiih Muslim (I/324 no. 436 (128)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/363 no. 649), Sunan at-Tirmidzi (I/143 no. 227), Sunan an-Nasa-i (II/89), dan Sunan Ibni Majah (I/ 318 no. 994). Maksudnya adalah, beliau bersungguh-sungguh dalam melurus-kan shaff hingga seolah-olah menjajarkan anak panah saking lurus dan ratanya (Shahiih Muslim dengan Syarh an-Nawawi (IV/207), cet. Qurthubah).
[19]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 620)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/365 no. 652).
[20]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 621)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/366 no. 653), dan Sunan an-Nasa-i (II/92).
[21]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 393)] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/211 no. 725).
[22]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 124), hal. 184], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/211) secara mu’allaq.
[23]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 331)], Shahiih Muslim (I/326 no. 440), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/374 no. 664), Sunan at-Tirmidzi (I/143 no. 224), Sunan an-Nasa-i (II/93), dan Sunan Ibnu Majah (I/319 no. 1000).
[24]. Shahih: [Shahih Sunan Abu Dawud (no. 618)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/364 no. 650), dan Sunan an-Nasa-i (II/90), dengan lafazh: الصُفُوْفِ الْمُتَقَدِّمَةِ (shaff-shaff yang terdepan).
[25]. Shahih: [At-Targhiib (no. 500)] dan Shahiih Muslim (I/493, 492 no. 709).
[26]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 626)], Shahiih Muslim (I/323 no. 432), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/371 no. 660), Sunan Ibni Majah (I/312 no. 976), dan Sunan an-Nasa-i (II/90).
[27]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 821)], Sunan Ibni Majah (I/320 no. 1002), Mustadrak al-Hakim (I/218), dan al-Baihaqi (III/104).
[28]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari, hal. 139] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/578 no. 504).
[29]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/156 no. 666)], Shahiih Muslim (I/484 no. 697), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/391 no. 1050), dan Sunan an-Nasa-i (II/15).
[30]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/159 no. 673)], Shahiih Muslim (I/392 no. 459), tanpa kalimat terakhir, dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (X/229 no. 3739).
[31]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 7509)], Shahiih Muslim (I/393 no. 560), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/190 no. 89).

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 18 Desember 2004

Print Friendly