Saya Melarang Untuk Mencegah Kemungkaran Dalam Bekerja, Karena Saya Takut Diputuskan Hubungan Kerja

SAYA MELARANG ANAK-ANAK SAYA UNTUK MENCEGAH KEMUNGKARAN, KARENA SAYA PERNAH MENCEGAH KEMUNGKARAN DALAM BEKERJA YANG BERAKIBAT DIPUTUSKANNYA HUBUNGAN KERJA DENGAN SAYA.

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : “Saya bekerja sebagai perawat di unit kesehatan sekolah dan saya senantiasa berupaya mencegah kemungkaran yang saya lihat dalam pekerjaan, namun menyebabkan saya di PHK, dan menyebabkan saya lelah secara psikologis. Karena itu saya melarang anak-anak saya untuk mencegah segala kemungkaran. Saya meminta saran, semoga Allah memberi Anda pahala”.

Jawaban.
Tidak diragukan lagi bahwa yang terjadi pada anda adalah kesalahan yang besar bagi siapa saja yang melakukannya, apabila anda telah mengingkari kemungkaran berdasarkan ilmu dan pengetahuan yang benar. Anda tetap berkewajiban untuk mengingkari kemungkaran, meski anda harus di PHK dan tidak dibutuhkan lagi dalam pekerjaan anda. Sesungguhnya anda telah membuat Allah meridhai anda dan anda telah mengerjakan apa yang Dia sukai bila anda mengerjakannya, karena segala perkara ada dalam kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Telah diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda.

“Artinya : Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemungkaran hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, maka apabila ia tidak mampu hendaklah dengan lisannya, apabila tidak mampu, maka dengan hatinya, yang demikian adalah selemah-lemah iman”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia.

“Artinya : orang-orang mukmin laki-laki dan orang mukmin perempuan, sebagian dari mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain, mereka menyeru kepada kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar” [At-Taubah : 71]

Allah juga berfirman.

“Artinya : Kamu adalah sebaik-baiknya umat yang dilahirkan untuk manusia, kamu menyuruh berbuat baik dan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah” [Ali Imran : 110]

Apabila anda mengerjakan hal itu karena taat kepada Allah, dan mencari keridhaan-Nya, maka sesungguhnya akibatnya akan menjadi terpuji dan apa yang telah terhjadi bukanlah suatu masalah. Allah pasti akan mencukupi kebutuhan anda, dan Allah Maha Pemberi Rizki, segala kebaikan ada dalam tangan-Nya.

Dia berfirman.

“Artinya : Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah akan menjadikannya jalan keluar, dan memberinya rizki dari arah yang tidak diduga-duga” [Ath-Thalaq : 2-3]

“Artinya : Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan kemudahan dalam urusannya” [Ath-Thalaq : 4]

Maka seorang wanita yang beriman harus bertaqwa kepada Allah, baik ia adalah seorang guru, perawat atau lainnya. Demikian pula dengan seorang dokter wanita, manager semisalnya. Semuanya harus menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran sebagaimana diwajibkan kepada orang laki-laki berdasarkan ayat-ayat dan hadits-hadits di atas. Sungguh anda telah berbuat kesalahan dengan melarang anak-anak anda untuk mencegah kemungkaran.

Bertaqwalah kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya karena hal tersebut dan berilah pengertian kepada mereka tentang kewajiban yang dibebankan Allah atas mereka.

[Majmu’ Fatawa wa Rasail Mutanawwi’ah, Syaikh Bin Baz, 3/450]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerjemah Amir Hamzah Fakhrudin, Penerbit Darul Haq]

——

Sumber: www.almanhaj.or.id | 18 Februari 2004

Print Friendly