Sebab Pengampunan Dosa

SEBAB PENGAMPUNAN DOSA

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً .

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu , beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Wahai, anak Adam! Sungguh selama engkau berdoa kapada-Ku dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni semua dosa yang ada pada engkau, dan Aku tidak peduli. Wahai, anak Adam! Seandainya dosa-dosamu sampai setinggi awan di langit, kemudian engkau memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dan Aku tidak peduli. Wahai, anak Adam! Seandainya engkau menemui-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, kemudian menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan Aku sedikit pun, tentulah Aku akan memberikan pengampunan sepenuh bumi’.”

TAKHRIJ HADITS[1]
Hadits ini diriwayatkan dari dua sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yaitu Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu dan Abu Dzar al-Ghifâri Radhiyallahu anhu.

Hadits Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 3540 (dalam Tuhfah 9/487-488), dan Imam at-Tirmidzi rahimahullah menilainya sebagai hadits hasan. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni rahimahullah menyatakan, para perawinya (hadits Anas) tsiqah, kecuali Katsîr bin Fâ`id yang hanya direkomendasikan oleh Ibnu Hibbân rahimahullah.

Dalam kitab at-Taqrîb, Ibnu Hajar rahimahullah menyebut Katsîr bin Fâ`id hanyalah perawi yang maqbûl.[2] Namun hadits ini hasan sebagaimana pendapat Imam at-Tirmidzi, karena memiliki hadits penguat dari sahabat lainnya, yaitu hadits Abu Dzar al-Ghifâri Radhiyallahu anhu.

Hadits Abu Dzar al-Ghifâri Radhiyallahu anhu diriwayatkan oleh ad-Dârimi dalam Sunan-nya (2/322) dan Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam Musnad-nya (5/172). Adapun al-Hâkim rahimahullah dalam al-Mustadrak (4/241) meriwayatkan hadits ini secara ringkas, dan adz-Dzahabi rahimahullah menyetujuinya.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni rahimahullah juga menyatakan, ada hadits dari sahabat lainnya yang menguatkan hadits-hadits di atas. Yaitu sebagaimana diriwayatkan ath-Thabrâni rahimahullah di dalam kitab Mu’jam, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma dan sudah ditakhrij dalam kitab ar-Raudh an-Nadhîr (432). Syaikh al-Albani rahimahullah memasukkan hadits ini ke dalam kitab Shahîh Sunan at-Tirmidzi. Sedangkan hadits Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma ini diriwayatkan ath-Thabrani rahimahullah dalam Mu’jamul-Kabîr no. 12346 dan Mu’jamush-Shaghîr no. 820. Wallahu a’lam.

MUFRADÂT HADITS[3]
1. Pernyataan إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي , bermakna selama kamu berdoa dan berharap kepada-Ku.

2. Pernyataan غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ , bermakna Aku memberi ampunan atas semua kemaksiatan walaupun berulang-ulang dan banyak.

3. Pernyataan وَلَا أُبَالِي , bermakna Aku tidak meremehkan permohonan ampunanmu kepada-Ku, walaupun dosa yang engkau miliki besar atau banyak. Sedangkan Imam ath-Thibii rahimahullah memberi makna, tanpa dengan menanyakan apa yang ia kerjakan.

4. Pernyataan عَنَانَ السَّمَاءِ , bermakna awan. Tetapi ada juga yang menyatakan, maknanya adalah semua yang menutupi langit atau yang tampak bagimu dari langit apabila engkau mengangkat kepala ke langit.

5. Pernyataan بِقُرَابِ الْأَرْضِ , bermakna yang hampir sepenuhnya.

6. Pernyataan لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا , bermakna meninggal dalam keadaan bertauhid.

FAIDAH HADITS
Setiap orang pasti berbuat salah, dan betapa banyak kesalahan dan dosa yang diperbuat anak keturunan Adam. Seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas dengan keadilan-Nya, niscaya setiap dosa dan kesalahan manusia tidak ada yang selamat dari siksaan-Nya. Namun rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat luas memenuhi seluruh makhluk-Nya.

Di antara wujud rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut, yaitu pengampunan dosa dan kesalahan yang diperbuat hamba-hamba-Nya. Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan ada tiga faktor yang menjadi penyebab dosa manusia mendapat ampunan.

Faktor pertama, yaitu doa dengan mengharap ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Sebagimana dijelaskan dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي

Wahai, anak Adam! Sungguh selama engkau berdoa kapada-Ku dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni semua dosa yang ada pada engkau, dan Aku tidak peduli.

Doa dengan mengharap ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala diperintahkan dan dijanjikan akan dikabulkan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dan Rabbmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu”. [Ghâfir/40:60].

Juga dijelaskan dalam hadits an-Nu’mân bin Basyir Radhiyallahu anhuma , ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ ثُمَّ قَرَأَ ( وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ) رواه الترمذي

“Do’a itu adalah ibadah,” kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah: Dan Rabbmu berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’.” [HR Tirmidzi]

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan doa seorang muslim itu mustajab, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَا عَلَى الْأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ إِلَّا آتَاهُ اللَّهُ إِيَّاهَا أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ إِذًا نُكْثِرُ قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

“Tidak ada seorang muslim di muka bumi ini berdoa kepada Allah dengan sebuah doa, kecuali Allah mengabulkannya, atau diselamatkan dari kejelekan seperti itu selama tidak berdoa dengan amalan dosa atau memutus kekerabatan”. Seorang dari engkau berkata: “Kalau begitu kita perbanyak,” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah Subhanahu wa Ta’alaebih banyak lagi (mengabulkannya)”.[4]

Demikianlah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan rahmat-Nya kepada hamba yang berdoa memohon untuk dipenuhi kebutuhannya berupa masalah duniawi, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala alihkan darinya dan menggantinya dengan yang lebih baik. Terkadang dengan diselamatkan dari keburukan, atau dijadikan sebagai simpanan bagi dirinya di akhirat. Atau Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosanya dengan doa tersebut. Telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا قَالُوا:’ إِذًا نُكْثِرُ’ قَالَ: ) اللَّهُ أَكْثَرُ ) رواه أحمد.

“Tidak ada seorang muslim yang berdoa dengan satu doa yang tidak ada amalan dosa dan memutus tali kekerabatan, kecuali Allah memberikan salah satu dari tiga hal. Adakalanya doanya segera dikabulkan, atau dijadikan sebagai simpanan untuknya di akhirat, atau ia diselamatkan dari keburukan yang semisalnya”. Mereka berkata: “Jika begitu, kami akan memperbanyak (untuk berdoa)?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih banyak lagi (mengabulkannya)”. [5]

Kesimpulannya, berdoa memohon ampunan dengan berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi penyebab seseorang itu mendapat ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala , walaupun dosanya sangat besar, sebab ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih besar lagi. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk meminta semua kebutuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , seperti sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُلْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ وَلَكِنْ لِيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ وَلْيُعَظِّمْ الرَّغْبَةَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ. رواه مسلم.

Apabila salah seorang dari kalian berdoa, jangan mengatakan, “wahai Allah, ampunilah aku jika Engkau suka,” namun bersungguh-sungguhlah dalam meminta, dan mintalah yang terbaik. Karena benar-benar tidak ada sesuatu yang berat untuk Allah berikan. [6]

Semua dosa hamba itu masih kecil dibandingkan dengan ampunan Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu ada yang berkata:

يَا رَبِّ إِن عَظُمَت ذُنُوبِى كَثرَةً فَلَقَد عَلِمتُ بِأَنَّ عَفوَكَ أَعظَـمُ

(Wahai, Rabbku! Walaupun dosaku sangat besar, namun aku yakin bahwa ampunan-Mu lebih besar lagi).

إِن كَانَ لاَ يَرجُوكَ إِلاَّ مُحسِـنٌ فَمَن الَّذِى يَدعُو وَيرجو المُجرِمُ

(Bila tidak berharap kepada-Mu kecuali orang yang baik, maka orang jahat berdoa dan memohon kepada siapa?)

مَا لِى إِلَيكَ وَسِيلَةٌ إِلاَّ الـرَّجَـا وَجَمِيلُ عَفوِكَ ثُمَّ إِنِّى مُسـلـمُ

(Aku hanya memiliki wasilah harapan mendapatkan ampunan-Mu yang indah, kemudian sesungguhnya aku seorang yang berserah diri).

Faktor Kedua, Yaitu Istighfar.
Sebagaimana dijelaskan dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي

Wahai, anak Adam! seandainya dosa-dosamu sampai setinggi awan di langit, kemudian engkau memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dan Aku tidak peduli.

Hadits ini menjelaskan, bahwa istighfar menjadi salah satu faktor dosa-dosa terampuni, walaupun dosa tersebut setinggi awan di langit atau sepanjang mata memandang. Pengertian ini didukung dengan hadits lainnya yang berbunyi:

لَوْ أَخْطَأْتُمْ حَتَّى تَمْلَأَ خَطَايَاكُمْ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتُمْ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَغَفَرَ لَكُمْ. رواه أحمد.

Seandainya kalian melakukan kesalahan hingga kesalahan kalian memenuhi antara langit dan bumi, kemudian kalian memohon ampunan (istighfar) kepada Allah Azza wa Jalla , tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni kalian.

Pengertian Istighfar.
Kata اسْتَغْفَرَ (istighfar), dalam bahasa Arab bermakna meminta maghfirah (طَلَبُ الْمَغْفِرَةِ). Dan المَغْفِرَة , memiliki makna perlindungan dari keburukan dosa, atau penghapusan dari dosa, dan menggantikannya.

Pengampunan dosa ada dua jenis.
1. Penghapusan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada, dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan yang menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak mulia.

2. Penggantian, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إِلاَّ مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

(kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka kejahatan mereka itu diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang). –al-Furqân/25 ayat 70- dan inilah yang disebut dengan tingkatan maghfirah (ampunan).

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Kata الإسْتِغْفَارَ dalam bahasa Arab mempunyai makna meminta maghfirah ( طَلَبُ الْمَغْفِرَةِ ). Dan kata المَغْفِرَة , bermakna perlindungan dari kejelekan dosa.

Kata al-maghfirah ( المَغْفِرَة ) mempunyai makna tambahan dari kata السَّتْرُ , karena kata المَغْفِرَة bermakna perlindungan dari kejelekan dosa, sehingga seorang hamba tidak disiksa lagi. Orang yang diampuni dosanya tidak akan disiksa. Sedangkan jika sekedar ditutupi (dosa tersebut), maka masih ada kemungkinan disiksa dalam batin, dan orang yang masih disiksa dalam batin atau lahiriahnya, berarti ia belum diampuni.

Jenis Istighfar.
Jenis istighfar yang terbaik, ialah memulainya dengan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala , kemudian mengakui dosa, kemudian memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Demikianlah yang disampaikan dalam hadits Syaddad bin ‘Aus Radhiyallahu anhu yang berbunyi:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: [سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ] رواه البخارى.

Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau berkata: “Sayyidul-istighfar, yaitu ucapan ‘Wahai Allah, Engkaulah Rabbku yang tiada sesembahan yang benar kecuali Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hambu-Mu, dan berada di atas perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kejelekan perbuatanku. Aku mengakui semua kenikmatan yang Engkau anugerahkan kepadaku dan mengakui dosaku, maka ampunilah aku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosaku kecuali Engkau’.” [HR Imam al-Bukhâri].

Ada beberapa jenis istighfar yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selain di atas, di antaranya sebagai berikut.

1. Ucapan أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ , sebagaimana tersebut dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ رواه أبو داود والترمذى.

Barang siapa yang mengucapkan: “Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada sesembahan yang benar kecuali Dia yang Maha Hidup dan Maha Qayyum, dan aku bertaubat kepada-Nya,” maka Allah akan mengampuninya walaupun dosa karena melarikan diri dari medan perang.

2. Ucapan رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ , sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma yang berbunyi:

كَانَ يُعَدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةُ مَرَّةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَقُومَ: ( رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ ) رواه أبوداود والترمذي وأحمد.

Sebelum bangkit dalam sebuah majlis, dihitung sebanyak seratus kali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (mengatakan) “Wahai, Rabbku! Ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat lagi Mahapengampun”.[10]

Dengan demikian jelaslah, bahwa istighfar menjadi obat penawar dosa. Oleh karena itu, al-Hasan al-Bashri mengatakan, perbanyaklah istighfar di rumah-rumah, hidangan-hidangan makanan, jalan-jalan, pasar dan di majlis-majlis kalian, serta di manapun kalian berada, karena kalian tidak mengetahui kapan ampunan Allah itu turun.[11]

Faktor Ketiga, Yaitu Tauhid.
Sebagaiman dijelaskan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

(Wahai, anak Adam! Seandainya engkau menemui-Ku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, kemudian menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan Aku sedikitpun, tentulah Aku akan memberikan pengampunan sepenuh bumi).

Syaikh ‘Utsman bin ‘Abdul-‘Azîz bin Manshûr mengatakan, telah jelas bagimu dengan hadits ini, bahwa di antara faktor penyebab ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala , yaitu memurnikan tauhid dari kesyirikan, dan inilah faktor yang paling agung dalam pengampunan dosa. Barang siapa yang kehilangan faktor penyebab ini, maka ia kehilangan ampunan. Dan barang siapa yang memilikinya, maka ia telah memiliki faktor yang agung bagi pengampunan dosanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. [an-Nisâ`/4:48].

Oleh karena itu, hadits ini secara jelas menerangkan bahwa seorang muwahhid yang melakukan perbuatan dosa hampir memenuhi bumi, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjumpainya dengan memberikan ampunan sebesar hampir sepenuh bumi juga. Namun ampunan ini dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala . Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendakinya, maka akan mengampuninya. Begitu pula jika Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin, maka akan menyiksanya disebabkan oleh dosa-dosanya. Kemudian akhirnya ia tidak kekal di neraka, bahkan akan keluar darinya dan masuk surga. [12]

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: “Apabila tauhid seorang hamba dan keikhlasannya kepada Allah telah sempurna, dan ia melaksanakan semua syarat-syaratnya dengan hati, lisan dan anggota tubuhnya, atau dengan hati dan lisannya ketika menjelang kematian, maka hal itu menjadi penyebab ampunan (Allah) terhadap semua dosa-dosanya yang telah lalu dan mencegahnya masuk neraka. Barang siapa yang hatinya terwujud dengan kalimat tauhid, maka kalimat tersebut akan mengeluarkan obyek apapun selain Allah dari dirinya dalam masalah yang berkait dengan kecintaan, pengagungan, penghormatan, rasa segan, takut dan tawakkal. Ketika itu dosa-dosa dan kesalahannya terhapuskan, walaupun seperti buih lautan”.[13]

Pernyataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا merupakan syarat berat dalam janji mendapatkan ampunan. Yaitu selamat dari kesyirikan, baik banyak maupun sedikit, besar maupun kecil. Tidaklah selamat dari perbuatan syirik itu, kecuali orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala selamatkan, dan itulah hati yang bersih, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , yang artinya: (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, [asy-Syu’ara/26:88-89].[14]

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan pengertian hadits ini, bahwa orang-orang yang bertauhid murni -tidak mencampurkannya dengan kesyirikan- (ia) dimaafkan dalam hal-hal yang tidak dimaafkan bagi selain mereka. Seandainya seorang muwahhid – yang sama sekali tidak menyekutukan Allah – menemui Rabbnya dengan membawa hampir sepenuh bumi kesalahan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan ampunan sebesar itu juga, dan ini tidak didapatkan oleh orang yang tauhidnya kurang. Karena tauhid sejati tanpa tercampur dengan kesyirikan, tidak akan menyisakan dosa. Sebab tauhid tersebut berisikan kecintaan, penghormatan, pengagungan, rasa takut dan harapan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadikanya bersih dari dosa-dosa walaupun sebesar hampir sepenuh bumi.[15]

Dari uraian tentang hadits ini, menunjukkan bahwa pahala tauhid itu sangat besar. Begitu pula Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki keluasan sifat dermawan dan rahmat-Nya kepada para hamba-Nya. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita memperhatikan perkara tauhid ini dan tidak meremehkannya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik-Nya kepada kita, dan menjadikan diri kita sebagai hamba-hamba-Nya yang bertauhid sejati. Wallahu a’lam.

Maraji`:
1. An-Nubadz al-Mustathâbah fil-Da’wah al-Mustajabah, Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilali, tanpa cetakan dan tahun, Dar Ibnul-Jauzi.
2. Fathul-Hamîd fî Syarh at-Tauhîd, ‘Utsmân bin ‘Abdul-‘Azîz bin Manshûr at-Tamîmi, Tahqiq: Sa’ud bin ‘Abdil-‘Aziz al-‘Arifi dan Husain bin Julai’ib as-Sâ’idi, Cetakan Pertama, Tahun 1425 H, Dar ‘Âlam al-Fawâ`id, Mekkah.
3. Fathul-Majid li Syarhi Kitâb at-Tauhîd, Syaikh ‘Abdur-Rahmân bin Hasan ‘Alu Syaikh, Tahqiq: al-Walid bin ‘Abdur-Rahmân bin Muhammad ‘Alu Fariyân, Cetakan Kedua, Tahun 1417 H, Dar ash-Shumai’i, Riyadh.
4. Silsilah al-Ahâdîts al-Shahîhah.
5. Syarhu ‘Aqîdah ath-Thahâwiyah, Ibnu ‘Abil ‘Izz, Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth, Cetakan Kedua, Tahun 1413H, Muassasah ar-Risalah.
6. Tuhfatul-Ahwadzi bi Syarhi Jâmi’ at-Tirmidzi, Syaikh Muhammad ‘Abdur-Rahmân bin Abdur-Rahîm al-Mubarakfûri, Cetakan Pertama, Tahun 1419 H, Dar Ihya`ut-Turats al-‘Arabi.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XI/1428H/2007. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Lihat takhrîj Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdits ash-Shahîhah, hadits no. 127 (1/250). Juga takhrij Syaikh al-Walid ‘Alu Fariyân atas kita Fathul-Majîd (1/149).
[2]. Menurut Ibnu Hajar dalam kitab at-Taqrib, derajat maqbul sejajar dengan perawi majhûl-hâl, yang riwayatnya ditolak, bila tidak ada yang menguatkannya.
[3]. Diambil dari Tuhfatul-Ahwadzi bi Syarhi Jâmi’ at-Tirmidzi (9/488).
[4]. HR at-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilali dalam Shahîh Kitab al-Adzkâr wa Dha’îfuhu dan kitab an-Nubadz al-Mustathâbah fid-Da’wah al-Mustajâbah, hlm. 16.
[5]. HR Ahmad dalam Musnad-nya (3/18), dan dishahihkan Syu’aib al-Arnauth dalam tahqiqnya atas kitab Syarhu ‘Aqidah ath-Thahâwiyah, hlm. 682.
[6]. HR Muslim, kitab al-Dzikr wad-Du’a wat-Taubah wal-Istighfâr, Bab: al-‘Azm bid-Du’a, no. 4838.
[7]. HR Ahmad dalam Musnad-nya (3/238) dan dishahihkan Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdits al-Shahîhah, no. 1951.
[8]. Lihat Majmu’ Fatâwâ, Ibnu Taimiyyah (10/317).
[9]. HR Abu Dawud no. 1517, at-Tirmidzi no. 3577, dan dishahihkan Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdits al-Shahîhah, no. 2727.
[10]. HR Ahmad dalam Musnad-nya 2/21, Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan dishahihkan Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdits al-Shahîhah, no. 556
[11]. Diriwayatkan al-Baihaqi dalam Syu’abul-Imân. Dinukil dari kitab Fathul-Hamid fî Syarh at-Tauhîd, karya ‘Utsmân bin ‘Abdul-‘Azîz at-Tamîmi (1/298).
[12]. Fathul-Hamid fî Syarh at-Tauhid, karya ‘Utsman bin ‘Abdul-‘Aziz at-Tamimi (1/300).
[13]. Diringkas dari kitab Fathul-Majid, lihat 1/151.
[14]. Bada`i al-Fawa`id, Ibnul-Qayyim (2/133).
[15]. Dinukil Syaikh ‘Abdur-Rahman ‘Alu Syaikh dalam Fathul-Majid (1/151-152).

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 30 Januari 2013

Print Friendly