Shalat Gerhana, Shalat Istisqa’

SHALAT GERHANA

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

Jika terjadi gerhana bulan atau matahari disunnahkan mengumandangkan:

اَلصَّلاَةُ جَامِعَةٌ.

“Mari shalat berjama’ah.”

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, dia mengatakan, “Ketika terjadi gerhana matahari di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka diserukanlah:

إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ

“Sesungguhnya shalat dilakukan secara berjama’ah.” [1]

Jika orang-orang telah berkumpul di masjid, maka imam shalat dua raka’at bersama mereka sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Lalu beliau pergi ke masjid dan orang-orang pun berbaris di belakang beliau, kemudian beliau bertakbir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dengan bacaan yang panjang. Lantas bertakbir dan melakukan ruku’ dengan panjang. Kemudian beliau mengucap: ” سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ .” Lalu bangkit dan tidak melakukan sujud. Setelah itu beliau membaca bacaan yang panjang, namun tidak sepanjang bacaan pertama. Kemudian bertakbir lalu melakukan ruku’ dengan ruku’ yang panjang namun tidak sepanjang ruku’ pertama. Setelah itu beliau mengucap: “سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ Kemudian beliau sujud.

Pada raka’at kedua, beliau melakukan seperti pada raka’at pertama. Hingga beliau juga melakukan empat ruku’ dalam empat sujud dan matahari pun telah tampak kembali sebelum beliau selesai.” [2]

Khutbah Setelah Shalat
Jika imam selesai salam, disunnahkan baginya berkhutbah di hadapan orang-orang. Menasihati mereka, mengingatkan, dan mendorong mereka untuk berbuat amal shalih.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat pada hari di mana terjadi gerhana matahari… kemudian dia menyebutkan tata cara shalat tersebut. Lalu melanjutkan, “Kemudian beliau salam, sedangkan matahari telah tampak kembali. Beliau lantas berkhutbah di hadapan orang-orang. Beliau mengatakan bahwa gerhana matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Tidaklah gerhana itu terjadi karena mati atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihatnya, maka bergegaslah untuk shalat.” [3]

Dari Asma’ Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh membebaskan budak pada saat terjadi gerhana matahari.”[4]

Dari Abu Musa, dia berkata, “Ketika terjadi gerhana matahari. Tiba-tiba Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dengan terkejut. Beliau khawatir jika hari itu terjadi Kiamat. Beliau mendatangi masjid kemudian mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku’, dan sujud yang terpanjang yang pernah aku lihat. Beliau lantas berkhutbah, “Ini adalah salah satu tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan oleh-Nya. Bukan lantaran mati atau lahirnya seseorang. Namun, dengan peristiwa itu Allah ingin menakuti para hamba-Nya. Jika kalian melihat hal itu terjadi, maka bersegeralah untuk mengingat Allah, berdo’a, dan beristighfar kepada-Nya.” [5]

Pengertian secara lahiriyah dari sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Maka bersegeralah… dan seterusnya,” menunjukkan wajibnya perbuatan tersebut. Jadi, hukum shalat gerhana adalah fardhu kifayah. Sebagaimana dikatakan Abu ‘Awanah dalam kitab Shahiihnya (II/398), “Penjelasan tentang wajibnya shalat gerhana” Kemudian di menyebutkan beberapa hadits shahih tentang masalah tersebut. Hal itu juga tampak dilakukan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahiihnya. Dia berkata (II/38), “Bab perintah shalat ketika terjadi gerhana matahari dan bulan…” Lalu dia menyebutkan sejumlah hadits berkenaan dengan masalah tersebut.

Al-Hafizh berkata dalam Fat-hul Baari (II/527), “Pendapat Jumhur menyatakan bahwa ia adalah sunnah mu-akkadah. Abu ‘Awanah menyatakannya dalam kitab Shahiihnya sebagai perbuatan yang wajib. Dan saya tidak menjumpai pendapat seperti itu pada ulama selainnya. Hanya saja, apa yang diriwayatkan dari Malik bahwa beliau memperlakukannya sebagaimana shalat Jum’at. Dan az-Zain bin al-Munir menukil dari Abu Hanifah bahwa dia mewajibkannya. Begitupula beberapa pengarang kitab madzhab Hanafiyyah. Mereka menyatakannya sebagai hal yang wajib.” [6]

SHALAT ISTISQA
Jika hujan tidak turun, dan suatu daerah tertimpa kekeringan, maka disunnahkan keluar menuju tanah lapang untuk shalat Istisqa’ (memohon hujan). Kemudian seorang imam melakukan shalat dua raka’at bersama masyarakat. Setelah itu dia memperbanyak do’a dan istighfar sambil merubah letak syal (selendang)nya dan menjadikan bagian kanannya di atas bagian kirinya.

Dari ‘Abbad bin Tamim Radhiyallahu anhu, dari pamannya, ‘Abdullah Zaid, dia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju tanah lapang untuk shalat Istisqa’. Beliau menghadap ke kiblat lalu shalat dua raka’at dan membalik syalnya. Sufyan berkata, ‘Aku diberitahu al-Mas’udi dari Abu Bakr, dia berkata, ‘Beliau menjadikan bagian kanan dari syal tersebut di atas bagian kiri.’”[7]

Dan darinya, dia berkata, “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika keluar untuk shalat Istisqa’. Dia berkata, ‘Beliau lalu menghadapkan punggungnya ke arah para penduduk dan menghadap ke kiblat sambil berdo’a. Kemudian beliau merubah letak syalnya lantas shalat dua raka’at bersama kami. Beliau mengeraskan bacaannya pada kedua raka’at tersebut.” [8]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/533 no. 1045), Shahiih Muslim (II/627 no. 910), Sunan an-Nasa-i (III/136).
[2]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/533 no. 1046)], Shahiih Muslim (II/619 no. 901 (3)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/46 no. 1168), Sunan an-Nasa-i (III/130).
[3]. Ibid.
[4]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 118)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/543 no. 1045).
[5]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/545 no. 1059)], Shahiih Muslim (II/628 no. 912), Sunan an-Nasa-i (III/153).
[6]. Tamaamul Minnah (hal. 261), dengan sedikit pengubahan.
[7]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/515 no. 1027)], ini adalah lafazh darinya, Shahiih Muslim (II/611 no. 894 (2)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/24 no. 1149), Sunan at-Tirmidzi (I/34 no. 553), Sunan an-Nasa-i (II/155) dengan lafazh hampir serupa.
[8]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1029)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/514 no. 1025), ini adalah lafazhnya, Shahiih Muslim (II/611 no. 894 (4)), dalam riwayatnya tidak terdapat kata: “mengeraskan.” Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/26 no. 1150).

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 20 Oktober 2005

Print Friendly