Shalat Wanita Jika Sejajar Dengan Laki-Laki, Berapa Lama Musafir Menjama Shalat, Doa Sujud Sahwi

SAHKAH SHALAT WANITA JIKA SHAFNYA SEJAJAR DENGAN LAKI-LAKI?

Pertanyaan.
Ana mau bertanya mengenai shaf wanita di masjid lantai 2 yang sejajar dengan shaf laki-laki yang berada di lantai bawah, dan shaf wanita yang di lay out di belakang shaf ke-5 laki-laki tetapi sejajar dengan shaf laki-laki selanjutnya, tetapi tertutup hijab. Apakah sah shalat wanita pada masjid tersebut? Ummu Fadl, Jalan Ebony, Duren Jaya, Bekasi 1711

Jawaban.
Aturan shaf di dalam shalat berjama’ah bagi wanita adalah sebagaimana disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut:

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا قَالَ

Sebaik-baik shaf (barisan di dalam shalat) bagi laki-laki adalah yang pertama, dan yang paling buruk adalah yang terakhir. Dan sebaik-baik shaf bagi wanita adalah yang terakhir dan yang paling buruk adalah yang pertama.[1]

Namun cara berdiri ini, bukan termasuk syarat atau rukun shalat, sehingga shalat wanita sebagaimana yang ditanyakan tersebut, insya Allah sah. Wallahu a’lam.

BERAPA LAMA MUSAFIR BOLEH MENJAMA’ SHALAT

Pertanyaan.
Ustadz, ana mau menanyakan tentang lamanya seorang musafir dapat menjama’ shalat. Ana sekarang sedang pendidikan kepolisian selama 45 hari. Mohon jawaban beserta dalil yang shahih. 08524456xxxx

Jawaban.
Selama di dalam perjalanan seorang musafir boleh mengqashar shalat, berapapun lamanya. Namun ketika dia telah sampai di suatu tempat yang dituju, berapa lama dia boleh mengqashar shalat? Dalam masalah ini, para ulama berselisih menjadi beberapa pendapat.

Pertama. Jika seseorang berniat menetap lebih dari tiga hari, maka dia tidak mengqashar shalat. Demikian pendapat Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Tetapi dalil-dalil tentang hal ini tidak secara tegas menunjukkan demikian.

Kedua. Jika seseorang berniat menetap 15 hari, maka dia tidak mengqashar shalat. Demikian pendapat Abu Hanifah, ats-Tsauri, dan al Muzni. Tetapi dalil-dalil tentang ini juga tidak kuat.

Ketiga. Musafir terus mengqashar shalat selama tidak berniat menetap. Demikian pendapat al Hasan, Ishaq, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Pendapat ini lebih mendekati kebenaran, karena memang Allah dan Rasul-Nya tidak memberikan batasan waktu safar, wallahu a’lam.

Keempat. Musafir mengqashar 20 hari, kemudian setelahnya tidak mengqashar, baik berniat menetap atau tidak. Demikian pendapat Ibnu Hazm. Ini lebih berhati-hati.

Dari keterangan ini, maka seseorang yang mengikuti pendidikan selama 45 hari di luar kotanya, dia termasuk musafir. Jika dia shalat sebagai imam atau sendirian, maka dia mengqasharnya. Namun jika menjadi makmum, maka dia mengikuti imamnya.

Adapun seseorang yang bersekolah atau kuliah atau thalabul ilmi di luar kotanya, dan menetap di rumah kost, kontrakan atau pondok, maka dia termasuk muqim di tempat belajarnya tersebut, karena dia menetap dengan membawa barang-barang perkakas rumahnya. Wallahu a’lam. [2]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 12/Tahun X/1428/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. HR Tirmidzi, no. 224, Ibnu Majah, no. 1000. Hadits ini dishahihkan oleh al Albani.
[2]. Shahih Fiqhus-Sunnah (1/482-487).

BACAAN SUJUD SAHWI

Tanya : Saya seringkali diajarkan oleh beberapa ustadz tentang bacaan sujud sahwi dengan bacaan ketika sujud Subhaanal-ladzii laa yanaamu walaa yashuu atau Subhaanal-ladzii la yashuu walaa yanaamu. Di buku hadits manakah saya bisa mendapatkan lafadh sujud sahwi ini agar amalan saya menjadi mantap ?

Jawab : Sujud sahwi adalah sujud dua kali yang dilakukan karena lupa di dalam shalat yang dikerjakan sebelum atau sesudah salam. Sepanjang pengetahuan dan sumber yang kami miliki, tidak ada satupun riwayat khusus yang menjelaskan tentang bacaan sujud sahwi. Oleh karena itu, banyak ulama yang menyatakan bahwa bacaan sujud sahwi sama dengan bacaan sujud dalam shalat.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata : “Dan hendaklah dia membaca di dalam sujud (sahwi)-nya apa yang dibaca di dalam sujud dalam shalat, karena sujud sahwi tersebut merupakan sujud yang disyari’atkan serupa dengan sujud di dalam shalat” (Al-Mughni 2/432-433, Penerbit Hajar, Cet. 2, Th. 1412 H/1992 M).

Abu Muhammad bin Hazm (Ibnu Hazm) rahimahullah berkata : “Orang yang bersujud sahwi harus membaca di dalam kedua sujudnya : Subhaana rabbiyal-A’laa [سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى]; berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam (yang artinya) : “Jadikanlah ia (bacaan itu) di dalam sujudmu” (Al-Muhalla 4/170, tahqiq Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah).

Senada dengan pernyataan tersebut adalah fatwa para ulama dari Al-Lajnah Ad-Daaimah lil-Buhuts wal-Ifta’ (Komisi Tetap untuk Riset dan Fatwa) Saudi Arabia 7/149 nomor fatwa 5519.

Adapun pertanyaan yang Saudara tanyakan, maka kita serahkan kepada ahlinya, yaitu ulama besar hadits sepanjang jaman : Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Asy-Syafi’i (pensyarah kitab Shahih Al-Bukhari – Fathul-Bari), dimana beliau berkata : “Aku telah mendengar sebagian para imam (ulama’) menghikayatkan bahwa seseorang disukai membaca di dalamnya (sujud sahwi) : [سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُوْ] Subhaana man-laa yanaamu walaa yashuu (“Maha Suci Allah yang Tidak Tidur dan Tidak Lupa)”. Kemudian beliau melanjutkan : “Aku tidak menemukan asalnya” [At-Talkhiishul-Habiir].

Dan benarlah apa yang dikatakan oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar bahwa bacaan tersebut tidak bersumber pada kitab-kitab induk hadits. Atau dengan kata lain : Itu merupakan pendapat semata.

Kesimpulan : Bacaan sujud sahwi sebagaimana yang ditanyakan oleh Saudara Penanya bukan berasal dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan hendaklah ditinggalkan. Adapun yang disyari’atkan dibaca dalam sujud sahwi adalah sama dengan bacaan sujud dalam shalat. Allaahu a’lam.

[Disalin dari http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/07/bacaan-sujud-sahwi.html]

———

Sumber: www.almanhaj.or.id | 17 Agustus 2010

Print Friendly