Syiar-Syiar Ta’abbudiyyah Pada Bulan Ramadhan Dan Pengaruhnya

SYI’AR-SYI’AR TA’ABBUDIYYAH PADA BULAN RAMADHAN DAN PENGARUHNYA

Oleh
Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar

PENDAHULUAN
Iman itu bisa berkurang dan juga bisa bertambah. Dia akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Juga bisa bertambah dengan beristiqamah dan berkurang dengan penyimpangan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” [Muhammad/47: 17]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ

“Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)…” [al-Fat-h/48: 4]

Dengan demikian, puasa merupakan ibadah yang paling mulia sekaligus paling agung. Di mana setiap syi’ar yang ada padanya merupakan syi’ar ta’abbudiyyah yang disyari’atkan yang bisa menambah keimanan. Oleh karena itu, orang-orang shalih di setiap zaman dan tempat mengetahui bahwa pada bulan Ramadhan terdapat suatu makna yang tidak diketahui oleh orang lain. Sehingga dengan demikian, mereka memperoleh keberuntungan yang tidak diperoleh orang lain, di mana mereka berhasil menyucikan jiwa, menjernihkan diri serta membela kebenaran. Selain itu, hati mereka dipenuhi dengan cahaya, dan lisanul hal mereka mengatakan, “Ini adalah jalan menuju jihad di jalan Allah sekaligus penegakan kalimat-Nya.”

Syaikh ‘Abdullah bin Mahmud mengatakan, “…Bulan Ramadhan adalah bulan kesungguhan dan kegigihan sekaligus sebagai ladang bagi hamba-hamba-Nya. Juga sebagai sarana untuk menyucikan hati dari kerusakan, pembelengguan nafsu syahwat, kejahatan, dan kedurhakaan. Oleh karena itu, barangsiapa yang menanam kebaikan, maka akibat baiknya akan kembali kepadanya. Pada saat hari panen, pintu-pintu Surga akan dibuka untuknya dan ditutup semua pintu Neraka. Yang demikian itu disebabkan oleh kesungguhan manusia dalam beribadah dan juga upaya mereka untuk berlomba-lomba dalam beramal shalih, di antaranya adalah memperbanyak shalat, membuka tangan mereka untuk bershadaqah, menyambung tali silaturahmi, berbuat baik kepada kaum fakir miskin dan anak-anak yatim juga orang-orang yang membutuhkan, serta memperbanyak do’a, istighfar, dan bacaan al-Qur-an…”[1]

QIYAMUL LAIL
Qiyamul lail atau yang sering disebut dengan shalat Tarawih hukumnya adalah sunnah bagi laki-laki maupun perempuan. Shalat ini dikerjakan setelah shalat ‘Isya’, meski disatukan dengan jamak taqdim dan dikerjakan dua rakaat dua rakaat sebelum shalat Witir. Waktunya berlangsung sampai akhir malam. Shalat ini bisa dikerjakan dengan berjama’ah maupun sendiri-sendiri, tetapi berjama’ah adalah lebih baik.

Dan itulah yang dimaksud dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“…مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ…”

“Barangsiapa mengerjakan qiyam Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah berlalu…”[2]

Yang dimaksud dengan penuh keimanan di sini adalah iman kepada Allah dan kepada pahala yang disiapkan-Nya bagi orang-orang yang melakukan qiyamul lail. Dan makna sabda beliau ‘ihtisaaban’ berarti mengharapkan pahala dari Allah, dan hal itu tidak untuk riya’ dan sum’ah serta tidak pula mencari harta atau kehormatan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mensunnahkan qiyam Ramadhan dengan berjama’ah, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya karena takut shalat tersebut akan diwajibkan kepada umatnya, sedang mereka tidak mampu menunaikan kewajiban ini.

Hal tersebut telah ditunjukkan oleh riwayat ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata: “Pada suatu malam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar di tengah malam dan mengerjakan shalat di masjid maka ada beberapa orang yang shalat bersama beliau mengikuti shalat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu pada pagi harinya, orang-orang membicarakannya, sehingga berkumpullah orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah mereka dan mengerjakan shalat bersama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu pada pagi harinya orang-orang bangun dan membicarakan hal tersebut, sehingga jama’ah masjid pun semakin banyak pada malam ketiga. Lalu Rasulullah keluar dan mereka pun mengikuti shalat beliau. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dan mengerjakan shalat, dan orang-orang pun shalat mengikuti shalat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan pada malam keempat, masjid sudah tidak lagi mampu menampung jama’ahnya. Hingga akhirnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk mengerjakan shalat Shubuh. Setelah selesai mengerjakan shalat Shubuh, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kepada orang-orang, lalu bertasyahhud dan kemudian berkata, “Amma ba’du. Sesungguhnya aku tidak mengkhawatirkan kedudukan kalian, tetapi aku khawatir shalat ini akan diwajibkan kepada kalian sehingga kalian tidak mampu mengerjakannya.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia dan masalahnya dalam keadaan seperti itu…”[3]

Para ulama Salaf berbeda pendapat mengenai jumlah rakaat dalam shalat Tarawih dan Witir yang menyertainya.
1. Ada yang berpendapat, 11 rakaat.
2. Ada yang menyatakan, 13 rakaat.
3. Ada juga yang menyebutkan, 17 rakaat.
4. Ada pula yang berpendapat, 19 rakaat.
5. Ada yang mengatakan, 21 rakaat.
6. Juga ada yang menyatakan, 23 rakaat.
7. Ada yang berpendapat, 25 rakaat.
8. Serta ada pula yang menyatakan, 27 rakaat.
9. Juga ada yang berpendapat, 39 rakaat.
10. Ada juga yang menyebutkan, 41 rakaat.
11. Serta ada yang mengatakan, 47 rakaat.[4]

Dan yang paling rajih adalah pendapat yang menyebutkan 11 rakaat atau 13 rakaat dengan lama pada saat berdiri, ruku’ dan sujud. Tetapi jika berdiri, ruku’ dan sujudnya sebentar maka jumlah rakaatnya ditambah.

Yang demikian itu didasarkan pada apa yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma ketika ditanya tentang shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan, maka dia menjawab: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengerjakan lebih dari 11 rakaat pada bulan Ramadhan maupun bulan-bulan lainnya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan 4 rakaat; jangan tanyakan tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat 4 rakaat; dan jangan tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat 3 rakaat.” ‘Aisyah berkata: “Lalu kutanyakan, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum mengerjakan Witir?’ Beliau menjawab:

“يَا عَائِشَةَ إِنَّ عَيْنِي تَنَامَانِ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي…”

‘Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur tetapi hatiku tidak tidur…’”[5]

Juga hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: “Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam 13 rakaat, yakni pada malam hari…”[6]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “…Jadi, banyak atau sedikitnya rakaat itu tergantung pada panjang atau pendeknya berdiri…” Lebih lanjut, beliau mengatakan, “Yang paling baik adalah dengan melihat keadaan jama’ah yang mengikuti shalat, jika ada kecenderungan memperpanjang berdiri pada mereka, maka (hendaklah) mengerjakan 10 rakaat dan 3 rakaat setelahnya, seperti yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat seorang diri pada bulan Ramadhan dan juga selainnya, maka yang demikian itu adalah yang lebih baik. Jika tidak ada kecenderungan pada mereka untuk memperpanjang berdiri, maka (hendaklah) mengerjakan 20 rakaat, dan itu yang terbaik. Dan itulah yang diamalkan oleh kebanyakan kaum muslimin.”[7]

Dapat saya (penulis) katakan bahwa itulah yang berlangsung pada zaman Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Sedangkan sekarang ini, mayoritas kaum muslimin mengerjakan shalat Tarawih tidak lebih dari 13 rakaat. Sebagian imam mengerjakan shalat Tarawih dengan sangat cepat sehingga hilang darinya kewajiban untuk tuma’ninah yang menurut sebagian ulama, ia (tuma’ninah) merupakan rukun, di mana shalat tidak sah tanpanya. Sehingga orang-orang lemah dan orang-orang tua yang ada di belakangnya merasa kelelahan karena cepatnya berdiri dan turun dari ruku’ dan sujud. Oleh karena itu, hendaklah seorang imam benar-benar bertakwa kepada Allah dan memelihara keadaan para makmum serta men-jalankan amanah imamah dengan sebaik-baiknya, karena dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya, yaitu orang-orang yang ikut shalat di belakangnya.

Dan tidak ada larangan atas kehadiran kaum wanita di dalam shalat Tarawih dengan syarat aman dari fitnah. Mereka harus berangkat dalam keadaan tertutup lagi berhijab, tanpa berhias serta tidak juga memakai wangi-wangian, menunaikan shalat dengan khusyu’ dan tunduk dengan menjauhi perkataan yang tidak berarti, ghibah, namimah, serta hal-hal yang berkenaan dengan rumah tangga mereka untuk menjaga kesucian masjid.

LAILATUL QADAR
Malam ini termasuk salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh umat Muhammad, yaitu malam kemuliaan dan penghormatan bagi umat yang agung lagi terpuji ini. Allah Subhanahu wa Ta’alatelah menyinggung tentang keutamaan umat ini dalam Kitab-Nya yang memberi penjelasan yang nyata, di mana Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ ﴿٣﴾ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ﴿٤﴾ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus Rasul-Rasul.” [ad-Dukhaan/44: 3-5]

Dia Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

ا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ﴿١﴾ا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ﴿٢﴾لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴿٣﴾تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ﴿٤﴾سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur-an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemulia-an itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun Malaikat-Malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” [al-Qadr/: 1-5]

Disebut lailatul qadar karena ia merupakan malam yang mulia lagi agung, yang padanya Allah menetapkan apa yang terjadi dalam satu tahun mengenai masalah-masalah yang bijak.

Para ulama menyebutkan beberapa keutamaan lailatul qadar, di antaranya adalah:
1. Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’alatelah menurunkan al-Qur-an pada malam itu.
2. Malam itu lebih baik dari seribu bulan.
3. Turunnya para Malaikat pada malam itu.
4. Banyaknya keselamatan pada malam itu dari adzab (سَلاَمٌ هِيَ ) “Malam penuh keselamatan”.
5. Mengenai keutamaannya, Allah Ta’ala menurunkan satu surat penuh yang dibaca hingga hari Kiamat.

Sudah pasti malam itu berlangsung pada bulan Ramadhan, pada sepuluh malam terakhir dari bulan tersebut, yakni pada hari-hari ganjil. Hal itu didasarkan pada apa yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, di mana dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ…”

‘Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan…’”[8]

Juga apa yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma:

“تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ.”

“Carilah lailatul qadar pada tanggal ganjil dari sepuluh malam terakhir (dari bulan Ramadhan).”[9]

Disunnahkan padanya untuk melakukan qiyamul lail, banyak memanjatkan do’a, istighfar, dan shadaqah, karena lailatul qadar merupakan waktu yang sangat agung.

Hal tersebut telah ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.”

‘Barangsiapa mengerjakan qiyam (shalat Tahajjud) pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diberikan ampunan atas dosanya yang telah lalu.”[10]

Allah Subhanahu wa Ta’alatelah menyembunyikan ilmu tentangnya (waktu munculnya lailatul qadar) dari hamba-hamba-Nya sebagai rahmat bagi mereka untuk memperbanyak amalan mereka dan mencarinya pada malam-malam yang penuh kemuliaan itu dengan shalat, dzikir dan do’a. Sehingga dengan demikian, mereka akan bertambah dekat kepada Allah dan semakin banyak pula pahala yang didapat dari-Nya. Selain itu, Allah menyembunyikan pengetahuan tentang malam itu sebagai upaya untuk menguji mereka, sehingga dapat diketahui siapa yang bersungguh-sungguh dan gigih dalam mencarinya dan siapa pula yang malas lagi mengabaikannya. Sebab, orang yang ingin mendapatkan sesuatu maka dia akan bersungguh-sungguh dalam memperolehnya dan segala sesuatu terasa sangat ringan dalam merealisasikannya. Tetapi terkadang, Allah Subhanahu wa Ta’alajuga memperlihatkan malam itu kepada sebagian hamba-Nya dengan beberapa tanda yang dapat mereka ketahui, sebagaimana yang pernah disaksikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersujud pada pagi harinya di air dan tanah liat.[11]

I’TIKAF PADA SEPULUH HARI TERAKHIR DARI BULAN RAMADHAN
Sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan memiliki berbagai keutamaan besar dan keistimewaan yang sangat banyak, di antaranya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sepuluh hari itu menggiatkan ketaatan, suatu hal yang tidak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan pada hari-hari lainnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan ikatan kainnya untuk membangunkan keluarganya dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada hari-hari tersebut.

Hal itu telah ditunjukkan oleh apa yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata:

“كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ…”

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih giat (dalam beribadah) pada sepuluh hari terakhir ini yang tidak beliau lakukan pada hari-hari lainnya.” [12]

Juga hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu anhma:

“كاَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرَ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ…”

“Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir, maka beliau mengencangkan ikatan kainnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya…”[13]

Hadits lainnya yang juga diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma:

“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ…”

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian isteri-isteri beliau (tetap) beri’tikaf sepeninggal beliau…”[14]

I’tikaf berarti tetap tinggal di dalam masjid untuk berkonsen-trasi dalam beribadah kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“… Dan janganlah kalian campuri mereka, sedang kalian ber-i’tikaf di dalam masjid…” [al-Baqarah/2: 187]

Yang dimaksud dengan i’tikaf adalah berkonsentrasi penuh untuk beribadah kepada Allah serta melepaskan diri dari kesibukan hidup. Oleh karena itu, disunnahkan bagi orang yang beri’tikaf untuk menyibukkan diri dengan berdzikir kepada Allah, membaca al-Qur-an, shalat, serta mendalami ilmu. Tidak ada masalah dengan kunjungan keluarganya dan memperbincangkan hal-hal yang mengandung berbagai kemaslahatan di dunia dan akhirat.

Diharamkan bagi orang yang beri’tikaf untuk melakukan hubungan badan dan hal-hal yang mengarah kepadanya, baik itu berupa ciuman, ataupun sentuhan dengan syahwat. Hal itu sesuai dengan ayat di atas. Tidak dibolehkan pula baginya untuk keluar dari masjid, kecuali untuk keperluan yang sangat mendesak sekali, seperti wudhu’, mandi, makan dan minum. Jika di dalam masjid terdapat tempat wudhu’ dan mandi serta ada orang yang mengantarkan kepadanya makanan dan minuman, maka tidak dibolehkan baginya keluar dari masjid.

Tidak boleh keluar masjid untuk melakukan suatu ibadah yang tidak wajib baginya, misalnya mengantar jenazah, menjenguk orang sakit, dan lain-lain, kecuali jika hal itu memang dia syarat-kan sebelum i’tikaf.

Adapun keluar masjid untuk keperluan selain itu, seperti jual beli dan duduk-duduk bersama keluarga adalah diharamkan (dapat membatalkan i’tikaf), baik hal itu disyaratkan maupun tidak.

Dibolehkan bagi orang yang beri’tikaf untuk mendirikan kemah (tempat khusus) di dalam masjid, jika di dalam masjid itu tidak terdapat bilik khusus. Sebagaimana dibolehkan baginya membawa tempat tidur dan pakaian serta berbagai hal yang dia butuhkan. Sebagaimana dia juga boleh beri’tikaf bersama keluarganya di dalam masjid. Bahkan, dibolehkan bagi seorang wanita untuk beri’tikaf seorang diri dengan syarat aman dari fitnah dan mengandung maslahat yang banyak. Namun, saya kira hal itu belum bisa terwujud pada zaman sekarang ini, kecuali yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata:

“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ…”

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, dan setelah itu isteri-isteri beliau pun beri’tikaf sepeninggal beliau…”[15]

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “…Kebaikan dan keteguhan hati tertambat pada jalan menuju agama Allah Subhanahu wa Ta’aladan bergantung kepada penyatuan kepada ajaran Allah serta pengarahannya secara keseluruhan kepada-Nya… Berlebih-lebihan dalam makan dan minum, menceburkan diri dalam dosa, serta ucapan yang sia-sia termasuk dari hal-hal yang dapat memotong perjalanannya menuju agama Allah serta melemahkannya, atau bahkan meng-hentikannya. Maka rahmat Allah Yang Mahamulia lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya menuntut disyari’atkannya puasa bagi mereka yang dapat menghilangkan pengaruh buruk dari makanan dan minuman… Dan disyari’atkan bagi mereka i’tikaf yang maksudnya adalah untuk mengkonsentrasikan hati serta memisahkan diri dari manusia…” [16]

MENINGKATKAN INFAK DI JALAN ALLAH
Islam telah memerintahkan untuk berderma, memberi dan berinfak di jalan Allah pada setiap saat. Pada bulan Ramadhan, perintah tersebut lebih ditekankan sebagai upaya mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak…” [al-Baqarah/2: 245]
Allah juga berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahamengetahui.” [al-Baqarah/2: 261]

Pernahkah engkau mengetahui seruan untuk berinfak dan berderma dalam bentuk yang sangat aktif dan dinamis seperti yang disampaikan oleh al-Qur-an al-Karim ini? Sesungguhnya harta itu tidak akan hilang karena sikap pemurah, karena sebenarnya yang demikian itu merupakan pinjaman yang baik yang dijamin di sisi Allah dengan pelipatgandaan yang banyak. Akan dilipatgandakan di dunia, baik dalam bentuk harta, keberkahan, kebahagiaan dan ketenangan. Sedangkan di akhirat akan dilipatgandakan berupa kenikmatan yang abadi.

Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai-mana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu :

“مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكاَنِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُوْلُ اْلآخِرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكاً تَلَفًا…”

“Tidaklah suatu pagi hari itu datang melainkan padanya ada dua Malaikat yang turun. Salah satu di antaranya mengatakan, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak.’ Sedangkan Malaikat yang lainnya mengatakan, ‘Ya Allah, berikan kerusakan (kebangkrutan) kepada orang yang kikir…”[17]

Ramadhan merupakan bulan ketaatan dan ibadah. Padanya, para hamba menghadapkan diri kepada Rabb-nya dengan shalat, puasa, shadaqah, dan derma. Jika Ramadhan disebut, maka disebut pula kemurahan bersamanya sebagai suatu kemurahan yang sempurna. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan di dunia ini merupakan orang yang paling pemurah dalam hal kebaikan dibandingkan angin yang berhembus.

Ramadhan merupakan satu musim, di mana orang-orang kaya berlomba-lomba untuk berderma dan berinfak dalam kebaikan. Sebesar apapun tingkat derma dan infak mereka di dalam kebaikan di masyarakat, maka sebesar itu pula rasa aman dan ketenangan hinggap di dalam jiwa orang-orang fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Sehingga masyarakat akan tetap berpegang teguh pada bangunan, kekokohan dan kekuatannya.

“اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضَهُ بَعْضًا.”

“Orang mukmin bagi orang mukmin lainnya adalah seperti bangunan yang sebagian memperkuat sebagian lainnya.”[18]

Dalam pandangan Islam, harta itu hanya sebagai sarana, bukan tujuan. Sedangkan bagi budak materi, harta merupakan tujuan.

Dari hal tersebut, maka terjadilah persaingan yang sengit dalam mendapatkan kenikmatan dan kesenangan di antara hamba-hamba pengabdi nafsu syahwat.

Terjadi pula persaingan yang mulia di antara hamba-hamba Allah yang shalih yang mengerahkan seluruh harta untuk ketaatan kepada Allah, karena harta itu adalah harta Allah sedang mereka hanya sekedar dititipi saja. Mahabenar Allah Yang Maha-agung ketika berfirman:

هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ ۖ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ ۚ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ

“Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menafkah-kan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir, sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Mahakaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan(Nya).” [Muhammad/47: 38]

MEMBACA AL-QUR-AN
Sangat ditekankan kepada setiap muslim untuk memperbanyak bacaan al-Qur-an pada bulan Ramadhan dalam rangka mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana Jibril melakukan pengajaran kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan pada setiap tahunnya. Selain itu, karena Ramadhan merupakan bulan al-Qur-an:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur-an.” [al-Baqarah/2: 185]

Allah جل وعلا telah menjamin bagi orang yang membaca al-Qur-an sekaligus mengamalkan kandungannya, bahwa dia tidak akan disesatkan di dunia dan tidak disengsarakan di akhirat.

Dia berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

“Lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” [Thaahaa/20: 123]

Sebagaimana Dia juga telah menjanjikan bagi orang yang me-nolak membaca dan mencermati serta mengamalkannya melalui firman-Nya:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka se-sungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” [Thaahaa/20: 124]

Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi seorang muslim di setiap saat, khususnya pada bulan Ramadhan, untuk memperbanyak bacaan al-Qur-an, mencermati apa yang dikandungnya, mempelajari makna-maknanya serta mengamalkannya. Hal itu dilakukan agar memperoleh apa yang dijanjikan oleh Allah kepada ahli al-Qur-an, yaitu berupa karunia yang besar, pahala yang banyak, derajat yang tinggi, serta kenikmatan yang abadi. Benarlah apa yang telah disabdakan oleh Nabi al-Mushthafa Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ.”

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur-an dan mengajarkannya…”[19]

Diturunkannya al-Qur-an pada bulan Ramadhan memberikan inspirasi agar kaum muslimin memberikan perhatian yang besar terhadapnya pada bulan tersebut, melakukan pengkajian terhadap al-Qur-an di antara mereka serta mengadakan halaqah-halaqah untuknya di masjid-masjid, di mana sebagian mereka menjelaskan kepada sebagian lainnya. Betapa bagusnya orang berpuasa, yang menghabiskan waktunya di masjid untuk membaca Kitabullah, menghafal, sekaligus mempelajari makna dan hukum-hukumnya, serta menanyakan hal-hal yang tidak dia mengerti. Dia duduk bersama orang-orang shalih dan para ulama untuk mempelajari ilmu dan adab. Mahabenar Allah Yang Mahaagung ketika berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ﴿٢٩﴾لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitabullah, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” [Faathir: 29-30] [20]

[Disalin dari buku Meraih Puasa Sempurna, Diterjemahkan dari kitab Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab, karya Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, Penerjemah Abdul Ghoffar EM, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
[1]. Kitaabush Shiyaam wa Fadhli Syahri Ramadhan (hal. 23).
[2]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/39) dan Shahiih Muslim (II/177))
[3]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/40) dan Shahiih Muslim (II/177))
[4]. Fat-hul Baari (IV/253, 254).
[5]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari. (Shahiih al-Bukhari (III/40))
[6]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (II/46) dan Shahiih Muslim (II/178))
[7]. Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah (XXIII/113).
[8]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/41) dan Shahiih Muslim (III/170))
[9]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/41) dan Shahiih Muslim (III/170))
[10]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari. (Shahiih al-Bukhari (III/40))
[11]. Majaalisu Syahri Ramadhaan (hal. 107). Dan ada beberapa orang peneliti yang telah melakukan kajian secara detail, di mana mereka menyebutkan lebih dari enam puluh pendapat mengenai malam lailatul qadar ini. Sebagian pendapat saat ditahqiq (diteliti), kembali lagi kepada sebagian lainnya. Tetapi yang rajih, wallaahu a’lam, adalah apa yang telah kami sebutkan di atas. Se-bagai tambahan pengetahuan, lihat al-Haawii lil Fataawaa, karya as-Suyuthi (I/333). Dia mengungkapkan: “Mengenai lailatul qadar itu banyak pendapat yang telah saya hitung, terdapat kurang lebih lima puluh pendapat, ‘Wahai saudaraku, shalatlah.’” Lihat kitab Suthuu’ul Badr bi Fadhaa-ili Lailatil Qadar karya Ibrahim al-Hazimi (hal. 69 dan setelahnya).
[12]. Diriwayatkan oleh Muslim. (Shahiih Muslim bi Syarh an-Nawawi (VIII/70))
[13]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (III/ 41) dan Shahiih Muslim bi Syarh an-Nawawi (VIII/70))
[14]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari. (Shahiih al-Bukhari (III/42))
[15]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari. (Shahiih al-Bukhari (III/42))
[16]. Zaadul Ma’aad (II/86-87).
[17]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari. (Shahiih al-Bukhari (II/98))
[18]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (Shahiih al-Bukhari (VIII/14) dan Shahiih Muslim (VIII/20))
[19]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari. (Shahiih al-Bukhari (VI/236))
[20]. Lihat mengenai syi’ar-syi’ar ta’abbudiyyah pada bulan Ramadhan dalam kitab Badaa-i’ush Shanaa-i’ (hal. 108), al-Mabsuuth (II/114), Bidaayatul Mujtahid (I/302), Hilyatul ‘Ulamaa’ (III/216), Nihaayatul Muhtaaj (III/213), al-Mubdi’ (III/63), as-Sailul Jaraar (II/134).

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 12 Juli 2014

Print Friendly