Zanadiqah Menyusup Lewat Syi’ah

ZANADIQAH MENYELUSUP LEWAT SYI’AH

Oleh
Ustadz Abu Minhal

Dalam pembahasan mengenai aqidah, tak lepas dengan kata zindiq, terutama saat berbicara tentang kekufuran ataupun aqidah yang menyimpang. Pembicaraan tentang zindiq (jamaknya : zanadiqah) terasa begitu penting, karena berhubungan kuat dengan pemikiran-pemikiran Yunani kuno, Hindu dan Persia. Pengaruh-pengaruh buruknya mencengkeram pada sebagian golongan Islam begitu kental. Selain itu, dalam sejarah Islam, mereka juga merupakan provokator yang mengakibatkan pemberontakan.

Yang juga pantas untuk diwaspadai, kaum orientalis kafir (dan orang-orang yang membebeknya), telah melahirkan berbagai tulisan tentang mereka. Seperti biasanya, isinya sangat kontra dengan Islam. Oleh karena itu, pembelaan terhadap mereka (tokoh-tokoh zindiq) merupakan kandungan utama buku-buku tersebut.

ASAL KATA ZINDIQ
Menurut Ibnu Taimiyah rahimahullah, kata zandaqah berasal dari bahasa Persia yang diserap bahasa Arab, setelah kemenangan Islam (atas mereka).[1]

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan pula: “Para pengikut Zanadiqah (jamak dari zindiq) adalah para pengikut Daishan, Manni dan Mazdak. Muara aqidah mereka, cahaya dan kegelapan bersifat qadim. Kemudian bercampur jadi satu membentuk alam semesta. Orang yang jelek berasal dari unsur kegelapan dan orang yang baik berasal dari cahaya”[2].

Dalam Islam, kata zindiq dipakai untuk mewakili beberapa makna. Sebagian mengarahkannya kepada kaum Majusi, seperti tercantum pada beberapa kamus Arab, misalnya : Tajul ‘Arus dan Mukhtaru ash Shihah. Atau digunakan untuk menggantikan sebutan orang Dahri, sebagaimana terdapat di dalam Lisanu al ‘Arab (10/147). Sebagian lagi menyebutnya untuk makna orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Ibnul Qayyim rahimahullah menyinggung makna ini dalam Ighatsatu al Lahafan (2/246).

Sementara itu, menurut para fuqaha, zindiq adalah orang munafik.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,”Adapun kata zindiq yang disebut-sebut oleh para fuqaha, yang diterima taubatnya secara lahiriyah, yang dimaksud adalah orang munafik yang memperlihatkan Islam dan menyembunyikan kekufuran”.[3]

Begitu pula al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Kata zindiq diarahkan kepada orang yang menyembunyikan kekufuran dan memperlihatkan Islam. Sampai-sampai Imam Malik berkata,’Zandaqah merupakan kebiasaan yang ada pada kaum Munafiqin’. Demikian pula yang dikatakan oleh sejumlah ulama Syafi’iyyah dan lainnya, bahwa zindiq adalah orang yang memperlihatkan keislamannya dan menyembunyikan kekufuran”[4].

Generasi Salaf menyematkan kata zindiq kepada orang-orang dari Sekte Jahmiyah, seperti yang dilakukan oleh Imam ‘Utsman bin Sa’id ad Darimi rahimahullah dalam kitab ar Raddu ‘ala al Jahmiyah, halaman 352 dan kitab ar Raddu ‘alal Bisyr al Mirrisi, halaman 475. Sedangkan Ibnul Jauzi, menggolongkan Zanadiqah sebagai salah satu sekte Jahmiyah dalam Talbisu Iblis, halaman 31. Imam Ahmad bin Hambal menilai golongan Mu’tazilah sebagai Zanadiqah. Sebagamana disebutkan dalam Manaqibu al Imam Ahmad karya Ibnul Jauzi, hlm. 158, beliau berkata : “Ulama Mu’tazilah Zanadiqah”.

AQIDAH KAUM ZANADIQAH
Secara ringkas, dapat dijelaskan bahwa aqidah mereka menyimpan sekian banyak kekufuran yang sangat jelas dan riddah. Seperti pernyataan mereka tentang hulul, kultus individu, menyerupakan Allah dengan makhlukNya, pengingkaran kenabian Nabi Muhammad, kadang klaim kenabian pada mereka, pengingkaran terhadap hari Kiamat, pengingkaran terhadap Surga dan Neraka, menghalalkan hal-hal yang diharamkan.

Penjelasan secara lengkap dijelaskan di dalam al Farqu Baina al Firaq, karya Abdul Qahir al Baghdadi.

PENGARUH ZANADIQAH
Secara otomatis, lantaran sedemikian buruk aqidah yang mereka diyakini, maka pengaruh buruklah yang muncul atas kaum Muslimin. Mereka menyulut berbagai gejolak politik. Menghancurkan negeri-negeri dan penduduknya, seperti yang dilakukan oleh Qaramithah, Isma’iliyyah dan lain-lain. Sebagian golongan Islam pun telah tersusupi pemikiran Zandaqah, sehingga keluar dari Islam. Misalnya, para penganut Jahmiyah dan Syi’ah yang ekstrem.

Secara khusus, Jahm bin Shafwan sebagai tokoh Jahmiyah telah meninggalkan bekas-bekas kerusakan yang besar pada kaum Muslimin. Kesesatan tokoh ini lantaran terpengaruh dengan firqah Sumaniyah dari India, yang menyatakan tidak adanya Tuhan, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad di dalam ar Raddu ‘ala al Jahmiyah, halaman 65-66.

Ibnul Jauzi rahimahullah membeberkan sebagian pentolan Zanadiqah dengan bertutur: “Siapa saja yang menganalisa kondisi Ibnul Rawandi, maka akan menilainya sebagai orang mulhid. Ia telah menulis kitab berjudul ad Damigh (artinya penghancur). Dengan kitab ini, katanya, ia ingin melenyapkan syari’at. Maha Suci Allah, yang akhirnya membinasakannya saat ia masih berusia muda”.

Ibnu Rawandi mengklaim, bahwa al Qur`an mengandung kontradiksi di dalamnya, tidak menunjukkan ketinggian bahasanya. Penilaian seperti ini jelas keliru, sebab bangsa Arab dahulu (pada zaman Nabi) sampai keheranan dibuat berdecak kagum oleh keindahan gaya bahasa yang ada dalam kitab suci ini. Banyak dalil yang menjelaskan tentang keindahan dan ketinggian bahasa al Qur`an.

Tokoh Zanadiqah lainnya yang menunjukkan karakter mulhidnya adalah Abul ‘Ala al Ma’arri. Nampak jelas pada bait-bait syair karangannya yang menggambarkan tentang ilhad. Tokoh ini sangat memusuhi para nabi. Dalam kehidupannya, ia merasa terancam oleh hukuman bunuh, dan akhirnya mati dengan mengusung kerugiannya sendiri. [Lihat Talbisu Iblis, halaman 121-122.]

Perlu diketahui pula, golongan Syi’ah pun mempunyai peranan besar dalam penyebaran pemikiran kaum zindiq ini dan melakukan kerusakan di negeri kaum Muslimin. Kaum Zanadiqah menjadikan orang-orang Syi’ah sebagai kendaraan untuk memuluskan tujuan busuk mereka terhadap kaum Muslimin. Mereka memanfaatkan golongan Syi’ah untuk merealisasikan niat jahat mereka terhadap kaum Muslimin. Syi’ah dijadikannya sebagai kamuflase untuk menutupi jati diri mereka yang penuh kekufuran.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan : “Di antara mereka ada yang memasukkan kerusakan pada agama, yang tidak diketahui efeknya kecuali Allah, Pencipta manusia. Orang-orang mulhid dari kalangan Isma’iliyyah, Nushairiyyah dan sekte kebatinan lainnya serta kaum munafiqin, menyusup melalui mereka. Musuh-musuh kaum Muslimin, baik orang-orang musyrik, Ahli Kitab, melalui mereka dapat mencapai tujuan. Melalui merekalah, kaum kuffar berhasil menguasai daerah-daerah kekuasaan Islam, menawan para wanita muslimah, merampas harta-benda, menumpahkan darah. Sebab pada asalnya, kemunculan Zanadiqah di tangan kaum munafikin yang dihukum oleh Amirul Mukminin Radhiyallahu anhu. Beliau membakar sebagian dari mereka”. [Lihat Minhajus Sunnah (1/10-11)]

Di dalam kitab ar Raddu ‘ala al Jahmiyah, al Imam ad Darimi mengatakan : “Ada seseorang berkata kepada satu orang zindiq –yang telah berinteraksi dan mengetahui arah pemikirannya- ‘Aku tahu kalian tidak akan kembali ke pangkuan agama Islam, dan tidak mengakui kebenarannya. Sebenarnya, apakah yang mendorong kalian untuk menjadi Syi’ah dan mengusung slogan cinta kepada Ali?’.”

Ia menjawab,”Baiklah, aku akan jujur. Apabila kami langsung memperlihatkan pemikiran yang kami yakini, sudah tentu kami akan dituduh dengan kekufuran dan zandaqah. Kami menjumpai segolongan orang yang mengusung slogan cinta kepada Ali dan menampilkannya. Mereka pun mencela siapapun yang mereka kehendaki, dan berkeyakinan dengan apa saja yang mereka inginkan. Mereka pun bebas berkata apapun. Mereka dikenal sebagai Rafidhah dan Syi’ah. Kami kemudian memandang, tidak ada jalan yang lebih mulus dari mengadopsi slogan cinta terhadap lelaki itu (‘Ali). Kami pun bisa berkata apa saja, berkeyakinan bebas dan mencela siapa saja yang kami inginkan. Bila kami disebut Rafidhah atau Syi’ah, lebih kami sukai daripada disebut sebagai orang-orang zindiq yang kafir. Padahal dalam pandangan kami, ‘Ali pun tidak lebih baik dari orang-orang yang kami cela.”

Al Imam ad Darimi mengomentari pernyataan ini dengan berkata: “Orang itu benar-benar jujur tentang dirinya, tidak mengada-ada. Itu sudah jelas dari pernyataan sebagian pembesar dan para ahlinya, mereka memanfaatkan kedok Syi’ah, menjadikannya topeng bagi ucapan dan kekeliruan mereka, tangga dan akses untuk memancing orang-orang yang lemah iman dan lalai”.

KEBIJAKAN BEBERAPA KHALIFAH DALAM MEMERANGI KAUM ZINDIQ
Demi melindungi agama dan kaum Muslimin, para khalifah benar-benar serius dalam menangani dan memadamkan gerakan Zanadiqah sampai akar-akarnya.

Contohnya, Khalifah ‘Ali Radhiyallahu anhu. Beliau mengambil kebijakan membakar mereka, sebagaimana diriwayatkan oleh al Bukhari (Fathul Bari, 12/267). Juga Al Mahdi, salah seorang khalifah dari Dinasti ‘Abbasiyah, ia terkenal dengan perhatiannya yang kuat terhadap persoalan ini. Al Mahdi menunjuk salah seorang untuk mengawasi kaum Zanadiqah.

Ibnu Katsir rahimahullah menceritakan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 167 H : “Pada tahun ini, al Mahdi mencari-cari sekelompok orang dari Zanadiqah di seluruh penjuru negeri. Dia menghadirkan dan membunuhi mereka dalam keadaan terikat di hadapannya”.

Pesan ini pula yang ia sampaikan kepada putranya, yaitu Musa al Hadi, sebagai khalifah sepeninggalnya. Jejak ayahnya ia ikuti. Ibnu Katsir rahimahullah mengisahkan dalam peristiwa tahun 169 H : “Al Hadi berusaha mencari orang-orang zindiq di seluruh penjuru. Dia berhasil membinasakan mereka dalam jumlah yang banyak, persis seperti ayahnya”.

Pada tahun 311 H, seperti yang dikisahkan Ibnu Katsir juga, salah seorang khalifah yang bernama al Muqtadir membakar buku-buku orang-orang zindiq seberat kurang lebih 204 kg, termasuk karya al Hallaj. Kemudian, pada tahun 488 H, Ahmad bin Khaqan dibunuh. Sebabnya adalah, karena ia telah terbukti memiliki keyakinan Zanadiqah. (Lihat al Bidayah wan Nihayah, 11/148, 12/149).

Pada tahun 726 H, hari Selasa 21 Rabi’ul Awwal, Nashir bin asy Syarf Abu al Fadhl al Haitsi di penggal di pasar kuda, lantaran kekufurannya serta penghinaannya terhadap ayat-ayat Allah serta berteman akrab dengan orang-orang zindiq. Vonis matinya dihadiri para ulama, tokoh dan pembesar negara. Dia hafal kitab at Tanbih, dan suaranya merdu saat membaca al Qur`an. Dia pun seorang yang cerdas. Namun kemudian, ia lepas dari itu semua. Pembunuhannya menjadikan Islam semakin perkasa dan menciutkan nyali orang-orang zindiq dan ahli bid’ah.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Aku menyaksikan eksekusinya. Syaikh kami, Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyyah termasuk yang hadir. Beliau sudah menghampiri dan menegurnya dengan tegas sebelum dieksekusi. Lalu ia dipenggal, dan aku melihatnya”. [Lihat al Bidayah wan Nihayah, 14/122-123].

Eksekusi ini merupakan jawaban terakhir bagi orang-orang zindiq. Tujuannya agar bumi ini bersih dari kotoran kekufuran Tetapi eksekusi semacam ini tidak boleh dilakukan oleh individu. Yang berhak melakukan eksekusi hanyalah penguasa.

Semoga Allah memperbaiki kualitas keagamaan kita, sehingga kita berlindung dari pemikiran yang sesat ini. Apalagi waktu-waktu belakangan, kemurtadan serta intervensi pemikiran Barat.

Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

(Diringkas dari Maqalata fi al Madzahabi wa al Firaq, karya ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Ali al ‘Abdul Lathif, Darul Wathan, Riyadh. Cetakan I, Th. 1413H)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun X/1427/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Bughyatu al Murtab, hlm. 338.
[2]. Fathul Bari (12/270).
[3]. Bughyatu al Murtab, hlm. 338.
[4]. Fathul Bari (12/271)

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 24 Agustus 2013

Print Friendly