Makna Jual Beli 2 Harga

Jual Beli 2 Harga

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Larangan jual beli dua harga dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِى بَيْعَةٍ

Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua transaksi jual beli dalam satu transaksi jual beli. (HR. Ahmad 9834, Nasai 4649, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَاعَ بَيْعَتَيْنِ فِى بَيْعَةٍ فَلَهُ أَوْكَسُهُمَا أَوِ الرِّبَا

Siapa yang melakukan 2 transaksi dalam satu transaksi maka dia hanya boleh mendapatkan kebalikannya (yang paling tidak menguntungkan) atau riba. (HR. Abu Daud 3463, Ibnu Hibban 4974 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Ulama berbeda pendapat mengenai makna Bai’atan fi bai’ah, dua transaksi dalam satu akad. Turmudzi memberi penjelasan ini dalam kitabnya.

Pertama, penjual menawarkan, “Saya jual barang ini, jika tunai 10 rb, jika kredit 2 bln. Jadinya 15 rb.” Lalu barang dibawa pembeli dan barang mereka bawa tanpa menentukan harga mana yang diambil. Harga tunai ataukah harga kredit.

Jika mereka berpisah dan telah menentukan salah satu harga yang ditawarkan, hukumnya dibolehkan.

Turmudzi menuliskan,

وقد فسر بعض أهل العلم قالوا بيعتين فى بيعة. أن يقول أبيعك هذا الثوب بنقد بعشرة وبنسيئة بعشرين ولا يفارقه على أحد البيعين فإذا فارقه على أحدهما فلا بأس إذا كانت العقدة على واحد منهما

Sebagian ulama menafsirkan, bahwa dua transaksi dalam satu akad, bentuknya, penjual menawarkan: “Baju ini aku jual ke anda, tunai 10 dirham, dan jika kredit 20 dirham. Sementara ketika mereka berpisah, belum menentukan harga mana yang dipilih. Jika mereka berpisah dan telah menentukan salah satu harga yang ditawarkan, dibolehkan, jika disepakati pada salah satu harga. (Jami’ at-Turmudzi, 5/137).

Tafsir ini yang lebih masyhur dalam madzhab Syafiiyah.

Kedua, dua pihak melakukan akad jual beli namun dengan syarat, ada akad kedua.

Misalnya, penjual menawarkan barangnya, “Saya menjual rumah ini ke anda seharga 200 juta, dengan syarat anda jual mobil anda ke saya seharga 150 juta. Jika saya telah mengambil mobil anda, rumah ini akan saya kosongkan untuk anda.”

Al-Ghazali mengatakan,

نهيه عن بيعتين في بيعة، ذكر الشافعي رضي الله عنه تأويلين؛ منها أن تقول: بعتك عبدي على أن تبيعني فرسك، وهو فاسد؛ لأنه شرط لا يلزم، ويتفاوت بعدمه مقصود العقد، وقد نهي مطلقاً عن بيع وشرط

Larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan 2 transaksi dalam satu akad, dijelaskan oleh as-Syafii ada dua tafsir, salah satunya, seseorang menawarkan, “Aku jual budakku ke kamu, dengan syarat kamu jual kudamu ke aku. Dan ini akad yang fasid. Karena ini syarat yang tidak mengikat. Sementara tujuan akad menjadi hilang dengan ketiadaan syarat itu. Sementara Nabis shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang jual beli dengan dibarengi syarat transaksi lain secara mutlak.” (al-Wasith, 3/72).

Tafsir kedua ini juga disebutkan Turmudzi dalam kitab Jami’-nya (5/137).

Kata an-Nawawi,

والأول أشهر، وعلى التقديرين: البيع باطل بالإجماع

“Tafsir yang pertama lebih masyhur. Dan apapun tafsirnya, jual beli semacam ini bathil dengan sepakat ulama.” (al-Majmu’, 9/412).

Ketiga,  menjual banyak ragam barang, dengan harga yang sama. Ketika berpisah, pembeli mengambil semua barang tanpa ditentukan barang mana yang dia beli.

Ini berdasarkan keterangan yang disampaikan ulama madzhab Malikiyah, seperti dalam al-Fawakih ad-Dawani (2/95).

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits 

..

———-

Sumber: www.pengusahamuslim.com – Kamis,28 Januari 2016

Print Friendly