Muslim Kaya Tidak Tercela (bagian 1)

Hidup kaya tidak tercela

Masya Allah, “Sudah kaya, taat beragama, rajin beribadah, berinfak pun tidak pernah putus.” Demikianlah kira-kira pujian terhadap orang yang memiliki banyak harta, berakhlak baik, dan taat menjalankan perintah agama.

Bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi harta kekayaan yang dimilikinya? Haruskah dia kaya atau biasa-biasa saja? Ataukah menerima apa adanya?

Harta kekayaan merupakan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang harus disyukuri. Kaya di dunia bukan satu hal yang tercela. Namun, yang menimbulkan cela adalah perilaku orang yang berduit yang rakus dan tamak terhadap harta. Dalam rangka menumpuk harta, mereka tak segan-segan menggunakan cara yang tidak halal. Setelah berhasil meraihnya, mereka tidak menunaikan haknya, bakhil, membelanjakan harta bukan pada tempatnya, atau bahkan sombong karenanya, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), ”Sesungguhnya, manusia diciptakan bersifat berkeluh-kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (Q.S. Al-Ma’arij:19–21)

Agar sukses dan bahagia di dunia dan akhirat, Allah subhanahu wa ta’ala mengarahkan para hamba-Nya agar berdoa, sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka.” (Q.S. Al-Baqarah:201)

Imam Khazin rahimahullah menegaskan dalam tafsirnya bahwa Allah subhanahu wa ta’ala membagi umat manusia yang berdoa menjadi dua. Pertama, kelompok yang hanya berdoa untuk kepentingan dunia. Mereka ini adalah orang-orang kafir, karena mereka tidak menyakini hari kebangkitan dan akhirat. Sementara, kelompok lain (kedua), yaitu orang-orang mukmin yang menggabungkan dalam doa mereka antara kepentingan dunia dan akhirat. Dengan alasan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah yang selalu kekurangan, tidak sanggup hidup sengsara dan terlunta-lunta. [1]

Para pendahulu kita, as-salafush shalih dari kalangan shahabat maupun tabi’in telah memberi teladan cara meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Zubair bin Awwam radhiallahu ‘anhu, misalnya, memiliki empat istri. Meski sepertiga hartanya telah diwasiatkan, tetapi masing-masing istrinya masih mendapatkan bagian sebesar satu juta dua ratus dinar. Jumlah harta kekayaan beliau radhiallahu ‘anhu seluruhnya adalah lima puluh juta dua ratus ribu (dinar). [2]

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkomentar, ”Ini menjadi bantahan terhadap orang-orang zuhud yang tidak berilmu yang tidak suka mengumpulkan harta kekayaan.” [3]

Oleh karena itu, Islam tidak membiarkan seorang muslim merasa kebingungan dalam berusaha mencari nafkah. Bahkan, Islam telah memberikan solusi tuntas dan mengajarkan etika mulia agar mereka mencapai kesuksesan ketika mengais rezeki, sehingga pintu kemakmuran dan keberkahan akan terbuka.

Istiqamah dengan harta

Kekayaan kadang membuat manusia lupa kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberi mereka harta. Ini menyebabkan kufur nikmat.

Jika kekayaan membuat seseorang tetap istiqamah dan taat beragama, harta itu akan mendatangkan manfaat yang sangat banyak.

Misalnya, dengan hidup berkecukupan maka menutut ilmu menjadi mudah, beribadah menjadi lancar, bersosialisasi menjadi gampang, bergaul semakin indah, berdakwah semakin sukses, berumah tangga semakin stabil, dan beramal saleh semakin tangguh. Oleh karena itu, harta di tangan seorang mukmin tidak akan berubah menjadi monster perusak kehidupan dan tatanan sosial serta penghancur kebahagiaan keluarga dan pilar-pilar rumah tangga. Sebaliknya, harta di tangan seorang muslim bisa berfungsi sebagai sarana penyeimbang dalam beribadah dan perekat hubungan dengan makhluk.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Harta terbaik adalah yang dimiliki laki-laki yang saleh.” [4]

Bahkan, harta tersebut akan menjadi sebuah energi yang memancarkan masa depan cerah dan sebuah kekuatan yang mengandng berbagai macam keutamaan dan kemuliaan dunia dan akhirat. Harta juga bisa menjadi penggerak roda dakwah dan jihad di jalan Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. ‘Sesungguhnya, kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dri kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.’” (Q.S. Al-Insan:8–9)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi pujian kepada seorang muslim yang dermawan dan membelanjakan hartanya dalam kebaikan. Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dinar terbaik yang dibelanjakan oleh seseorang lelaki adalah dinar seseorang yang dibelanjakan untuk nafkah keluarganya.” [5]

Dengan harta yang halal dan bersih, para generasi salaf berlomba dan berpacu untuk mengejar pahala dan meraih surga. Seperti yang terjadi pada kehidupan Umar radhiallahu ‘anhu yang bersaing secara “sehat” dalam berinfak, di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, dengan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu.

Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu bercerita, “Suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami agar bersedekah, dan ketika itu, saya sedang memiliki banyak harta. Saya mengatakan, ’Hari ini, saya akan mampu mengungguli Abu Bakar.’ Kemudian, saya pun datang dengan membawa separuh hartaku untuk disedekahkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?’ Saya menjawab, ’Saya tinggalkan sejumlah itu untuk keluargaku.’ Lalu, Abu Bakar datang membawa semua kekayaannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Wahai Abu Bakar, apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu? Ia menjawab, ’Saya tinggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.’ Lalu, aku berkata, ’Saya tidak akan bisa mengunggulimu selamanya.’” [6]

Kenapa rela hidup terhina?

Islam sangat mencela pemalas dan membatasi ruang gerak peminta-minta serta mengunci rapat semua bentuk ketergantungan hidup pada orang lain, karena tindakan tersebut akan menimbulkan berbagai macam keburukan dan kemunduran dalam kehidupan. Alquran juga memuji orang yang bersabar dan menahan diri dengan tidak meminta uluran tangan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidup. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka bahwa mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya; mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah:273)

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, ”Tidaklah ada seseorang yang malas bekerja melainkan ia berada dalam dua keburukan. Pertama, menelantarkan keluarga dan meninggalkan kewajiban dengan berkedok tawakal, sehingga hidupnya menjadi batu sandungan orang lain dan keluarganya berada dalam kesusahan. Kedua, demikian itu suatu kehinaan yang tidak menimpa kecuali orang yang hina dan gelandangan, sebab orang yang bermartabat tidak akan rela kehilangan harga diri hanya karena kemalasan dengan dalih tawakal yang sarat dengan hiasan kebodohan. Bisa jadi, orang tidak memiliki harta masih tetap punya peluang dan kesempatan untuk berusaha.” [7]

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jaminan surga bagi orang yang mampu memelihara diri dengan tidak meminta-minta, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis dari Tsauban radhiallahu ‘anhu, “Barang siapa yang bisa menjaminku untuk tidak meminta-minta suatu kebutuhan apa pun kepada seseorang maka aku akan menjaminnya dengan surga.” [8]

Seorang muslim harus berusaha hidup berkecukupan, memerangi kemalasan, bersemangat dalam mencari nafkah, berdedikasi dalam menutupi kebutuhan, dan rajin bekerja demi memelihara masa depan anak agar mampu hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang lain. Penyebabnya, pemalas yang menjadi beban orang dan pengemis yang menjual harga diri merupakan manusia paling tercela dan sangat dibenci Islam, seperti yang telah ditegaskan dalam sebuah hadis dari Abdullah Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah sikap meminta-minta terdapat pada diri seseorang di antara kalian kecuali ia bertemu dengan Allah sementara di wajahnya tidak ada secuil daging pun.” [9]

Bersambung, insya Allah ….

Catatan kaki:
[1] Lihat tafsir Lubabut Ta’wil, Imam Al-Khazin, 1:124.
[2] H.R. Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, no. 3129 dan Abu Nu’aim dalam Hilyah, hlm. 286.
[3] Fathul Bari, Ibnu Hajar, 6:262.
[4] H.R. Ahmad dalam Musnad dengan sanad hasan, juz 4, hadis no. 197 dan 202.
[5] H.R. Muslim, 2:574 (994).
[6] H.R. Tirmidzi, no. 3675; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1:414. Beliau rahimahullah mengatakan, “Sahih.”
[7] Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 303.
[8] H.R. Abu Daud. Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa sanadnya sahih.
[9] H.R. Al-Bukhari, Muslim, dan An-Nasa’i dalam Sunan-nya.

Sumber: Majalah As-Sunnah, edisi 12, thn. XIV, Jumadil Ula 1432 H/April 2011 M.
ibnuabbaskendari.wordpress.com
Dipublikasikan ulang oleh www.PengusahaMuslim.com, disertai penyuntingan bahasa.

———-

Sumber: www.pengusahamuslim.com – Jumat,10 Juni 2011

Print Friendly