Apa Hukum Mengikuti Imam Dalam Ijtihadiyyah?

Tanya:

Assalaamu’alaikum warahmatulloohi wabarakaatuh,

Ustadz, saya sekarang ada di Nigeria. Ketika kami sholat berjama’ah di kantor, yang menjadi imam sering berganti-ganti dan gerakan mereka dalam sholat bermacam-macam misal: kadang mereka i’tidal setelah rukuk bersedekap kadang tidak, atau mereka tidak menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahut kadang menggerakkan, atau meraka tidak duduk tawarruk ketika tahiyat akhir.

Pertanyaan: Apa yang harus saya lakukan dalam mengamalkan hadits Nabi shallalloohu’alahi wa sallam yang kurang lebih artinya “Imam itu dijadikan untuk diikuti.” Demikian juga perbuatan Abdullah bin Mas’ud radhialloohu’anhu ketika beliau mengingkari perbuatan Utsman bin Affan radhialloohu’anhu dengan melaksanakan sholat 4 rakaat ketika di Mina tetapi ketika Abdullah bin Mas’ud radhialloohu’anhu berjama’ah Utsman bin Affan radhialloohu’anhu ternyata beliau mengikuti sholat 4 raka’at, dan setelah ditanya mengapa engkau mengikuti sholat raka’at. Abdullah bin Mas’ud radhialloohu’anhu menjawab “Perselisihan itu buruk.” Dalam hal seperti yang saya alami di sini apakaah saya harus mengikuti gerakan imam secara keseluruhan ataukah saya hanya mengikuti gerakan imam yang saya ketahui bahwa itu ada dalilnya? Jazaakallooh khair.

(Abu Asyraf Mochammad Nur Cholis)

Jawab:

Wa’alaikumsalam warahmatullahi waarakatuhu.
Ma’mum mengikuti imam dalam perkataan dan perbuatan yang dhahir (terlihat atau terdengar dengan mudah oleh setiap makmum).

Contoh perkataan: Takbiratul ihram, takbir intiqal (perpindahan), salam.
Contoh perbuatan: Berdiri, ruku’, sujud, I’tidal, duduk diantara dua sujud. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنما جعل الإمام ليؤتم به فإذا كبر فكبروا وإذا ركع فاركعوا وإذا سجد فاسجدوا وإن صلى قائما فصلوا قياما

“Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti, apabila dia takbir maka bertakbirlah, apabila dia ruku’ maka ruku’lah, apabila dia sujud maka sujudlah, dan apabila shalat berdiri maka hendaklah kalian shalat berdiri.” (HR. Al-Bukhary dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Dalam hadist ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyebutkan diantara perkataan dan perbuatan dhahir (nampak) yang dilakukan imam, dan diperintahkan ma’mum mengikutinya.

Berkata An-Nawawy rahimahullahu:

وَأَمَّا قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَام لِيُؤْتَمّ بِهِ فَمَعْنَاهُ عِنْد الشَّافِعِيّ وَطَائِفَة فِي الْأَفْعَال الظَّاهِرَة

“Adapun sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: (Sesungguhnya imam diangkat untuk diikuti) maka maknanya menurut Syafi’iy dan sebagian ulama adalah di dalam perbuatan-perbuatan yang dhahir ” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim Bin Al-Hajjaj 4/134).

Dan apabila terjadi perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyyah antara imam dan makmum maka apabila perbedaannya di dalam perbuatan yang dhahir (mudah terlihat dan diikuti oleh makmum) maka hendaknya makmum mengikuti imam.

Imam Abu Dawud menyebutkan sebuah atsar dimana ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu shalat di Mina 4 rakaat dengan ijtihad beliau, maka Abdullah bin Mas’ud berkata: “Aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (di Mina) 2 rakaat, dan bersama Abu Bakar 2 rakaat, dan bersama Umar 2 rakaat ” yaitu dengan mengqashar shalat 4 rakaat.

Akan tetapi ketika beliau shalat di belakang ‘Utsman beliau shalat 4 rakaat , maka beliau ditanya, kenapa melakukan demikian? Maka beliau menjawab: Perbedaan itu jelek ” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunannya 1/602 no: 1960)

Berkata Syeikhul Islam rahimahullahu:

ولهذا ينبغي للمأموم أن يتبع إمامه فيما يسوغ فيه الاجتهاد فإذا قنت قنت معه وإن ترك القنوت لم يقنت فإن النبي صلى الله عليه و سلم قال : إنما جعل الإمام ليؤتم به

“Oleh karena itu seyogyanya bagi seorang makmum mengikuti imam di dalam perkara yang boleh di dalamnya berijtihad, kalau imam qunut maka dia qunut, kalau imam meninggalkan qunut maka dia tidak qunut, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: (Sesungguhnya imam diangkat untuk diikuti) “(Majmu Al-Fatawa 23/115)

Adapun perkara-perkara yang tidak nampak atau tidak terdengar oleh semua makmum seperti niat , tata cara I’tidal (sedekap atau tidak), tata cara bertasyahhud (menggerakkan jari atau tidak) maka tidak wajib mengikutinya, dan kita beramal sesuai dengan pendapat yang kita kuatkan.

Wallahu a’lam.

Ustadz Abdullah Roy, Lc.

Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com

———-

Sumber: www.konsultasisyariah.com – Jumat, 1 Januari 2009

Print Friendly