Bersuci dengan Tisu

Bersuci dengan Tisu

Pertanyaan:

Di toilet pesawat, persediaan air sangat terbatas. Penumpang disediakan tisu untuk membersihkan kotoran setelah buang air kecil maupun besar. Bolehkah menggunakan tisu untuk membersikan kotoran setelah buang air dengan tisu?

Jawaban:

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan,

Ada tiga hal yang dilakukan seseorang setelah buang air,

Pertama, hanya bersuci dengan air saja. Dan ini dibolehkan. Dalilnya, hadis dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu,

كان النبي صلى الله عليه وسلم يقضي حاجته فأنطلق أنا وغلام نحوي بإداوة من ماء وعنزة فيستنجي بالماء

Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam buang hajat, kemudian aku bersama teman mainku membawakan seember air dan tongkat kecil. Kemudian beliau bersuci dengan air. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian, secara tinjauan hukum, hukum asal menghilangkan najis adalah dengan air.

Kedua, bersuci hanya dengan batu saja, dan ini dibolehkan. Berdasarkan hadis Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

أن النبي صلى الله عليه وسلم أتى الغائط وأمره أن يأتيه بثلاثة أحجار، فأخذ الحجرين، وألقى الروثة وقال: هذا ركس

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah buang air dan beliau meminta untuk dibawakan tiga batu. (namun beliau diberi 2 batu dan satu kotoran kering keledai). Kemudian beliau mengambil dua batu dan membuang kotoran kering keledai, dan bersabda: “Ini benda najis.” (HR. Bukhari)

Dalil yang lain adalah hadis Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau membawakan beberaa batu untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau letakkan dalam sebuah kain dan beliau taruh di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah itu Abu Hurairah pergi. (HR. Bukhari).

Bersuci dengan batu atau benda selain air, disebut istijmar.

Ketiga, bersuci dengan batu kemudian dengan air.

Saya tidak menjumpai dalil masalah ini yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun mengingat kandungan makna hadis di atas,  bisa disimpulkan bahwa ini cara yang lebih sempurna (asy-Syarhul Mumthi’, 1:103 – 105).

Catatan:

1. Alat bersuci selain air, tidak harus berupa batu. Tapi bisa dengan benda apapun yang bisa menyerap, seperti tisu atau kain.

2. Orang yang bersuci dengan selain air, baik batu atau tisu, minimal harus melakukan dengan 3 kali.

Berdasarkan hadis dari Salman al-Farisi radhiallahu ‘anhu,

نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ، أَوْ بَوْلٍ، أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ، أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ، أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk menghdap kibat ketika buang air besar atau kecil, atau bersuci denga dan tangan kanan, atau bersuci dengan kurang dari 3 batu, atau bersuci dengan kotoran kering atau tulang. (HR. Muslim)

3. Jika lebih dari tiga maka jumlahnya dibuat ganjil, seperti 5 kali atau 7 kali, dst.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِر

Siapa yang melakukan istijmar, hendaknya dia buat ganjil.” (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Tidak boleh menggunakan tulang atau kotoran yang kering.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menggunakan kotoran kering dan tulang untuk bersuci, karena dua benda ini adalah makanan jin. Dan kita dilarang mengganggu mereka dengan mengotori makanannya. Sebagaimana dinyatakan dalam riwayat lain, bahwa Nabi saw ditanya mengapa dua benda itu tidak boleh digunakan untuk bersuci. Beliau menjawab,

هُمَا مِنْ طَعَامِ الجِنِّ

Dua benda itu adalah makanan jin.” (HR. Bukhari)

Allahu a’lam

, (Dewan Pembina www.,)

———-

Sumber: www.konsultasisyariah.com – Jumat,22 Pebruari 2013

Print Friendly