Bolehkah Mendoakan Kejelekan untuk Anak Nakal?

Pertanyaan:

Kebanyakan bapak dan ibu mendoakan keburukan bagi anaknya di saat keliru dan salah. Kami mohon arahan syaikh bagi mereka berkaitan dengan hal ini.

Jawaban:

Kami nasihatkan bagi orang tua agar berlapang dada dan memaafkan kekurangan anak di usia dininya, serta bersabar atas apa yang menimpa keduanya baik dari ucapan ataupun gangguan anak. Hal itu karena seorang anak belum matang akalnya, sehingga sangat mudah jatuh dalam kesalahan baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Kapan saja orang tua berlaku lemah lembut, pemaaf dan mengajarkan anak dengan lembut, kasih sayang, berlaku baik, dan berusaha menasihatinya, dan dididik dengannya, maka hal itu akan lebih bisa diterima oleh anak.

Namun, sebagian orang tua terjatuh dalam kesalahan fatal berupa mendoakan kematian, kecelakaan, dan musibah bagi anaknya serta berkelanjutan dengan doa itu dan memperbanyaknya. Setelah kemarahannya reda, barulah mereka sadar atas kekeliruannya dan mengakui bahwa sebenarnya mereka tidak mengharapkan hal-hal tersebut menimpa anaknya. Maka Allah memaafkannya dengan firman-Nya:

وَلَوْ يُعَجِّلُ اللهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُم بِالْخَيْرِ لَقُضِىَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ فَنَذَرُ الَّذِينَ لاَيَرْجُونَ لِقَآءَنَا فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka, Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelinangan di dalam kesesatan mereka.” (Qs. Yunus: 11).

Oleh sebab itu, wajib bagi orang tua untuk bersabar, tabah, dan mengajari anaknya adab dengan pukulan yang mendidik, karena kadang-kadang anak lebih terpengaruh dengan pukulan daripada sekadar nasihat atau pengajaran. Adapun mendoakan keburukan tidaklah bermanfaat baginya dan ia juga tidak mengerti apa yang dikatakan kepadanya, sehingga orang tauanyalah yang dicatat apa yang ia doakan sedangkan bagi sang anak tidak ada faidah sedikitpun. Wallahu a’lam. (Fatawa al-Mar’ah, 87-88).

Sumber: Majalah al-Mawaddah, Edisi 8 Tahun I, Shafar-Rabiul Awwal 1429 H – Maret 2008
Dipublikasikan oleh www.konsultasisyariah.com

———-

Sumber: www.konsultasisyariah.com – Selasa, 5 Oktober 2010

Print Friendly