Kesalahan Penulisan InsyaaAllah Menurut Zakir Naik

Kesalahan Penulisan InsyaaAllah Menurut Zakir Naik

Tersebar quot bahwa yg benar itu ditulis in shaa Allah dan bukan insyaa Allah. Krn penulisan yg kedua maknanya menciptakaan Allah. Mohon tanggapannya, krn kami kurang paham maksudnya. Krn jika sy perhatikan, pengucapannya sama..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kami sudah pernah membahas ini. anda bisa mempelajarinya di: Tulisan Insya Allah yang Benar

Pada prinsipnya, tidak ada masalah serius dengan cara penulisan kalimat ini. Karena kalimat insyaa Allah berasal dari bahasa arab. Ketika sering digunakan oleh masyarakat tanpa diterjemahkan, kalimat ini menjadi bagian dari bahasa kita. Mengingat huruf bahasa Indonesia dan huruf bahasa arab berbeda, kita perlu melakukan transliterasi untuk menuliskan kata ini dengan huruf latin.

Yang menjadi kendala adalah tidak semua huruf arab terwakili trans-literasinya dalam bahasa lain. Sehingga trans-literasi yang ada, sifatnya hanya pendekatan. Yang penting, cara pengucapannya benar.

Huruf syin [ش] sebagian menulisnya dengan ‘sy’ dan sebagian menulisnya dengan ‘sh’. Selama pengucapannya benar, kita sepakat, tidak jadi masalah.

Kesalahan Penulisan InsyaaAllah Menurut Zakir Naik

Terlepas dari keabsahan quote ini, apakah benar itu perkataan Zakir Naik ataukah hanya hoax, sebenarnya keterangan ini terkait dengan penulisan kalimat ini dalam bahasa arab.

Ada dua kata, pengucapannya hampir sama, tapi tulisanya beda,

Pertama, kata [إِنْشَاء], insyaa, disambung.

Kata ini merupakan bentuk masdar (dasar) dari kata Ansya-a – Yunsyi-u [arab: أَنْشَأَ – يُنْشِئُ]. Yang artinya menjadikan, melakukan, atau menciptakan.

Allah menceritakan penciptaan bidadari dalam al-Quran,

إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً

“Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) secara langsung.” (QS. al-Waqiah: 35).

Pada ayat di atas, Allah mengungkapkan dengan kalimat, Ansya’naa hunna insyaa-a. artinya, Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) secara langsung.

Karena bidadari itu Allah ciptakan dengan proses yang tidak seperti penciptaan manusia ketika di dunia. penciptaan yang sempurna, yang tidak akan binasa. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 833).

Sehingga, ketika kita menulis, [إِنْشَاء اللهِ ] maka bisa berarti menciptakan Allah atau ciptaan Allah. Padahal  makna ini tidak kita inginkan. Penulisan inilah yang disalahkan Zakir Naik dalam quote itu.

Kedua, kata [إِنْ شَاءَ ] in syaa-a dipisah.

Kata ini sebenarnya terdiri dari dua kata,

  1. Kata [إِنْ], artinya jika. Dalam bahasa arab disebut harfu syartin jazim (huruf syarat yang menyebabkan kata kerja syarat menjadi jazm)
  2. Kata [شَاءَ], artinya menghendaki. Dia fiil madhi (kata kerja bentuk lampau), sebagai fiil syarat (kata kerja syarat) yang berkedudukan majzum.

Bagaimana Transliterasi yang Benar?

Mengenai bagaimana standar baku trans-literasi, ini kembali kepada aturan bahasa penerima. Jika kita hendak menuliskan kalimat [إِنْ شَاءَ اللَّهُ] dalam bahasa latin Indonesia, berarti kita perlu merujuk bagaimana standar trans-literasi dalam bahasa kita. Sebaliknya, ketika kita hendak menulisnya dalam bahasa inggris, standar trans-literasiya harus mengikuti bahasa mereka.

Di sinilah, sebenarnya tidak ada standar yang berlaku secara internasional. Untuk itu pada prinsipnya adalah bagaimana masyarakat bisa memahami dan mengucapkannya dengan benar.

Tulisan arabnya

[إِنْ شَاءَ اللَّهُ],

Anda bisa menuliskan latinnya dengan insyaaAllah atau insyaa Allah atau inshaaAllah atau inshaa Allah atau insyaallah. Tidak ada yang baku di sini, karena ini semua transliterasi. Yang penting anda bisa mengucapkannya dengan benar, sesuai teks arabnya.

Allahu a’lam.

, –

..
.

. . -.

.

———-

Sumber: www.konsultasisyariah.com – Selasa, 4 Agustus 2015

Print Friendly