Apa itu Jahiliyah?

Apa itu Jahiliyah?

Apa itu jahiliyah? Menngapa disebut jahiliyah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Jahiliyah dari kata al-Jahl [الجهل] yang artinya kebodohan.

Selanjutnya istilah ini digunakan untuk menyebut keadaan masyarakat sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

الجاهلية : ما كان قبل الإسلام

Jahilliyah adalah masa sebelum islam. (Fathul Bari, 10/468).

Zaman itu dinamakan zaman jahiliyah karena tingkat kebodohan mereka yang parah, tidak mengenal hak Allah dan hak makhluk. (al-Qoul al-Mufid, Ibn Utsaimin, 2/146).

Al-Munawi mengatakan,

والجاهلية : ما قبل البعثة ، سُمُّوا به لفرط جهلهم

Jahiliyah adalah masa sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka dinamakan demikian, karena kebodohan mereka yang keterlaluan. (Faidhul Qadir, 1/462).

Karakter Jahiliyah

Setelah diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, zaman jahiliyah telah berakhir. Karena banyak manusia telah mengenal islam dan sadar akan aturan. Meskipun beberapa karakter dan kebiasaan buruk jahiliyah terkadang masih melekat pada diri sebagian orang. Seperti meratapi mayit, menghina nasab, bertarung karena fanatik golongan, bersolek gaya jahiliyah, atau karakter buruk lainnya.

Dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

النِّيَاحَةُ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ

Meratapi mayit termasuk tradisi jahiliyah. (HR. Ibn Majah 1648 dan dishahihkan al-Albani)

Dalam riwayat lain, dari Abu Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ

Ada 4 kebiasaan umatku yang itu merupakan tradisi jahiliyah, yang tidak akan mereka tinggalkan: menyombongkan nasab, mencela orang karena nasab, meminta hujan dengan bintang, dan meratap. (HR. Ahmad 9872 & Muslim 2203)

Karena kelemahan dan keterbatasan manusia, terkadang pelanggaran ini juga dilakukan orang soleh.

Suatu ketika, karena sangat marah, sahabat Abu Dzar pernah menghina ibunya sahabat Bilal radhiyallahu ‘anhuma. Peristiwa inipun dilaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menasehati Abu Dzar,

إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ

“Kamu manusia yang memiliki salah satu karakter jahiliyah.” (HR. Bukhari 30)

Para ulama melarang penyebutan ‘masyarakat jahiliyah’. Karena berarti mengukuhkan sesuatu yang telah berakhir. Meskipun boleh menyebutnya untuk yang bersifat parsial. Seperti riba jahiliyah atau dst. dan karakter buruk lainnya.

Tidak Boleh Menyebut Masyarakat Jahilliyah

Sekalipun ada penyimpangan yang dilakukan sebagian masyarakat muslim, namun kita tidak boleh menyebut mereka dengan masyarakat jahiliyah. Menyebut ‘masyarakat jahiliyah’ berarti menganggap mereka semua bodoh dan tidak tahu aturan. Sementara di tangah meraka masih banyak orang baik.

Karena itulah, sebagian ulama mengatakan penggunaan istilah jahiliyah dibagi menjadi 2:

[1] Untuk menyebut individu

Boleh digunakan untk menyebut orang yang melakukan penyimpangan.

[2] Untuk menyebut keseluruhan masyarakat.

Para ulama penyebutan semacam ini, karena tidak semua melakukan pelanggaran yang sama.

Syaikhul Islam mengatakan,

فالناس قبل مبعث الرسول صلى الله عليه وسلم كانوا في حال جاهلية… وكذلك كل ما يخالف ما جاءت به المرسلون من يهودية ، ونصرانية : فهي جاهلية ، وتلك كانت الجاهلية العامة ، فأما بعد مبعث الرسول صلى الله عليه وسلم قد تكون في مصر دون مصر، وقد تكون في شخص دون شخص… فأما في زمان مطلق : فلا جاهلية بعد مبعث محمد صلى الله عليه وسلم ؛ فإنه لا تزال من أمته طائفة ظاهرين على الحق إلى قيام الساعة

Manusia sebelum diutusnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka dalam kondisi jahiliyah…. Demikian pula semua yang menyimpang dari ajaran para rasul, seperti yahudi, atau nasrani maka itu jahiliyah. Itulah jahiliyah umum. Namun setelah diutusnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, kebiasaan jahilliyah terkadang ada di sebagian negara dan tidak ada di tempat lain, terkadang ada pada diri seseorang, yang tidak ada di orang lain… namun jika disebut secara mutlak, tidak ada lagi jahiliyah setelah diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena di tengah umat ini akan selalu ada sekelompok orang yang berpegang dengan kebenaran sampai kiamat. (Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 1/258).

Untuk itulah para ulama memberikan kritikan terhadap pernyataan salah satu dai pergerakan yang menyatakan, “Jahiliyah abad 20.” Istilah ini sama halnya menyebut zaman ini berikut penghuninya adalah zaman jahiliyah. Dan tentu saja ini kekeliruan. (Mu’jam al-Manahi al-Lafdziyah, hlm. 212 – 215).

Allahu a’lam

, –

..
.

. . -.

.

 

———-

Sumber: www.konsultasisyariah.com – Minggu,10 Juli 2016

Print Friendly