Bolehkah Memakai Handuk Setelah Wudhu?

Mengelap Bekas Air Wudhu dengan Handuk?

Assalamu’alaikum warahmatullah, uztad, di perbolehkn kah mengelap wudhu dg handuk atau sejenisnya ssudah wudhu?? dan ap doa sesudah wudhu yg benar??

Dari Arnita

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam warahmatullah 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خِرْقَةٌ يُنَشِّفُ بِهَا بَعْدَ الْوُضُوءِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki handuk yang beliau guunakan untuk mengeringkan badan setelah wudhu.

Status Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Turmudzi dalam sunannya (no. 53), dan beliau menilai ada perawinya yang dhaif. Setelah menyebutkan hadis tersebut, Turmudzi mengatakan,

حديث عائشة ليس بالقائم و لا يصح عن النبي صلى الله عليه و سلم في هذا الباب شيء وأبو معاذ يقولون هو سليمان بن أرقم وهو ضعيف عند أهل الحديث

Hadis A’isyah tersebut tidak shahih, dan tidak ada riwayat yang shahih yang menjelaskan masalah ini dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Mu’adz, kata para ulama, namunya Sulaiman bin Arqam. Dia perawi yang dhaif menurut para ahli hadis. (Sunan Turmudzi, 1/74).

Hadis ini juga dinilai dhaif oleh al-Albani.

Kemudian terdapat hadis lain, dari Salman al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ فَقَلَبَ جُبَّةَ صُوفٍ كَانَتْ عَلَيْهِ فَمَسَحَ بِهَا وَجْهَهُ

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, kemudian beliau membalik jubahnya yang terbuat dari wol, yang beliau pakai, kemudian beliau mengusap wajahnya.

Status Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Majah dalam sunannya (no. 468), dari jalur al-Wadhain bin Atha, dari Mahfudz bin Al-Qamah, dari Salman.

Ada dua cacat dalam sanad hadis ini,

Pertama, al-Wadhain bin Atha orang yang shaduq (jujur), namun Sayyiul Hifdz (hafalannya buruk), sebagaimana keterangan Ibnu Hajar dalam at-Taqrib.

Kedua, Mahfudz bin al-Qamah dari Salman tidak bersambung. Termasuk riwayat mursal sebagaimana keterangan dalam at-Tahdzib.

Hanya saja, mengingat ada hadis lain yang menguatkan, sehingga sebagian ulama menilainya hasan. (Sifat Wudhu Nabi, Fahd ad-Dausiri, hlm 43).

Ada juga hadis dari Maimunah yang meceritakan cara mandi junub yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di akhir keterangannya, Maimunah mengatakan,

فَأَتَيْتُهُ بِالْمِنْدِيلِ فَرَدَّهُ

Seusai mandi, saya bawakan untuk beliau sehelai handuk, namun beliau menolaknya. (HR. Nasai 255, Muslim 748 dan yang lainnya).

Hukum Mengeringkan Anggota Wudhu

Berangkat dari hadis di atas, ulama berbeda pendapat tentang hukum mengeringkan anggota wudhu seusai berwudhu. Mereka sepakat, mengeringkan anggota wudhu tidak mempengaruhi keabsahan wudhu, hanya saja mereka berbeda pendapat apakah hukumnya mubah ataukah makruh.

An-Nawawi menyebutkan keterangan al-Muhamili ketika membahas hukum mengeringkan anggota wudhu,

ونقل المحاملي الإجماع على أنه لا يحرم، وإنما الخلاف في الكراهة والله أعلم

Al-Muhamili menyebutkan keterangan adanya sepakat ulama bahwa mengeringkan anggota wudhu tidak haram. Perbedaan hanya dalam masalah apakah itu dimakruhkan ataukah tidak. Allahu a’lam.

Selanjutnya an-Nawawi menyebutkan daftar ulama yang berpendapat boleh dan ulama yang berpendapt makruh. Beliau mengatakan,

في مذاهب السلف في التنشيف قد ذكرنا أن الصحيح في مذهبنا أنه يستحب تركه ولا يقال التنشيف مكروه وحكي ابن المنذر اباحة التنشيف عن عثمان بن عفان والحسن بن علي وأنس بن مالك وبشير بن أبي مسعود والحسن البصري وابن سيرين وعلقمة والاسود ومسروق والضحاك ومالك والثوري وأصحاب الرأى وأحمد واسحاق

Mengenai madzhab para ulama tentang mengeringkan anggota badan setelah wudhu. Kami telah singgung bahwa yang shahih dalam madzhab kami (Syafiiyah), dianjurkan untuk ditinggalkan. Tidak kita katakan hukumnya makruh. Ibnul Mundzir menyebutkan ulama yang berpendapat mengeringkan anggota wudhu hukumnya mubah, Utsman bin Affan, Hasan bin Ali, Anas bin Malik, Basyir bin Abi Mas’ud, Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Alqamah, al-Aswad, Masruq, ad-Dhahaq, Malik, at-Tsauri, ulama Kufah, Ahmad, dan Ishaq.

Kemudian an-Nawawi menyebutkan beberapa ulama yang menilai makruh,

وحكي كراهته عن جابر بن عبد الله وعبد الرحمن بن أبي ليلى وسعيد بن المسيب والنخعي ومجاهد وأبى العالية وعن ابن عباس كراهته في الوضوء دون الغسل

Yang berpendapat makruh diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, Abdurrahman bin Abi Laila, Said bin Musayib, an-Nakhai, Mujahid, dan Abul Aliyah. Sementara Ibnu Abbas berpendapat, makruh ketika wudhu dan tidak makruh untuk mandi. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 1/462)

Pendapat yang lebih kuat – Allahu a’lam – adalah pendapat yang menyatakan mubah. Berdasarkan kaidah hukum asal, bahwa segala sesuatu hukumnya mubah, hingga ada dalil yang menunjukkan bahwa itu terlarang.

Allahu a’lam.

, –

..
.

. . -.

.

———-

Sumber: www.konsultasisyariah.com – Selasa, 4 November 2014

Print Friendly