Makna Hadis, Perbarui Iman dengan Laa ilaaha illallaah

Perbarui Iman dengan Laa ilaaha illallaah

Ada hadis yang menyatakan, perbairui iman kalian dengan mengucapkan Laa ilaaha illallaah. Apa makna hadis ini? Mohon pencerahannya.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mengenai hadis perbarui iman dengan memperbanyak mengucapkan ‘laa ilaaha illallaah’ disebutkan dalam riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, secara marfu’ dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ “، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا؟ قَالَ: ” أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ “

“Perbarui iman kalian”

“Ya Rasulullah, bagaimana cara kami memperbarui iman kami?” tanya para sahabat.

Beliau bersabda, “Perbanyaklah mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’.”

Derajat Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/256) dan Ahmad dalam al-Musnad (no. 8710), dari jalur Sadaqah bin Musa as-Sulami, dari Muhammad bin Wasi’, dari Sumair bin Nahar, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dinilai Hakim sanadnya shahih. Namun dibantah ad-Dzahabi dengan mengatakan,

قلت: صدقة ضعفوه

“Aku tegaskan, perwai Sadaqah didhaifkan para ulama.”

Sementara Sumair bin Nahar perawi munkar sebagaimana keterangan dalam al-Mizan (2/234).

Kesimpulannya, hadis ini adalah hadis yang dhaif. (as-Silsilah al-Ahadits ad-Dhaifah, 2/300).

Iman Itu Naik Turun

Iman yang da pada diri manusia, tidak diam. Artinya, dia bisa mengalami perubahan. Bisa naik dan bisa turun.

Iman naik ketika melakukan ketaatan dan turun ketika melakukan maksiat. Inilah aqidah kaum muslimin ahlus sunah.

Terdapat banyak dalil bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang,

Diantarannya firman Allah,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ ثُمَّ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka.” (QS. an-Nisa: 137).

Atau firman Allah tentang naiknya iman sahabat,

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.” (QS. at-Taubah: 124)

Allah menyatakan bahwa iman para sahabat bertambah karena ketaatan mereka kepada aturan yang Allah turunkan. Sebaliknya, mereka yang tidak mengikuti aturan itu, imannya akan berkurang.

Allah juga berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. al-Anfal: 2)

Karena itulah, ulama sepakat bahwa iman bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Kita akan simak beberapa riwayat dari para ulama masa silam,

[1] Keterangan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengajak masyarakat untuk taat kepada Allah dengan ajakan untuk menambah iman,

هَلُمُّوا نَزْدَدْ إِيمَانًا

“Mari kesini kalian, kita akan menambah iman.”

Maksuadnya adalah melakukan kajian atau ketaatan lainnya.

[2] Keterangan Yahya bin Said al-Qathan – gurunya Imam Ahmad –,

ما أدركت أحداً من أصحابنا، إلا على سنتنا في الإيمان، ويقولون: الإيمان يزيد وينقص

Kami tidak menjumpai seorangpun di kalangan sahabat kami, kecuali sesuai prinsip kami dalam masalah iman. Mereka semua menyatakan, “Iman bisa bertambah dan berkurang.” (Siyar A’lam an-Nubala, ad-Dzahabi,9/179)

[3] keterangan Imam al-Bukhari

لقيت أكثر من ألف رجل من العلماء بالأمصار فما رأيت أحداً يختلف في أن الإيمان قول وعمل، ويزيد وينقص

Aku berjumpa dengan lebih dari 1000 ulama dari berbagai negeri, aku tidak pernah mendengar satupun yang berbeda dalam prinsip bahwa iman itu ucapan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang. (Fathul Bari, 1/47)

[4] keterangan Abul Hasan al-Asy’ari,

وأجمعوا على أن الإيمان يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية

Ulama sepakat bahwa iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan bermaksiat. ( Risalah ila Ahli at-Tsaghr, 272).

Naikkan Iman dengan Ketaatan

Karena iman sangat memungkinkan untuk turun, kita diperintahkan agar sebisa mungkin menjaganya dan berusaha untuk terus meningkatkannya.

Ada beberapa cara untuk meningkatkan iman,

Pertama, Menjaga ketaatan kepada Allah

Inilah cara yang paling utama untuk meningkatkan iman. Karena iman bisa bertambah dengan ketaatan.

Ketika ketaatan itu mengakar dalam diri seseorang, maka dia akan mendapatkan manisnya iman.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

Ada tiga hal, yang jika ini ada pada diri seseorang maka dia akan mendapatkan manisnya iman;

[1] Allah dan rasul-Nya lebih dia cintai dari pada selainnya.

[2] Tidaklah dia mencitai orang lain, kecuali karena Allah

[3] Dia membenci untuk kembali kepada kekufuran, sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke neraka.

(HR. Bukhari 16 & Muslim 174).

Kedua, Berdoa agar iman kita selalu ditambah oleh Allah

Allahlah Dzat yang mengendalikan hati semua manusia. Hidayah hanya ada tangan-Nya. Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan agar kita selalu berdoa kepada-Nya, agar Dia memperbarui iman kita.

Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن الإيمان ليَخْلَقُ فِى جَوفِ أَحَدِكمُ كَـمَا يَخْلَقُ الثَّوبُ فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُـجَدِّدَ الِإيمَانَ فِى قُلُوبِكُم

Sesungguhnya iman itu bisa memudar pada hati kalian, sebagaimana kain bisa memudar. Karena itu, berdoalah kepada Allah untuk memperbarui iman di hati kalian. (HR. Hakim ¼, dan dishahihkan al-Albani).

Ketiga, Merenungi kandungan al-Quran

Al-Quran merupakan hiburan orang mukmin. Mereka bisa mendapatkan ketenangan batin melalui al-Quran. Sehingga semakin mengkaji al-Quran, iman mereka semakin bertambah.

Allah berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. al-Anfal: 2)

Sekalipun hadis di atas derajatnya lemah, namun keberadaan iman yang berkurang itu benar adanya, sebagaimana iman juga bisa bertambah. Dan penambahan atau pembaharuan iman dilakukan dengan melakukan ketaatan kepada Allah. Diantaranya dengan rajin membaca laa ilaaha illallaah.

Allahu a’lam.

, –

..
.

. . -.

.

———-

Sumber: www.konsultasisyariah.com – Rabu,27 April 2016

Print Friendly