Nishab Zakat: Mengikuti Emas atau Perak?

Nishab Zakat Mengikuti Emas atau Perak?

Pertanyaan:

Manakah yang lebih kuat nishob emas ataukah perak?

Dari: Ummu Ahmad

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du

Pertama, Harta dalam bentuk mata uang atau tabungan, memungkinkan untuk diqiyaskan dengan emas atau perak. Karena status emas dan perak sama-sama mata uang di masa silam. Sehingga uang kertas bisa diqiyaskan dengan emas atau perak. Meskipun keduanya (emas dan perak) memiliki perhitungan zakat yang berbeda, dan tidak boleh digabungkan. Sehingga jika ada orang yang memiliki 80 gr emas (belum nishab, kurang 5 gr) dan 590 gr perak (belum nishab, kurang 5 gr), orang ini tidak diwajibkan menggabungkan simpanan emas dan peraknya, sehingga dia wajib mengeluarkan zakatnya.

An-Nawawi mengatakan,

لا يضم الذهب إلى الفضة , ولا هي إليه في إتمام النصاب بلا خلاف ـ في المذهب ـ ، كما لا يضم التمر إلى الزبيب..

“Tidak boleh menggabungkan emas dengan perak untuk menggenapkan nilai nishab, tanpa ada perselisihan – dalam madzhab syafii -, sebagaimana kurma tidak dicampur dengan zabib (untuk mengejar nishab).” (al-Majmu’, 5:504).

Kedua, nilai yang tidak berimbang

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

… فإِذا كانت لك مائتا درهم، وحال عليها الحول؛ فعليها خمسة دراهم، وليس على شيء -يعني في الذهب- حتى يكون لك عشرون ديناراً، فإِذا كان لك عشرون ديناراً وحال عليها الحول؛ ففيها نصف دينار

Jika kamu memiliki 200 dirham, dan sudah disimpan selama satu tahun maka wajib dizakati 5 dirham. Dan tidak ada kewajiban zakat emas, sampai kamu memiliki 20 dinar. Jika kamu punya 20 dinar dan telah disimpan selama setahun maka kewajiban zakatnya 1/2 dinar. (HR. Abu Daud 1391 dan dishahihkan al-Albani).

Hadis di atas menjelaskan nishab dinar dan dirham yang merupakan dua mata uang masa silam. Berdasarkan hadis di atas, nishab emas 20 dinar (85 gram emas) sedangkan nishab perak 200 dirham (595 gram perak).

Di masa sahabat – sebagaimana dinyatakan Dr. Hisamudin Affanah – nilai emas dan perak berimbang stabil. Karena keduanya menjadi acuan utama harga barang. 1 dinar (emas) selalu senilai dengan 10 dirham (perak). Sehingga di masa itu, nilai 85 gram emas sama dengan nilai 595 gram perak. (http://www.onislam.net/arabic/zakah-counsels)

Namun seiring perjalanan waktu, masyarakat lebih cenderung memilih emas sebagai standar harga dari pada perak. Lebih dari itu, emas lebih banyak dibutuhkan oleh manusia dibanding perak. Keadaan ini menyebabkan nilai perak cenderung turun dan tidak berimbang dengan emas. Sampai akhirnya, perak tidak lagi menjadi acuan standar harga dan menjadi komoditas biasa. Jika kita bandingkan, saat ini (Februari 2013), nishab emas senilai Rp 46 juta, sementara nishab perak sekitar 4,8 juta. Selisih yang sangat jauh.

Ketiga, Ulama berbeda pendapat dalam menentukan acuan nishab zakat harta. Apakah mengikuti nishab emas ataukah nishab perak.

Pendapat pertama menyatakan, nishab harta mengikuti nishab yang lebih rendah. Pendapat ini menitik-beratkan pada sisi manfaat untuk fakir-miskin. Dengan nishab yang lebih rendah, akan lebih menguntungkan bagi pihak penerima zakat.

Ini adalah pendapat mayoritas ulama kontemporer, sebagaimana keterangan Dr. Khalid Al-Muslih sebagaimana keterangan beliau dalam progam acara ‘yas-alunak’ yang disiarkan melalui channel televisi : Ar-risalah. Pendapat ini dipilih oleh Lajnah Daimah. Dalam salah satu fatwanya, dinyatakan,

مقدار نصاب الزكاة في الدولار وغيره من العملات الورقية هو ما يعادل قيمته عشرين مثقالًا من الذهب أو مائة وأربعين مثقالًا من الفضة في الوقت الذي وجبت عليك فيه الزكاة في الدولارات ونحوها من العملات، ويكون ذلك بالأحض للفقراء من أحد النصابين، وذلك نظرًا إلى اختلاف سعرها باختلاف الأوقات والبلاد

Ukuran nishab zakat untuk dolar atau mata uang yang lainnya senilai dengan 20 mitsqal emas (85 gr) atau 40 mitsqal perak (595 gr) di waktu ketika anda wajib mengeluarkan zakat, dalam bentuk dolar atau mata uang lainnya. Dan dalam hal ini, nishab yang dipilih adalah yang paling menguntungkan bagi orang miskin. Itu dilakukan dengan menimbang perbedaan harganya, menurut perbedaan waktu dan tempat. (Fatawa Lajnah Daimah, no. 1728).

Dengan memperhatikan nilai nishab emas dan perak maka nishab zakat untuk mata uang, berdasarkan pertimbangan yang lebih menguntungkan fakir miskin adalah nishab perak. Karena dengan mengacu nishab perak, yang tidak lebih dari 5 juta, akan semakin banyak orang yang berkewajiban membayar zakat dan semakin besar pula nilai zakat yang harus dikeluarkan. Betapa tidak, setiap orang yang memiliki tabungan  5 juta, dan telah disimpan selama setahun, dia berkewajiban membayar zakat.

Pendapat kedua, nishab zakat harta mengikuti nishab emas.

Pendapat ini beralasan,

1. Nilai perak cenderung turun, sehingga jarang orang tertarik memihak perak untuk komoditas investasi. Berbeda dengan emas yang nilainya relatif diakui sebagai sarana investasi sampai zaman sekarang, sebagaimana uang kertas.

2. Emas masih bertahan sebagai standar harga. Sementara perak tidak lagi menjadi standar harga. Sehingga emas lebih mendekati sifat mata uang di zaman sekarang, dibandingkan perak.

3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Muadz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau berpesan agar mengajarkan kewajiban zakat. Salah satu karakter zakat yang disebutkan dalam pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Muadz,

تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ

Zakat itu diambil dari orang kaya mereka, untuk dikembalikan kepada orang miskin mereka.. (HR. Bukhari 7372).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut orang yang berkewajiban bayar zakat sebagai orang kaya. Sementara masyarakat kita sepakat, orang yang hanya memiliki tabungan 5 juta, belum bisa disebut kaya.

Diantara ulama yang menguatkan pendapat ini adalah Yusuf Qardhawi (fikih, 1/264) dan yang dipilih Dr. Muhammad Sulaiman al-Asyqar, guru besar fakultas Syariah di Universitas Kuwait. Dalam karyanya terkait zakat kontemporer, beliau menjelaskan,

مال في هذا العصر بعض الفقهاء في هذا العصر، إلى الرجوع إلى التقويم في عروض التجارة والنقود الورقية إلى نصاب الذهب خاصة ، ولذلك وجه بيّن ، وهو ثبات القدرة الشرائية للذهب فإن نصاب الذهب – العشرين ديناراً – كان يشترى بها في عهد النبي صلى الله عليه وسلم عشرون شاة من شياه الحجاز تقريباً وكذلك نصاب الفضة – المئتا درهم – كان يُشتَرى بها عشرون شاةً تقريباً أيضاً

Sebagian ulama di zaman ini lebih cenderung mengembalikan standar zakat barang dagangan dan mata uang kepada nishab emas. Dan pendapat ini memiliki alasan cukup kuat, yaitu menimbang nilai jual emas yang konstan. Karena nishab emas – 20 dinar – di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa digunakan untuk membeli sekitar 20 ekor kambing di Madinah. Demikian pula nishab perak – 200 dirham – dulu juga bisa digunakan untuk membeli 20 ekor kambing.

Kemudian beliau melanjutkan,

أما في عصرنا الحاضر فلا تكفي قيمة مئتي درهم من الفضة إلا لشراء شاة واحدة ، بينما العشرون مثقالاً من الذهب تكفي الآن لشراء عشرين شاة من شياه الحجاز أو أقل قليلاً فهذا الثبات في قوة الذهب الشرائية تتحقق به حكمة تقدير النصاب على الوجه الأكمل ، بخلاف نصاب الفضة

Adapun di zaman kita saat ini, 200 dirham perak tidak cukup selain untuk membeli seekor kambing. Sementara 20 dinar emas, masih cukup untuk membeli 20 ekor kambing di Madinah atau kurang sedikit. Nilai yang konstan untuk harga jual emas ini, sesuai tujuan penetapan nishab zakat dalam posisi yang lebih sempurna. Berbeda dengan nishab perak. (Abhats Fiqhiyyah fi Qadhaya zakat Mu’ashirah: 1/30)

Allahu a’lam

, –

..
.

. . -.

.

———-

Sumber: www.konsultasisyariah.com – Senin, 8 April 2013

Print Friendly