Perlakuan Buruk dari Orang Tua Suami

Pertanyaan:

Ada seorang wanita yang banyak banyak menderita akibat perlakuan orang tua suaminya. Ia berkata: Aku berlaku baik kepada mereka, tetapi mereka malah berlaku buruk kepadaku. Ia mengucapkan kata-kata jarak kepadaku dan menuduhku dengan ucapan yang tidak kukatakan. Demikian pula kondisi anaknya yang menjadi suamiku; ia berakhlak buruk, omongannya keji dan mulutnya lancang. Sudah banyak makian, celaan dan suara keras yang dilontarkan tanpa sebab maupun ada sebabnya. Maka apa yang Tuan nasihatkan kepadaku, bolehkah aku melarang orang tua suamiku memasuki rumahku, yakni aku meminta rumah tersendiri, sementara kami tahu bahwa suamiku memiliki istri lain, dan suamiku adalah anak laki-laki satu-satunya milik ayahnya yang telah berumur 90 tahun? Berikanlah fatwa kepada kami, niscaya kalian akan mendapat pahala.

Jawaban:

Yang kulihat, wanita tersebut bersabar, mengharap pahala dari Tuhan ‘azza wa jalla dan membalas keburukan dengan kebaikan. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam kitab-Nya:

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabr dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Qs. Fushshilat: 34-35)

Dia ‘azza wa jalla berfirman: “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik”, dan tidak memfirmankan: “Tolaklah kejahatan dengan kebaikan.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dengan cara yang lebih baik.” Bila ini terjadi, dan manusia mematuhi perintah Tuhannya, niscaya permusuhan berubah menjadi kesetiaan dan persahabatan, seolah-olah ia adalah teman yang sangat setia; yakni amat dekat lagi kuat rasa persahabatannya.

Yang mengatakan itu adalah Tuhan semesta alam, yang ditangan-Nya terpegang klimaks segala urusan. Dialah Dzat Yang tiada satu pun hati anak Adam, melainkan berada di antara dua jari-Nya. Bukan mustahil permusuhan berubah menjadi persahabatan dan kebencian berubah menjadi cinta kasih, karena Yang Mengucapkan hal itu adalah Tuhan semesta alam.

Aku memberikan saran kepada wanita yang telah menceritakan keadaan dirinya tersebut –yang dalam kenyataannya ia tidak bahagia- agar ia bersabar, mengharapkan pahala, dan selalu menunggu hadirnya kelonggaran. Ia harus tahu bahwa ia bukan satu-satunya yang mengalami hal tersebut. Alangkah banyak wanita yang mengeluhkan suami mereka, ayahnya, maupun ibunya; tetapi dengan kesabaran dan keyakinan, dan Allah pun mempermudah urusannya. Maka nasihatku untuknya: Hendaknya ia bersabar dan mengaharap pahala.

Sedangkan nasihatku untuk suaminya dan ayah suaminya: Keduanya harus bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dalam urusan wanita yang kurang bahagia tersebut, jika apa yang ia ceritakan dalam pertanyaan itu benar-benar terjadi pada dirinya. Hendaknya hati keduanya lebih longgar daripada hati wanita tersebut dan jangan sampai mereka menyiksa wanita itu karena apa yang ia lakukan, bila memang ia melakukan suatu kekhilafan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jangan sampai seorang mukmin laki-laki (suami) membenci seorang mukmin perempuan (istrinya). Jika ia tidak suka terhadap salah satu perangainya, bisa jadi ia ridha dengan perangainya yang lain.”

Beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda:

“Hendaknya kalian saling menasehati untuk berlaku baik kepada para wanita. Sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian paling atas. Jika kamu berusaha meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya. Jika kau biarkan, niscaya ia akan selalu bengkok.” (HR Bukhari)

“Jika kamu bersenang-senang dengan isri kalian, niscaya kalian bersenang- senang dengannya dalam keadaan ia bengkok. Jika kamu bersuaha meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya. Sedangkan patahnya adalah cerainya.”

Nasihatku untuk suaminya dan ayah suaminya: keduanya harus bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dalam urusan wanita tersebut dan membalas keburukannya – jika ia melakukan keburukan – dengan perbuatan baik, dan Allah selalu beserta orang-orang yang sabar.

Sumber: Setiap Problem Suami-Istri Ada Solusinya, Solusi atas 500 Problem Istri dan 300 Problem Suami oleh Sekelompok Ulama: Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, Syaikh bin Baz, Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Syaikh Abdullah bin Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Jibrin dll, Mitra Pustaka, 2008

———-

Sumber: www.konsultasisyariah.com – Rabu,20 Januari 2010

Print Friendly