Semangat Berdakwah

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi,

Ustadz Ana ini lagi cemburu sekali dengan para ustadz dan pendakwah. Dengan ilmu yang pas-pasan ini tidak mungkin ana berdakwah. Adakah amalan yang bisa membuat ana menyusul mereka para pendakwah ini. Kalaulah saya menjalankan rukun islam mereka juga menjalankan, kalaulah saya shadaqah, infaq, wakaf, dan beramal yang lain, mereka juga. Lalu bagaimana saya bisa menyusul mereka (para ust.) sedangkan saya tidak ingin (jika Allah menjadikan saya ahli surga) hanya dapat surga dibawah. Sedangkan saya selalu merasa tidak aman dari api neraka. Jangankan membayangkan surga, saya masih ketakutan jika mengingat neraka. Tolong ust. adakah dalil yang menunjukkan amalan yang mana ana bisa menyusul amalan para ust yang berdakwah. salahkah saya berharap surga yang paling tinggi di sisi Alloh? Jazakallahu khairon katsiran.

Jawaban Ustadz:

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sesungguhnya Alloh telah memudahkan bagi setiap orang untuk mendapatkan surga, oleh sebab itu Alloh memberikan banyak jalan untuk ke surga, sehingga jumlah pintu surga lebih banyak dari jumlah pintu neraka, ada orang masuk surga dengan sebab ilmunya, ada dengan sebab harta, dengan sebab jihad, ada lagi dengan sebab puasa, ada lagi karena husnul khuluk (berbudi pekerti yang baik), ada pula sebab berbakti kepada kedua orang tuanya dan seterusnya, tidak mungkin kita sebutkan jalan kebaikan tersebut satu persatu di sini. Ada sebagian kita mampu untuk melakukan banyak kebaikan, ada pula yang kurang, mungkin karena dibatasi oleh situasi atau kondisi yang berada di setiap kita, juga tergantung himmah (kesungguh-sungguhan kita dalam beramal).

Bila jalan-jalan kebaikan tersebut sangat banyak di hadapan kita, di sini kita dituntut untuk memilih dan menempuh yang paling utama dan paling cocok dengan situasi dan kondisi, contoh bila kita punya harta, tetapi di segi kemampuan ilmu kurang, maka yang sesuai dengannya adalah memperjuangkan Islam dengan hartanya, jika ia seorang yang terhormat dan disegani, maka ia memperjuangkan Islam melalui kedudukannya, adapun besar kecilnya pahala tergantung dari manfaat yang ditimbulkan oleh perjuangannya tersebut, belum tentu orang yang memiliki ilmu lebih besar pahalanya dari orang yang memperjuangkan Islam dengan cara lain, jadi ustadz-ustadz belum tentu mereka itu lebih tinggi kedudukannya di sisi Alloh, karena semuanya berbalik kepada dua hal; ikhlas dan bobot kemanfaatan yang ditimbulkan amal tersebut, ini bila amal yang bermanfaat muta’adi (menyebar kepada orang lain), adapun bila amal tersebut manfaatnya tidak muta’adi (khusus untuk pelakunya) juga kelebihan nilainya kembali kedua hal; yaitu ikhlas dan muwafaqatus sunnah (sesuai dengan sunnah).

Contoh bila seseorang berpangkat mampu memperjuangkan Islam dengan pangkatnya sehingga Islam tegak dan tersebar dengan sebab yang dilakukannya, maka pahalanya sangat besar sekali, berapa jumlah orang yang mendapat petunjuk dengan melalui usahanya, ia akan menerima balasan sebanyak jumlah pahala orang-orang tersebut. Berbeda dengan ustadz yang hanya berceramah di hadapan bilangan terbatas, mungkin ustadz tersebut berdakwah lancar berkat dari usaha orang tersebut yang telah memberi fasilitas untuk berdakwah dengan aman dan lancar. Contoh untuk bentuk kedua; dalam hal melakukan sholat belum tentu sholat ustadz lebih besar pahalanya dari orang yang bukan ustadz, kalau keikhlasan dan kekhusyukan orang tersebut melebihi keikhlasan dan kekhusyukan seorang ustadz.

Begitu pula dalam hal berinfak sekalipun jumlahnya sama, tetapi nilainya berbada di sisi Alloh, pertama dari segi kondisi dan situasi si pemberi dan si penerima, kedua dari tingkat keikhlasan si pemberi. Begitulah seterusnya dalam amal-amal yang lain. Jadi tidak benar bila berasumsi bila ustadz kedudukannya akan jauh lebih tinggi dari surga karena ke”ustadz”annya tetapi semuanya kembali kepada amal dan keikhlasan seseorang, tidakkah antum dengar hadits yang menerangkan tiga orang yang pertama kali ditarik ke neraka, di antara mereka seorang ‘alim yang tidak beramal dengan ilmunya, na’uzubillahi minzdzaalik. Disebutkan pula dalam sebuah hadits, yang mana sebagian sahabat yang fakir berkata kepada Nabi; orang-orang kaya telah merebut semua pahala wahai Rosululloh, mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, lalu mereka berinfak dengan kelebihan harta mereka, kemudian Rosululloh berkata; “Maukah kalian aku tunjukan suatu amalan yang bila kamu lakukan, kamu akan dapat menandingi mereka?” Lalu Rosululloh mengajarkan kepada mereka tentang berzikir selesai sholat lima waktu. Namun orang-orang kaya turut melakukan apa yang mereka lakukan, lalu sahabat yang fakir tadi datang lagi kepada Rosululloh untuk mengadukan keadaan mereka, maka Rosululloh bersabda, “Itu keutamaan yang diberikan Alloh kepada siapa saja yang Dia kehendaki.”

Maka yang perlu kita lakukan dalam hal berlomba-lomba dalam kebaikan adalah beramal dengan ikhlas dan sungguh-sungguh sesuai kemampuan kita masing-masing, dalam segala kesempatan, kapan dan di mana pun kita berada, kita beramal dan memperjuangkan Islam di situ. Sekalipun hanya mengajak teman sekantor, teman sekuliah, teman sekampung untuk menghadiri pengajian yang diadakan oleh ustadz-ustadz kita, ini sudah amal yang amat besar.

***

Penanya: Abdullah
Dijawab Oleh: Ustadz Ali Musri

Sumber: muslim.or.id

———-

Sumber: www.konsultasisyariah.com – Senin,28 Desember 2009

Print Friendly