Shalat Jenazah Ba’da Ashar

Shalat Jenazah Ba’da Ashar

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum.

Masyarakat disekitar saya sering menshalatkan jenazah serta menguburkannya beriringan setelah shalat ashar. Saya sudah memberitahukan adanya larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak shalat dan menguburkan di waktu terlarang tetapi takmir masjid mengatakan tidak mengapa, ada pendapat yang membolehkan. Adakah bahasan tentang masalah ini dari Ustadz?

Jazakallah khairaan.

Dari: Azwin

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, shalat sunah dalam syariat Islam ada 2 :

Shalat sunah mutlak, itulah shalat sunah yang dikerjakan tanpa ada sebab. Misalnya, seseorang sedang duduk di dalam masjid, kemudian dia ingin shalat. Padahal itu bukan waktu khusus untuk mengerjakan shalat. Bentuk shalat semacam ini disebut shalat sunah mutlak.

Shalat sunah yang memiliki sebab, seperti shalat jenazah, shalat rawatib, tahiyatul masjid, dst

Kedua, terdapat hadis dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهَا مَوْتَانَا: حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ، وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ

Ada 3 waktu, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk menshalati atau memakamkan jenazah: ketika matahari terbit sampai matahari itu meninggi, ketika matahari tepat berada di atas sampai condong ke barat, dan ketika matahari condong mau tenggelam, sampai dia terbenam. (HR. Muslim, Nasai, dan Abu Daud).

Hadis ini tidaklah menunjukkan larangan shalat jenazah setelah asar atau setelah subuh. Syaikh Muhammad Ali Farkus mengatakan,

فعمومُ النّهيِ عنِ الصّلاةِ في هذا الحديثِ وغيرِه مِنَ الأحاديثِ النّاهيةِ عنِ الصّلاةِ في أوقاتِ الكراهةِ محمولٌ على صلاةِ التّطوّعِ التي لا سبب لها، أمّا الصّلواتُ ذواتُ الأسبابِ كقضاءِ الفرائضِ أو فوائتِ النّفلِ كسنّةِ الفجرِ بعد الفجرِ وسنّةِ الظّهرِ بعد العصرِ، وكذا تحيّةِ المسجدِ وصلاةِ الكسوفِ وركعتَيِ الطّوافِ وغيرِها مِن ذواتِ الأسبابِ، فإنّها خُصَّتْ مِن عمومِ النّهيِ عنِ الصّلاةِ لأدلّةٍ دلّتْ عليها

Larangan shalat pada hadis tersebut, serta hadis lainnya yang melarang di waktu makruh, dipahami untuk shalat sunah yang tidak memiliki sebab. Sedangkan shalat sunah yang memiliki sebab, misalnya qadha shalat wajib, atau qadha shalat rawatib, seperti shalat qabliyah subuh dikerjakan setelah subuh atau shalat ba’diyah zuhur dikerjakan setelah asar. Demikian pula tahiyatul masjid, shalat gerhana, dua rakaat setelah thawaf, dan shalat sunah yang memiliki sebab khusus lainnya. Shalat sunah semacam ini tidak termasuk larangan dalam hadis di atas, mengingat beberapa dalil yang menunjukkan hal itu.

Kemudian Syaikh Muhammad Ali Farkus menyebutkan beberapa dalil tersebut,

مَنْ نَامَ عَنْ صَلاَةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا مَتَى ذَكَرَهَا فَإِنَّ ذَلِكَ هُوَ وَقْتُهَا

Siapa yang ketiduran, sehingga tidak shalat atau lupa mengerjakan shalat maka dia harus kerjakan ketika ingat. Karena itulah waktu shalat untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Atau hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Bani Abdi Manaf (juru kunci masjidil haram),

يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لاَ تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا البَيْتِ وَصَلَّى فِي أَيِّ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ

Wahai bani Abdi Manaf, janganlah kalian melarang seorangpun untuk thawaf di masjid ini atau shalat di sana kapanpun waktunya, siang maupun malam.” (HR. Turmudzi dan dishahihkan Ibnul Mulaqqin dalam al-Badr al-Munir).

Ketiga, shalat jenazah termasuk shalat yang memiliki sebab khusus, yaitu mendoakan jenazah. Karena itu tidak masalah jika dikerjakan setelah asar. Syaikh Muhammad Ali Farkus selanjutnya menjelaskan,

وصلاةُ الجنازةِ معدودةٌ مِن ذواتِ الأسبابِ، والإجماعُ منعقدٌ على جوازِ أدائِها في كلِّ الأوقاتِ بما في ذلك بعد الصّبحِ والعصرِ، قال ابنُ قدامةَ -رحمه الله-: «قال ابنُ المنذرِ: إجماعُ المسلمين في الصّلاةِ على الجنازةِ بعد العصرِ والصّبحِ، وأمّا الصّلاةُ عليها في الأوقاتِ الثّلاثةِ التي في حديثِ عقبةَ بنِ عامرٍ فلا يجوز»

“Shalat jenazah termasuk shalat yang memiliki sebab. Dan ulama sepakat, boleh dilakukan dalam setiap waktu, setelah subuh maupun setelah asar. Ibnu Qudamah menukil keterangan ijma’ (kata sepakat), ‘Kaum muslimin sepakat, boleh melaksanakan shalat jenazah setelah asar dan setelah subuh.” Adapun shalat jenazah yang dilakukan tepat di tiga waktu sebagaimana dinyatakan dalam hadis Uqbah bin Amir, hukumnya tidak boleh’.”

Maksud ‘tidak boleh’ shalat jenazah di tiga waktu?

Setelah menyebutkan keterangan di atas, Syaikh Muhammad Ali farkus menjelaskan,

قلتُ: وإنّما الكراهةُ فيما إذا كان يتحرّى –عمدًا- صلاتَها في الأوقاتِ الثّلاثةِ، بخلافِ ما إذا حصل اتّفاقًا؛ فلا كراهةَ في أدائِها في عمومِ الأوقاتِ(المجموع  للنّوويّ، 5/213). قال ابنُ تيميّةَ -رحمه الله- في مَعْرِضِ بيانِ حديثِ عقبةَ بنِ عامرٍ رضي الله عنه: «صلاةُ الجنازةِ لا تُكْرَهُ في هذا الوقتِ بالإجماعِ، وإنّما معناه تعمُّدُ تأخيرِ الدّفنِ إلى هذه الأوقاتِ كما يُكْرَهُ تعمُّدُ تأخيرِ صلاةِ العصرِ إلى اصفرارِ الشّمسِ بلا عذرٍ، فأمّا إذا وقع الدّفنُ في هذه الأوقاتِ بلا تعمُّدٍ فلا يُكْرَهُ»

Aku sampaikan, larangan tersebut berlaku ketika seseorang secara sengaja memilih tiga waktu itu untuk shalat. Ini berbeda ketika dia mengerjakannya bersifat kebetulan, tidak terlarang untuk dilakukan di semua waktu. (al-Majmu’ Nawawi, 5:213). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika menjelaskan hadis Uqbah bin Amir mengatakan,

“Shalat jenazah tidak terlarang dilakukan di waktu ini dengan sepakat ulama. Namun makna hadis ini adalah seseorang dengan sengaja mengakhirkan waktu pemakaman sampai waktu terlarang tersebut.. sebagaimana kita dilarang mengakhirkan shalat asar sampai matahari menguning tanpa ada alasan yang dibenarkan. Namun jika pada saat pemakaman nabrak tiga waktu larangan ini, di luar kesengajaan, tidak masalah.” (al-Ikhtiyarot al-Fiqhiyah min Majmu’ Fatawa, Hal. 82).

Allahu a’lam

Referensi : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=20647

, (Dewan Pembina www.,)

———-

Sumber: www.konsultasisyariah.com – Jumat,15 Pebruari 2013

Print Friendly