Sulit Jodoh Akibat Guna-guna

Pertanyaan:

Pak Ustadz, dulu saya pernah sakit “gila” sampai 2 kali, yang katanya disebabkan guna-guna seseorang. Sebabnya begini, tadinya saya mau dijodohkan dengan saudara sepupu, tetapi saya tolak sehingga kemungkinan dia yang mengguna-gunai saya.

Kebetulan, saya bekerja di tempat “orang pintar” dan dapat mengetahui kalau saya kena guna-guna. Saya disuruh mandi dan minum dengan air yang dikasih mantra, dan saya juga disuruh ganti nama, walaupun untuk ganti nama saya menolaknya. Saya pindah kerja lagi, di sana saya ketemu Pak Haji yang kemudian memasang mutiara pada tubuh saya.

Karena ternyata dia itu cabul, saya pindah kerja dan sekarang bekerja di tempat asal saya. Di sini saya senang karena bisa berjilbab dan menjalankan shalat. Yang menjadi kekhawatiran saya, sebenarnya saya sudah disuruh dan ingin menikah, namun tiap kali saya menawarkan diri pada lelaki (baik langsung maupun tidak langsung) mereka pada tidak mau. Saya kadang jadi malu mengapa saya “mengobral” diri, walaupun hal itu sebagai tanda bahwa saya tidak putus asa.

Pertanyaan yang ingin saya sampaikan adalah:
1. Apakah mutiara yang dipasang pak haji tersebut masih ada dalam tubuh saya?
2. Apakah ada penghalang dalam tubuh saya, sehingga semua lelaki tidak mau pada saya?
3. Saya takut tidak mendapat jodoh, bagaimana ini?

Sekian dulu surat dari saya, saya ucapkan terima kasih.

Jawaban:

Semoga Allah melapangkan dan memudahkan usaha Saudari. Kami juga merasakan penderitaan Saudari dan dapat melihat bagaimana susahnya Saudari melepas diri dari sihir dan guna-guna tersebut, sehingga segala cara Saudari lakukan untuk menyembuhkannya. Akan tetapi, Saudari belum berusaha mencari solusinya pada syariat Islam yang sempurna lagi lengkap ini.

Memang, setan dan bala tentaranya selalu berusaha menyesatkan dan menipu manusia dengan segala macam sihir dan guna-guna. Namun, Allah yang Mahakuasa memiliki dan menjaga hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.

Apa yang Saudari lakukan selama ini, yaitu berobat dengan cara-cara yang tidak disyariatkan Allah, bisa jadi malah menyusahkan diri Saudari sendiri. Apalagi Saudari sempat menemui hal-hal yang mengerikan seperti itu, ketemu orang cabul. Semua itu diakibatkan karena ketidaktahuan akan syariat Islam.

Oleh karena itu, mestinya kita semua lebih semangat dan giat menuntut ilmu agama, sebab karena tidak tahu syariat jadinya susah dan menemui banyak kesulitan. Namun, itu semua telah berlalu dan Saudari -alhamdulillah- telah berjilbab dan shalat. Ini patut disyukuri dan terus meneruslah minta kepada Allah keistiqamahan dalam agama ini.

Usaha Saudari menghilangkan sihir-sihir tersebut, baik dengan memasukkan batang tertentu atau dengan mantra-mantra yang tidak jelas makna dan kandungannya, merupakan perbuatan tercela menurut syariat, karena sihir dan guna-guna seharusnya diobati dengan cara yang sesuai syariat, seperti dengan ruqyah menggunakan doa dan ayat-ayat al-Quran atau cara-cara yang pernah digunakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam mengobati orang yang terkena sihir dan guna-guna.

Demikianlah sepatutnya seorang muslim selalu berusaha memecahkan segala persoalannya dengan melihat syariat sebagai landasan berpijak dan berhukum, tidak semau-maunya atau tergesa-gesa tidak sabar dan mengambil cara pintas yang menyimpang dari syariat.

Tentang mutiara yang pernah dimasukkan ke dalam tubuh Saudari, maka mutiara itu harus dihilangkan dengan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengambil cara-cara syariat, seperti dengan ruqyah atau yang sejenisnya. Mudah-mudahan bila masih ada dapat dihilangkan bila masih ada dapat dihilangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari tubuh Saudari.

Kemudian, tentang jodoh dan terlambatnya, walaupun Saudari telah melakukan usaha-usaha yang mengarah ke sana, namun selalu gagal dan tidak mendapat sambutan dari lawan jenis, bisa jadi disebabkan sihir yang dibuat yang masih ada dalam tubuh Saudari. Di antara sihir memang ada yang bisa menimbulkan cinta, seperti semar mesem atau pengasihan dan yang sejenisnya. Akan tetapi, ada pula yang dipakai untuk memisahkan suami-istri dan membuat mereka saling benci atau membuat orang tidak suka kepadanya.

Meskipun demikian, semua ini tidak memberikan madharat (kejelekan) kepada yang disihir kecuali dengan izin Allah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَـكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُواْ لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seoarng pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagiu), sebab itu janganlah kamu kafir.’ Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi madharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi madharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tidaklah ada baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 102)

Demikianlah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji hamba-hamba-Nya. Jadi, walaupun demikian jangan sedih dan jangan takut, insyaallah jodoh Saudari sudah ditetapkan Allah hanya saja butuh kesabaran dalam berusaha menggapainya. Cobalah Saudari banyak mendekatkan diri kepada Allah yang Mahakuasa pemilik seluruh makhluk dengan amal salih lalu terus memohon kepada-Nya. Mudah-mudahan cepat dikabulkan.

Sekali lagi, jangan takut perihal jodoh. Ingatlah, kehidupan kita semua sudah ada yang mengatur. Demikian juga, masalah perjodohan semuanya sudah ada yang mengatur. Lihat saja, berapa banyak orang yang telah berusaha terus melakukan pendekatan, bahkan yang telah menjalin hubungan sampai tinggal pernikahan, dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak jadi karena satu perkara yang tidak terpikirkan sebelumnya. Juga, ada yang tidak berniat sebelumnya, namun ketika berjumpa mereka langsung melakukan proses pernikahan, dan akhirnya menjadi suami istri yang bahagia.

Di sinilah Allah menguji kita semua, bisakah kita semua menjadi hamba-Nya yang bersyukur dan sabar menerima ujian-Nya, juga diuji bisakah kita menjadi hamba-Nya yang berhak mendapatkan kemurahan dan kemuliaan dari-Nya. Oleh karena itu, janganlah merasa sedih dan takut tidak mendapatkan jodoh. Toh, jodoh tersebut milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan telah ditentukan sebelum menciptakan kita semua

Berserah dirilah kepada Allah. Jangan pula putus asa berusaha mencarinya dengan cara-cara yang sesuai dengan syariat. Mudah-mudahan jawaban ini bermanfaat.

Sumber: Majalah Nikah, Vol. 2, No. 8, 2003.
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

———-

Sumber: www.konsultasisyariah.com – Senin,27 Desember 2010

Print Friendly