Fatwa Penuntut Ilmu (2): Madzhab dan Ijtihad

Oleh: Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz

Soal Kedua:
Di antara para penuntut ilmu ada yang mengatakan: Kami tidak akan mengikuti salah satu madzhab yang empat. Bahkan kami akan berijtihad seperti mereka dan beramal layaknya mereka, serta kami tidak akan menghiraukan ijtihad mereka. Bagaimana pendapat anda tentang hal ini? Dan apa nasehat anda kepada mereka?

Jawab:
Perkataan ini terkadang merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan bagi sebagian manusia. Namun hakekat maknanya adalah benar bagi orang yang memang ahli, yaitu bahwasanya seorang manusia tidak wajib untuk taqlid kepada seseorang. Barangsiapa mengatakan bahwa seseorang wajib untuk taqlid kepada salah satu imam yang empat maka dia telah salah. Karena taqlid kepada mereka bukanlah perkara yang wajib. Namun yang semestinya untuk dilakukan adalah mengambil faidah dari perkataan mereka dan ulama yang lain serta menelaah kitab-kitab mereka -rahimahumullah- dan dalil-dalil yang mereka sebutkan. Sehingga dengan demikian seorang penuntut ilmu bisa mengambil faidah dari hal tersebut.

Adapun orang yang kurang (yakni bodoh), dia tidak pantas berijtihad, dan yang wajib baginya adalah bertanya kepada ahli ilmu serta belajar ilmu agama, beramal dengan bimbingan mereka. Sampai dia menjadi seorang yang ahli dan memahami jalan yang telah ditempuh oleh para ulama, mengetahui hadits-hadits yang shahih dan dhaif serta sarana-sarana untuk mengetahuinya yang terdapat dalam ilmu musthalah hadits, mengetahui ushul fiqh dan segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh para ulama di dalamnya. Sehingga dia bisa mengambil faidah dari hal-hal tersebut dan mampu untuk mentarjih (memilih pendapat yang terkuat) permasalahan-permasalahan yang diperselisihkan oleh para ulama.

Adapun perkara-perkara yang telah disepakati oleh para ulama, maka keadaannya sudah jelas. Oleh karena itu, seseorang tidak dibolehkan untuk menyelisihinya. Ulama hanyalah mempunyai kesempatan untuk mempertimbangkan perkara-perkara yang diperselisihkan. Adapun yang wajib bagi kita adalah mengembalikan permasalahan-permasalahan yang diperselisihkan oleh para ulama tersebut kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, sebagaimana Allah subhanahu wata’ala firmankan dalam surat An-Nisaa` ayat 59,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.”

Dan surat Asy-Syuura ayat 10,

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah.”

Adapun melakukan ijtihad, maka dia tidak akan mampu untuk melakukannya. Dan hal tersebut termasuk kesalahan-kesalahan yang besar. Namun hendaknya dia berusaha dengan semangat yang tinggi untuk mencari ilmu, bersungguh-sungguh dan tekun dalam menempuh jalan-jalan para ulama.

Inilah jalan-jalan menuntut ilmu dalam bidang hadits dan ushul-ushulnya, fiqh dan ushul-usulnya, bahasa Arab dan kaidah-kaidahnya, sejarah Nabi dan sejarah Islam.

Dia memanfaatkan ilmu-ilmu itu untuk mentarjih pendapat yang terkuat dalam permasalahan-permasalahan yang diperselisihkan oleh para ulama. Bersamaan dengan itu, dia melakukan tarahum kepada ulama (mengucapkan rahimahumullah/ semoga Allah subhanahu wata’ala memberi rahmat atau ampunan kepada mereka -pent), menelusuri manhaj mereka yang lurus, memanfaatkan ucapan-ucapan dan kitab-kitab mereka yang baik, serta dalil-dalil dan keterangan yang telah mereka jelaskan dalam menguatkan pendapat yang mereka pilih dan menjelaskan kesalahan pendapat yang mereka bantah. Dengan demikian, seorang penuntut ilmu akan diberi taufik oleh Allah subhanahu wata’ala untuk mengetahui kebenaran, apabila dia ikhlas kepada-Nya dan mengeluarkan semua kemampuannya dalam mencari kebenaran, serta tidak sombong.

(Sumber: dinukil dari kitab Masuliyati Thalibil Ilm karya Syaikh bin Baaz, edisi Indonesia Ada Tanggung Jawab di Pundakmu, penerjemah: Abu Luqman Abdullah, penerbit Al Husna, Jogjakarta)

———-

Sumber: ulamasunnah.wordpress.com  | Jumat,20 September 2013

Print Friendly