Fatwa Penuntut Ilmu (4): Bagaimana Berhubungan dengan Masyarakat

Oleh: Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz

Soal Keempat:
Termasuk permasalahan besar yang didapatkan oleh seorang penuntut ilmu adalah menghindarnya masyarakat darinya dan ilmunya. Sementara dia merasa tidak mendapatkan kedudukan yang pantas di masyarakat, karena masyarakat yang materialistis pada zaman ini tidaklah menilai seseorang kecuali dengan jasa materi. Apa solusi untuk permasalahan ini? Dan bagaimana seorang penuntut ilmu itu harus bersikap? Apakah dia harus berada di sebuah masyarakat yang khusus yang dia mampu untuk belajar dan hidup di dalamnya? Atau apakah yang harus dia lakukan? Saya mengharapkan Anda memberikan kepada kami nasehat yang Anda dapatkan dari guru-guru Anda, dan guru-guru Anda mendapatkan nasehat tersebut dari guru-guru mereka.

Jawab:
Perkataan yang diucapkan oleh si penanya adalah tidak benar. Namun yang benar adalah bahwa ilmu akan menjadikan pemiliknya berada di muka dan mengangkat derajatnya di setiap masyarakat. Seandainya dia pergi ke Amerika, atau Inggris, atau Prancis, atau tempat manapun, niscaya ilmu akan mengangkatnya di antara minoritas kaum muslimin. Dan ilmu akan akan mengangkatnya di antara orang-orang yang dia ajak kepada Allah subhanahu wata’ala di atas ilmu dari kalangan orang-orang musyrikin. Karena mereka akan tunduk kepada kebenaran apabila mereka mengetahuinya dengan dalil-dalil yang jelas dan akhlak-akhlak mulia yang dimiliki oleh dainya.

Islam adalah agama yang fitrah, agama keadilan dan akhlak, agama kekuatan, agama pemberi hak yang sama dan agama yang memiliki semua keutamaan.

Seorang penuntut ilmu yang berjalan di atas ilmu, mengetahui dalil-dalil syar’i dan hukum-hukum Islam serta beramal dengannya, kemudian masyarakat mengetahui keilmuan, ketulusan, kejujurannya, dan sikapnya yang tidak gegabah dalam menghadapi suatu permasalahan, bahkan mereka mengetahui bahwa dia adalah seorang dokter rohani yang bijaksana serta berdakwah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan hikmah dan lembut, maka dia akan senantiasa mulia di manapun dia berada. Dia akan dihormati di manapun dia tinggal, terlebih lagi kalau dia berada di tengah jamaahnya dan penduduk daerahnya.

Sehingga dia akan selalu mulia dan dihormati di semua tempat, baik di desa, di kaumnya atau yang lainnya. Terlebih lagi apabila dia menghiasi akhlaknya dengan ilmu, baik ucapan atau perbuatan, menjauhi akhlaknya orang-orang fasiq dan jahat. Dia dan orang-orang yang sepertinya akan dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala dan dicintai hamba-hamba-Nya yang shalih, selama dia berilmu dan beramal, memberi nasehat kepada saudara-saudaranya, bersikap lembut kepada mereka, bersemangat untuk memberi manfaat kepada mereka dengan ilmunya, akhlak, harta dan kedudukannya. Sebagaimana hal tersebut telah dilakukan oleh para nabi dan orang-orang yang shalih.

Adapun ucapan bahwa seorang penuntut ilmu tidak punya tempat di hati masyarakat dan kebanyakan tidak dihiraukan kata-katanya, ini adalah perkataan yang batil dan tidak sesuai dengan kenyataan sebagaimana yang telah kami jelaskan. Maka seorang penuntut ilmu yang benar-benar mengetahui agamanya serta tulus dan ikhlas kepada Allah subhanahu wata’ala dan hamba-hamba-Nya, menampakkan ilmu dan dakwah kepada Allah subhanahu wata’ala, berbuat baik kepada manusia dengan sikap lembut dan ucapan yang baik, maka dia akan senantiasa dihormati di segala tempat, baik di pesawat terbang, kereta api, di darat, laut dan di semua tempat. Dia berhak mendapatkan kabar gembira, kesudahan yang indah, pujian yang baik dari masyarakat dan pahala yang besar dari Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala firmankan di dalam Al Qur`an,
قَالُوا أَئِنَّكَ لأنْتَ يُوسُفُ قَالَ أَنَا يُوسُفُ وَهَذَا أَخِي قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (٩٠)

“Mereka berkata, ‘Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?’ Yusuf menjawab: ‘Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik’.” (Yusuf: 90)

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (٦٩)

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-‘Ankabut: 69)

فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ (٤٩)

“Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Hud: 49)

Ayat-ayat yang semakna dengan yang telah tersebut di atas sangatlah banyak.

Seandainya seorang dai kepada Allah subhanahu wata’ala tidak mendapatkan apa yang dia inginkan bahkan disakiti dan diganggu, bukankah dia mempunyai teladan pada diri para Rasul? Yang mana mereka telah disakiti dan dihinakan oleh kaumnya, bahkan sebagian mereka dibunuh oleh kaumnya?! Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu memiliki teladan pada diri para rasul dalam hal ketabahan dan kesabaran.

Seandainya seorang penuntut ilmu tidak dihormati di tengah-tengah manusia, hal tersebut tidaklah memberikan madharat baginya, karena dia menuntut ilmu tidak untuk mendapatkan penghormatan. Dia menuntut ilmu untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada dirinya dan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju kepada cahaya ilmu. Jika mereka menerimanya dan mengangkat kedudukannya, maka alhamdulillah (segala puji hanya milik Allah). Dan jika tidak, dia tetap berada dalam kebaikan walaupun seandainya mereka membunuh dan menghinakannya, karena dia memiliki teladan pada diri para rasul dan pada diri penutup para nabi yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah disakiti dan dikeluarkan dari negerinya, yaitu dari Makkah ke Madinah.

Apabila seorang dai yang mengajak kepada Allah shallallahu ‘alaihi wasallam dia menempuh jalan yang lurus, memiliki akhlak yang agung, di atas petunjuk dan jalan yang baik tanpa bersikap keras dan kasar, dan tidak melakukan perbuatan yang sia-sia, jujur dan ikhlas, maka dia berhak mendapatkan kabar gembira, kemuliaan, kehormatan dan kesudahan yang baik. Sungguh dia berada dalam kebaikan yang besar, sebagaimana yang telah dicapai oleh para nabi dan rasul serta penutup para nabi, nabi yang paling utama, pemimpin para dai dan mujahidin yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan juga yang telah dicapai oleh orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

(Sumber: dinukil dari kitab Masuliyati Thalibil Ilm karya Syaikh bin Baaz, edisi Indonesia Ada Tanggung Jawab di Pundakmu, penerjemah: Abu Luqman Abdullah, penerbit Al Husna, Jogjakarta)

———-

Sumber: ulamasunnah.wordpress.com  | Minggu,22 September 2013

Print Friendly