Hukum Program Pembatasan Keturunan

Oleh: Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

Alangkah baiknya jika aku terangkan sedikit di sini tentang hukum membatasi keturunan. Menurutku membatasi keturunan dengan beragam metodenya adalah perkara yang menyelisihi syariat, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan untuk menikahi wanita yang subur, yang memberi banyak keturunan. Alasannya adalah beliau bangga akan banyaknya pengikut di hadapan para umat atau para nabi.

Para ulama mengatakan bahwa sudah sepantasnya untuk menikahi seorang wanita yang dikenal akan kesuburannya dengan melahirkan anak yang banyak. Wanita tersebut bisa diidentifikasi dengan banyaknya anak yang dia miliki (jika dia telah menikah sebelumnya) atau diidentifikasi dari kerabat atau saudara perempuannya, ini apabila dia belum menikah.

Kemudian apa yang mendorong orang membatasi keturunan?
Apakah takut akan kesempitan rezeki?
Atau takut kerepotan dalam masalah pendidikan?

Jika yang menjadi pendorong adalah yang pertama, maka ini adalah su’uzhon (berburuk sangka) kepada Allah. Karena sesungguhnya apabila Allah menciptakan sesuatu, pasti Allah akan memberikan rezekinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu makhluk bernyawa pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (Huud: 6)

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (٦٠)
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui. “(Al-Ankabut: 60)

Allah pun berfirman tentang orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena takut miskin,
وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا (٣١)
” Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (Al-Israa: 31)

Apabila yang mendorong pembatasan keturunan itu karena takut repot dalam hal pendidikan, maka ini adalah kekeliruan. Betapa banyak orang yang memiliki sedikit keturunan tapi sangat kepayahan dalam masalah pendidikan. Sebaliknya, betapa banyak orang yang dimudahkan dalam pendidikan, meski jumlah anaknya lebih banyak.

Inti dari mudah atau sulitnya menangani pendidikan anak itu tergantung dari kemudahan yang Allah berikan. Dan manakala seorang hamba bertakwa kepada Rabb-nya dan menempuh jalan-jalan yang telah disyariatkan, niscaya Allah akan mudahkan urusannya, karena Allah berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا (٤)

“Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (At-Thalaq: 4).

Diterjemahkan dari Kitab Az-Zawaj untuk .

———-

Sumber: ulamasunnah.wordpress.com  | Selasa, 5 Pebruari 2008

Print Friendly