Fatwa Penuntut Ilmu (6): Al Ijtihad

Oleh: Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz

Soal Keenam:
Apa makna perkataan Anda –semoga Allah subhanahu wata’ala menjaga Anda–: Wajib bagi seorang penuntut ilmu untuk berijtihad? Apakah masing-masing kita mempunyai kemampuan untuk itu? Apa sikap kita terhadap madzhab imam yang empat yang telah tersebar di kalangan manusia di berbagai negeri sehingga banyak yang taqlid pada madzhab tersebut di setiap tempat dan zaman?

Jawaban:
Wajib bagi penuntut ilmu untuk berijtihad, bersunggunh-sungguh menurut kemampuannya. Seorang yang masih pemula bersungguh-sungguh dalam kesinambungannya untuk menuntut ilmu, bersemangat untuk menjadi seorang yang ahli dalam mentarjih permasalahan-permasalahan yang diperselisihkan oleh para ulama. Adapun bagi orang yang sudah ahli dan orang yang dikaruniai ilmu oleh Allah subhanahu wata’ala serta telah lulus dari program pascasarjana, banyak menelaah kitab, dan banyak mengetahui pendapat-pendapat para ulama maka wajib baginya untuk bersungguh-sungguh dalam mentarjih pendapat yang paling kuat, membantah pendapat yang menyimpang dari kebenaran dengan menggunakan dalil-dalil yang syar’i, bersabar dan sungguh-sungguh dalam menelitinya.

Ilmu bukanlah suatu perkara yang mudah. Ilmu membutuhkan kesabaran, muraja’ah (mengulang kembali) hadits-hadits yang berkaitan dengan tema pembahasan. Terkadang engkau tinggal berhari-hari lamanya, namun engkau tidak mendapatkan hadits yang diinginkan atau engkau tidak mampu untuk membuat suatu kesimpulan tentang shahih atau lemahnya hadits.

Demikian juga muraja’ah pendapat para ulama dan mentarjih pendapat yang terkuat. Hal ini membutuhkan kesabaran dan mempertimbangkan dalil-dalil. Ijtihad artinya mengerahkan segala kemampuan untuk mendapatkan ilmu dan kemajuan di dalamnya, sehingga engkau menjadi orang yang ahli serta mengetahui hukum-hukum syar’i, mengetahui sikap para ulama dalam permasalahan-permasalahan yang dipeselisihkan dan menyikapi hal tersebut sebagaimana sikapnya orang yang tulus dan mencintai mereka. Engkau mendoakan mereka agar mendapatkan ridha, menghargai kedudukan serta jerih payah mereka dalam meraih ilmu dan menyebarkannya kepada masyarakat. Engkau mengambil faidah dari perkataan dan ilmu-ilmu mereka, tidak mencela dan membenci mereka, atau menampakkan kritikan untuk menjatuhkan mereka, dan enggan mengambil faidah dari mereka, ataupun hal-hal buruk lainnya.

Sehingga seorang penuntut ilmu hendaknya mengetahui kedudukan para ulama pendahulu mereka. Hendaknya dia mengetahui apa yang telah mereka tulis dan kumpulkan, tulus kepada Allah dan hamba-hamba-Nya, mengambil faidah dari perkataan mereka. Bukan yang dimaksud di sini adalah mengajak bertaqlid kepada mereka pada perkara yang benar maupun batil, namun hendaknya dia mengetahui kebenaran beserta dalilnya.

Al-Imam Malik rahimahullah berkata, “Siapapun dari kita bisa saja ditolak pendapatnya, kecuali penghuni kubur ini.” Yang beliau maksud yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Para ulama telah bersepakat bahwa orang yang secara jelas telah mengetahui suatu hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka tidak boleh baginya meninggalkannya karena mengikuti perkataan seseorang.”

Beliau rahimahullah juga mengatakan: “Apabila aku mengatakan sesuatu yang menyelisihi sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka buanglah pendapatku ke tembok.”

Demikian pula perkataan Ahmad, Abu Hanifah dan ulama-ulama lainnya semakna dengan ucapan Malik dan Asy-Syafi’i rahimahumullah.

Mereka semua menasehatkan dan memberi wasiat kepada manusia untuk mengikuti dalil-dalil syar’i baik dari Al Qur`an, As Sunnah maupun ijma’ salaful ummah, dan tidak mendahulukan perkataan seseorang di atas perkataan Allah dan Rasul-Nya. Bahkan wajib mendahulukan perkataan Allah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Rasul-Nya, serta mendahulukan segala sesuatu yang telah disepakati oleh salaful ummah daripada perkataan yang menyelisihi mereka. Inilah sikap para ulama yang diakui keilmuannya. Dan ini pula sikap seorang penuntut ilmu terhadap mereka, sehingga dia tumbuh di atas akhlak-akhlak mereka, dalam hal mengedepankan firman Allah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sabda Rasul-Nya, mentarjih pendapat yang terkuat dengan dalil-dalil yang ada, menghormati para ulama, mengetahui kedudukan mereka, serta mendoakan mereka supaya mendapat ridha dan rahmat.

Adapun ulama yang jahat dari kalangan Jahmiyyah, Mu’tazilah dan orang-orang yang semisal mereka, maka wajib dibenci karena Allah subhanahu wata’ala. Wajib agar manusia diperingatkan dari kejahatan dan amalan mereka yang buruk, serta keyakinan-keyakinan mereka yang batil, dengan tulus untuk Allah subhanahu wata’ala dan sebagai nasehat bagi hamba-hamba-Nya, serta sebagai pengamalan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar. Hanya Allah-lah Pemberi Taufik.

(Sumber: dinukil dari kitab Masuliyati Thalibil Ilm karya Syaikh bin Baaz, edisi Indonesia Ada Tanggung Jawab di Pundakmu, penerjemah: Abu Luqman Abdullah, penerbit Al Husna, Jogjakarta)

———-

Sumber: ulamasunnah.wordpress.com  | Selasa,24 September 2013

Print Friendly