Hukuman yang Keras bagi Orang yang Tidak Konsisten (1)

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Berkata Al Imam An Nawawi di dalam kitabnya yang mulia Riyadhus Shalihin:
Bab: Hukuman Keras Bagi Orang yang Beramar Ma’ruf dan Nahi Mungkar tapi Perbuatannya Menyelisihi Ucapannya

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kalian melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kalian membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir?” (Al-Baqarah: 44)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ(2)كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ(3)

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tiada kalian kerjakan.” (Ash-Shaf: 2-3)

Allah ‘azza wa jalla berfirman mengabarkan tentang ucapan Syu’aib alaihissalam,

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kalian (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (Huud: 88)

Penjelasan (oleh Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin):

Setelah bab yang sebelumnya mengangkat tema tentang wajibnya amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka sangat sesuai untuk menyebutkan bab ini, yaitu tentang hukuman keras bagi seorang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar namun dia sendiri tidak melaksanakannya wal iyyadzubillah.

Orang yang keadaannya seperti ini maka dia tidak jujur dalam perintah dan larangannya, karena seandainya dia benar-benar jujur dengan meyakini bahwa apa yang dia perintahkan adalah sesuatu yang ma’ruf dan bermanfaat maka niscaya dia adalah orang yang pertama kali melakukannya seandainya dia orang yang berakal.

Demikian pula sebaliknya, jika dia melarang dari perbuatan mungkar dan dia meyakini bahwa kemungkaran tersebut membawa mudharat serta perbuatan dosa, maka seandainya dia orang yang berakal maka dia adalah orang yang pertama kali akan meninggalkannya, sehingga apabila dia menyuruh kepada perbuatan ma’ruf sedangkan dia tidak melakukannya ,atau melarang dari kemungkaran sedangkan dia mengerjakannya, maka bisa diketahui bahwa ucapannya ini tidak terbangun di atas keyakinan (ucapannya hanya dusta –pent). Wal iyyadzubillah.

Oleh sebab itu Allah subhanahu wa ta’ala mengingkari orang yang melakukan hal tersebut dalam firman-Nya surat Al-Baqarah ayat 44.

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Kalimat tanya dalam ayat ini adalah untuk pengingkaran. Maksudnya adalah, “Bagaimana bisa kalian menyuruh orang berbuat baik sedangkan kalian melupakan diri-diri kalian sehingga tidak mengerjakannya dan dalam keadaan kalian membaca Al-Kitab serta mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan?”.

أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Maka tidakkah kalian berpikir?!”

Kalimat tanya ini adalah untuk celaan, (seolah-olah) Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada mereka, “Bagaimana hal ini bisa terjadi pada kalian? Di mana akal kalian jika benar-benar kalian orang yang jujur?.”

Contohnya ada seseorang yang menyuruh orang lain untuk meninggalkan riba namun dia justru bermuamalah dengan cara riba dan melakukan praktek riba yang lebih parah. Dia misalnya berdakwah kepada manusia, “Janganlah kalian mengambil bunga dalam bermuamalah dengan bank”, lalu dia pergi mengambil bunga tersebut dengan cara tipu daya serta penipuan dan dia sendiri tidak mengetahui bahwa apa yang dia lakukan tersebut dosanya lebih besar daripada orang yang melakukan praktek riba (tanpa tipu daya).

Oleh karena itu Ayyub As-Sikhtiyani mengatakan kepada para pelaku penipuan: “Mereka melakukan tipu daya kepada Allah subhanahu wa ta’ala seolah-olah yang mereka tipu ini adalah anak kecil. Seandainya mereka melakukannya secara terang-terangan (tanpa ada unsur penipuan –pent) saja maka akan lebih ringan (dosanya).” Dan sungguh benar apa yang dikatakan olehnya.

Demikian pula seseorang yang menyuruh manusia untuk mengerjakan shalat namun dia sendiri tidak mengerjakan shalat! Maka bagaimana ini!? Bagaimana bisa Anda menyuruh mengerjakan shalat dan memandangnya sebagai sesuatu yang ma’ruf lalu Anda tidak mengerjakannya? Apakah ini sesuatu yang masuk akal? Tentunya sesuatu yang tidak masuk akal, terlebih lagi untuk dikatakan bagian dari agama dan hal itu bertentangan dengan agama dan kebodohan dalam beragama. Kita memohon keselamatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ(2)كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ(3)

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tiada kalian kerjakan.” (Ash-Shaf: 2-3)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا
” Hai orang-orang yang beriman”

Allah subhanahu wa ta’ala menyeru mereka dengan keimanan, karena konsekuensi dari keimanan adalah seseorang tidak akan melakukan hal ini dan tidak akan mengatakan apa yang tidak dia perbuat, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mencela mereka dengan firman-Nya,

لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat?”

Kemudian menjelaskan bahwa perbuatan ini dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan sangat dimurkai-Nya.

Allah ‘azza wajalla kemudian berfirman,

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tiada kalian kerjakan”

Para ulama mengatakan bahwa مَقْت ‘Al-Maqt’ adalah kemurkaan yang superlatif, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala sangat murka dengan orang yang keadaannya seperti ini, yaitu dia mengatakan apa yang tidak dia perbuat. Allah menjelaskan kepada para hamba-Nya bahwa itu merupakan salah satu hal yang Dia benci supaya mereka menjauhinya, karena seorang mukmin yang sejati akan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Syu’aib alaihissalam,

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kalian (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (Huud: 88)

Yakni Nabi Syu’aib berkata kepada kaumnya, “Tidak mungkin aku melarang kalian dari perbuatan syirik dan melarang kalian untuk mengurangi takaran dan timbangan sedangkan saya sendiri melakukannya.” Hal ini tidak akan mungkin terjadi karena para rasul adalah manusia yang paling mempunyai rasa empati kepada manusia, manusia yang paling besar pengagungannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan dalam melaksanakan perintah serta menjauhi larangan-Nya, sehingga tidak mungkin beliau menyelisihi mereka kepada apa yang beliau larang untuk kemudian melakukannya.

Ini menunjukkan bahwa seseorang yang melakukan apa yang dia larang atau meninggalkan apa yang dia perintah, maka dia telah menyelisihi jalannya para rasul karena mereka tidak mungkin menyelisihi manusia untuk melakukan perbuatan yang mereka larang darinya dan akan datang insya Allah hadits-hadits yang menjelaskan tentang hukuman bagi orang yang meninggalkan apa yang dia perintah dan mengerjakan apa yang dia larang. Allahul Muwaffiq. (bersambung)

( Syarh Riyadhus Shalihin karya Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin).

———-

Sumber: ulamasunnah.wordpress.com  | Minggu,13 April 2008

Print Friendly