Hukuman yang Keras bagi Orang yang Tidak Konsisten (2)

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Berkata Al Imam An Nawawi di dalam kitabnya yang mulia Riyadhus Shalihin:

Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ فِي الرَّحَا فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلَانُ مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ؟! فَيَقُولُ بَلَى كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيْهِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيْهِ

“Di hari kiamat nanti akan didatangkan seseorang yang diseret lalu dilempar ke dalam neraka sehingga keluar usus-usus perutnya lalu dia berputar-putar padanya sebagaimana berputarnya keledai di alat penggilingan. Maka berkerumunlah ahli neraka dan mereka berkata, ‘Hai Fulan, ada apa denganmu?! Bukankah engkau yang menyuruh kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar?’ Ia menjawab, ‘Benar, dahulu akulah yang menganjurkan kebaikan tetapi aku tidak mengerjakannya dan aku melarang kemungkaran tapi aku melakukannya.’ (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Penjelasan (oleh Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin):

Dalam hadits ini terkandung peringatan yang sangat keras bagi orang yang melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar namun ucapan dan perbuatannya menyelisihi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Di hari kiamat nanti akan didatangkan seseorang”, yakni para malaikat akan membawanya lalu benar-benar akan dilemparkan ke api neraka, dia tidak akan masuk neraka dengan lembut namun dia akan dilempar ke api neraka sebagaimana batu dilempar ke lautan, sehingga keluar usus-usus perutnya karena lemparan yang sangat keras wal iyyadzubillah.

Sabda beliau,

فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ فِي الرَّحَا

“Lalu dia berputar-putar padanya sebagaimana berputarnya keledai di alat penggilingan.”

Penyerupaan ini untuk penghinaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamakannya dengan keledai yang berputar di alat penggilingan dan gambarannya adalah dia berada di alat penggilingan kuno sebelum ditemukannya alat-alat yang terbuat dari besi ini, dijadikan dua batu besar dan keduanya akan melindas dan menggiling benda yang berada di antara keduanya, lalu diletakkan sebuah lubang di tempat yang paling tinggi dari keduanya untuk tempat masuk biji-bijian dan di dalamnya ada sepotong kayu yang diikat pada punggung keledai kemudian keledai itu berputar di alat penggilingan dan selama perputarannya tersebut alat gilingan akan berputar.

Orang yang dilempar ke dalam api neraka ini akan berputar mengelilingi ususnya wal iyyadzubillah sebagaimana keledai berputar mengelilingi alat penggilingan, lalu para penghuni neraka akan mengerumuinya seraya bertanya kepadanya, “Ada apa denganmu , apa yang membuatmu datang ke tempat ini, bukankah kamu dulunya menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar?” Maka dia menjawab mengakui dirinya, “Dahulu akulah yang menganjurkan kebaikan tetapi aku tidak mengerjakannya.” Dia menyerukan kepada manusia untuk shalat sedangkan dia sendiri tidak shalat, lalu menyuruh orang lain untuk menunaikan zakat sedangkan dia sendiri tidak membayar zakat, menyuruh untuk berbakti kepada orang tua sedangkan dia sendiri tidak melakukannya. Dan demikianlah, dia menyuruh kepada kebajikan namun dia sendiri tidak melakukannya.

Lalu dia mengatakan, “Dan aku melarang kemungkaran tapi aku melakukannya.” Dia menyeru kepada manusia untuk jangan berbuat ghibah, melakukan riba, melakukan penipuan dalam jual beli, jangan berbuat jelek dalam pergaulan dan bertetangga serta hal-hal yang semacamnya dari perkara-perkara haram yang dia larang. Namun dia sendiri melakukannya, wal iyyadzubillah.

Dia berbuat riba dalam jual beli, menipu, jelek dalam pergaulan, berbuat jahat kepada tetangga dan yang lainnya. Dengan demikian dia menyuruh kepada kebajikan, namun dia tidak melakukannya. Dia melarang dari kemungkaran namun dia sendiri melakukannya -kita memohon keselamatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala-. Orang ini pun disiksa dan dihinakan dengan siksaan dan penghinan seperti ini. Makanya wajib bagi semua orang untuk memulai dari dirinya sendiri, dia suruh dirinya untuk berbuat kebajikan dan dia larang dari perkara mungkar karena hak manusia yang paling tinggi bagi Anda setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah diri Anda sendiri, sebagaimana kata penyair,

Mulailah dengan dirimu, laranglah dirimu dari kesesatan
Maka jika jiwamu berhenti dari kesesatan itu maka kamu seorang yang bijaksana

Mulailah dari diri Anda kemudian berusahalah untuk menasihati saudara-saudara Anda, perintahlah mereka melakukan kebajikan dan laranglah mereka dari kemungkaran supaya Anda menjadi seorang yang baik dan memperbaiki orang lain, kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala suapa menjadikan kita termasuk orang yang baik dan memperbaiki orang lain sesungguhnya Dia adalah Maha Pemurah lagi Maha Mulia.(Selesai)

( Syarh Riyadhus Shalihin karya Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin).

———-

Sumber: ulamasunnah.wordpress.com  | Minggu,20 April 2008

Print Friendly