Penjelasan Hadits Arbain Kedua: Penjelasan tentang Islam, Iman, dan Ihsan (4)

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

(Lanjutan Faedah dari Bagian Ketiga)

20. Keimanan kepada Allah adalah rukun iman yang paling penting dan paling besar. Oleh karena itu, Nabi menyebutkannya lebih dahulu. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Engkau beriman kepada Allah.” Keimanan kepada Allah mencakup keimanan kepada wujud-wujud-Nya, uluhiyah, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya. Jadi, keimanan kepada Allah tidak hanya beriman kepada wujud-Nya semata. Akan tetapi, harus mencakup keimanan kepada empat perkara ini, yakni beriman kepada wujud, rububiyah, uluhiyah, nama, dan sifat-sifat-Nya.

21. Menetapkan adanya malaikat. Malaikat adalah makhluk ghaib yang telah Allah sifati dengan banyak sifat dalam Al Qur’an dan telah disifati oleh Nabi dalam hadits-haditsnya. Cara beriman kepada mereka adalah dengan mengimani nama-nama mereka yang telah kita ketahui. Kita pun mengimani sifat-sifat yang mereka miliki sebatas apa yang telah kita ketahui. Di antaranya, Nabi pernah melihat malaikat Jibril –dalam bentuk aslinya- memiliki enam ratus sayap yang menutupi ufuk. Kewajiban kita berkenaan dengan malaikat adalah kita mempercayai dan mencintai mereka, karena mereka adalah para hamba Allah yang senantiasa melaksanakan perintah-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَنْ عِندَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ

يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ

“…dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk beribadah kepada-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (Al Anbiyaa’: 19-20)

22. Wajib beriman dengan kitab-kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al kitab dan neraca (keadilan)…” (Al Hadiid: 25)

Kita beriman kepada semua kitab yang Allah turunkan kepada rasul-rasul-Nya, akan tetapi kita mengimaninya secara global dan mempercayai bahwa kitab-kitab itu adalah haq (benar). Adapun secara rinci, kitab-kitab terdahulu mengalami penyelewengan, perubahan, penggantian. Seseorang tidak mungkin dapat menilai mana yang haq dan mana yang bathil. Atas dasar itu, kita katakan, “Kita beriman kepada yang telah Allah turunkan tersebut secara global. Adapun secara rinci, kita merasa khawatir itu adalah di antara hal-hal yang telah diselewengkan dan diubah. Ini dalam hal yang berkaitan dengan keimanan dengan kitab-kitab tersebut. Adapun yang berkaitan dengan pengamalannya, maka yang diamalkan hanyalah apa-apa yang diturunkan kepada Muhammad semata. Adapun yang selainnya telah dihapus masa berlakunya dengan datangnya syari’at ini. ”

23. Wajibnya beriman kepada rasul, kita beriman bahwa semua rasul yang diutus oleh Allah adalah benar, membawa kebenaran, benar (jujur) dalam berita yang dikhabarkan, dan benar pula dengan apa-apa yang telah diperintahkan. Dan beriman kepada mereka secara global, yakni pada para rasul yang tidak kita ketahui, dan secara rinci terhadap mereka yang telah kita ketahui. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa rasul sebelummu, di antara mereka ada yanh Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. ”(Al Ghafir: 78)

Rasul yang telah diceritakan kepada kita dan kita telah mengetahuinya, maka kita mengimani mereka orang-perseorangan. Sedangkan para nabi yang belum diceritakan kepada kita dan kita tidak mengetahuinya, maka kita mengimani secara global. Rasul yang pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam, sedang rasul yang terakhir adalah Nabi Muhammad. Di antara mereka terdapat lima rasul yang digelari ulul azmi yang nama mereka telah Allah sebutkan secara bersamaan dalam dua ayat dalam Al Qur’an. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat Al Ahzab,

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan darimu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam.” (Al Ahzab: 7)

Dan Dia berfirman dalam surat Asy Syuura,

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyari’atkan bagimu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu, ‘Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. . . ’ “(Asy Syuura: 13)

(bersambung ke bagian lima)

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah dari Syarah Arbain An Nawawiyah oleh Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, penerjemah Abu Abdillah Salim, Penerbit Pustaka Ar Rayyan. Silakan dicopy dengan mencantumkan URL http: //ulamasunnah. wordpress.com

———-

Sumber: ulamasunnah.wordpress.com  | Minggu,14 Juni 2009

Print Friendly