Shahihul-Musnad min Asbaabin-Nuzuul (2)

QS. Al-Baqarah : 125

وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

”Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat”.

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata dalam Shahih-nya (2/51) : Telah menceritakan kepada kami ’Amr bin ’Aun, telah menceritakan kepada kami Husyaim, dari Humaid, dari Anas : Telah berkata ’Umar :

وافقت ربي في ثلاث قلت يا رسول الله لو اتخذنا من مقام إبراهيم مصلى فنزلت: {وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلّىً}، وآية الحجاب. قلت: يا رسول الله لو أمرت نساءك أن يحتجبن، فإنه يكلمهن البر والفاجر. فنزلت آية الحجاب، واجتمع نساء النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم في الغيرة عليه فقلت لهن: عسى ربه إن طلقكن أن يبدله أزواجا خيرا منكن. فنزلت هذه الآية

”Rabb-ku telah membenarkanku dalam tiga hal”. (1) Aku (’Umar) berkata : ”Wahai Rasulullah, seandainya kita jadikan sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Maka turunlah ayat : ”Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat”. (2) Dan ayat tentang hijab. Aku berkata : ”Wahai Rasulullah, seandainya engkau perintahkan istri-istrimu untuk berhijab, karena mereka diajak berbicara baik orang yang baik ataupun orang yang buruk/jahat. Maka turunlah ayat hijab. (3) Dan para istri Nabi shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam karena rasa cemburu terhadap beliau, maka aku katakan pada mereka : ”Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu”. Maka turunlah ayat ini (yaitu QS. At-Tahrim : 5 – Abul-Jauzaa’).

Kemudian Al-Imam Al-Bukhari menyebutkan dalam At-Tafsiir (9/235) dalam mutaba’ah Yahya bin Sa’d Al-Husyaim. Dan beliau juga menyebutkannya dalam dua tempat secara mu’allaq dengan sighah tashrih (jelas) bahwa Humaid mendengar dari Anas. Al-Hafidh berkata dalam Al-Fath (2/51) : ”Maka, hadits tersebut aman dari tadliis-nya (Humaid)”.

Hadits tersebut juga dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (4/69) dan ia berkata : ”Hadits ini hasan shahih”. Dan dalam bab ini dari Ibnu ’Umar (disebutkan riwayat) dengan ringkas atas firman Allah : ”Dan jadikanlah” . Al-Haafidh Ibnu Katsir dalam At-Tafsir (1/169) menisbatkan riwayat tersebut kepada An-Nasa’i; Ibnu Majah dan ia mengeluarkannya di juz 1 hal. 24 dan 36; Ath-Thabari hal. 534 dengan satu riwayat yang semisal dengan At-Tirmidzi.

Muslim mengeluarkannya dalam Al-Manaaqib dari hadits Ibnu ’Umar yang semisal, dimana ia menyebutkan maqaam Ibrahim, tawanan perang Badr, dan (ayat) hijab.

QS. Al-Baqarah : 89

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا

”Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir”.

Ibnu Ishaq berkata : Telah menceritakan kepadaku ’Aashim bin ’Umar bin Qatadah, dari beberapa orang di antara kaumnya, mereka berkata :

إن مما دعانا إلى الإسلام مع رحمة الله تعالى وهداه لنا لما كنا نسمع من رجال يهود، وكنا أهل شرك أصحاب أوثان، وكانوا أهل كتاب عندهم علم ليس لنا، وكانت لا تزال بيننا وبينهم شرور فإذا نلنا منهم بعض ما يكرهون قالوا إنه قد تقارب زمان نبي يبعث الآن نقتلكم معه قتل عاد وإرم فكنا كثيرا ما نسمع ذلك منهم فلما بعث الله رسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم أجبناه حين دعانا إلى الله تعالى وعرفنا ما كانوا يتوعدوننا به فبادرناهم إليه فآمنا به وكفروا به ففينا وفيهم نزل الآيات من البقرة {وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ}

”Sesungguhnya apa yang menyeru kami kepada Islam setelah rahmat Allah dan petunjuk-Nya kepada kami adalah kami pernah mendengar beberapa orang Yahudi. Dan kami adalah orang-orang yang berbuat kesyirikan dan penyembah berhala, sedangkan mereka (Yahudi) adalah Ahlul-Kitab yang mereka mempunyai ilmu yang tidak kami miliki. Senantiasa ada antara kami dan mereka permusuhan. Apabila kami mendapatkan gangguan dari mereka, maka mereka berkata : ’Sesungguhnya telah dekat jaman diutusnya seorang Nabi sekarang yang kami akan membunuh kalian bersamanya seperti dibunuhnya kaum ’Aad dan Iram”. Kami sering mendengar hal itu dari mereka. Ketika Allah mengutus Rasul-Nya shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam, kami pun menjawab seruannya yang mengajak kami kepada (mentauhidkan) Allah ta’ala. Kami pun akhirnya mengetahui apa yang dahulu mereka (Yahudi) ancamkan kepada kami. Kami mendahului mereka (untuk menyambut seruan) kepadanya, beriman dengannya sedangkan mereka justru mengkufurinya. Kepada kami dan kepada mereka-lah ayat dari surat Al-Baqarah turun : ”Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu” – selesai.

Dari Sirah Ibnu Hisyam (1/211), dan ia adalah hadits yang berkualitas hasan. Apabila Ibnu Ishaq telah menyebutkan secara jelas dengan tahdiits, maka haditsnya adalah hasan sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafidh Adz-Dzahabi dalam Al-Miizan.

QS. Al-Baqarah : 142

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا

Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul-Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?”.

Ibnu Ishaq berkata : Telah menceritakan kepadaku Isma’il bin Abi Khaalid, dari Abu Ishaaq, dari Al-Barraa’ ia berkata :

كان رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم يصلي نحو بيت المقدس ويكثر النظر إلى السماء ينتظر أمر الله فأنزل الله {قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ} فقال رجال من المسلمين وددنا لو علمنا علم من مات قبل أن نصرف إلى القبلة فأنزل الله {وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ} وقال السفهاء من الناس ما ولاهم عن قبلتهم التي كانوا عليها فأنزل الله {سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ} إلى آخر الآية

”Dahulu Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam shalat menghadap ke Baitul-Maqdis dan beliau sering memandang ke arah langit menunggu perintah Allah. Maka Allah menurunkan ayat : ”Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil-Haram” (QS. Al-Baqarah : 144). Beberapa orang dari kaum muslimin berkata : ”Kami ingin seandainya kami mengetahui ilmu orang yang mati sebelum kami berpaling ke arah kiblat (Masjidil-Haram). Maka Allah menurunkan ayat : ”Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu” (QS. Al-Baqarah : 143). Berkatalah orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia : ”Apa gerangan yang memalingkan mereka dari kiblat mereka yang dahulu mereka menghadap kepadanya (yaitu Baitul-Maqdis) ?”. Maka turunlah Allah menurunkan ayat : ”Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata…” hingga akhir ayat (QS. Al-Baqarah : 142).

Dinukil dari Lubaabun-Nuquul fii Asbaabin-Nuzuul oleh Al-Haafidh As-Suyuthi dan dari Tafsir Ibni Katsir.

QS. Al-Baqarah : 143

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

”Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu”.

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata dalam At-Tafsiir (9/237) ” Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim, ia mendengar Zuhair, dari Abu Ishaaq, dari Al-Barraa’ radliyallaahu ’anhu :

أن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم صلى إلى بيت المقدس ستة عشر شهرا أو سبعة عشر شهرا. وكان يعجبه أن تكون قبلته قبل البيت وأنه صلى أو صلاها صلاة العصر وصلى معه قوم فخرج رجل ممن كان صلى معه فمر على أهل المسجد وهم راكعون قال: أشهد بالله لقد صليت مع النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم قبل مكة فداروا كما هم قبل البيت وكان الذي مات على القبلة قبل البيت رجال قتلوا فلم ندر ما نقول فيهم فأنزل الله {وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَؤُوفٌ رَحِيمٌ}.

Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam shalat menghadap Baitul-Maqdis selama 16 bulan atau 17 bulan. Beliau menginginkan seandainya kiblatnya menghadap ke Baitullah. Satu saat beliau melakukan shalat atau sedang shalat ’Asar bersama satu kaum. Maka keluarlah seorang laki-laki yang telah selesai shalat bersama beliau dan berjalan melintasi orang-orang yang berada di dalam masjid yang ketika itu sedang rukuk. Ia berkata : ”Aku bersaksi dengan nama Allah, sungguh aku shalat bersama Nabi shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam menghadap ke Makkah (Masjdil-Haram). Maka mereka pun langsung memutar menghadap ke Baitullah. Ada beberapa orang yang telah meninggal yang (di waktu shalatnya masih) menghadap ke kiblat (Baitul-Maqdis) sebelum (berganti arah) menghadap Baitullah. Kami tidak berkata-kata apapun tentang mereka. Maka Allah pun menurunkan ayat : ”Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”.

Hadits tersebut dikeluarkan pula oleh Al-Bukhari dalam Kitaabul-Iimaan (1/103). Al-Haafidh berkata dalam Al-Fath (1/104) : ”Penulis meriwayatkannya dalam At-Tafsir dari jalan Ats-Tsauri, dari Abu Ishaq (ia berkata) : Aku mendengar Al-Barra’. Maka amanlah hadits ini dari kekhawatiran adanya tadliis Abu Ishaq. Abu Dawud Ath-Thayalisi (1/85), Ibnu Sa’d (bagian 2 juz 1 hal. 5), serta Ibnu Jarir dari hadits Al-Barra’ dan Ibnu ’Abbas (2/17). Dan dari hadits Ibnu ’Abbas, maka dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (4/70), ia berkata : Hasan shahih; Abu Dawud (4/354); Ath-Thayalisi (2/12); dan Al-Hakim (2/269), ia (Al-Hakim) berkata : Shahihul-isnad – (tashhih ini) disepakati oleh Adz-Dzahabi.

QS. Al-Baqarah : 144

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ

” Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit”.

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata dalam Shahih-nya (2/48) : Telah menceritakan kepada kami ’Abdullah bin Rajaa’ ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Israaiil, dari Abu Ishaaq, dari Al-Barra’ bin ’Aazib ia berkata :

كان رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم صلى نحو بيت المقدس ستة عشر شهرا أو سبعة عشر شهرا وكان رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم يحب أن يوجه إلى الكعبة فأنزل الله عز وجل {قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ} فتوجه نحو الكعبة وقال السفهاء من الناس وهم اليهود ما ولاهم عن قبلتهم التي كانوا عليها، {قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ} فصلى مع النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم رجل ثم خرج بعدما صلى فمر على قوم من الأنصار في صلاة العصر نحو بيت المقدس فقال: هو يشهد أنه صلى مع رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم وأنه توجه نحو الكعبة فتحرف القوم حتى توجهوا نحو الكعبة.

”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam shalat menghadap Baitul-Maqdis selama 16 bulan atau 17 bulan. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam menyukai seandainya menghadap ke arah Ka’bah. Maka Allah ’azza wa jalla menurunkan ayat : ”Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit” (QS. Al-Baqarah : 44). Lalu beliau menghadap ke Ka’bah. Maka berkatalah orang-orang yang lemah akalnya di antara manusia : ”Apa gerangan yang memalingkan mereka dari kiblat mereka yang dahulu mereka menghadap kepadanya (yaitu Baitul-Maqdis) ?”. ”Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus” (QS. Al-Baqarah : 142). Maka shalatlah bersama Nabi shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam seorang laki-laki, kemudian ia keluar setelah selesai menunaikan shalat. Ia berjalan menuju sekelompok orang dari kalangan Anshar yang ketika itu mereka sedang shalat ’Asar menghadap ke Baitul-Maqdis. Rawi berkata : ”Laki-laki itu bersaksi bahwasannya ia shalat bersama Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam menghadap Ka’bah. Maka orang-orang tersebut berpaling hingga menghadap Ka’bah”.

Hadits tersebut dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (4/79) dan ia berkata : Hasan shahih; Ibnu Majah (no. 1010) yang di dalamnya terdapat sababun-nuzul ayat : ”Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu” (QS. Al-Baqarah : 143); Imam Ahmad (4/274); Ad-Daruquthni (1/274); Ibnu Abi Haatim sebagaimana dalam Tafsir Ibni Katsir dan Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat (jilid 4 bag. 2) dan pada mereka berdua terdapat tambahan : ”Maka berkatalah orang-orang yang lemah akalnya di antara manusia : ”Apa gerangan yang memalingkan mereka dari kiblat mereka yang dahulu mereka menghadap kepadanya (yaitu Baitul-Maqdis) ?”. ”Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus” (QS. Al-Baqarah : 142).

Dikeluarkan pula oleh Muslim (5/11) dari hadits Anas, dan demikian pula yang dikeluarkan oleh Ibnu Sa’d (jilid 1, hal. 4 bag. 2).

insya Allah bersambung………..


———-
Sumber: Abul Jauza – abul-jauzaa.blogspot.co.id – Kamis,11 September 2008/10 Ramadhan 1429H

Print Friendly