NASEHAT BAGI PARA PENULIS ARTIKEL DI INTERNET

NASEHAT BAGI PARA PENULIS ARTIKEL DI INTERNET

Asy-Syaikh Muhammad bin Hady hafizhahullah

Ini merupakan peringatan dari Asy-Syaikh Muhammad bin Hady Al-Madkhaly hafizhahullah bagi orang-orang yang menulis artikel di forum-forum dan situs-situs elektronik dan internet. Hal itu disampaikan pada pertemuan ke-13 dari pertemuan para penuntut ilmu dengan Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Hady Al-Madkhaly pada hari Ahad, 6 Jumaadal Akhirah 1435 H.

ﺑﺴﻢ الله ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﺍﻟﺤﻤﺪ لله ﺭبِّ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ، ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ الله ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ ﻭلي ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ، ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃن ﻣﺤﻤﺪًﺍ ﻋﺒﺪﻩ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ صلى الله ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺃﺗﺒﺎﻋﻪ ﺑﺈﺣﺴﺎﻥٍ ﺇﻟﻰ ﻳﻮﻡ ﺍﻟدِّﻳﻦ. ﺃما ﺑﻌﺪ:

Sesungguhnya ada sesuatu yang ingin saya ingatkan, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan penulisan artikel di situs-situs elektronik di internet. Saya ingin menyampaikan kepada anak-anakku, saudara-saudaraku dan orang-orang yang saya cintai di semua tempat yang bisa mendengar perkataan ini dan sampai kepadanya.

Saya katakan:

Pertama: Wajib bagi orang yang memperhatikan situs-situs tersebut untuk bersikap hati-hati hingga dia memastikan dengan yakin bahwa perkataan ini adalah ucapan si fulan, bisa berupa tulisan tangannya dan tampil berupa gambar yang diproses menggunakan alat yang manusia menyebutnya dengan scanner, sehingga nampak persis seperti tulisan tangannya, yang semacam ini tingkatan yang paling tinggi dalam hal validasi.

Atau atau materi tersebut diposting berupa transkrip dari audio sehingga engkau bisa mendengarnya dan yakin bahwa ini adalah ucapan si fulan. Engkau bisa mendengarnya dan membandingkannya dengan apa yang dinukilkan berupa transkrip yang tercetak. Karena terkadang transkrip itu ada bagian yang terhapus (baik sengaja maupun tidak –pent).

Jadi sepantasnya bagi seseorang jika dia melihat hal semacam itu untuk tidak tergesa-gesa dan hendaknya dia berusaha memastikan dan menjaga keselamatan agamanya dalam hal semacam ini. Jadi hendaknya dia berusaha membandingkan cetakan dari transkrip ini dengan audionya sehingga dia merasa yakin dan mantap. Kalau dia sudah yakin maka ketika itu perkaranya lain.

Kedua: Yang juga ingin saya ingatkan adalah artikel yang identitas penulisnya ditulis dengan kunyah; yaitu dengan Abu Fulan dan Abu Fulan. Jadi kunyah itu menyia-nyiakan nama. Oleh karena itulah para ulama di masa lalu merasa perlu untuk menyusun kitab-kitab yang menjelaskan kunyah. Isinya seperti menyebutkan siapa yang kunyahnya demikian, lalu setelahnya dipaparkan namanya: Fulan bin Fulan bin Fulan, Fulan bin Fulan bin Fulan, dan Fulan bin Fulan bin Fulan. Lalu beralih ke kunyah lain, demikian seterusnya. Lalu bagaimana bisa diketahui nama pemilik kunyah tersebut sehingga tahu bahwa yang dimaksud pada tempat ini adalah si Fulan Al-Fulany? Bisa diketahui dengan meneliti thabaqah (tingkatan –pent) murid-murid dan para gurunya.

Maka saya menyampaikan kepada anak-anakku, saudara-saudaraku dan orang-orang yang saya cintai di semua tempat yang perkataan ini sampai kepada mereka: jangan langsung percaya kepada artikel yang ditulis dengan nama Fulan dan Fulan atau Abu Fulan dan Fulan, sampai mereka yakin bahwa penulisnya tersebut adalah benar-benar si Fulan bin Fulan Al-Fulany itu sendiri. Karena kami telah membuktikan bahwa sebagian orang yang mencantumkan identitas dengan kunyah bisa jadi dia adalah orang yang ingin mengkaburkan identitasnya agar dia bisa bersembunyi supaya tidak tersingkap namanya, sehingga dia pun bisa bebas menulis apa saja yang dia inginkan. Bisa jadi juga dia ingin menyerupakan dirinya dengan orang lain, karena bisa jadi di sana ada orang lain yang menggunakan kunyah seperti ini, dan dia ingin melemparkan pengkaburan kepada manusia agar dianggap bahwa perkataan ini adalah ucapan si fulan, padahal sebenarnya bukan ucapannya. Jadi ini termasuk hal-hal yang mengharuskan kita untuk bersikap hati-hati.

Dan pada kesempatan ini yang saya himbaukan kepada anak-anakku, saudara-saudaraku dan orang-orang yang saya cintai di semua tempat adalah hendaknya masing-masing menggunakan namanya sendiri. Jadi kalau dia menulis hendaknya dia mengatakan: Fulan bin Fulan bin Fulan. Jika dia menulis surat ke Masayikh hendaknya dia menulis namanya: Saya Fulan bin Fulan bin Fulan. Demikian juga jika dia menghubungi dengan telephon jangan sampai dia mengatakan: “Saya Abu Fulan!” Tetapi hendaknya dia mengatakan: “Saya Fulan bin Fulan bin Fulan.” Manusia akan memuliakannya dengan memanggil kunyahnya, bukan dia sendiri yang menyebutkan kunyahnya. Inilah yang terdapat pada adab-adab yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi was sallam, sehingga sepantasnya untuk diperhatikan.

Pada hari ini setiap kali seseorang menelepon dirimu dia mengatakan: “Saya adalah Abu Fulan.” Siapa engkau wahai Abu Fulan?! Katakanlah: “Saya Fulan bin Fulan bin Fulan.” Adapun dengan mengatakan “Abu Fulan” maka ucapan ini tidak tepat. Engkau harus memperkenalkan dirimu yang sebenarnya hingga mengeluarkannya dari area yang tidak diketahui dengan jelas. Jika seseorang mengatakan “Abu Fulan” jika saya telah mengenal orang tersebut secara pasti bahwa kunyahnya adalah demikian (seperti ini tidak masalah –pent), adapun ketika engkau baru pertama menghubungi saya melalui telephon laluengkau mengatakan: “Saya Abu Fulan.” Maka ini ini merupakan kesalahan dan menyelisihi As-Sunnah. Yang sesuai dengan As-Sunnah adalah dengan seseorang menyebutkan identitasnya dengan mengatakan: “Saya si Fulan.” Sebagaimana juga ketika meminta izin ketika ingin bertamu ke rumah orang lain tidak boleh dengan mengatakan: “Ini saya saya.” Demikian juga tidak boleh mengatakan: “Saya Abu Fulan.” Karena bisa saja seseorang memiliki kenalan beberapa orang yang menggunakan kunyah tersebut, sehingga dia menyangka bahwa engkau adalah orang yang dikenalnya itu. Ketika dia membukakan pintu untukmu ternyata engkau adalah orang lain selain yang dia kenal tersebut. Jadi wajib atas seseorang untuk menyebutkan identitasnya dengan mengatakan: “Saya si Fulan.” Dan hendaknya dia menyebutkan namanya yang sebenarnya. Saya ingatkan hal ini wahai saudara-saudara yang kucintai. Ini semua di satu sisi.

Adapun sisi yang lain adalah: jika terjadi kesalahpahaman antara dua orang ikhwah, sebagian mereka ada yang langsung menulis bantahan terhadap yang lain, padahal keduanya sama-sama di atas jalan yang satu, di atas manhaj yang sama dan belajar kepada Masayikh yang sama. Cara semacam ini tidak baik. Jadi jika engkau memiliki kritikan terhadapnya, maka ingatlah bahwa dia adalah saudaramu. Sampaikan secara langsung kepadanya! Adapun dengan engkau membongkarnya di internet, memostingnya di internet, dan menulisnya di internet, maka hal semacam ini termasuk tindakan menyebarluaskan aib yang tidak diperbolehkan.

Adapun tentang ilmu maka ini babnya lain. Demikian juga bantahan terhadap kesalahan-kesalahan yang pelakunya menyimpang maka babnya juga lain. Tetapi kesalahan-kesalahan juga ada yang sifatnya khusus atau terbatas dan ada yang sifatnya umum. Jadi yang sifatnya khusus tidak sepantasnya untuk disebarkan bantahannya secara umum. Adapun jika kesalahan tersebut telah menyebar luas dan merata di tengah-tengah manusia, maka bantahan terhadapnya juga dengan cara menyebarluaskannya serta menyebarkan yang benar kepada manusia sampai manusia mengetahuinya sehingga mereka bisa memperbaiki kesalahan tersebut.

Tetapi yang saya maksud dengan perkataan ini adalah: jika antara engkau dan saudaramu ada sesuatu maka jangan terburu-buru menyebarkannya di situs-situs tersebut! Karena hal ini bertentangan dengan sikap nasehat dan tidak sesuai dengan adab yang sepantasnya engkau miliki dalam hubungan antara dirimu dengan saudaramu. Jadi dengan cara semacam ini engkau akan membuka pintu bagi berkembangnya keburukan antara dirimu dengan saudara-saudaramu dengan selebar-lebarnya.

Jadi wahai segenap orang-orang yang saya cintai, saudara-saudara dan anak-anakku sekalian; saya berharap kalian bisa memahami itu semua dengan baik dan kalian sampaikan kepada saudara-saudara kalian yang tidak hadir. Apalagi apa yang saya sampaikan ini bisa didengar sehingga insya Allah bisa sampai ke semuanya. Pintu ini merupakan pintu yang banyak merusak hubungan-hubungan baik diantara para ikhwah dan semuanya adalah perkara-perkara yang sifatnya pribadi. Kita memohon kepada Allah afiyah dan keselamatan.

Sumber artikel:  http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=143301

* Alih bahasa: Abu Almass Edi bin Jaman Al-Ausathy
Senin, 14 Jumaadats Tsaniyah 1435 H

Download
Judul: NASEHAT BAGI PARA PENULIS ARTIKEL DI INTERNET Pembicara: Asy-Syaikh Muhammad bin Hady Al-Madkahly hafizhahullah Tanggal: 14 Jumada II 1435


———-
Sumber: Forum Salafy – www.forumsalafy.net – Selasa,15 April 2014/14 Jumadil Akhir 1435H

Print Friendly