TERCELANYA RIYA DAN PARA PELAKUNYA (Bagian 2)

TERCELANYA RIYA’ DAN PARA PELAKUNYA

Asy-Syaikh Yasin bin ‘Ali al-‘Adany hafizhahullah

Bab Pertama: Pendahuluan

Pasal Pertama: Penjelasan bahwa perkara terpenting bukanlah banyaknya amal, tetapi yang terpenting adalah agar ibadah diterima.

Sebagaimana telah diketahui bahwa Allah Ta’ala menciptakan makhluk untuk tujuan yang besar, yaitu untuk melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

ﻭَﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ ﺍﻟْﺠِﻦَّ ﻭَﺍﻟْﺈِﻧْﺲَ ﺇِﻟَّﺎ ﻟِﻴَﻌْﺒُﺪُﻭﻥِ. ﻣَﺎ ﺃُﺭِﻳﺪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﺭِﺯْﻕٍ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﺭِﻳﺪُ ﺃَﻥْ ﻳُﻄْﻌِﻤُﻮﻥِ.

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali tujuannya adalah agar mereka beribadah kepada-Ku saja. Aku tidak menginginkan rezeki dari mereka dan Aku juga tidak ingin agar mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-57)

Dan perkara yang terpenting bukanlah banyaknya ibadah, tetapi yang terpenting adalah agar ibadah diterima. Yaitu yang terpenuhi syarat-syarat dan rukun-rukunnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan sebagaimana disebutkan dalam Majmu’ul Fatawa (4/378), “Sesungguhnya keutamaan itu ukurannya adalah dengan kualitas amal dan bagusnya, bukan berdasarkan kadar dan banyaknya. Hal itu berdasarkan firman Allah Ta’ala:

ﺇِﻧَّﺎ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺯِﻳﻨَﺔً ﻟَﻬَﺎ ﻟِﻨَﺒْﻠُﻮَﻫُﻢْ ﺃَﻳُّﻬُﻢْ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻋَﻤَﻼ.

“Sesungguhnya Kami menjadikan apa yang ada di muka bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami uji siapa diantara mereka yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Kahfi: 7)

Allah juga berfirman:

إِﻧَّﺎ ﻟَﺎ ﻧُﻀِﻴﻊُ ﺃَﺟْﺮَ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺴَﻦَ ﻋَﻤَﻠًﺎ.

“Sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi siapa saja yang memperbagus amalnya.” (QS. Al-Kahfi: 30)

Bisa jadi sebuah ucapan tasbih yang dilakukan oleh seorang insan lebih afdhal dibandingkan sepenuh bumi amal yang dilakukan oleh orang lain.” -selesai perkataan Ibnu Taimiyyah-

Amal baik ini adalah yang disebutkan oleh Allah Ta’ala di beberapa tempat dalam Kitab-Nya, diantaranya:

ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﻓِﻲ ﺳِﺘَّﺔِ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻋَﺮْﺷُﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﻟِﻴَﺒْﻠُﻮَﻛُﻢْ ﺃَﻳُّﻜُﻢْ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻋَﻤَﻠًﺎ.

“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan Arsy-Nya berada di atas air, itu semua tujuannya adalah untuk menguji siapakah diantara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Huud: 7)

Dia juga berfirman:

ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﻭَﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓَ ﻟِﻴَﺒْﻠُﻮَﻛُﻢْ ﺃَﻳُّﻜُﻢْ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻋَﻤَﻼً ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰِﻳﺰُ ﺍﻟْﻐَﻔُﻮﺭُ.

“Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapakah diantara kalian yang paling baik amalnya, dan Dia Maha Mulia lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Dan amal baik ini adalah yang dahulu nabi kita shallallahu alaihi was sallam sering berdoa untuk meraihnya.

Al-Bazzar meriwayatkan sebagaimana disebutkan dalam Kasfyful Astar (4/58) dengan mengatakan:

حدﺛﻨﺎ ﻋﻤﺮﻭ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻷﻭﺩﻱ قال: ﺛﻨﺎ ﻭﻛﻴﻊ ﻋﻦ ﺇﺳﺮﺍﺋﻴﻞ عن أبيه ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺇﺳﺤﺎﻕ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻷﺣﻮﺹ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ: “ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺃﻋﻨﻲ ﻋﻠﻰ ﺫﻛﺮﻙ ﻭﺷﻜﺮﻙ ﻭﺣﺴﻦ ﻋﺒﺎﺩﺗﻚ”

“Telah menceritakan kepada kami Amr bin Abdillah al-Audy, telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Isra’il, dari ayahnya, dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwash dari Abdullah bin Mas’ud radhiyyallahu annhu bahwasanya Nabi  shallallahu alaihi was sallam dahulu biasa berdoa dengan mengucapkan:

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃعِنِّي ﻋَﻠَﻰ ﺫِﻛْﺮِﻙَ، ﻭَﺷُﻜْﺮِﻙَ، ﻭَﺣُﺴْﻦِ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻚَ.

“Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”[1]

Dan beliau shallallahu alaihi was sallam dahulu juga mengajarkan hal itu kepada para shahabatnya sebagaimana terdapat dalam riwayat Abu Dawud no. 1522:

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋُﺒَﻴْﺪُ ﺑْﻦُ ﻋُﻤَﺮَ ﺑْﻦِ ﻣَﻴْﺴَﺮَﺓَ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺑْﻦُ ﻳَﺰِﻳﺪَ ﺍﻟْﻤُﻘْﺮِﺉُ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺣَﻴْﻮَﺓُ ﺑْﻦُ ﺷُﺮَﻳْﺢٍ، ﻗَﺎﻝَ: ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﻋُﻘْﺒَﺔَ ﺑْﻦَ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﻳَﻘُﻮﻝُ: ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ ﺃَﺑُﻮ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟْﺤُﺒُﻠِﻲُّ، ﻋَﻦْ ﺍﻟﺼُّﻨَﺎﺑِﺤِﻲّ، ﻋَﻦْ ﻣُﻌَﺎﺫِ ﺑْﻦِ ﺟَﺒَﻞٍ، ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺻَﻠَّﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﺧَﺬَ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻭَﻗَﺎﻝَ: ‏«ﻳَﺎ ﻣُﻌَﺎﺫُ، ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻧِّﻲ ﻟَﺄُﺣِﺒُّﻚَ، ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻧِّﻲ ﻟَﺄُﺣِﺒُّﻚَ» ﻓَﻘَﺎﻝَ: “ﺃُﻭﺻِﻴﻚَ ﻳَﺎ ﻣُﻌَﺎﺫُ ﻟَﺎ ﺗَﺪَﻋَﻦَّ ﻓِﻲ ﺩُﺑُﺮِ ﻛُﻞِّ ﺻَﻠَﺎﺓٍ ﺗَﻘُﻮﻝُ: ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﻋِﻨِّﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺫِﻛْﺮِﻙَ، ﻭَﺷُﻜْﺮِﻙَ، ﻭَﺣُﺴْﻦِ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻚ.

“Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar bin Maisarah, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid al-Muqri’, telah menceritakan kepada kami Haiwah bin Syuraih dia berkata; saya mendengar Uqbah bin Muslim mengatakan; telah menceritakan kepadaku Abu Abdirrahman al-Hubuly, dari ash-Shunabihy,  dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah  shallallahu alaihi was sallam pernah memegang kedua tangannya dan bersabda:

“Wahai Mu’adz, demi Allah sungguh aku benar-benar mencintaimu, demi Allah sungguh aku benar-benar mencintaimu. Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz; jangan sekali-kali engkau meninggalkan di akhir setiap shalat untuk berdoa:

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃعِنِّي ﻋَﻠَﻰ ﺫِﻛْﺮِﻙَ، ﻭَﺷُﻜْﺮِﻙَ، ﻭَﺣُﺴْﻦِ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻚَ.

“Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”[2]

Ibnu Abid Dunya berkata dalam kitab “Al-Ikhlash” (1/22):

ﺣﺪﺛﻨﺎ محمد ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺷﻘﻴﻖ، ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺑﻦ ﺍﻷﺷﻌﺚ ‏(ﻟﻴﺒﻠﻮﻛﻢ ﺃﻳﻜﻢ ﺃﺣﺴﻦ ﻋﻤﻼ) ﻗﺎﻝ: ﺃﺧﻠﺼﻪ ﻭﺃﺻﻮﺑﻪ، ﻗﺎﻝ: ﺇﻥ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺧﺎﻟﺼﺎ ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺻﻮﺍﺑﺎ ﻟﻢ ﻳﻘﺒﻞ، ﻭﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺻﻮﺍﺑﺎ ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺧﺎﻟﺼﺎ ﻟﻢ ﻳﻘﺒﻞ، ﺣﺘﻰ ﻳﻜﻮﻥ ﺧﺎﻟﺼﺎ ﺻﻮﺍﺑﺎ، ﻭﺍﻟﺨﺎﻟﺺ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻟﻠﻪ، ﻭﺍﻟﺼﻮﺍﺏ: ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻨﺔ.

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ali bin Syaqiq, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin al-Asy’ats (tentang tafsir firman Allah):

ﻟِﻴَﺒْﻠُﻮَﻛُﻢْ ﺃَﻳُّﻜُﻢْ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻋَﻤَﻼً.

“Untuk menguji siapakah diantara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

“Maksudnya adalah yang paling ikhlash dan paling benar. Sesungguhnya sebuah amal jika ikhlash namun tidak benar maka tidak akan diterima, dan jika benar namun tidak ikhlash maka tidak akan diterima juga, sampai amal tersebut ikhlash dan benar. Amal yang ikhlash adalah yang diniatkan hanya karena Allah, sedangkan amal yang benar adalah yang sesuai dengan as-Sunnah.”[3]

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam An-Nubuwwat hal. 93, “Hal itu memang seperti yang beliau (Ibrahim bin al-Asy’ats) katakan, karena sesungguhnya dua prinsip pokok ini adalah agama Islam itu sendiri yang Allah ridhai. Hal ini sebagaimana firman-Nya:

ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﺩِﻳﻨًﺎ ﻣِﻤَّﻦْ ﺃَﺳْﻠَﻢَ ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﺤْﺴِﻦٌ ﻭَﺍﺗَّﺒَﻊَ ﻣِﻠَّﺔَ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ﺣَﻨِﻴﻔًﺎ ﻭَﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ﺧَﻠِﻴﻠًﺎ.

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dibandingkan orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah dan dia berbuat baik serta mengikuti agama Ibrahim yang lurus, dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya.” (QS. An-Nisa’: 125)

Jadi orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah adalah orang yang mengikhlashkan niatnya hanya karena Allah dan dia mengharapkan wajah Allah dengan amalnya. Sedangkan orang yang berbuat baik adalah yang memperbagus amalnya dengan mengerjakan kebaikan. Dan kebaikan di sini adalah amal shalih, sedangkan amal shalih adalah apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, baik berupa yang wajib maupun yang mustahab. Jadi, semua amal yang tidak termasuk yang ini dan yang juga tidak termasuk yang itu, maka itu bukan termasuk kebaikan dan bukan termasuk amal shalih, sehingga pelakunya tidak menjadi orang yang berbuat baik.” -selesai perkataan Ibnu Taimiyyah-

Memang, amal baik juga dinamakan dengan amal shalih, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻣِّﻦ ﺫَﻛَﺮٍ ﺃَﻭْ ﺃُﻧﺜَﻰٰ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﺆْﻣِﻦٌ ﻓَﻠَﻨُﺤْﻴِﻴَﻨَّﻪُ ﺣَﻴَﺎﺓً ﻃَﻴِّﺒَﺔً ۖ ﻭَﻟَﻨَﺠْﺰِﻳَﻨَّﻬُﻢْ ﺃَﺟْﺮَﻫُﻢ ﺑِﺄَﺣْﺴَﻦِ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ.

“Siapa saja yang beramal shalih dari kalangan pria atau wanita dan dia seorang yang beriman, maka Kami benar-benar akan memberikan kehidupan yang baik untuknya, dan sungguh Kami akan membalas pahala mereka dengan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Allah juga berfirman:

ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﻣَﻦْ ﺁﻣَﻦَ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻓَﻠَﻪُ ﺟَﺰَﺍﺀً ﺍﻟْﺤُﺴْﻨَﻰٰ ۖ ﻭَﺳَﻨَﻘُﻮﻝُ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻳُﺴْﺮًﺍ.

“Adapun siapa saja yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang baik, dan kelak Kami akan mengatakan dari urusan kami perkara yang mudah baginya.” (QS. Al-Kahfi: 88)

Dan amal shalih merupakan amal yang paling dicintai oleh Nabi shallallahu alaihi was sallam. Al-Imam berkata dalam “Al-Musnad”  no. 26726:

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﻔَّﺎﻥُ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺑُﻮ ﺍﻟْﺄَﺣْﻮَﺹِ ﻗَﺎﻝَ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺑُﻮ ﺇِﺳْﺤَﺎﻕَ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﻠَﻤَﺔَ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺑْﻦِ ﻋَﻮْﻑٍ ﻋَﻦْ ﺃُﻡِّ ﺳَﻠَﻤَﺔَ ﺃُﻡِّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻗَﺎﻟَﺖْ: ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﺫَﻫَﺐَ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ ﻣَﺎ ﻣَﺎﺕَ ﺣَﺘَّﻰ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﺻَﻠَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻫُﻮَ ﺟَﺎﻟِﺲٌ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣَﺐَّ ﺍﻟْﺄَﻋْﻤَﺎﻝِ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺢُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺪُﻭﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺴِﻴﺮًﺍ.

“Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, dari Salamah bin Abdurrahman bin Auf, dari Ummu Salamah Ummul Mu’minin radhiyallahu anhu, dia berkata:

“Demi (Allah) Yang mewafatkan beliau (Nabi shallallahu alaihi was sallam), tidaklah beliau wafat kecuali setelah kebanyakan shalat yang beliau kerjakan dalam keadaan duduk, dan amal yang paling beliau cintai adalah amal shalih yang dikerjakan oleh seorang hamba secara terus menerus, walaupun amal tersebut sedikit.”

Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 1283.[4]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam al-Jawabul Kafy hal. 91, “Jadi amal shalih adalah yang bersih dari riya’ dan yang terikat dengan as-Sunnah. Dan diantara doa yang biasa diucapkan oleh Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu adalah:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِيْ كُلَّهُ صَالِحًا، وَاجْعَلْ لِوَجْهِكَ خَالِصًا، وَلا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيْهِ شَيْئًا.

“Ya Allah, jadikanlah semua amalku shalih, jadikanlah ikhlash hanya untuk wajah-Mu, dan jangan engkau jadikan sedikitpun untuk seorangpun.”[5] -selesai perkataan Ibnul Qayyim-

Dan amal shalih juga merupakan salah satu dari tiga prinsip mendasar yang semua agama samawi sepakat atasnya dan merupakan perkara yang dibawa oleh semua para rasul,[6] yaitu; iman kepada Allah, kepada Hari Kiamat, dan amal shalih. Allah Ta’ala berfirman:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫَﺎﺩُﻭﺍ ﻭَﺍﻟﺼَّﺎﺑِﺌُﻮﻥَ ﻭَﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﻣَﻦْ ﺁﻣَﻦَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻵﺧِﺮِ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﺻَﺎﻟِﺤﺎً ﻓَﻼ ﺧَﻮْﻑٌ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﻻ ﻫُﻢْ ﻳَﺤْﺰَﻧُﻮﻥَ.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi’un[7], orang-orang Nashara, siapa saja dari mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, serta beramal shalih, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati (pada hari kiamat nanti).” (QS. Al-Maidah: 69)

————————————————–

CATATAN KAKI:

[1] Syaikh kami, al-Wadi’iy rahimahullah mengatakan dalam al-Jami’ ash-Shahih, “Ini hadits hasan.”

[2] Syaikh kami, al-Wadi’iy rahimahullah mengatakan dalam al-Jami’ ash-Shahih, “Ini hadits shahih.”

[3] HASAN.
Ibrahim bin al-Asy’ats walaupun dinilai lemah oleh sebagian ulama, hanya saja dia memiliki syawahid, dan saya telah menyebutkannya dalam tahqiq kitab Fathul Majid, walhamdulillah.

[4] SANADNYA SHAHIH.
(penjelasannya sengaja tidak kami terjemahkan untuk meringkas -pent)

[5] Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dalam kitab Az-Zuhd hal. 118, dari jalan Abdush Shamad; telah menceritakan kepada kami Abul Asyhab, dari al-Hasan bahwasanya Umar mengatakan…
Al-Hasan ini adalah al-Bashry, dia tidak mendengar riwayat dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu.
Diriwayatkan juga oleh Abusy Syaikh dalam Thabaqatul Muhadditsin (4/261) dari jalan lain, namun pada sanadnya ada yang terputus, padanya juga terdapat perawi yang tidak saya ketahui biografinya.

[6] Dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam ash-Shawaiqul Mursalah (3/1096)

[7] As-Sa’dy rahimahullah mengatakan dalam tafsir beliau terbitan Darul Aqidah hal. 41, “Pendapat yang benar bahwasanya mereka adalah salah satu kelompok Nashara.” (pent)


———-
Sumber: Forum Salafy – www.forumsalafy.net – Kamis,24 Maret 2016/14 Jumadil Akhir 1437H

Print Friendly