Unaizah Kota Santri

Sebagai kota yang digelari ”Madinatul Muthawwi’ien”
alias kota santri, Unaizah tentu saja memiliki perbedaan agak mencolok di
banding kota lain di seantero Kerajaan Saudi Arabia. Kebiasaan para thalibul
ilmu (penuntut ilmu) demikian pekat mewarnai lingkungan pergaulan masyarakat
setempat, sehingga dapat juga berpengaruh dalam kehidupan sosial dan kebiasaan
masyarakat secara umum, baik penduduk setempat maupun para perantau dari
berbagai negeri.

 

Letaknya

 

Terletak di ujung selatan ibu kota Al-Qashim, yang lebih terkenal dengan
sebutan Al-Gasim. Al-Gasim lebih biasa untuk lidah perantauan Indonesia, yang
sebenarnya merupakan dialek pasaran daerah setempat. Unaizah terlihat sebagai
kota yang lebih meyerupai ”kampung” dibanding kota di sekitarnya, seperti
Buraidah, Riyadhul Khabra. Meskipun masih ada beberapa kota yang lebih kecil di
sekitarnya, sebut saja Midznab; kota yang terletak lebih ke selatan.
Kota Unaizah tidak begitu luas. Sehingga untuk mencapai ujung-ujung kota
hanya dibutuhkan tidak lebih dari setengah jam, dengan ukuran kecepatan dalam
kota. Dengan beberapa jam berjalan kaki, kita sudah bisa mengelilingi kota ini.
Al-Qashim sendiri adalah wilayah yang tergolong muhafazhah, kalau di Indonesia
setingkat propinsi. Sementara Unaizah adalah bagian dari wilayah Al-Qashim
-setingkat dengan kotamadya di negeri kita. Ada sekitar 70-an kota madya yang
masuk dalam Muhafazhah Al-Qashim.
Jarak Unaizah ke kota Al-Qashim sekitar
empat puluh lima kilometer.

 

Religius Kental

 

Memasuki kota Unaizah, bagi kalangan perantauan ibarat ”bertukar alam” secara
drastis. Sebagai kota santri kerajaan Saudi Arabia -yang termasuk negara Islam-
warna keislaman di kota ini lebih kental dibandingkan kebanyakan kota yang ada,
termasuk kota Makkah pun. Sebut saja sebagai contoh, dalam hal mengenakan cadar.
Meski para ulama masih berbeda pendapat soal wajib-tidaknya seorang wanita
mengenakan cadar, di kota ini seolah sudah tidak ada lagi perbedaan pendapat
itu. Memang ketika masyarakat sudah terbiasa melakukan satu ajaran Islam, nilai
sunnah atau wajib sudah tidak begitu menjadi persoalan. Konsekuensinya, siapapun
wanita yang berjalan di tengah kota ini, harus tampil dengan pakaian Islamnya
yang palin gutama, Abaya (pakaian wanita) hitam yang serba lebar, lengkap dengan
cadar bahkan sarung tangan dan kaus kaki. Hal itu tentu saja jauh lebih dapat
memelihara pandangan-pandangan haram kaum lelaki, sehingga suasana (bag orang
beriman) terasa lebih sejuk, terutama di bulan Ramadhan kala kita sedang
menunaikan ibadah puasa

 

Gudang Ilmu

 

Suasana keilmuan cukup kental di kota yang menjadi tempat kelahiran Syaikh
Al-Utsaimin rahimahullah ini. Bisa dilihat dari saratnya masjid-masjid kecil
dengan jadwal kajian Islam yang langsung mengupas buku-buku panduan, seperti
buku-buku aqidah dan fikih, berlangsung setiap hari. Berbeda sangat dengan warna
kajian di banyak negeri lain, yang seringkali hanya berupa ceramah dan wejangan
saja.
Hal itu tidak aneh, karena di tengah kota terdapat sebuah masjid besar
yang dikenal sebagai Jami’ Al-Utsaimin. Di masjid inilah -setiap habis shalat
Ashar dilanjutkan setelah Maghrib hingga waktu Isya yang diakhirkan- ada
pelajaran-pelajaran ilmiah. Dahulu di masa hidup Syaikh Muhammad Shalih
Al-Utsaimin, beliau sendiri yang menjadi pengajarnya. Seluruh bentuk pelajaran,
mulai aqidah, nahwu, fikih, ushul fikih dan yang lainnya, beliau sendiri yang
mengajarkan dengan pengetahuan dan tingkat penguasaan beliau yang luas sekali.
Setelah beliau wafat, dengan wasiat beliau juga, pelajaran-pelajaran itu
diajarkan kembali secara kolektif oleh tiga murid senior beliau: Kedua menantu
beliau, Syaikh Sami Ash-Shuqair dan Syaikh Khalid Al-Mushlih, juga murid beliau
yang belajar sejak kecil, Syaikh Abdurrahman Ad-Dahys. Alhamdulillah, semua
pengajaran itu berjalan lancar, karena ditambah juga dengan dukungan murid
senior beliau lainnya yang turut serta dalam kajian-kajian itu, untuk memberi
semangat kepada murid-murid yang baru.
Untuk menambah intensivitas pelajaran, Syaikh Al-Utsaimin telah
membangunkan rumah tinggal bertingkat empat bagi para santrinya yang datang dari
berbagai negeri. Rumah tinggal (yang amat permanen) itu, dibangun dengan biaya
enam juta riyal, sekitar 14 Milyar empat ratus juta rupiah, dengan kurs riyal
2400 rupiah. Kesemuanya itu dibangun dari uang yang sebenarnya dihadiahkan untuk
syaikh, lalu beliau infakkan untuk fasilitas para thalibul
ilmu.
bangunantersebuta ada dua. Salah satunyadiperuntukkan untuk para
penuntut ilmu yang masih bujangan. yang lainnya, untuk mereka yang sudah
menikah. Di samping itu, masih ada satu bangunan lagi yang berdampingan dengan
masjid -di sebelah barat bangunan utama- yang juga diperuntukkan untuk mereka
yang sudah menikah bersama keluarga mereka.

 

Kegiatan Lain

 

Di samping itu, kota Unaizah juga sarat dengan berbagai kegiatan keagamaan
yang dikelola oleh berbagai lembaga dakwah yang tersebar di kota tersebut. Ada
program pengiriman dai (kebanyakan dari murid-murid Syaikh Al-Utsaimin),
bantuan-bantuan hewan kurban, dana berbuka puasa dan yanglainyya, ke berbagai
negara Islam. Aktivitas keagamaan lain juga terlihat mendapat dukungan
masyarakat luas, misalnya, ‘sekadar’ shalat Istisqa (untuk meminta hujan) saja,
diumumkan di berbagai masjid, untuk kemudian dilaksanakan di lapangan besar
dengan satu imam di waktu yang telah ditentukan.

 

Gratisan

 

Perhatian masyarakat terhadap para penuntut ilmu juga cukup besar. Karena
itulah, para penuntut ilmu yang tinggal di asrama Syaikh Al-Utsaimin mendapat
jatah makan-minum yang cukup, gratis lagi! Meskipun mereka datang dengan latar
pendidikan yang berbeda-beda, dari berbagai negara Islam dan bahkan dari negara
non-Islam.
Tidak ketinggalan, sebagaimana juga di kota-kota lain, kota
Unaizah juga menyediakan Islamic Centre yang disebut Al-Jaliyyat. Di situ para
pekerja muslim dari berbagai negara -dengan bimbingan para penuntut ilmu dari
negara masing-masing- bisa menimba ilmu secara rutin beberapa kali seminggu,
tentu dengan bahasa mereka masing-masing.

 

Mau Cari Kurma?

 

Kota Unaizah termasuk daerah penghasil kurma terbaik. Kurma As-Sukkari dan
berbagai jenis kurma paling bermutu di Saudi Arabia, banyak didapat dari kota
ini. Selain itu, berbagai hasil pertanian lain, dari mulai kebutuhan pokok,
seperti gandum, cabe, bawang, hingga buah-buahan, juga cukup banyak didapatkan
di bagian pinggiran kota ini.
Melihat kota Unaizah ini -meski tergolong kota
yang amat kecil- hilanglah bayangan kita tentang negeri Saudi yang gersang dan
tidak bisa ditanami. Dengan teknologi pertanian yang cukup canggih, hampir
setiap tanaman tropis bisa ditanam di sini. Bisa jadi, suatu saat kota Unaizah
secara khusus dan negeri Saudi Arab umumnya, bisa menjadi negeri pengekspor
beras.

 

Bila mampir ke kota ini, jangan lupa mengunjungi sebuah danau (terletak di
luar kota) yang disebut danau garam. Karena pada musim-musim tertentu, danau ini
mengering, airnya nerubah menjadi tumpukan garam, menyerupai danau kaca.
Selebihnya, kota ini memang bukan kota wisata. Pemandangan alamnya pun tidaklah
bisa menyamai atau sekedar mendekati keindahan kota di tanah air kita. Namun
semua itu seolah tidak terasa, ketika sudah terbalut suasana nyaman, tentram dan
aman. Pencurian termasuk kasus yang amat jarang terjadi, apalagi pencurian
sendal dan sepatu di masjid-masjid, bisa dibilang mustahil. Kalaupun ada kasus
penipuan di toko-toko, dilakukan oleh pelanggan yang berasal dari negara lain,
dengan modus operandi yang klasik dan monoton, sehingga mudah
diantisipasi.
Akhirnya, kota Unaizah ini bisa dibilang mewakili kebanyakan
kota di berbagai penjuru Kerajaan Saudi, amat sulit membuka investasi usaha
asing. Cina yang biasanya menguasai perekonomian berbagai negara Islam, tidak
punya kans di sini. Itu disebabkan usaha yang dirintis di negeri unta ini memang
harus melalui birokrasi wakalah atau hak kepemilikan penduduk setempat.
Interaksi budaya asing juga bisa dibilang hilang sama sekali.
Orang bisa mengatakan, bahwa bagaimanapun cinta seseorang kepada negeri
asing, tetap lebih mencintai negeri sendiri. Namun bagi seorang mukmin yang
bersih keimanannya, kota Unaizah ini bisa menjadi salah satu di antara kota yang
mungkin bisa merubah pendirian tersebut. Wallahu a’lam.

 

Oleh Abu Fudhail, El-Fata edisi 8/II/2002

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Minggu,14 Maret 2004/22 Muharram 1425H

Print Friendly