Malam Lailatul Qadar

oleh: Samahatusy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz

Sesungguhnya, hadits-hadits Rasulullah yang berkaitan dengan meraih Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan sangat luas (banyak). Jumhur ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar itu berada di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Dan barangsiapa yang mendirikan (dengan ibadah) di sepuluh malam ini -seluruhnya- dengan keimanan dan mengharapkan pahala, maka ia akan mendapati malam Lailatul Qadar ini. Karena sesungguhnya, Lailatul Qadar tidak keluar dari sepuluh malam tersebut.

Saya akan jelaskan hadits-hadits Rasulullah (yang menerangkan) bahwa malam-malam ganjil lebih diutamakan dari selainnya, seperti malam ke-21, malam ke-23, malam ke-25, malam ke-27, dan malam ke-29.

Berikut ini sebagian riwayat tersebut:

Rasulullah bersabda,

“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh terakhir bulan Ramadhan.” [1]

Juga ditunjukkan dalam beberapa hadits bahwa tujuh malam terakhir lebih utama dari selainnya. Rasulullah bersabda,

“Aku melihat bahwa mimpi-mimpi kalian itu telah bersesuaian pada tujuh malam terakhir (bulan Ramadhan). Barangsiapa yang hendak mencari Lailatul Qadar, maka hendaklah ia mencarinya di tujuh malam tersebut” [2]

Dalam lafazh lain disebutkan:

“Maka, janganlah kalian lewatkan tujuh malam yang tersisa!” [3]

Maksudnya, bahwasanya Lailatul Qadar berada di dalam sepuluh waktu ini. Nabi bersungguh-sungguh (beribadah) di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, tidak seperti kesungguhan beliau pada dua puluh malam pertama. Beliau mengkhususkan sepuluh waktu ini dengan menambah perhatian dan kesungguhan. Beliau menghidupkan malamnya dengan ibadah, seperti membaca Al-Qur’an, shalat berdzikir, berdo’a, dan ibadah-ibadah lainnya. Dan beliau pun membangunkan keluarganya untuk beribadah di waktu-waktu tersebut.

‘Aisyah mengatakan,

“Apabila masuk sepuluh hari terakhir, beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya (dengan ibadah), dan membangunkan keluarganya…” [4]

Dalam lafazh lain disebutkan,

“Beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan…” [5]

Dalam lafazh lain lagi disebutkan,

“Rasulullah ber-I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” [6]

Semua ini menerangkan kepada kita atas agungnya sepuluh malam ini. Ini adalah seutama-utama bulan yang di dalamnya terdapat malam yang agung yaitu malam Lailatul Qadar, dimana Allah mengabarkan bahwa malam tersebut lebih baik dari seribu bulan. Dan ini menunjukkan betapa agungnya.

Juga bahwa amalan dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam tersebut lebih baik daripada amalan dalam seribu bulan selainnya. Maka ini pantas untuk diperhatikan.

Dan termasuk dari kelembutan serta kebaikan Allah. Dia menjadikan malam tersebut berada di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Allah tidak menjadikan malam tersebut berada dalam satu bulan, atau dalam satu tahun, akan tetapi dalam sepuluh malam, dan sepuluh itu lebih mudah –alhamdulillah– bagi setiap hamba yang berharap dapat mendirikan malam-malam tersebut (untuk beribadah) dengan keimanan dan mengharap pahala. Dan ini tidak sulit baginya.

Karena itulah, Nabi menghidupkan malam-malam ini dan memberinya perhatian khusus. Dahulu beliau ber-I’tikaf di sepuluh hari pertama agar meraih Lailatul Qadar, lalu ber-I’tikaf di sepuluh hari kedua demi meraih Lailatul Qadar, kemudian diberitahukan kepada beliau bahwa Lailatul Qadar berada di sepuluh malam terakhir. Maka, beliau pun ber-I’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan demi meraih Lailatul Qadar yang mulia dan penuh berkah.

‘Aisyah pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apabila saya mendapati Lailatul Qadar, apa yang saya ucapkan?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memaafkan, maka maafkanlah diriku [7]”

Ini menunjukkan anjuran untuk banyak berdo’a di malam ini dan sungguh-sungguh dalam beramal shalih karena akan dilipatgandakan (pahala), serta amalan shalih di malam ini lebih baik dari amalam-amalan shalih selama seribu tahun, seperti sedekah, shalat, berdzikir, membaca Al-Qur’an, berdo’a kepada Allah, serta ber-amar ma’ruf nahi munkar, birrul walidain, dan selainnya. Seluruhnya dilipatgandakan (pahalanya) di bulan Ramadhan, adapaun di malam ini lebih agung lagi pelipatgandaannya. [8]

Tanda- Tanda Lailatul Qadar

Lailatul Qadar itu malamnya sejuk, tidak panas, dan tidak dingin. Matahari terbit dari sinar yang terang, namun panasnya tidak menyengat.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata bahwasanya Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya Lailatul Qadar telah diperlihatkan kepadaku, lalu aku lupa. Malam itu jatuh pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Malamnya sejuk dan bercahaya, tidak panas dan tidak dingin ” [9]

Di malam Lailatul Qadar, banyak sekali malaikat yang turun ke bumi. Dari Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda,

“Lailatul Qadar adalah malam ke-27 atau malam ke-29. sesungguhnya malam itu lebih banyak daripada batu-batu kerikil.” [10]

Sumber: Tim Editor Media Tarbiyah (2012). Sifat Puasa Nabi: “Seakan-akan Anda berpuasa bersama Rasulullah”. Bogor: Media Tarbiyah. hlm 125-130

Catatan kaki:
[1] Diriwayatkan oleh a-Bukhari (2021)

[2] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2015) dan Muslim (no 1165)

[3] Diriwayatkan oleh Ahmad (I/123)

[4] Muttafaq ‘alaih: HR. Al-Bukhari (no.2024) dan Muslim (no.1174).

[5] Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/68)

[6] Muttafaq ‘alaih: HR. Al-Bukhari (no.2025) dan Muslim (no.1171).

[7] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no.38500 dan Ahmad (VI/182).

[8] Cuplikan pelajaran yang disampaikan Syaikh Ibnu Baaz di kota Makkah al-Mukarramah pada tanggal 24-27 Ramadhan 1408 H, kaset no 200. Dinukil dari kitab Hadiitsul Masaa’ (hlm. 223-225)

[9] Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no.2190). Syaikh Al-Albani berkata, “Hadits ini shahih, karena adanya syawaahid (penguat)nya.”

[10] Syaikh berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 2545), Ahmad (II/519), Ibnu Khuzaimah dalam shahiihnya (II/223). dari ‘Imraan al-Qaththaan, dari Qatadah, dari Abu Maimunah, dari Abu Hurairah secara marfu’. Saya katakan, ‘Sanadnya hasan.‘Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 2205) “

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Rabu,31 Juli 2013/23 Ramadhan 1434H

Print Friendly