Ahliyah at-Tasharruf

Pengertian

Istilah ini berasal dari dua kata: ahliyah dan tasharruf. Ahliyah artinya kelayakan. Dalam fiqh, ahliyah yang ada pada diri seseorang dibagi dua:

  1. Ahliyah al-Wujub: kelayakan seseorang untuk mendapatkan hak dan kewajiban
  2. Ahliyah al-Ada`: kelayakan seseorang untuk melakukan perbuatan yang dianggap sah oleh syariat. [Ubaidillah bin Mas`ud, Syarh at-Talwih ala at-Taudhih, Mauqi` al-Islam, jilid 4, hal. 12]

Sedangkan arti kata: tasharruf artinya semua bentuk interaksi manusia. Baik yang sifatnya sosial maupun komersial.

Berdasarkan pengertian secara bahasa di atas, dapat disimpulkan bahwa Ahliyah at-Tasharruf adalah kelayakan seseorang untuk melakukan transaksi dan muamalah dengan pihak lain, yang dianggap sah secara syariat.

Unsur Ahliyah at-Tasharruf

Seseorang dianggap telah memiliki Ahliyah at-Tasharruf jika dia memiliki tiga unsur dalam dirinya:

  1. Akal yang sehat.
  2. Tamyiz (mampu membedakan hal yang baik dan hal yang tidak baik).
  3. Sadar.

Seorang yang gila, ideot, atau kondisi semacamnya, tidak memiliki Ahliyah at-Tasharruf. Karena akalnya tidak sempurna. Demikian pula anak kecil yang belum bisa membedakan hal yang baik dan yang buruk, atau belum mengetahui nilai mata uang tertentu, tidak memiliki Ahliyah at-Tasharruf, karena belum tamyiz. Hal yang sama juga terjadi pada orang yang tidur, mabuk, pingsan, hilang ingatan, dan semacamnya, tidak memiliki Ahliyah at-Tasharruf, karena mereka tergolong orang yang tidak sadar.

Dampak Keberadaan Ahliyah at-Tasharruf

Salah satu syarat transaksi dihukumi sah jika pelakunya memiliki  Ahliyah at-Tasharruf. Tanpa ini maka transaksi dianggap tidak sah.

Rujukan: al-Mausu`ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, Kementerian Wakaf & Urusan Islam Kuwait, 1427 H, kata: Ahliyah.

Artikel

———-
Sumber: YUFIDIA – www.yufidia.com – Kamis,26 Juni 2014/27 Sya’ban 1435H

Print Friendly