Kewajiban Mendatangi Walimah

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya: “Jika salah seorang dari kamu diundang menghadiri acara walimah maka datangilah.” [HR. Bukhari]

 

Imam Syafi’I dalam kitab Al Umm berkata: “Mendatangi walimah wajib hukumnya, yaitu walimah yang dikenal dengan sebutan walimatul ‘urs (walimah pernikahan).” Demikian yang dinukil Abu Ishaq Al Huwaini Al Atsary dalam “Bekal-Bekal Menuju Pelaminan Mengikuti Sunnah” .

 

Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin rahimahullah di dalam ”Fatwa-Fatwa Problematika Pernikahan” menjelaskan:

 

“Adapun apabila undangan itu berada di tempat yang berdekatan dengan tempat tinggalnya dan tidak ada bahaya bagi seseorang untuk menghadirinya, tidak berada di tempat mungkar yang ia tidak sanggup merubahnya dan orang yang mengundang itu sendiri yang mengatakannya: ”Wahai Fulan hadirlah.” Serta telah diketahuinya bahwa undangan itu tidak sekedar basa-basi belaka, maka dia wajib memenuhi undangannya dan barangsiapa tidak memenuhi undangannya, maka berarti dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.

 

Sedangkan terhadap surat undangan yang hanya dibagi-bagikan itu (tanpa mempedulikan siapa orang yang diundang), maka kamu tidak wajib memenuhi undangannya kecuali jika yang mengundang itu terbukti secara meyakinkan bahwa ia secara serius mengundangnya. Hal ini karena banyak di antara orang yang membagi-bagikan kartu undangan tersebut tujuannya hanya untuk menginformasikan bahwa dia sedang mempunyai hajatan pernikahan dan dia tidak peduli apakah kamu akan hadir atau tidak.

 

Berbeda apabila dia mengulangi undangan tersebut dengan telepon umpamanya atau langsung datang menemui kamu, maka kamu wajib memenuhi undangannya, dengan syarat-syarat sebagaimana yang telah kami sebutkan.”  [Fatwa-Fatwa Problematika Pernikahan hal. 39-40]

 

Boleh tidak hadir apabila ada udzur syar’I

 

Jika yang diundang memiliki alasan yang kuat, seperti sakit, perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan, ataupun adanya udzur syar’I lainnya, ia diperbolehkan untuk tidak menghadiri undangan yang datang pada dirinya.

 

Ibnu Abbas pernah tidak mengahadiri undangan karena sibuk mengurusi urusan pengairan. Ia berkata kepada orang-orang: “Datangilah undangan saudara kalian tersebut, sampaikanlah salam saya kepadanya dan kabarkan bahwa saya sedang sibuk

 

Undangan yang memerlukan safar

 

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apa yang harus aku perbuat jika diundang untuk menghadiri resepsi perkawinan yang membutuhkan perjalanan yang memberatkan?” 

 

Beliau rahimahullah menjawab, “Memenuhi undangan yang memerlukan safar, maka seseorang tidak diharuskan bersafar untuk tujuan tersebut apabila dalam safar itu terdapat masyaqoh (kesulitan-kesulitan) dan hanya menghabiskan waktu sementara manfaat yang diperoleh hanya sedikit. Kecuali apabila yang mengundang adalah kerabat dekat yang dikhawatirkan akan terputus hubungan kerabat apabila ia tidak mendatanginya. [Fatwa-Fatwa Problematika Pernikahan, hal.: 39-40]

 

==dari http://mobynuke.net/nikahku ==

 

   

 

 

 


———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Sabtu,12 Juli 2003/12 Jumadil Awal 1424H

Print Friendly