Menjadi Pendidik Sejati

Anak merupakan anugerah sekaligus amanah bagi kedua orang tuanya. Islam telah
menuntunkan kepada setiap orang tua untuk bertanggung jawab atas amanah
tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:
“Masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian (akan) ditanya
tentang kepemimpinannya.” (Muttafaq ‘alaih).

Meskipun tanggung jawab mendidik anak bukan hanya monopoli kaum ibu, namun tidak dapat
dipungkiri bahwa ibu memegang peranan yang sangat strategis dalam membimbing,
mendidik dan memberikan keteladanan bagi putra-putrinya. Ibu yang shalihah
merupakan madrasah terbaik yang dapat mempersiapkan generasi yang shalih,
tokoh-tokoh masa depan yang tangguh, lurus aqidahnya, serta mulia akhlaknya.
Berusaha memberikan pendidikan terbaik sejak dini bagi anak-anak adalah suatu
kewajiban. Lantas, dari mana kita harus memulainya?

1.Menanamkan
tauhid Tauhid merupakan manhaj para Nabi. Dengan landasan tauhid inilah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhasil mentarbiyah para sahabatnya,
mengentaskan mereka dari kebodohan dan kemusyrikan menjadi generasi terbaik yang
menorehkan tinta emas bagi sejarah kejayaan kaum muslimin. Apabila kita berhasil menanamkan tauhid
pada setiap dada putra-putri kita, berarti kita telah mempersiapkan sebuah
bangunan dengan fondasi yang kokoh dan kuat. ‘urn:schemas-microsoft-com:office:office’ />

2. Mendidik anak-anak untuk mencintai
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda yang artinya: “Didiklah anak-anakmu tiga perkara: Mencintai Nabimu,
mencintai ahli baitnya, dan membaca Al-Qur’an.” (HR. Thabrany dari Ali bin Abi
Thalib radhiyallahu ‘anhu)

3.
Memberikan keteladanan

Teladan
yang baik merupakan landasan yang fundamental dalam membentuk kepribadian anak,
baik dalam segi agama maupun akhlak. Anak tidak melihat kecuali orang-orang di
sekitarnya pula. Anak tidak melihat kecuali orang-orang di sekitarnya. Dan
seseorang yang paling dekat dengan mereka adalah ibunya. Jika ibu senantiasa
memperlihatkan akhlak terpuji, insya Allah anak pun akan tumbuh dengan memiliki
akhlak tersebut.

4.
Membiasakan anak mengerjakan berbagai macam ibadah, seperti shalat, puasa,
shalat berjamaah di masjid, menghapalkan Qur’an dan hadits, serta berhijab (bagi
anak putri) Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Suruhlah anak kalian mengerjakan
shalat, sedang mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena shalat
ini, sedang mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.”
(HR. Abu Dawud dan Hakim) Dalam hal puasa, para shahabiyah juga melatih anak
mereka untuk berpuasa dengan memberikan hiburan yang sederhana untuk mengalihkan
perhatian anak dengan membuatkan mereka mainan sehingga mereka bermain-main
hingga waktu berbuka.

5.
Membiasakan mereka dengan akhlak yang mulia. Tuntunlah mereka dengan sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bagaimana Rasul makan, minum, ke
belakang, bergaul dengan sesama, dan sebagainya. Tentu saja semua itu akan sulit
tercapai jika sang buah hati tercinta hanya kita serahkan asuhannya kepada
pembantu, atau kita biarkan mereka berlama-lama duduk di depan layar kaca yang
mengajarkan kebohongan, mistik, dan khayalan. Saudariku… menjadi pendidik sejati
yang mampu memberikan pendidikan awal yang terbaik bagi sang buah hati memang
tidak mudah. Dengan ilmu, kesabaran, dan kesungguhan di atas keikhlasan serta
ketakwaan insya Allah akan kita dapati anak kita tumbuh menjadi generasi Rabbi
radhiya (generasi yang diridhi oleh Allah ‘azza wa jalla) seperti doa Nabi
Zakariya: “Dan jadikanlah ia, ya Rabbi, seorang yang diridhai.” (Maryam:6)
Wallahu a’lam

Sumber:


Ensiklopedi Wanita Muslimah, Haya binti Mubarok Al-Barik – Buletin Dakwah
Annisa, edisi 19, Maulid 1414 H

 

 

 

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Sabtu,12 Juli 2003/12 Jumadil Awal 1424H

Print Friendly