Ritual Memanggil Ruh

Memanggil Ruh Orang Sholeh

Pertanyaan:

Ada seseorang mengatakan bahwa ketika kita menyebut atau memanggil nama Syaikh Abdul Qadir Jaelani, maka Abdul Qadir Jaelani akan datang. Dalil mereka adalah surat Al-Baqarah 154, yang  saya tanyakan:

  1. Bagaimana penafsiran surat Al-Baqarah: 154 yang sebenarnya dan apa ada hubungannya dengan ruh Abdul Qadir Jaelani?
  2. Apakah benar ketika kita sebut atau kita panggil nama syaikh Abdul Qadir Jaelani, maka ruhnya bisa datang?

Jawaban:

Berkaitan dengan surat Al-Baqarah: 154 yang digunakan sebagai dalil mereka, dalam ayat ini terkandung larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia untuk menyebut orang-orang yang dibunuh di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai orang-orang yang telah mati. Karena sesungguhnya mereka masih hidup di alam barzakh, bukan sebagai mayat, tetapi hidup dan diberi rezeki di surga. Seperti disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Ruh-ruh para syuhada berada di sayap-sayap burung yang berwarna hijau yang terbang bebas di dalam surga sekehendaknya, kemudian hinggap di sebuah pelita yang tergantung di bawah Arsy.” (Riwayat Mulim)

Oleh karena itu seorang yang dibunuh di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak dikatakan telah mati, tetapi dikatakan telah syahid dan tetap hidup di sisi Rabb-nya dengan kehidupan yang tidak dapat kita bayangkan dan kita rasakan, walaupun ia telah terpisah dengan kehidupan dunia kita ini. (lihat Aysaru at-Tafaasiir li kalaam al-‘Aliyyi al-Kabir karya Abu Bakar Jabir al-Jazairiy I/66, Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam, Madinah al-Munawarah)

Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perintah untuk memohon pertolongan dengan melalui amalan sabar dalam menghadapi segala urusan. Dia menyebutkan contoh suatu perkara yang harus dijalani dengan kesabaran, yaitu jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jihad adalah ketaatan fisik yang paling utama dan paling berat bagi jiwa, karena beratnya amalan tersebut dalam pandangan jiwa. Jihad dapat mengantarkan kepada hilangnya nyawa dan berakhirnya kehidupan, dimana biasanya yang diharapkan orang di dalam kehidupan dunia ini adalah teraihnya kehidupan dengan segala tuntutannya. Semua daya upaya biasanya diarahkah untuk meraihnya dan menghindari semua yang bertentangan dengannya.

Dan seperti dimaklumi bahwa seseuatu yang disukai tidak akan ditinggalkan oleh orang yang berakal sehat kecuali karena ada sesuatu yang lebih disukai darinya dan lebih besar. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan, bahwa barangsiapa yang terbunuh di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dimana ia berperang guna menegakkan kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan agar agamanya menang. Tidak untuk maksud-maksud yang lainnya, maka sesunguhnya ia tidak terluputkan dari kehidupan yang menyenangkan. Bahkan ia telah meraih kehidupan yang lebih agung dan lebih sempurna dari yang dikira dan dinyana.

Jadi orang-orang yang mati syahid itu, tetap hidup di sisi Rabb meraka, dan diberi rezeki. Dalam keadaan suka cita dikarenakan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka yang berupa berbagai karunia. Dan mereka memberi kabar gembira kepada orang-orang yang ada di belakang mereka yakni orang-orang yang belum pernah bertemu dengan mereka. Ingat, tidak ada rasa takut bagi mereka dan tidak pula mereka merasa sedih. Mereka suka cita dengan kenikmatan yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan juga karunia-Nya. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah menyia-nyiakan pahala orang-orang beriman.

Maka bukankah kehidupan yang mengandung kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kesenangan mereka dengan rezeki darinya untuk kebutuhan fisik yang berupa makanan dan minuman yang sangat lezat, juga rezeki ruhani yang berupa suka cita dan kabar gembira, serta dihilangkannya segala rasa takut dan sedih dalam kehidupan barzakhiyah ini, bahkan kebahagiaan dan kenikmatan yang mereka rasakan lebih sempurna dari kehidupan dunia ini?!

Bahkan Nabi bahwa arwah para syuhada berada di dalam badan burung yang berwarna hijau yang selalu minum di sungai-sungai surga, dan makan buah-buahnya, serta hinggap di lampu-lampu yang tergantung di bawah Arsy. Di dalam ayat ini terkandung hasungan yang sangat untuk berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menekuni kesabaran dalam berjuang. Seandainya para hamba menyadari apa yang dialami orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pahala yang mereka dapatkan maka tidak seorangpun akan menghindar darinya. Akan tetapi ketiadaan ilmu yang diyakini secara sempurna itulah yang menjadi pelemah semangat, dan menambah lelap orang yang tidur melalaikan pahala yang sangat besar dan juga pampasan perang. Tidak akan demikian. Sedang Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Dia telah membeli jiwa orang-orang beriman dan harta mereka dengan jannah karena mereka berperang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu mereka membunuh atau terbunuh.”

Maka demi Allah Subhanahu wa Ta’ala, seandainya seseorang mempunyai seribu nyawa yang hilang satu demi satu di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidaklah sepadan dengan pahala yang demikian besar ini. Oleh karena itu seorang yang mati syahid setelah mendapat pahala Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ganjaran yang paling baik tersebut tidak mengangankan melainkan dikembalikan ke dunia sehingga dapat kembali berperang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekali lagi dan sekali lagi.

Di dalam ayat ini terdapat dalil adanya kenikmatan yang diperoleh di alam barzah dan juga adanya siksaan di sana, seperti yang banyak disebutkan di dalam ayat-ayat dan hadis.

Demikian penafsiran yang kami nukilkan dari Taisir Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan, oleh Syaikh as-Sa’di rahimahullah, dan penafsiran para ulama lainnya. Tidak satu pun dari mereka yang menghubungkan penafsiran ayat ini dengan ruh Syaikh Abdul Qadir Jaelani rahimahullah atau seseorang yang lain. Kalaupun di dalam penafsirannya ada keterangan yang menyatakan bahwa orang-orang yang mati syahid ingin kembali ke dunia agar dapat mati sayahid lagi sehingga mendapat pahala berlipat, hal yang demikian dikarenakan mereka telah mengetahui besarnya pahala yang diberikan. Hal ini berdasar hadis Nabi yang shahih, antara lain:

“Tidak seorang pun yang telah masuk ke surga ingin kembali ke dunia dan dia memiliki segala yang ada di dunia kecuali seorang yang mati syahid. Ia mengangankan untuk kembali ke dunia sehingga ia dapat terbunuh lagi sepuluh kali. Hal ini setelah ia menyaksikan berbagai kemuliaan yang diberikan.” (Riwayat Musiim)

Namun tidak ada keterangan dari seorang ahli tafsir dari ulama salaf pun bahwa yang dimaksud dengan ruh tersebut adalah ruh Syaikh Abdul Qadir. Selain itu, perkataan tamannaa (mengangankan) di sini selain menunjukkan keagungan perkara dari keadaannya, juga menunjukkan bahwa terajadinya peristiwa yang mereka angankan tersebut mustahil kecuali dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk terjadi.

Di sisi lain, tidak ada seorang pun yang berani mengatakan bahwa Syaikh Abdul Qadir wafat dalam keadaan syahid dari suatu peperangan fisik. Sedangkan para ulama, diantaranya imam Bukhari menyebutkan dalam sebuah judul bab dari Kitab Shahih-nya: “Bab tidak boleh mengatakan si Fulan syahid” (Berdasar riwayat dari) Abu Hurairah, ia berkata: Nabi bersabda: “Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui siapa saja yang berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui siapa saja yang terluka di jalan-Nya.”

Berdasarkan ini semua, maka dapat kami katakan bahwa pendapat dan pendirian yang saudara sebutkan dalam pertanyaan ini adalah sesuatu yang diada-adakan atau disebut bid’h karena tidak mempunyai dasar sama sekali. Kebid’ahan semacam ini tergolong kebid’ahan yang pelakunya dapat dikafirkan karena meminta pertolongan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga termasuk dosa besar dari golongan dosa-dosa terbesar lainnya. Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber: Majalah Elfata Vol 4 No. 11 2004

Artikel

———-
Sumber: YUFIDIA – www.yufidia.com – Kamis,26 Juni 2014/27 Sya’ban 1435H

Print Friendly