Adab Menjenguk dan Menemani Orang Sakit (bagian 1)

1. Katakanlah sesuatu yang baik.

Dalam hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila kalian mendatangi orang yang sedang sakit atau meninggal maka katakanlah yang baik, karena para Malaikat mengaminkan apa yang kalian katakan.”1

Sesuatu yang baik tersebut dapat berupa berita-berita yang menggembirakan, nasehat, dorongan (motivasi), do’a atau hiburan yang diperlukan.

2. Do’a yang diucapkan ketika melihat seseorang yang sedang menghadapi ujian (termasuk orang yang menderita sakit)agar tidak terkena ujian yang serupa.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa melihat seseorang yang sedang mendapat cobaan, lalu ia mengucapkan: ‘Alhamdulillaahil ladzii aafaanii mimmaabtalaaka bihi wa fadhdhalanii ‘alaa katsiirin mimmaan khalaqa tafdhiila’ (segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari cobaan yang menimpamu, dan Dia telah memberikan karunia kepadaku atas kebanyakan makhluk ciptaan-Nya dengan sebenar-benar karunia), maka ia tidak akan ditimpa cobaan tersebut.”2

 

3. Dianjurkan bagi seseorang yang menjenguk untuk duduk di sisi kepala orang yang sedang sakit.

Sebagaimana diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang anak Yahudi yang melayani Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ia sakit, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya. Beliau duduk di sisi kepala si anak, lalu beliau bersabda: “Islamlah.” Maka anak itu memandang bapaknya yang ada di dekatnya. Lalu bapaknya menjawab, “Patuhilah Abul Qasim shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” Maka anak itu pun masuk Islam. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam keluar. Beliau bersabda:

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari Neraka.”3

 

4. Tidak mengapa menangis di depan orang yang sakit.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu menengok Sa’d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu.

Ketika beliau tiba, Sa’d sedang dikelilingi keluarganya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apakah sudah meninggal?” Mereka menjawab, “Tidak wahai Rasulullah.” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menangis. Dan mereka ikut menangis manakala melihat Nabi menangis.

Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidak akan menyiksa dengan sebab air mata, tidak juga dengan kesedihan hati. Akan tetapi Dia akan menyiksa dengan sebab ini (beliau berisyarat kepada lidahnya4).”5

 

Disadur dari buku “Bimbingan Rohani untuk Orang Sakit” oleh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah terbitan Pustaka Ibnu ‘Umar.

 

Catatan Kaki:

1 HR. Muslim, dan yang lainnya.

2 Silsilah ash-Shahiihah (II/153).

3 HR. Al-Bukhari.

4 Maksudnya niyaahah (meratapi mayit).

5 HR. Al-Bukhari.


———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Minggu,12 Januari 2014/10 Rabiul Awal 1435H

Print Friendly