Mari Berbuat Baik Kepada Anak-Anak Kita

Dari Aisyah, ia berkata, “Ada seorang wanita yang datang kepadaku dengan membawa dua anak perempuannya. Ia meminta-minta (kepadaku) namun tidak mendapati sesuatu pun dariku kecuali hanya satu biji kurma saja. Kemudian aku memberikan kurma itu kepada wanita tersebut lantas ia membaginya kepada kedua anak perempuannya sementara ia sendiri tidak memakannya. Lalu ia pun berdiri dan keluar. Tak lama kemudian datanglah Nabi kepada kami, lalu kuceritakan (peristiwa tersebut) kepada beliau, maka beliau bersabda, “Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak wanita ini, lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka” [1]

Anak adalah salah satu rohmat dan karunia yang besar dari Alloh kepada para hamba-Nya. Namun demikian, ia hanyalah sebuah titipan bukan hak milik, karena Dia-lah sebenarnya yang Maha Memiliki segala sesuatu. Suatu saat titipan itu akan diambil oleh-Nya atau bahkan sebelum itu, atau bersamaan dengannya yang diberikan titipan itu pun akan diambil-Nya karena ia juga adalah milik-Nya. Sang Pemilik berhak mengambilnya kapan saja, dimana saja, ketika ajal yang telah ditentukan datang menjemput, Alloh berfirman:

Maka apabila telah datang ajal, mereka tidak akan bisa mengundurkannya barang sesaat pun dan juga tidak aan bisa memajukannya. (QS. al-A’rof [7] : 34)

Sang Pemilik tidak akan mengambil titipannya begitu saja, tetapi Dia juga akan menanyakan pertanggungjawaban atas apa yang dititipkan dan diamanahkan kepadanya, bagaimanakah ia menjaga amanah yang telah diembankan kepadanya. Karena selain sebagai sebuah kewajiban, anak juga sebagai ujian baginya, apakah ia bisa dipercaya dan berhasil menjaga amanahnya, ataukah gagal dalam melaksanakannya.

Anak adalah amanah yang harus dijaga. Di antara kewajiban terhadap anak yang terpenting adalah mentarbiyah (mendidik) mereka sehingga menjadi insan yang sholih dan bertaqwa kepada Pemiliknya, berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bila ia anak perempuan kita, agar ia taat kepada suaminya. Sungguh amalan ini sangat utama lagi mulia, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia mengatakan bahwa Rosululloh bersabda:

Barangsiapa mengasuh dua anak wanita hingga dewasa maka dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aku bersamanya,” lalu beliau merapatkan jari jemarinya. [2]

Dan dalam hadits lain dari Uqbah bin Amir, ia berkata, “Aku mendengar Rasululloh bersabda:

Barangsiapa memiliki tiga anak wanita kemudian ia bersabar atas mereka, maka memberi makan dan minum serta pakaian dari kekayaannya, maka mereka akan menjadi hijab (penghalang) baginya dari api neraka pada hari kiamat kelak‘” [3]

Amanah ini bukanlah hal yang ringan. Karena itulah Alloh akan memberikan balasan dan ganjaran yang sangat besar kelak di akhirat serta perlindungan dan penghalang dari neraka kepada mereka yang berhasil dalam mengemban amanah ini.

Di antara amanah yang dipikul oleh orang tua adalah mendidik anaknya dengan baik, membimbing dan memilihkan teman dan sahabat, juga calon suami atau istri jika telah dewasa, serta lingkungan yang baik untuk diri dan anaknya, tidak dibiarkan begitu saja memilih teman yang disukainya, yang demikian itu mengingat hadtis yang diriwayatkan dari Abu Musa bahwa Nabi bersabda:

Sesungguhnya perumpamaan teman yang sholih dan teman yang jelek adalah seperti seorang yang membawa minyak misik dan orang yang meniup ubupannya (pandai besi). Adapun perihal orang yang membawa minyak misik, bisa jadi ia akan memberikannya atau engkau membeli darinya, dan bisa jadi engkau mencium aroma dan bau yang wangi darinya. Adapun perihal pandai besi, bisa jadi ia kan membakar bajumu atau engkau akan mendapat bau busuk darinya.” [4]

Bukan memilih, membatasi dan mengawasi anak dalam pergaulan mereka berarti mengekang kebebasan dan hak asasi mereka. Manusia mendambakan kebebasan, bebas berbuat, berpendapat dengan akalnya, dan bebas dalam segala hal. Namun sebagai hamba, kebebasan itu pasti ada batasnya, kebebasan mutlak adalah mustahil, hanya khayalan belaka dan tidak akan pernah terwujud.

Alloh telah memberikan kebebasan yang sesuai dengan statusnya sebagai hamba, kebebasan bukanlah sesuatu yang harus didewakan atau dipertuhankan, karena jika demikian sebenarnya ia justru akan menjadi orang yang diperbudak oleh kebebasan semu yang diangankan dan dibisikkan iblis kepadanya untuk menjauhkan hamba dari kedudukannya sebagai hamba.

Seharusnya yang pertama bagi hamba adalah melaksanakan kewajibannya sebelum menuntut haknya, karena Alloh tidak akan menzholimi hamba-Nya dari haknya, namun hambalah yang sebenarnya menzholimi dirinya sendiri.

Semoga kita sanggup menunaikan amanah atas anak kita dengan sebaik-baiknya. Amin.

Catatan kaki:

[1] HR. Bukhori, kitab az-Zakah Bab Ittaqun naaro walau bisyaqqi tamroh 2/514 no. 1352

[2] HR. Muslim, Kitab al-Birr wash shilati wal adab Bab Fadhlil ihsaani ilal banaat 8/38 no 6864

[3] HR. Ibnu Majah, Kitab al-Adab Bab Birril waalidd wal ihsaani ilal banaat 2/1210 no. 3669 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah 1/526 no. 293

[4] HR. Bukhori, Kitab adz-Dzabaih wash shoid Bab al-Misk 5/2104 no. 5214

dari majalah al-Mawaddah Edisi 4 Tahun ke-2
Dzlqo’dah 1429H/ November 2008

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Kamis,19 September 2013/14 Dzulkaidah 1434H

Print Friendly