Cinta Sehidup Semati

Cinta adalah sebuah perkara besar yang Allah ciptakan di dalam hati manusia. Ia adalah sebuah fitrah yang Allah tanamkan dalam sanubari kita. Betapa indah sebuah cinta bila ia jujur sebagaimana cinta dari Zainab binti Rasulillah kepada suaminya sekaligus putra bibinya, Abul ‘Ash bin ar-Rabi’ yang membalas cintanya dengan cinta. Dan kisah cinta itulah yang akan kami ketengahkan kepada Anda semua;

Abul ‘Ash adalah putra saudari Sayyidah Khadijah. Dia termasuk laki-laki terpandang di suku Quraisy, dan Nabi mencintainya. Kisah ini bermula setelah perginya Abul ‘Ash kepada Nabi sebelum kenabian seraya berkata kepada beliau, ‘Saya ingin menikahi Zainab putri sulung Anda.”

Maka berkatalah Nabi, ‘Aku tidak akan melakukannya hingga aku meminta izinnya.’ Maka masuklah Nabi kepadanya, ‘Putra bibimu mendatangiku, dan telah menyebut namamu, maka apakah kamu ridha dia menjadi suami bagimu?’

Maka merah merona wajahnya, yang kemudian disusul dengan senyum. Lalu Nabi keluar dan memberitahukan persetujuan Zainab.

Lalu menikahlah Zainab dengan Abul ‘Ash bin ar-Rabi’; kemudian melahirkan 2 orang anak: Ali dan Umamah.

Setelah itu, sebuah permasalahan besar dimulai; yaitu saat Nabi diutus dan menjadi seorang Rasul, sementara kala itu Abul ‘Ash tengah dalam perjalanan. Ketika dia kembali, dia mendapati istrinya telah masuk Islam. Maka masuklah dia kepada istrinya dari safarnya, lalu sang istri berkata kepadanya, ‘Saya memiliki sebuah berita besar untukmu’. Maka dia pun bangkit dan meninggalkan istrinya. Tercenganglah Zainab, lalu mengikutinya seraya berkata, ‘Sungguh ayahandaku telah diutus sebagai seorang Nabi, dan aku telah masuk Islam.’ Maka dia berkata, ‘Mengapa engkau tidak meminta izinku sebelum Engkau masuk islam?’

Permasalahan besar, lagi berbahaya terus terjadi di antara keduanya; yaitu permasalahan aqidah. Zainab berkata kepada suaminya, ‘Tidaklah aku mendustakan bapakku, dan bukanlah bapakku seorang pendusta. Dia seorang yang jujur lagi terpercaya. Buka hanya aku yang masuk Islam, ibuku juga telah masuk Islam, saudari-saudariku telah masuk Islam, putra pamanku (Ali ibn Abi Thalib) telah masuk Islam, putra bibimu (‘Utsman bin ‘Affan) telah masuk Islam, dan sahabatmu (Abu Bakar as-Shiddiq) telah masuk Islam.’

Maka Abul ‘Ash berkata, ‘Adapun aku, maka aku tidak suka jika manusia mengatakan bahwa aku merendahkan kaumnya, dan kufur kepada nenek moyangnya demi membuat ridha istrinya. Sedangkan bapakmu bukanlah orang yang diragukan (tertuduh dusta).’ Kemudian dia berkata kepada istrinya, ‘Apakah engkau tidak menerima dan menghargai alasanku ini?’ Maka Zainab menjawab, ‘Siapa lagi yang akan memaklumi, kalau kau tidak memaklumi?’ Akan tetapi aku adalah istrimu, aku akan membantumu di atas kebenaran hingga engkau ditakdirkan di atasnya.

Lalu berjalanlah hari demi hari, dan tahun demi tahun. Setelah 13 tahun, Rasulullah diperintahkan untuk hijrah ke Madinah. Maka musibah besar menimpa Zainab. Dia akan kehilangan bapaknya, dan saudari-saudarinya yang akan pergi ke Madinah, dan dia akan tetap tinggal di Makkah. Hal ini sebelum turunnya perintah memisahkan dua pasang suami istri (yang berbeda agama).

Ketika permusuhan antara Rasulullah dan orang-orang Quraisy memanas, maka berkatalah sebagian mereka kepada sebagian yang lain, ‘Celaka kalian, sungguh kalian telah memikul beban Muhamad dengan menikahkan pemuda-pemuda kalian dengan putri-putrinya. Maka seandainya kalian mengembalikan mereka kepadanya, maka pastilah dia akan sibuk terhadap mereka dari kalian.’ Maka mereka berkata, ‘Sebaik-baik pendapat’. Lalu mereka pun berjalan keada Abul ‘Ash dan berkata padanya, ‘Ceraikanlah istrimu wahai Abul ‘Ash, dan kembalikanlah dia ke rumah bapaknya, kami akan menikahkanmu dengan wanita mulia Quraisy mana saja yang kamu kehendaki.’

Dia pun menjawab, ‘Tidak, demi Allah, sesungguhnya aku tidak akan menceraikan istriku, dan aku tidak suka seluruh wanita dunia sebagai gantinya.’

Sikap kepahlawanan ini berbeda dengan sikap suami Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Keduanya telah diceraikan dan dibawa ke rumah Nabi yang beliau sangat berbahagia dengan dikembalikannya mereka berdua kepadanya. Dan beliau berharap agar seandainya Abul ‘Ash melakukan seperti yang dilakukan oleh kedua temannya. Tetapi beliau tidak memiliki kekuatan untuk memaksanya akan hal itu. Saat itu masih belum disyariatkan pengharaman pernikahan seorang mukmian dengan orang musyrik.

Zainab terus berada di Makkah hingga terjadi perang Badar. Abul ‘Ash terpaksa keluar bersama mereka (pasukan kafir) karena kedudukannya dalam kaumnya, padahal tidak ada keinginan pada dirinya untuk membunuh kaum muslimin.

Adalah Zainab sangat mengkhawatirkan suasana ini, di mana suaminya akan memerangi bapaknya. Dia pun menangis dan berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku khawatir dari satu hari yang matahari terbit dari tempat terbitnya, kemuan anakku menjadi yatim, atau aku kehilangan bapakku.’

Maka keluarlah Abul ‘Ash bin ar-Rabi’, dan ikut serta dalam perang Badar (di pihak orang kafir). Kemudian selesailah peperangan tersebut, dan Abul ‘Ash tertawan. Maka pergilah dia mencari berita suaminya di Makkah.

Dia bertanya, ‘Apa yang dilakukan oleh bapakku?’

Maka dikatakan kepadanya, ‘Kaum muslimin menang.’

Maka diapun sujud syukur kepada Allah. Kemudian dia bertanya, ‘Lalu apa yang dilakukan oleh suamiku?’

Mereka menjawab, ‘Ditawan oleh mertuanya.’

Maka dia berkata, ‘Kirimkanlah tebusan bagi suamiku.’ Dan kala itu dia tidak memiliki sesuatu apapun yang berharga yang dapat dijadikan sebagai tebusan bagi suaminya.’ Dia tidak menemukan apapun kecuali dia tanggalkan kalung ibunya yang menjadi perhiasan di dadanya. Kemudian dia mengirimkan kalung itu bersama saudara kandung Abul ‘Ash bin ar-Rabi’ yang pergi ke Madinah untuk menyerahkan tebusan suami Zainab.

Adalah Nabi duduk sambil memperhatikan seluruh tebusan bagi masing-masing tawanan dan membebaskannya. Ketika beliau melihat kalung Sayyidah Khadijah, beliau bertanya, ‘Ini tebusan siapa?’

Mereka menjawab, ‘Ini tebusan Abul ‘Ash ar-Rabi.’

Maka menangislah Nabi dan berkata, ‘Ini adalah kalung Khadijah.’

Kemudian beliau bangkit seraya berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya laki-laki ini tidak pernah kami cela sebagai seorang menantu, maka bolehkah aku membebaskannya? Tidakkah kalian menerima untuk mengembalikan kalung ini kepadanya (Zaenah putra Nabi)’

Maka mereka menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah.’

Maka Nabi pun menyerahkan kalung itu kepadanya kemudian berkata kepadanya, ‘Katakanlah kepada Zainab, janganlah menghilangkan kalung Khadijah.’

Kemudian beliau berkata kepadanya, ‘Maukah kamu aku berbicara rahasia kepadamu?’

Kemudian beliau menyepi bersamanya lalu bersabda, ‘Wahai Abul ‘Ash, sesungguhnya Allah telah memerintahkanku untuk memisahkan antara seorang muslimah dengan orang kafir, maka apakah kamu mau mengembalikan kepadaku putriku?’

Dia pun menjawab, ‘Ya.’

Keluarlah Zainab menyambut Abul ‘Ash di pintu-pintu Makkah. Maka Abul ‘Ash berkata kepadanya saat melihatnya, ‘Sesungguhnya aku akan pergi.’

Dia pun menjawab, ‘Kemana?’

Abul ‘Ash berkata, ‘Bukan aku yang akan pergi, akan tetapi kamulah yang akan pergi ke bapakmu’

Dia bertanya, ‘Mengapa?’

Abul ‘Ash menjawab, ‘Untuk memisahkan antara aku denganmu. Maka kembalikan kepada bapakmu’.

Dia bertanya, ‘Apakah kamu akan menyertaiku dan masuk Islam?’

Dia menjawab, ‘Tidak.’

Maka Zainab mengambil putra dan putrinya, lalu pergi ke Madinah.

Mulailah para pelamar maju untuk melamarnya selama enam tahun tersebut. Dan dia pun menolak dengan harapan suaminya akan kembali kepadanya.

Setelah beberapa tahun, Abul ‘Ash keluar dengan kafilah dagang dari Makkah menuju Syam demi perniagaan penduduk Makkah. Ketika dia kembali menuju Makkah, dan bersama rombongannya yang mencapai seratus ekor onta, dan lebih dari seratus orang laki-laki, muncullah pasukan kecil dari pasukan-pasukan Rasulullah dekat Madinah. Maka pasukan itu pun menghadang rombongan dan menawan kaum laki-laki. Akan tetai Abul ‘Ash meloloskan diri darinya, dan pasukan itu tidak berhasil menangkapnya. Maka saat malam menjelang, Abul ‘Ash bersembunyi di kegelapan malam, lalu masuk ke Madinah dengan mengendap-endap, penuh ketakutan, hingga dia sampai ke Zainab, lalu meminta suaka kepadanya, dan dia pun memberikan suaka.

Zainab bertanya kepadanya saat dia melihat Abul ‘Ash, ‘Apakah kamu datang sebagai seorang muslim?’

Dia menjawab, ‘Bahkan aku sedang dalam keadaan melarikan diri.’

Zainab bertanya, ‘Maukah kamu masuk Islam?’

Dia menjawab, ‘Tidak.’

Zainab berkata, ‘Maka jangan takut, selamat datang wahai putra bibi, selamat datang wahai ayah Ali dan Umamah.’

Setelah Nabi mengimami kaum muslimin dalam shalat fajar, tiba-tiba terdengar suara dari belakang masjid, ‘Aku telah memberikan suaka kepada Abul ‘Ash ar-Rabi.’

Maka Nabi bersabda, ‘Apakah kalian mendengar apa yang telah kudengar?’

Mereka menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah.’

Berkatalah Zainab, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abul ‘Ash, jika dia jauh, maka dia adalah putra bibi, dan jika dia dekat, maka dia adalah ayah anak-anak-(ku), dan sungguh aku telah memberinya suaka wahai Rasulullah.’

Maka berdirilah Nabi seraya bersabda, ‘Wahai manusia, sesungguhnya laki-laki ini tidaklah aku mencelanya sebagai seorang menantu.’ Dan sesungguhnya laki-laki ini berjanji kepadaku, dan menepatinya untukku. Maka jika kalian mau untuk mengembalikan hartanya, dan membiarkannya kembali ke negerinya, maka itu lebih aku sukai. Dan jika kalian menolak, maka perkaranya adalah ada pada kalian, dan hak kalian, aku tidak akan mencela kalian karenanya.’

Maka berkatalah manusia, ‘Bahkan kami berikan kepadanya hartanya, wahai Rasulullah.’

Maka Nabi bersabda, ‘Sungguh kami telah memberikan suaka kepada orang yang telah engkau beri suaka wahai Zainab.’

Kemudian beliau pergi ke rumah Zainab seraya berkata kepadanya, ‘Wahai Zainab muliakanlah dia, karena dia adalah putra bibimu, dan dia adalah ayah anak-anakmu, akan tetapi jangan sekali-kali dia mendekatimu, karena dia tidak halal bagimu.’

Zainab menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah.’

Maka Zainan pun masuk, dan berkata kepada Abul ‘Ash ar-Rabi’, ‘Wahai Abul ‘Ash, apakah ringan atasmu perpisahan kita? Maukah kamu masuk Islam dan tinggal bersama kami?

Dia menjawab, ‘Tidak. Lalu dia mengambil hartanya, dan kembali ke Makkah. Dan sesampainya dia di Makkah, dia berdiri seraya berkata, ‘Wahai manusia, ini adalah harta-harta kalian, apakah masih tersisa bagi kalian sesuatu?’

Maka mereka berkata, ‘Mudah-mudahan Allah membalasmu dengan kebaikan, engkau telah menunaikannya dengan sebaik-baiknya.’

Dia pun berkata, ‘Maka sesungguhnya aku telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.’

Lalu dia pun kembali, dan masuk Madinah di waktu fajar, lalu menghadap kepada Nabi seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, kemarin Anda telah memberikan suaka perlindungan kepada saya, dan hari ini saya mengucapkan persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah, dan bahwa Anda adalah Rasulullah.’

Lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah Anda mengizinkan saya untuk ruju’ kepada Zainab?’

Maka Nabi pun memegangnya seraya berkata, ‘Mari bersamaku.’

Lalu beliau berdiri di rumah Zainab, kemudian mengetuk pintu seraya berkata, ‘Wahai Zainab, sesungguhnya putra bibimu datang kepadaku hari ini, dan meminta izin untuk meruju’mu, maka apakah kamu menerima?

Maka memerahlah wajahnya, dan tersenyum. Kemudian kembalilah suaminya, Abul ‘Ash kepadanya. Akan tetapi tidaklah berlangsung satu tahun sejak kembalinya mereka berdua sebagai pasangan suami istri melainkan Sayyidah Zainab meninggal. Lalu Abul ‘Ash pun menangisinya dengan tangisan yang keras, hingga manusia melihat Rasulullah mengusapnya dan menenangkannya.

Dia berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak kuasa menanggung dunia tanpa Zainab.’ Maka diapun hidup dalam kesedihan karena kehilangan istrinya yang setia, yang hidup memenuhi hak-haknya. Saat ayah dan keluarganya hijrah bersama mereka, dia tidak meninggalkannya dan tidak meminta hijrah bersama mereka, lalu dia rela tinggal seorang diri di Makkah bersamanya.

Saat suaminya tertawan, dia menebusnya dengan harta termahal yang dimilikinya. Dan saat dia sampai di Madinah, dia bersabar dan tidak menerima pernikahan selainnya. Dan saat suaminya datang di Madinah, dia memuliakannya, dan meminta kepada bapaknya untuk melindunginya. Maka Abul ‘Ash tidak pernah melupakan semua itu.

Maka Abul ‘Ash pun hidup dalam kesedihan mengingat ketulusan cinta Zainab. Demikian pula Abul ‘Ash pun setia kepadanya, saat dia berdiri di hadapan seluruh Quraisy dan menolak permintaan mereka untuk menceraikannya.

Tidak lama setalah dua tahun kematian Sayyidah Zainab, dia pun meninggal dunia, dan seakan-akan dia ingin menyusul istrinya…

Dan terakhir, tidaklah kita mengatakan, kecuali mudah-mudahan Allah meridhai keduanya. Aamiin.

Disalin dari majalan Qiblati edisi 01 tahun VII, November 2011 M – Rabi’ul Awwal 1432 H

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Kamis,11 April 2013/30 Jumadil Awal 1434H

Print Friendly